- Salary benchmarking adalah proses membandingkan kompensasi pekerjaan dengan market yang relevan untuk menentukan posisi pay perusahaan.
- Untuk melakukan salary benchmarking, perusahaan perlu menentukan target market, memilih data yang tepat, melakukan job matching, lalu menerjemahkannya ke salary structure.
Ketika struktur organisasi berkembang, perusahaan perlu memastikan kenaikan gaji, perekrutan karyawan baru, dan perubahan jabatan tetap menghasilkan struktur kompensasi yang konsisten.
Salah satu tantangannya adalah ketika gaji karyawan baru mulai mendekati atau bahkan melampaui karyawan lama pada level yang sebanding, sementara perbedaan kompensasi perusahaan antarperan belum tentu mencerminkan perbedaan tanggung jawab dan nilai pekerjaan.
Jika kondisi ini dibiarkan, perusahaan dapat menghadapi persoalan dalam menjaga daya saing gaji sekaligus mempertahankan rasa fairness di dalam organisasi.
Karena itu, perusahaan membutuhkan pendekatan yang menghubungkan nilai pekerjaan, kondisi market, dan keputusan kompensasi secara konsisten, bukan menetapkan gaji berdasarkan kebutuhan hiring atau kenaikan gaji secara terpisah.
Artikel ini akan membahas cara menyusun salary benchmarking secara sistematis, mulai dari menentukan competitive labor market hingga menerjemahkan hasilnya menjadi struktur gaji yang kompetitif dan dapat dipertanggungjawabkan.
Apa Itu Salary Benchmarking?
Salary benchmarking adalah proses membandingkan kompensasi sebuah pekerjaan di dalam organisasi dengan kompensasi untuk pekerjaan yang sebanding di pasar tenaga kerja.
Perbandingan ini dilakukan terhadap pekerjaan yang sebanding dari sisi ruang lingkup, kompleksitas, dan tanggung jawab, bukan sekadar jabatan dengan nama yang sama.
Output dari proses ini menjadi referensi untuk banyak keputusan sekaligus, mulai dari menentukan salary range, positioning terhadap market, offer untuk kandidat baru, hingga adjustment dan compensation planning tahunan.
Karena itu, salary benchmarking berbeda dari sekadar melihat “gaji rata-rata profesi X” di internet, karena angka semacam itu jarang mempertimbangkan konteks industri, skala organisasi, maupun definisi peran yang sebenarnya.
Baca Juga: Paket Kompensasi: Panduan Menyusun Benefit yang Kompetitif
Salary Benchmarking vs Salary Survey
Kedua istilah ini sering dipakai bergantian, padahal fungsinya berbeda. Berikut beberapa aspek perbedaannya:
| Aspek | Salary Survey | Salary Benchmarking |
|---|---|---|
| Fungsi | Menyediakan data kompensasi yang berlaku di pasar | Menentukan posisi kompensasi perusahaan terhadap pasar |
| Bentuk | Dataset atau laporan hasil survei | Proses analisis dan pengambilan keputusan |
| Sumber | Vendor salary survey atau lembaga riset | Menggunakan satu atau beberapa sumber market data |
| Fokus | “Berapa kompensasi yang dibayarkan market?” | “Di mana posisi kompensasi perusahaan dibandingkan market?” |
| Output | Data salary berdasarkan role, level, industri, lokasi, atau market cut tertentu | Market reference yang dapat digunakan untuk salary range, salary structure, dan compensation decisions |
Pada intinya, salary survey adalah input, sedangkan benchmarking adalah proses pengambilan keputusan yang mengolah input tersebut.
Perusahaan bisa saja berlangganan banyak salary survey, tetapi tetap menghasilkan benchmark yang buruk apabila data cut dan job matching yang digunakan tidak tepat.
Mengapa Salary Benchmarking Perlu Jadi Agenda Strategis Perusahaan?
Artinya, benchmarking bukan lagi aktivitas eksklusif untuk sebagian kecil posisi strategis, melainkan praktik yang sudah menyentuh hampir seluruh struktur organisasi, termasuk organisasi dengan banyak cabang dan lini bisnis.
Mengapa hal ini terjadi?
Gaji yang Terlihat Kompetitif Belum Tentu Kompetitif di Market
Salary yang terlalu rendah dibandingkan pasar meningkatkan risiko kesulitan hiring dan mempercepat employee attrition, terutama untuk peran-peran yang kompetitif di pasar tenaga kerja.
Sebaliknya, salary yang terlalu tinggi tanpa strategic positioning yang jelas dapat meningkatkan labor cost signifikan tanpa selalu menghasilkan return yang sepadan.
Benchmark membantu organisasi menentukan di mana sebenarnya posisi kompensasinya dibandingkan pasar, bukan sekadar berasumsi bahwa gaji yang diberikan sudah kompetitif.
Baca Juga: Panduan Remunerasi untuk Menyusun Sistem Imbalan Karyawan
Gaji yang Adil di Internal Belum Tentu Kompetitif di Eksternal
Ada dua sisi yang perlu dilihat bersamaan: external competitiveness, yaitu bagaimana pay dibandingkan dengan market, dan internal pay equity, yaitu bagaimana pay dibandingkan dengan pekerjaan lain di dalam organisasi.
Salary benchmarking tidak boleh berdiri sendiri tanpa job architecture dan salary structure yang jelas, karena keduanya saling melengkapi.
Tanpa keselarasan ini, organisasi berisiko mengalami wage compression, yaitu kondisi ketika selisih gaji antara karyawan senior dan junior menyempit karena kenaikan gaji pasar untuk hire baru tidak diikuti penyesuaian untuk karyawan lama.
Salary scale dapat berfungsi sebagai guardrail untuk internal equity, tapi tetap membutuhkan penyesuaian berdasarkan realitas hiring, keterbatasan anggaran, dan koreksi pasar dari waktu ke waktu.
Keputusan Kompensasi Tanpa Benchmark Mudah Terjebak pada Asumsi
Ada banyak keputusan yang seharusnya didukung oleh data benchmark, mulai dari offer untuk kandidat baru, salary adjustment berdasarkan merit increase, hingga keputusan promosi.
Selain itu, review untuk critical role, revisi salary structure, perencanaan kompensasi tahunan, dan market correction juga sebaiknya bersandar pada data, bukan intuisi.
Benchmark seharusnya berfungsi sebagai decision framework yang memberi konteks, bukan sebagai automatic salary-setting mechanism yang menentukan angka secara otomatis.
Baca Juga: Struktur dan Skala Upah: Ketentuan, Fungsi, & Cara Membuatnya
Ketika Benchmark Tertinggal, Retensi dan Employer Brand yang Kena Dampak
Data benchmark yang jarang diperbarui cenderung tertinggal dari pergerakan pasar, terutama untuk peran-peran dengan permintaan talenta yang tinggi.
Ketika gap ini dibiarkan terlalu lama, dampaknya bukan hanya pada kesulitan hiring, tapi juga pada persepsi karyawan terhadap keadilan kompensasi mereka.
Pada akhirnya, employer brand ikut terpengaruh karena kandidat dan karyawan aktif saling bertukar informasi mengenai kompetitivitas gaji di sebuah organisasi.
Apa yang Harus Ditentukan Sebelum Melakukan Salary Benchmarking?
Salah satu masalah yang paling sering terjadi adalah perusahaan langsung mencari data gaji sebelum benar-benar menentukan apa yang ingin dibandingkan.
1. Tentukan Compensation Philosophy Perusahaan
Sebelum melihat data pasar, organisasi perlu menjawab beberapa pertanyaan dasar: apakah ingin membayar di sekitar market median, atau ada critical roles tertentu yang perlu berada di atas market.
Pertanyaan lain yang juga penting adalah apakah organisasi ingin bersikap lebih agresif dalam menarik talenta yang langka di pasar, dan bagaimana kemampuan anggaran memengaruhi positioning tersebut.
Sebaiknya, hindari menetapkan angka percentile tertentu sebagai aturan universal untuk semua peran, karena positioning yang tepat selalu mengikuti strategi bisnis masing-masing organisasi.
2. Tentukan Competitive Labor Market
Competitive labor market perlu dilihat dari berbagai sudut sekaligus: industri, geografi, ukuran perusahaan, skala organisasi, sumber talenta, tujuan talenta, dan job family.
CompTool menemukan bahwa organisasi memakai berbagai market cut, mulai dari data nasional dengan atau tanpa geographic differential, data industri, data lokal, hingga data berbasis revenue dan headcount.
Tidak ada satu data cut yang dominan untuk seluruh pekerjaan, sehingga pemilihan data cut sebaiknya disesuaikan dengan karakteristik masing-masing peran.
Framework singkat untuk menentukan competitive labor market:
| Pertanyaan | Yang Perlu Dilihat |
|---|---|
| Di industri mana perusahaan bersaing? | Industri yang menjadi sumber dan tujuan utama talenta untuk role tersebut |
| Di mana talenta berada? | Kota, wilayah, atau negara tempat perusahaan merekrut |
| Perusahaan seperti apa yang menjadi kompetitor talent? | Ukuran perusahaan, revenue, atau skala operasional yang comparable |
| Dari mana talenta direkrut? | Perusahaan atau organisasi asal karyawan yang berhasil direkrut |
| Ke mana talenta berpindah? | Perusahaan tujuan karyawan yang keluar |
| Role seperti apa yang dibandingkan? | Job family, level, scope, dan karakteristik pekerjaan |
3. Identifikasi Dari Mana Talent Datang dan Ke Mana Mereka Pergi
Salah satu pendekatan yang jarang dibahas tapi cukup berpengaruh adalah memetakan asal dan tujuan pergerakan talenta di organisasi.
CompTool menyebut pendekatan ini sebagai Project WALDO atau Where Are Leaders Departing/Originating, yang secara sederhana berarti melacak dari organisasi mana talenta baru berasal dan ke organisasi mana talenta yang keluar biasanya pergi.
Data ini bisa dikumpulkan melalui riwayat pekerjaan sebelumnya saat onboarding, exit interview, hingga pergerakan karier di LinkedIn sebagai sumber pelengkap.
Pendekatan ini penting karena competitive labor market yang dipilih hanya berdasarkan asumsi berisiko menciptakan blind spot, terutama pada organisasi dengan banyak cabang di kota-kota berbeda.
Bagaimana Memilih Data untuk Salary Benchmarking?
Setelah menentukan arah strategis, langkah berikutnya adalah memilih data yang benar-benar merepresentasikan pasar tenaga kerja yang relevan.
1. Pilih Data Berdasarkan Karakteristik Pekerjaan, Bukan Satu Formula untuk Semua Role
Data cut yang tepat untuk peran leadership belum tentu tepat untuk peran management, professional, sales, administrative, maupun peran teknis dan operasional.
CompTool menunjukkan bahwa organisasi menggunakan kombinasi national market, geographic differential, industry, local, revenue, dan headcount, dengan pola yang berbeda pada setiap kelompok pekerjaan.

Grafik tersebut menunjukkan bahwa national market tanpa geographic differential menjadi salah satu data cut yang paling banyak digunakan di hampir seluruh kelompok pekerjaan.
Namun, pilihan berikutnya berbeda. Pada peran executive, misalnya, industry (21,4%) dan revenue (21,6%) sama-sama cukup menonjol.
Sementara itu, local market lebih banyak digunakan untuk Admin/Support (19,7%) dan Manufacturing/Technicians/Warehouse (14,7%).
Karena itu, jangan menggunakan satu data cut untuk seluruh organisasi. Gunakan pertanyaan berikut sebagai titik awal:
| Jika ingin membandingkan… | Prioritaskan data… | Alasannya |
|---|---|---|
| Peran eksekutif | Revenue + national market + industry | Scope peran dan kompleksitas organisasi dapat lebih relevan daripada lokasi saja |
| Management & professional | National market + geographic differential + industry | Peran ini biasanya dipengaruhi oleh market tenaga kerja nasional sekaligus lokasi dan industri |
| Sales | National market + industry + geography | Struktur market dan karakteristik industri dapat memengaruhi kompensasi |
| Administrative & support | Local market + geography | Ketersediaan talent lokal dapat lebih menentukan daya saing gaji |
| Technical & operational | Local market + geography + industry | Ketersediaan tenaga kerja di lokasi dan karakteristik operasional menjadi pertimbangan penting |
2. Gunakan Lebih dari Satu Sumber Salary Data
Menyandarkan keputusan pada satu sumber data saja meningkatkan risiko bias, terutama jika sumber tersebut tidak mewakili industri atau ukuran organisasi yang relevan.
Kesimpulannya, mayoritas organisasi tidak menggantungkan keputusan kompensasi pada satu dataset saja, dan pola ini sebaiknya juga diadopsi oleh organisasi yang masih mengandalkan satu sumber data.
3. Bedakan Organization-Weighted dan Incumbent-Weighted Data
Organization-weighted data mencerminkan apa yang bersedia dibayar organisasi untuk sebuah pekerjaan, biasanya berdasarkan kebijakan atau salary structure yang berlaku.
Incumbent-weighted data mencerminkan apa yang sebenarnya diterima orang-orang yang saat ini menjalankan pekerjaan tersebut, sehingga lebih menggambarkan realita pasar.
Perbedaan ini penting karena keduanya menjawab pertanyaan yang berbeda: organization-weighted melihat nilai pekerjaan dari sisi perusahaan, sedangkan incumbent-weighted melihat kondisi gaji yang benar-benar diterima di market.
Menggunakan keduanya dapat memberikan gambaran yang lebih lengkap sebelum perusahaan menentukan posisi kompensasinya.
Menilai Kualitas Sumber: Ukuran Sampel, Keterbukaan Metodologi, dan Recency
Tidak semua salary survey memiliki kualitas data yang sama. Sebelum menjadikannya acuan, perhatikan jumlah data, transparansi metodologi, dan kapan data dikumpulkan.
Raahi:Impact’s 2025 Salary & Benefits Benchmark memberikan contoh transparansi yang baik dengan mencantumkan jumlah data (n) untuk setiap data cut serta menjelaskan cara menghitung median, average, dan salary range.
Ukuran sampel juga perlu dilihat pada setiap data cut, bukan hanya total responden. Meski Raahi menerima 100+ respons dan menggunakan 90 untuk analisis, beberapa peer cuts memiliki jumlah data yang jauh lebih kecil.
Raahi menekankan bahwa n yang kecil membuat hasil median atau average lebih sensitif terhadap setiap data point.
Terakhir, perhatikan recency dan periode data. Perbedaan waktu pengumpulan atau effective date, misalnya antara increment yang direncanakan dan yang sudah diberikan, dapat memengaruhi keterbandingan data.
Metodologi Matching: Dari Job Title ke Angka yang Bisa Dipertanggungjawabkan
Bagian ini menjadi salah satu inti dari proses benchmarking, karena kesalahan matching bisa membuat data yang bagus sekalipun menjadi tidak berguna.
Mengapa Job Title Saja Tidak Cukup?
Job title berbeda-beda antar organisasi, bahkan untuk peran dengan tanggung jawab yang mirip sekalipun.
Dua posisi dengan title yang sama pun bisa memiliki scope, tingkat kompleksitas, wewenang pengambilan keputusan, dan dampak organisasional yang jauh berbeda.
Karena itu, benchmark yang baik harus membandingkan pekerjaan yang benar-benar comparable, bukan sekadar mencocokkan nama jabatan yang terdengar mirip.
Salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah job evaluation, yaitu proses sistematis untuk menilai nilai relatif suatu pekerjaan berdasarkan faktor seperti tanggung jawab, kompleksitas, kewenangan, kompetensi, dan dampaknya terhadap organisasi.
Hasil job evaluation dapat membantu perusahaan menentukan apakah dua pekerjaan berada pada level atau grade yang sebanding sebelum keduanya dibandingkan dengan data market.
Menstandarkan Data Sebelum Dibandingkan
Oleh karena itu, sebelum data dari berbagai organisasi dibandingkan, beberapa faktor perlu diperhatikan secara konsisten, mulai dari scope of responsibility, level, kewenangan pengambilan keputusan, people management, keahlian fungsional, organizational impact, dan lokasi pekerjaan.
Faktor lain yang sama pentingnya adalah cakupan people management, keahlian fungsional, dampak terhadap organisasi, dan konteks geografis tempat pekerjaan itu dijalankan.
Pendekatan menstandarkan data ini juga terlihat dalam metodologi Raahi, di mana gaji “tipikal” yang dilaporkan tiap organisasi disesuaikan dulu dengan status kenaikan gaji tahun berjalan sebelum dibandingkan lintas organisasi.
Prinsip ini penting dipahami karena angka gaji dari berbagai sumber tidak bisa langsung dibandingkan mentah-mentah tanpa penyesuaian semacam ini.
Apa yang Dilakukan Jika Tidak Menemukan Exact Match?
Tidak semua posisi memiliki padanan yang persis sama dalam salary survey. Dalam kondisi ini, perusahaan perlu menentukan pendekatan yang paling mendekati berdasarkan level dan karakteristik pekerjaan.
Artinya, perusahaan menaikkan atau menurunkan benchmark terdekat untuk menyesuaikan perbedaan antara pekerjaan di perusahaan dan pekerjaan dalam survei.
Misalnya perusahaan punya posisi Senior Product Manager, tetapi salary survey hanya punya:
- Product Manager: Rp20 juta
- Director of Product: Rp35 juta
Kalau scope Senior Product Manager di perusahaan ternyata lebih besar daripada Product Manager, tetapi belum sampai level Director, perusahaan bisa menggunakan benchmark Product Manager lalu memberikan premium, misalnya +10%.
Rp20 juta × 110% = Rp22 juta
Sebaliknya, kalau scope pekerjaan sedikit lebih kecil dari posisi benchmark yang tersedia, bisa menggunakan discount.
Misalnya, salary survey punya:
- Manager: Rp20 juta
- Senior Manager: Rp30 juta
Sementara posisi perusahaan berada di antara kedua level tersebut. Daripada memaksakan posisi itu sebagai Manager atau Senior Manager, perusahaan bisa melakukan blend dari kedua benchmark.
Contoh sederhana:
60% × Rp20 juta + 40% × Rp30 juta = Rp24 juta
Jadi benchmark akhirnya Rp24 juta.
Jadi, jika exact match tidak tersedia, jangan memaksakan padanan yang sebenarnya tidak comparable.
Tentukan pendekatan yang paling sesuai, lalu dokumentasikan tingkat kecocokan dan alasan adjustment yang dilakukan agar benchmark tetap dapat dipertanggungjawabkan saat digunakan untuk keputusan kompensasi.
Seberapa Sering Job Match Harus Ditinjau?
Job matching bukan proses sekali jadi, karena struktur organisasi, definisi peran, dan kondisi pasar terus berubah.
Siklus tahunan ini masuk akal karena salary survey dan pay structure pada umumnya juga diperbarui setiap tahun, sehingga job match sebaiknya divalidasi pada periode yang sama.
Dari Salary Benchmark ke Salary Structure: Bagaimana Menerjemahkan Data Market?
Setelah data terkumpul dan job matching selesai dilakukan, tantangan berikutnya adalah menerjemahkan angka tersebut menjadi kebijakan yang bisa dijalankan sehari-hari.
Jangan Mengubah Benchmark Market Menjadi Gaji Individual Secara Langsung
Angka dari salary survey sebaiknya tidak langsung dijadikan gaji untuk setiap karyawan. Hasil benchmark perlu diterjemahkan secara bertahap:
market data → benchmark point → salary positioning → salary range → individual pay
Misalnya, benchmark menunjukkan bahwa nilai market untuk suatu pekerjaan berada di Rp20 juta. Angka tersebut menjadi reference point, bukan berarti setiap karyawan di posisi tersebut harus menerima Rp20 juta.
Perusahaan masih perlu menentukan posisi gaji terhadap market, membangun salary range berdasarkan level pekerjaan, lalu menentukan posisi masing-masing karyawan di dalam range tersebut.
Dengan pendekatan ini, market benchmark menjadi acuan untuk membangun struktur upah, bukan angka otomatis untuk menetapkan gaji individual.
Baca Juga: 3 Metode Penghitungan Struktur & Skala Upah yang Wajib HRD Perusahaan Pahami
Bangun Salary Range Berdasarkan Job Level
Setiap job level idealnya memiliki salary range dengan minimum, midpoint, dan maximum yang jelas. Misalnya:
| Job Level | Minimum | Midpoint | Maximum |
|---|---|---|---|
| Junior | Rp8 jt | Rp10 jt | Rp12 jt |
| Middle | Rp11 jt | Rp14 jt | Rp17 jt |
| Senior | Rp15 jt | Rp19 jt | Rp23 jt |
| Manager | Rp20 jt | Rp25 jt | Rp30 jt |
Dari struktur tersebut, perusahaan dapat melihat posisi gaji setiap karyawan di dalam salary range.
Misalnya, karyawan Senior dengan gaji Rp17 juta berada di bawah midpoint, sedangkan karyawan dengan gaji Rp21 juta berada di atas midpoint.
Inilah yang disebut range penetration, yaitu seberapa jauh posisi gaji seseorang berada di antara batas minimum dan maksimum.
Organisasi juga perlu memperhatikan overlap antar salary grade. Pada contoh di atas, range Middle dan Senior saling beririsan.
Overlap memungkinkan karyawan yang lebih berpengalaman di level tertentu memiliki gaji yang kompetitif tanpa harus langsung naik jabatan hanya karena sudah mendekati batas atas salary range.
Yang terpenting, hubungan antar-job level perlu dibuat konsisten. Perbedaan antar range sebaiknya mencerminkan perbedaan scope, tanggung jawab, dan nilai pekerjaan, bukan sekadar menetapkan angka gaji secara terpisah untuk setiap level.
Gunakan Salary Band sebagai Guardrail, Bukan Angka yang Kaku
Raahi memberi contoh menarik soal ini: salary band dapat digunakan sebagai guardrail, sementara keputusan aktual tetap mempertimbangkan realitas hiring, keterbatasan anggaran, dan koreksi pasar yang terjadi dari waktu ke waktu.
Pendekatan semacam ini relevan diterapkan pada organisasi besar dengan banyak cabang, karena kondisi pasar tenaga kerja di setiap lokasi bisa cukup berbeda.
Struktur gaji yang sehat memberikan konsistensi bagi organisasi, tanpa menghilangkan ruang untuk merespons realitas pasar yang terus berubah.
Apakah Salary Benchmarking Hanya untuk Menentukan Base Salary?
Salary benchmarking sering dipersempit maknanya menjadi sekadar membandingkan base salary, padahal cakupannya dapat lebih luas.

Namun, pola ini tidak berarti base salary selalu cukup untuk menggambarkan keseluruhan nilai kompensasi.
Pada executive roles, misalnya, 24,8% organisasi menggunakan Total Target Direct Compensation dan 16,1% menggunakan Total Direct Compensation.
Sementara itu, pada sales, 25,7% menggunakan Total Target Cash, yang menunjukkan lebih besarnya peran variable pay dalam struktur kompensasi kelompok pekerjaan tersebut.
Base Pay sebagai Benchmark Utama
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, CompTool menunjukkan bahwa base pay tetap menjadi elemen kompensasi yang paling umum dibenchmark oleh organisasi.
Salah satu alasannya adalah data base pay cenderung lebih tersedia dan konsisten dalam salary survey. Selain itu, banyak pay band memang tidak memasukkan variable pay di dalamnya.
Karena itu, base pay dapat menjadi titik awal yang paling praktis untuk membandingkan posisi perusahaan dengan market, terutama untuk pekerjaan dengan struktur kompensasi yang relatif sederhana.
Kapan Total Cash atau Total Direct Compensation Lebih Relevan?
Untuk beberapa jenis peran, base pay saja tidak cukup untuk menggambarkan daya saing kompensasi secara utuh.
CompTool menemukan bahwa organisasi lebih sering mempertimbangkan Total Target Direct Compensation atau Total Direct Compensation ketika membenchmark peran eksekutif, ketika variable pay menjadi bagian yang signifikan dari total kompensasi.
Pola serupa terlihat pada sales, di mana penggunaan Total Target Cash lebih tinggi dibandingkan kelompok pekerjaan lain karena struktur insentifnya berkaitan erat dengan pencapaian target.
Artinya, elemen kompensasi yang digunakan untuk benchmarking perlu mengikuti cara sebuah pekerjaan dibayar, bukan ditetapkan sama untuk seluruh organisasi.
Pertimbangkan Compensation Beyond Salary
Benchmarking juga dapat diperluas ke elemen di luar gaji, seperti allowance, asuransi, dukungan pembelajaran, fleksibilitas kerja, dan cuti.
Raahi memetakan compensation practices dan benefits sebagai bagian dari keseluruhan reward offering, sehingga benchmark tidak hanya melihat salary level.
Ini penting terutama ketika perusahaan bersaing mendapatkan talent dengan menawarkan paket kompensasi yang berbeda-beda.
Dua perusahaan bisa memiliki base salary yang sama, tetapi memberikan total value yang berbeda melalui benefit dan komponen rewards lainnya.
Baca Juga: Panduan Membangun Strategi Kompensasi dan Benefit yang Efektif
Salary Benchmarking Perlu Dilihat sebagai Bagian dari Total Rewards Strategy
Pada akhirnya, salary benchmarking sebaiknya menjadi salah satu input dalam total rewards strategy, bukan satu-satunya dasar keputusan kompensasi.
Benchmark membantu perusahaan memahami apakah pay yang ditawarkan kompetitif terhadap market.
Namun, keputusan mengenai total rewards tetap perlu mempertimbangkan kombinasi base pay, variable pay, benefits, dan elemen rewards lainnya sesuai karakteristik pekerjaan dan strategi perusahaan.
Bagaimana Membaca Hasil Salary Benchmarking dengan Benar?
Memiliki data yang bagus tidak otomatis menghasilkan keputusan yang tepat apabila cara membacanya keliru.
Hasil benchmarking perlu dipahami sebagai referensi untuk membaca posisi perusahaan terhadap market, bukan angka yang bisa langsung diterapkan.
Jangan Menganggap Median atau Typical Salary sebagai “Harga Pasar yang Benar”
Angka median atau typical salary sebaiknya diperlakukan sebagai reference point, bukan sebagai satu-satunya kebenaran tentang harga pasar untuk sebuah peran.
Nilai benchmark dapat berbeda tergantung data cut yang digunakan, ketepatan job matching, dan konteks organisasi yang dibandingkan.
Karena itu, angka median yang terlihat paling representatif belum tentu menjadi benchmark yang paling relevan untuk perusahaan.
Raahi juga menempatkan hasil benchmark sebagai reference point untuk pengambilan keputusan, bukan instrumen preskriptif.
Data dalam report tersebut berasal dari data yang dikumpulkan secara self-reported dan kemudian diagregasi serta dianonimkan.
Selalu Lihat Context di Balik Angka
Sebelum menggunakan sebuah angka benchmark, ada baiknya menanyakan beberapa hal terlebih dahulu: siapa respondennya, apa definisi role yang dipakai, dan bagaimana geografinya.
Pertanyaan lain yang tidak kalah penting adalah bagaimana ukuran organisasi dikategorikan, elemen kompensasi apa yang dibandingkan, dan kapan data tersebut dikumpulkan.
Jumlah responden juga perlu diperhatikan, karena data dengan sampel yang terlalu sedikit berisiko tidak representatif meski terlihat meyakinkan di atas kertas.
Gunakan Benchmark sebagai Input, Bukan Automatic Decision
Benchmark sebaiknya menjadi salah satu input dalam keputusan kompensasi, bukan keputusan itu sendiri.
Keputusan akhir tetap perlu mempertimbangkan compensation philosophy, internal equity, ketersediaan anggaran, dan strategi bisnis organisasi.
Faktor seperti kelangkaan talenta, performa karyawan, dan kritikalitas peran juga dapat memengaruhi keputusan akhir.
Jadi, benchmark menjawab “di mana posisi kita terhadap market?”, bukan otomatis menjawab “berapa gaji yang harus diberikan?”
4 Pertanyaan untuk Mengukur Apakah Salary Benchmarking Sudah Efektif
Salary benchmarking seharusnya menghasilkan lebih dari sekadar tabel angka market. Setelah framework dijalankan, organisasi perlu mengevaluasi apakah hasilnya benar-benar membantu meningkatkan daya saing kompensasi, menjaga fairness internal, dan menghasilkan keputusan pay yang lebih baik.
Pertanyaan 1 — Apakah Kompensasi Kita Cukup Kompetitif untuk Menarik Talent?
Lihat apakah positioning kompensasi terhadap market tercermin dalam hasil hiring. Offer acceptance rate, hiring difficulty, time to fill critical roles, dan vacancy pada posisi strategis dapat menjadi sinyal awal apakah paket kompensasi masih relevan dengan kondisi talent market.
Jika benchmark menunjukkan perusahaan berada pada posisi yang kompetitif tetapi offer tetap sering ditolak, itu menjadi sinyal untuk melihat kembali job match, competitive labor market, atau compensation element yang digunakan dalam benchmark.
Pertanyaan 2 — Apakah Struktur Gaji Kita Tetap Fair secara Internal?
Benchmarking eksternal perlu dibaca bersama kondisi internal. Periksa apakah karyawan pada job level dan scope yang comparable berada dalam posisi yang masuk akal terhadap salary range masing-masing.
Perhatikan juga indikasi pay equity, wage compression, salary outlier, dan range penetration.
Misalnya, jika karyawan baru direkrut mendekati atau bahkan melampaui gaji karyawan lama pada level yang sama, market adjustment yang dilakukan tanpa melihat struktur internal dapat menciptakan masalah baru.
Pertanyaan 3 — Apakah Benchmark Membantu Mempertahankan Talent yang Kritis?
Tujuan benchmarking bukan hanya mendapatkan angka yang kompetitif saat hiring, tetapi juga memastikan compensation strategy tetap relevan untuk mempertahankan talent.
Bandingkan hasil benchmark dengan voluntary turnover, regrettable attrition, dan pola perpindahan talent ke organisasi lain.
Data mengenai perusahaan asal new hire dan tujuan karyawan yang keluar juga dapat digunakan untuk melihat apakah competitive labor market yang dipilih memang mencerminkan persaingan talent yang sebenarnya.
Baca Juga: 12 Penyebab Turnover Karyawan: Memahami Akar Masalah di Balik Tingginya Attrition
Pertanyaan 4 — Apakah Benchmarking Kita Masih Bisa Dipercaya?
Benchmark yang digunakan untuk keputusan pay perlu terus dijaga kualitasnya. Karena itu, evaluasi tidak hanya melihat hasil kompensasi, tetapi juga kualitas proses benchmarking itu sendiri.
Pantau apakah role sudah memiliki valid match, kapan market data terakhir diperbarui, berapa banyak sumber yang digunakan, dan kapan job match terakhir divalidasi.
Memilih Pendekatan Teknologi untuk Mengelola Benchmarking secara Berkelanjutan
Framework yang sudah dibahas sebelumnya akan sulit dijalankan secara konsisten apabila masih mengandalkan proses manual, terutama pada organisasi dengan banyak cabang dan ratusan hingga ribuan posisi yang perlu dipantau.
Dari Spreadsheet Manual ke Sistem Terintegrasi
Selain itu, otomasi partisipasi survei dianggap penting oleh 49% pengguna, dan kemampuan melakukan market pricing untuk banyak posisi sekaligus dianggap penting oleh 50% pengguna.
Ketiga temuan ini menunjukkan bahwa organisasi mulai bergeser dari proses manual berbasis spreadsheet menuju sistem yang bisa menangani volume data lebih besar secara lebih efisien.
Menghubungkan Data Benchmarking dengan Payroll dan Performance dalam Satu Sistem
Benchmarking yang efektif idealnya tidak berdiri sendiri, melainkan terhubung langsung dengan data payroll dan performance review yang sudah dimiliki organisasi.
Dengan keterhubungan ini, hasil benchmark bisa lebih cepat diterjemahkan menjadi salary adjustment, sekaligus memudahkan tim kompensasi memantau dampaknya terhadap struktur gaji secara keseluruhan.
Kebutuhan inilah yang menjadi alasan mengapa banyak organisasi dengan banyak cabang kini mulai mempertimbangkan satu sistem terintegrasi untuk mengelola seluruh siklus kompensasi mereka, mulai dari benchmarking hingga payroll.
Sebagai platform HCM, Mekari Talenta menyediakan sistem manajemen kompensasi yang membantu organisasi mengelola struktur gaji dan perencanaan kompensasi secara lebih strategis, sekaligus terhubung dengan data payroll dan performance yang sudah berjalan di dalam satu platform.
Dengan pendekatan ini, tim kompensasi tidak perlu lagi mengelola data benchmark, salary structure, dan payroll secara terpisah-pisah di berbagai spreadsheet dan sistem yang berbeda.
Jika organisasi Anda ingin mendiskusikan bagaimana proses salary benchmarking dan salary structure dapat dikelola secara lebih terstruktur, silakan hubungi kami untuk konsultasi lebih lanjut bersama tim Mekari Talenta.
