Memahami Salary Grade untuk Menyusun Level Pekerjaan Secara Strategis

Tayang
Di tulis oleh:
Author Avatar
Abidah Ardelia
Highlights

  • Salary grade adalah sistem pengelompokan pekerjaan berdasarkan level atau nilai relatif untuk menentukan rentang kompensasi yang sesuai.
  • Contoh salary grading adalah Grade 1 untuk posisi entry-level, Grade 2 untuk professional, hingga Grade 4 untuk posisi dengan scope dan tanggung jawab lebih besar.

Ketika organisasi berkembang, keputusan mengenai gaji tidak lagi cukup dibuat berdasarkan jabatan, masa kerja, atau hasil negosiasi saat rekrutmen. 

Perbedaan scope, kompleksitas pekerjaan, dan nilai kontribusi perlu memiliki dasar yang konsisten agar keputusan kompensasi tetap dapat dipertanggungjawabkan.

Di sinilah salary grade berperan. Salary grade membantu organisasi mengelompokkan pekerjaan berdasarkan level atau nilai relatifnya, kemudian menghubungkannya dengan rentang kompensasi yang sesuai.

Menurut survei WorldatWork dan Deloitte pada 2023, salary grade masih menjadi metode yang paling banyak digunakan untuk membangun struktur kompensasi pada organisasi yang memiliki karyawan di berbagai negara, dengan 59% responden menggunakannya.

Artikel ini membahas apa itu salary grade, kenapa perannya penting dalam sistem kompensasi, komponen yang membentuknya, cara menentukannya, serta cara menjaga strukturnya tetap relevan seiring waktu.

Apa Itu Salary Grade?

salary grade

Salary grade adalah pengelompokan pekerjaan yang memiliki nilai atau bobot relatif setara ke dalam satu kategori kompensasi yang sama. Istilah ini kerap juga disebut pay grade, dan keduanya digunakan secara bergantian dalam praktik kompensasi.

Dalam sistem kompensasi, salary grade berfungsi sebagai kerangka acuan agar keputusan gaji tidak dibuat secara ad hoc untuk setiap posisi.

Salary grade biasanya terhubung dengan job level atau tingkat tanggung jawab. Pekerjaan dengan scope, kompleksitas, dan dampak bisnis yang relatif setara dapat berada dalam grade yang sama meski memiliki job title berbeda.

Karena itu, Anda mungkin pernah mendengar istilah “level grade karyawan”, “gaji karyawan grade 2A”, atau “gaji karyawan grade 5”. Istilah tersebut merujuk pada level atau kategori kompensasi tempat seorang karyawan berada dalam salary structure perusahaan.

Mengapa Salary Grade Penting dalam Sistem Kompensasi?

Salary grade bukan sekadar alat administratif untuk merapikan daftar gaji. Perannya menyentuh tiga area yang saling berkaitan: keadilan internal, daya saing eksternal, dan konsistensi pengambilan keputusan.

1. Menjaga Internal Pay Equity

Salary grade membantu organisasi membandingkan pekerjaan menggunakan kriteria yang lebih konsisten, seperti scope tanggung jawab dan kompleksitas kerja, bukan sekadar judul atau siapa yang paling pandai bernegosiasi.

Tanpa kerangka yang jelas, perbandingan gaji antarposisi mudah bergeser menjadi soal jabatan atau kekuatan negosiasi masing-masing individu.

Internal pay equity bukan berarti semua orang dalam satu grade harus menerima gaji yang sama. Salary range tetap memberikan ruang untuk membedakan kompensasi berdasarkan experience, proficiency, performance, dan faktor relevan lainnya.

Dengan kriteria yang sama, dua orang di posisi yang setara secara nilai pekerjaan akan berada pada grade dan rentang gaji yang sebanding.

2. Menjaga External Competitiveness

Selain adil secara internal, grade juga perlu dikaitkan dengan kondisi pasar tenaga kerja agar organisasi tetap kompetitif dalam menarik dan mempertahankan talent.

SHRM mencatat bahwa 93% perusahaan yang disurvei menggunakan data survei kompensasi pasar ketika merancang struktur gaji mereka. Angka ini menunjukkan bahwa market data bukan lagi opsional dalam desain salary structure.

Praktiknya melibatkan beberapa elemen yang saling terkait: market benchmarking untuk memetakan posisi terhadap pasar, salary survey sebagai sumber data, market midpoint sebagai titik acuan, serta competitive positioning yang menentukan seberapa agresif organisasi membayar dibanding kompetitor.

Untuk critical roles yang sulit digantikan atau sangat kompetitif di pasar, positioning ini sering kali sengaja diatur lebih tinggi dibanding grade lain pada level yang setara.

Tanpa penyesuaian semacam ini, organisasi berisiko kehilangan talent kunci ke kompetitor yang membayar lebih dekat dengan kondisi pasar terkini, meski struktur internalnya sendiri sudah tertata rapi.

3. Mengendalikan Pay Decisions

Salary grade juga memberikan guardrails dalam berbagai keputusan kompensasi. Hiring offer, promotion, salary adjustment, internal movement, merit increase, hingga compensation review dapat menggunakan struktur yang sama sebagai titik referensi.

Hal ini menjadi semakin penting ketika jumlah keputusan kompensasi meningkat. Tanpa kerangka yang jelas, setiap keputusan dapat berkembang menjadi exception yang sulit dikonsolidasikan dan berpotensi menciptakan ketidakkonsistenan antarunit atau fungsi.

Komponen yang Membentuk Salary Grade

Salary grade tidak berdiri sendiri. Setidaknya, terdapat beberapa komponen yang perlu dipertimbangkan ketika membangun struktur yang mampu mengikuti kebutuhan organisasi.

  • Job Value → menunjukkan relative value suatu pekerjaan berdasarkan faktor seperti scope, complexity, accountability, skills, dan business impact.
  • Job Level → menunjukkan tingkat kontribusi dan tanggung jawab suatu pekerjaan dalam job architecture, termasuk hubungan dengan career path dan pekerjaan pada level lain.
  • Salary Range → menetapkan rentang kompensasi untuk suatu grade, yang umumnya terdiri dari minimum, midpoint, dan maximum. Range memberikan ruang untuk membedakan pay berdasarkan experience, proficiency, performance, atau market positioning tanpa harus langsung memindahkan seseorang ke grade lain.
  • Market Positioning → menunjukkan bagaimana midpoint dan salary range dibandingkan dengan external market. Organisasi dapat menggunakan P50 atau median sebagai referensi, kemudian menentukan apakah positioning berada below market, at market, atau above market sesuai compensation philosophy.

Setiap grade dapat memiliki tiga titik acuan dalam salary range-nya: minimum sebagai batas bawah, midpoint sebagai titik tengah yang biasanya mencerminkan target pasar, dan maximum sebagai batas atas.

Rentang ini memberi ruang untuk membedakan pay berdasarkan experience, proficiency, performance, atau market positioning tanpa harus langsung memindahkan seseorang ke grade lain.

Artinya, dua orang di grade yang sama bisa saja dibayar berbeda, selama keduanya masih berada dalam batas minimum dan maximum grade tersebut.

Market positioning kemudian dibandingkan dengan konsep seperti P50 atau median pasar, below market, at market, dan above market.

Below market berarti midpoint organisasi berada di bawah median pasar, at market berarti sejajar, dan above market berarti organisasi membayar lebih tinggi dari median untuk menarik atau mempertahankan talent tertentu.

Bagaimana Menentukan Salary Grade?

Membangun salary grade bukan proses satu langkah. Ada urutan tahapan yang saling bergantung, mulai dari memahami struktur pekerjaan hingga memvalidasi hasilnya terhadap pasar.

ilustrasi salary grade

1. Mulai dari Job Architecture

WorldatWork menjelaskan job architecture sebagai infrastruktur atau hierarki pekerjaan yang mencakup job level, titling convention, grade, career path, dan kriteria pergerakan karier.

Pada tahap ini, organisasi perlu mengidentifikasi job family, job function, career level, scope, dan responsibility dari setiap pekerjaan yang ada.

Tanpa job architecture yang jelas, proses pengelompokan ke dalam grade berikutnya akan kehilangan basis yang konsisten, karena setiap pekerjaan dinilai tanpa kerangka pembanding yang sama.

Job architecture yang rapi juga membantu mengurangi title inflation, yaitu kondisi ketika jabatan terus dinaikkan namanya tanpa perubahan berarti pada scope pekerjaan yang sesungguhnya.

2. Lakukan Job Evaluation

Setelah job architecture terbentuk, langkah berikutnya adalah menilai relative value setiap pekerjaan menggunakan faktor yang konsisten, seperti kompleksitas, dampak keputusan, dan tingkat pengawasan.

Ada beberapa pendekatan yang umum digunakan: point-factor yang memberi skor pada tiap faktor pekerjaan, market pricing yang mengandalkan data gaji pasar, dan hybrid approach yang menggabungkan keduanya.

SHRM mencatat market pricing dan point-factor sebagai dua pendekatan utama dalam desain salary range structure, dengan sebagian organisasi menggabungkan keduanya.

Sebagai contoh, organisasi yang memakai market pricing dapat langsung membandingkan gaji posisi Financial Analyst dengan data pasar untuk peran serupa, lalu menempatkannya pada grade yang sesuai dengan hasil benchmarking tersebut.

Faktor yang dipakai dalam evaluasi ini perlu diterapkan secara konsisten ke seluruh pekerjaan, agar hasil akhirnya tidak bergantung pada siapa yang kebetulan menilai posisi tersebut.

3. Kelompokkan Pekerjaan ke dalam Grade

Pekerjaan dengan relative value yang cukup dekat kemudian dapat dikelompokkan ke dalam salary grade yang sama. Pengelompokan ini perlu didasarkan pada karakteristik pekerjaan, bukan sekadar kesamaan title.

Misalnya, posisi Senior Accountant dan Senior Business Analyst yang memiliki bobot job evaluation setara dapat berada pada grade yang sama, karena tingkat tanggung jawab dan kompleksitas kerjanya sebanding.

Pengelompokan ini yang kemudian membuat organisasi dapat menetapkan satu salary range untuk sekelompok pekerjaan, bukan satu range untuk setiap job title secara terpisah.

4. Tentukan Salary Range

Setelah grade terbentuk, organisasi perlu menetapkan minimum, midpoint, dan maximum untuk masing-masing grade.

Minimum dan maximum memberikan batas bawah dan atas kompensasi, sedangkan midpoint menjadi titik referensi untuk positioning salary grade terhadap market. Selain itu, perhatikan range spread dan midpoint differential antargrade agar struktur memiliki progression yang masuk akal.

Range yang terlalu sempit dapat membatasi fleksibilitas dalam memberikan kenaikan kompensasi. Sebaliknya, range yang terlalu lebar dapat membuat perbedaan antarlevel menjadi kurang jelas.

5. Validasi dengan Market Data

Struktur internal yang sudah disusun kemudian perlu dibandingkan dengan data kompensasi eksternal untuk memastikan grade tersebut tetap kompetitif.

Validasi ini membantu organisasi melihat apakah midpoint pada tiap grade masih realistis dibandingkan median pasar, atau justru sudah tertinggal maupun melampaui posisi yang diinginkan.

Hal ini semakin penting untuk pekerjaan dengan critical skills. WorldatWork menemukan bahwa 36% responden pada survei 2023 pernah mengubah compensation structure karena perubahan signifikan pada market rates. Kenaikan competitive market rates juga menjadi alasan utama perubahan struktur bagi 82% responden.

Dengan kata lain, market data tidak hanya digunakan ketika salary grade pertama kali dibuat. Data tersebut perlu menjadi bagian dari proses evaluasi struktur secara berkala.

Baca Juga: Panduan Salary Benchmarking: Membandingkan Kompensasi dengan Market 

6. Uji Internal Equity

Langkah terakhir adalah menguji apakah struktur yang sudah dibangun benar-benar konsisten secara internal.

Beberapa hal yang perlu dicari pada tahap ini adalah wage compression, yaitu selisih gaji yang terlalu tipis antara level yang berbeda, unexplained pay differences, inconsistent placement, outlier, serta overlap antargrade yang terlalu besar.

Jika ditemukan salah satu masalah tersebut, biasanya perlu ada penyesuaian pada job evaluation, rentang gaji, atau penempatan grade sebelum struktur benar-benar difinalisasi.

Overlap antargrade sendiri bukan selalu masalah, karena tumpang tindih yang wajar memberi fleksibilitas saat promosi. Namun, overlap yang terlalu besar dapat mengaburkan perbedaan nilai antargrade yang seharusnya dijaga.

Bagaimana Menjaga Salary Grade Tetap Relevan?

Salary grade yang sudah disusun dengan baik tetap bisa kehilangan relevansinya jika diperlakukan sebagai tabel statis yang jarang ditinjau ulang.

Struktur ini sebaiknya dilihat sebagai living system yang perlu terus disesuaikan dengan perubahan pasar, kondisi internal, dan arah bisnis organisasi.

Market Review

Market review diperlukan ketika terjadi perubahan signifikan pada market rate, ketika critical skill menjadi scarce, ketika business model berubah, atau ketika organisasi memperluas geographic footprint.

WorldatWork mencatat bahwa 65% responden menggunakan market-based compensation structures pada 2023, meningkat dari 55% pada 2019. Perubahan tersebut menunjukkan semakin kuatnya peran market data dalam menentukan bagaimana organisasi memosisikan compensation structure.

Namun, market review tidak berarti setiap perubahan gaji di pasar harus langsung diikuti. Data perlu dibaca bersama compensation philosophy, affordability, criticality suatu role, dan kondisi internal.

Internal Review

Selain meninjau pasar, organisasi juga perlu memantau kondisi internal secara berkala, termasuk pay compression, range penetration, compa-ratio, pay equity antarkaryawan, dan distribusi karyawan pada tiap grade.

Monitoring ini membantu melihat apakah salary range masih berfungsi sebagaimana mestinya. Jika sebagian besar karyawan terus berada di ujung atas range, misalnya, struktur dapat membutuhkan evaluasi terhadap market positioning atau progression policy.

Begitu pula jika terlalu banyak pekerjaan terkonsentrasi pada satu grade, organisasi perlu memeriksa apakah job architecture atau differentiation antarlevel masih mencerminkan realitas pekerjaan.

Baca Juga: Salary Review: Kerangka Strategis untuk Evaluasi Kompensasi Karyawan

Governance

Salary grade juga membutuhkan governance yang jelas. Organisasi perlu menentukan siapa yang memiliki kewenangan untuk mengubah grade, kapan salary structure direview, bagaimana exception disetujui, dan bagaimana new roles dipetakan ke struktur yang sudah ada.

Governance menjadi penting karena job architecture dan salary structure bukan proyek yang selesai sekali. WorldatWork menekankan bahwa job architecture perlu terus berkembang mengikuti perubahan strategi internal dan external talent marketplace.

Bangun Struktur Kompensasi yang Lebih Strategis

Salary grade yang terstruktur membantu organisasi menjaga konsistensi keputusan kompensasi sekaligus merespons perubahan kebutuhan bisnis dan talent market.

Dengan Platform HCM Mekari Talenta, perusahaan dapat memanfaatkan fitur manajemen kompensasi untuk menyusun dan mengelola salary structure berdasarkan kriteria organisasi, salary benchmark, serta rentang kompensasi yang dapat disesuaikan dengan kebijakan perusahaan.

Hubungi tim ahli Mekari Talenta untuk mengkonsultasikan kebutuhan salary structure perusahaan dan mendiskusikan pendekatan yang tepat untuk membangun struktur kompensasi yang lebih terukur dan adaptif.


Referensi

  1. Society for Human Resource Management. (2010, November 24). Salary structures: Creating competitive and equitable pay levels.
  2. SHRM WorldatWork. (2023, June 7). Salary structure survey results & trends in 2023.

Pertanyaan Umum seputar Salary Grade

Apakah salary grade menentukan gaji setiap karyawan secara pasti?

Apakah salary grade menentukan gaji setiap karyawan secara pasti?

Tidak. Salary grade biasanya menetapkan rentang kompensasi, bukan satu angka gaji yang wajib diterima seluruh karyawan dalam grade tersebut. Posisi seseorang dalam range dapat dipengaruhi oleh pengalaman, kompetensi, performa, tenure, dan faktor kompensasi lain yang relevan. Karena itu, dua karyawan pada grade yang sama tetap dapat memiliki gaji berbeda.

Apakah salary grade harus dibuat berdasarkan jabatan?

Apakah salary grade harus dibuat berdasarkan jabatan?

Tidak selalu. Jabatan dapat menjadi salah satu referensi, tetapi penentuan grade sebaiknya mempertimbangkan nilai pekerjaan, scope, kompleksitas, accountability, dan kompetensi yang dibutuhkan. Pendekatan ini mencegah organisasi mengasumsikan bahwa semua pekerjaan dengan title yang sama otomatis memiliki nilai yang sama. Struktur juga menjadi lebih mudah diterapkan ketika organisasi memiliki banyak variasi posisi.

Berapa jumlah salary grade yang ideal dalam sebuah perusahaan?

Berapa jumlah salary grade yang ideal dalam sebuah perusahaan?

Tidak ada jumlah grade yang berlaku universal untuk semua organisasi. Jumlahnya perlu disesuaikan dengan ukuran organisasi, kompleksitas job architecture, jumlah career levels, variasi pekerjaan, dan compensation philosophy. Terlalu banyak grade dapat menciptakan diferensiasi yang tidak perlu, sementara terlalu sedikit grade dapat membuat perbedaan antarlevel sulit direpresentasikan.

Apakah salary grade perlu berbeda untuk setiap lokasi kerja?

Apakah salary grade perlu berbeda untuk setiap lokasi kerja?

Tidak selalu. Organisasi dapat menggunakan struktur grade yang sama tetapi menerapkan salary range atau market positioning yang berbeda berdasarkan geography. Pendekatan ini memungkinkan konsistensi job architecture tetap terjaga tanpa mengabaikan perbedaan labor market, cost of labor, dan kondisi kompensasi lokal. Keputusan tersebut sebaiknya mengikuti compensation philosophy dan strategi geographic pay organisasi.

Apa yang terjadi jika gaji karyawan berada di bawah atau di atas salary range?

Apa yang terjadi jika gaji karyawan berada di bawah atau di atas salary range?

Kondisi tersebut biasanya disebut sebagai red circle ketika gaji berada di atas maximum range dan green circle ketika berada di bawah minimum range. Keduanya merupakan sinyal yang perlu ditinjau, bukan otomatis berarti terjadi kesalahan. Organisasi perlu memahami penyebabnya, seperti tenure, market adjustment, skill premium, perubahan struktur, atau historical pay decisions, kemudian menentukan tindakan yang sesuai.

Abidah Ardelia Penulis
A Content Specialist with more than two years of experience covering the Human Resources (HR) industry, with a focus on HR technology, payroll, talent management, recruitment, employment practices, and digital HR transformation. Her work combines regulatory developments, industry research, and insights from HR practitioners to deliver accurate, well-researched content that addresses the strategic and operational priorities of HR professionals and business leaders.
Icon

Satu solusi untuk semua kebutuhan HR Anda

Optimalkan pengelolaan operasi HR Anda dengan bantuan solusi terintegrasi dari Mekari Talenta.

WhatsApp Hubungi sales