Panduan Membangun Total Rewards Strategy yang Selaras dengan Bisnis

Tayang
Di tulis oleh:
Author Avatar
Abidah Ardelia
Highlights
  • Total rewards strategy adalah kerangka strategis untuk mengintegrasikan financial dan non-financial rewards dengan kebutuhan bisnis dan workforce.
  • Untuk menyusun total rewards strategy, organisasi perlu menyelaraskan reward dengan business priority, job value, market, performance, dan employee value.

Ketika keputusan compensation melibatkan banyak job level, unit bisnis, dan lokasi kerja, compensation management menjadi jauh lebih kompleks daripada sekadar menetapkan salary range dan benefit. Organisasi juga perlu memastikan setiap reward diberikan secara konsisten dan tetap selaras dengan business priorities.

Survei HR.com’s Future of Compensation and Total Rewards 2024-25 menunjukkan 78% organisasi menilai pendekatan compensation mereka hanya moderately effective atau lebih buruk, sementara kurang dari seperempat responden menilai sistem compensation mereka sudah sophisticated.

Tantangannya bukan hanya bagaimana organisasi membayar karyawan secara kompetitif, tetapi bagaimana salary, incentive, benefits, development, dan recognition bekerja dengan logika yang sama di berbagai bagian organisasi.

Karena itu, artikel ini akan membahas bagaimana membangun total rewards strategy yang menghubungkan business priorities, reward architecture, pay equity, performance, dan employee value dalam satu kerangka strategis.

Memahami Total Rewards sebagai Strategic Reward Framework

Sebelum masuk ke tahapan penyusunan strategi, penting untuk menyamakan pemahaman tentang apa itu total rewards dan mengapa konsepnya lebih luas daripada sekadar gaji.

Apa Itu Total Rewards?

Total rewards adalah keseluruhan elemen yang dianggap bernilai oleh karyawan dari hubungan kerjanya dengan organisasi, baik yang berbentuk uang maupun yang tidak.

Cakupannya jauh lebih luas daripada salary dan monetary compensation semata. Total rewards juga mencakup variable pay, benefits, recognition, career opportunities, learning & development, hingga workplace experience.

Wilson Group, misalnya, mengategorikan reward ke dalam empat kelompok besar: salary & wages, cash & equity-based variable pay, employee benefits & services, serta development & recognition.

Penelitian akademik turut mendukung pandangan ini. Total reward dipahami sebagai keseluruhan nilai dari setiap elemen paket reward yang diterima karyawan, mencakup aspek finansial maupun non-finansial yang dianggap bernilai oleh mereka.

Dengan kata lain, total rewards bukan sekadar daftar fasilitas yang ditawarkan perusahaan. Ia adalah cara organisasi menjawab pertanyaan mendasar: apa yang benar-benar dihargai oleh karyawan, dan bagaimana organisasi memenuhinya secara berkelanjutan.

Pandangan ini juga sejalan dengan teori motivasi klasik seperti hierarki kebutuhan Maslow, yang menjelaskan bahwa manusia termotivasi oleh kebutuhan yang berjenjang, mulai dari kebutuhan dasar hingga aktualisasi diri.

hierarki kebutuhan maslow dalam total rewards

Semakin tinggi jenjang kebutuhan yang ingin dipenuhi seorang karyawan, semakin besar pula peran elemen non-finansial seperti pengakuan, otonomi, dan kesempatan berkembang dalam membentuk motivasinya.

Teori dua faktor dari Herzberg juga relevan di sini. Ada faktor yang sifatnya “hygiene”, yang jika tidak dipenuhi akan menimbulkan ketidakpuasan, dan ada faktor “motivator” yang benar-benar mendorong semangat kerja.

teori dua faktor herzberg

Gaji dan benefit dasar cenderung berfungsi sebagai hygiene factor, sementara recognition, tantangan pekerjaan, dan kesempatan berkembang lebih berperan sebagai motivator sejati.

Karena itu, organisasi yang hanya mengandalkan kenaikan gaji sebagai satu-satunya alat motivasi berisiko kehilangan pengaruh dari faktor-faktor lain yang justru lebih berdampak pada engagement jangka panjang.

Bedakan Total Rewards dari Total Compensation

Istilah total rewards sering dipertukarkan begitu saja dengan total compensation, padahal keduanya berada pada titik yang berbeda dalam evolusi konsep reward.

Perjalanannya kurang lebih berjalan seperti ini: 

evolusi konsep reward

Compensation pada mulanya hanya berbicara tentang gaji dan upah sebagai bentuk pembayaran atas jasa yang diberikan karyawan.

Total compensation kemudian memperluas cakupan tersebut dengan memasukkan benefit, jadwal kerja yang fleksibel, bantuan pendidikan, hingga pelatihan sebagai bagian dari nilai yang diterima karyawan.

Total rewards melangkah lebih jauh lagi. Konsep ini menekankan keutuhan remunerasi secara menyeluruh, dan sengaja diposisikan sebagai lawan dari sekadar total compensation yang lebih sempit.

Perbedaan ini bukan sekadar soal istilah. Ketika organisasi hanya berpikir dalam kerangka total compensation, ada risiko elemen-elemen penting seperti recognition, pengembangan karier, dan pengalaman kerja luput dari perhatian strategis.

Sebagai ilustrasi, dua organisasi bisa saja menawarkan base salary dan benefit yang setara. 

Namun, organisasi yang secara sadar mengelola recognition, pengembangan karier, dan workplace experience sebagai bagian dari strategi reward cenderung lebih unggul dalam menarik dan mempertahankan talent.

Bagi organisasi yang beroperasi di banyak lokasi dan lini bisnis, memahami perbedaan ini juga membantu menghindari kesalahan umum: menyamakan seluruh strategi reward dengan sekadar tabel gaji dan daftar benefit standar.

Reward Strategy Harus Menjawab “Why”, Bukan Hanya “What”

Salah satu perbedaan mendasar antara organisasi yang punya reward strategy dan yang sekadar punya program reward terletak pada kemampuan menjawab pertanyaan “mengapa”: mengapa bonus ini digunakan, perilaku atau outcome apa yang ingin diperkuat, siapa yang perlu menerimanya, dan bagaimana keberhasilannya diukur.

Wilson Group secara eksplisit menyebut bahwa reward strategy harus memberi guidance bagi para pengambil keputusan, sekaligus menjawab mengapa suatu program dirancang atau dijalankan dengan cara tertentu.

Tanpa “why” yang jelas, setiap keputusan kompensasi berisiko menjadi reaktif. Kenaikan gaji diberikan karena ada karyawan yang mengancam resign, bukan karena ada logika strategis di baliknya.

Ketika “why” ini hilang, organisasi juga kehilangan kemampuan untuk mempertahankan konsistensi keputusan dari waktu ke waktu, apalagi ketika skala organisasi terus bertambah dan keputusan kompensasi tidak lagi bisa diambil oleh satu-dua orang saja.

Sebagai contoh, ketika seorang manajer di satu cabang memberikan bonus khusus kepada timnya tanpa kriteria yang terdokumentasi, keputusan itu sulit direplikasi secara konsisten oleh manajer lain di cabang berbeda.

Jika kemudian karyawan di cabang lain menanyakan mengapa mereka tidak mendapat perlakuan serupa, organisasi tidak memiliki jawaban yang kuat selain “itu kebijakan manajer masing-masing”, yang justru berpotensi menimbulkan persepsi ketidakadilan.

Reward strategy yang baik mencegah situasi semacam ini dengan menyediakan kerangka “why” yang dapat dirujuk oleh siapa pun yang mengambil keputusan kompensasi, di lokasi dan level mana pun mereka berada.

Panduan Membangun Total Rewards Strategy: Menyusun Strategi yang Sesuai Kebutuhan Organisasi

Menyusun total rewards strategy bukan proses satu langkah. Ada beberapa tahapan yang saling terhubung, dimulai dari menentukan arah hingga mengoperasionalkannya secara berkelanjutan.

Tahap 1 — Strategic Alignment: Menentukan Arah Total Rewards

Tahap pertama ini menjadi fondasi seluruh proses berikutnya. Tanpa strategic alignment yang jelas, tahapan-tahapan selanjutnya kehilangan pijakan.

1. Tentukan Outcome yang Ingin Didorong melalui Reward

Reward strategy sebaiknya dimulai dari business priorities, bukan dari daftar benefit yang sudah ada.

Beberapa contoh business priorities yang umum antara lain growth, innovation, productivity, retention, critical talent, leadership pipeline, dan transformation.

Framework Aon oleh Andy Hiles menyarankan agar objective total rewards dibuat spesifik, measurable, dan time-bound, alih-alih dirumuskan secara umum seperti “meningkatkan motivasi karyawan”.

Sebagai gambaran, jika business priority adalah mempertahankan critical talent, strategi reward mungkin perlu lebih agresif pada market competitiveness, retention incentives, career development, dan recognition.

Sebaliknya, jika priority organisasi adalah performance differentiation, fokus dapat bergeser ke merit increase, variable pay, performance management, dan recognition yang lebih menonjolkan pencapaian individu.

Poin pentingnya, reward strategy mengikuti business priority, bukan sebaliknya. Organisasi yang menentukan program reward terlebih dahulu, baru mencari alasan bisnisnya belakangan, cenderung berakhir dengan reward yang tidak selaras dengan kebutuhan aktual.

Sebagai contoh konkret, sebuah organisasi yang sedang membuka banyak cabang baru mungkin memiliki business priority berupa kecepatan ekspansi dan konsistensi operasional di setiap lokasi.

Objective reward yang spesifik untuk prioritas ini bisa berbentuk target retensi karyawan operasional di atas persentase tertentu dalam kurun waktu tertentu, bukan sekadar “meningkatkan retensi” secara umum tanpa ukuran yang jelas.

Dengan objective yang measurable dan time-bound seperti ini, organisasi juga memiliki dasar yang jelas untuk mengevaluasi apakah program reward yang dijalankan benar-benar berhasil mencapai tujuannya.

2. Tentukan Reward Philosophy sebagai “Aturan Main”

Setelah objective ditentukan, langkah berikutnya adalah menetapkan prinsip yang menjadi dasar setiap keputusan reward.

Beberapa contoh prinsip yang bisa dijadikan reward philosophy antara lain competitive vs market, pay for performance, internal consistency, differentiation based on contribution, financial sustainability, dan employee value.

Wilson Group menempatkan reward philosophy sebagai prinsip yang menghubungkan reward programs dengan mission, strategy, dan values organisasi.

Reward philosophy inilah yang berfungsi sebagai “aturan main” ketika ada situasi baru yang belum diatur secara eksplisit, misalnya ketika ada permintaan kenaikan gaji dari karyawan tertentu atau kebutuhan menyusun paket benefit baru.

Dengan reward philosophy yang jelas, keputusan kompensasi tidak perlu selalu dinegosiasikan dari nol setiap kali muncul kasus baru, karena sudah ada kerangka nilai yang disepakati sejak awal.

Misalnya, jika reward philosophy organisasi menekankan pay for performance, maka kenaikan gaji yang seragam untuk seluruh karyawan tanpa mempertimbangkan hasil kerja jelas bertentangan dengan prinsip yang sudah disepakati.

Sebaliknya, jika reward philosophy menekankan internal consistency, maka setiap penyesuaian gaji individual perlu dipertimbangkan dampaknya terhadap struktur gaji secara keseluruhan, bukan hanya terhadap satu orang yang bersangkutan.

Reward philosophy juga perlu dikomunikasikan secara terbuka, bukan hanya disimpan sebagai dokumen internal tim kompensasi.

Karyawan yang memahami prinsip di balik keputusan reward cenderung lebih menerima hasil keputusan tersebut, meskipun tidak selalu sesuai harapan mereka.

3. Tentukan Siapa yang Perlu Diberi Reward Berbeda

Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah mengasumsikan seluruh workforce memiliki kebutuhan reward yang sama, padahal kenyataannya jauh lebih beragam.

Segmentasi bisa dilakukan berdasarkan job level, function, business unit, critical roles, high performers, scarce skills, geography, hingga employee needs yang spesifik.

Wilson Group secara khusus menyarankan agar organisasi mengidentifikasi kelompok karyawan yang memiliki kebutuhan reward berbeda sebelum menentukan program reward apa pun.

Framework Aon juga menekankan bahwa employee groups dapat memiliki persepsi value yang berbeda terhadap reward yang sama, sehingga strategi perlu mempertimbangkan karakteristik workforce secara spesifik, bukan pendekatan yang seragam untuk semua orang.

Bagi organisasi dengan banyak unit bisnis dan lokasi kerja yang tersebar, langkah segmentasi ini menjadi krusial. Kebutuhan karyawan di kantor pusat bisa sangat berbeda dengan kebutuhan karyawan di lokasi operasional lapangan.

Sebagai contoh, karyawan pada peran teknis dan operasional di lokasi tertentu mungkin lebih menghargai stabilitas jadwal kerja dan tunjangan transportasi, sementara karyawan pada peran fungsional di kantor pusat lebih menghargai fleksibilitas kerja dan jenjang karier.

Segmentasi juga tidak berarti menciptakan reward yang benar-benar berbeda untuk setiap kelompok kecil karyawan. Tujuannya adalah memastikan alokasi reward mengikuti kebutuhan yang benar-benar relevan bagi masing-masing segmen, bukan pendekatan satu ukuran untuk semua.

Tanpa segmentasi ini, organisasi berisiko menghabiskan anggaran reward untuk program yang sebenarnya tidak terlalu dihargai oleh sebagian besar karyawannya, sekaligus melewatkan kebutuhan yang justru dianggap penting oleh segmen lain.

Tahap 2 — Reward Architecture: Membangun Struktur Reward yang Kompetitif dan Konsisten

Setelah arah strategis ditentukan, barulah organisasi masuk ke pembahasan compensation secara lebih teknis, sehingga narasinya tidak terasa tiba-tiba muncul di tengah proses.

1. Gunakan Job Evaluation untuk Menentukan Internal Value

Job evaluation menjadi fondasi untuk memahami job scope, responsibility, complexity, capability requirement, hingga relative value antarjabatan di dalam organisasi.

Tujuan utamanya adalah membangun internal structure yang konsisten, sehingga perbedaan reward antarposisi benar-benar mencerminkan perbedaan nilai pekerjaan, bukan sekadar hasil negosiasi individual.

Framework Aon memasukkan job evaluation sebagai salah satu komponen dalam scope total rewards, bersama base salary, salary increase, incentives, recognition, dan performance management.

Tanpa job evaluation yang solid, organisasi berisiko menetapkan reward berdasarkan title jabatan semata, padahal dua posisi dengan title yang mirip bisa memiliki scope tanggung jawab yang jauh berbeda.

Sebagai contoh, dua posisi bertitle “Manager” di dua unit bisnis berbeda bisa memiliki jumlah bawahan, kompleksitas keputusan, dan dampak organisasional yang sangat tidak setara.

Faktor Job Evaluation Manager A – Unit Bisnis A Manager B – Unit Bisnis B
Jumlah bawahan 8 orang 35 orang
Scope tanggung jawab 1 fungsi 3 fungsi
Kompleksitas keputusan Sedang Tinggi
Dampak organisasional Terbatas pada unit Lintas unit bisnis
Budget yang dikelola Rp2 miliar Rp15 miliar
Job Grade Grade 7 Grade 9

Meskipun memiliki title yang sama, kedua posisi dapat memiliki job grade berbeda karena scope, kompleksitas, dan dampak pekerjaannya tidak setara.

Job evaluation membantu organisasi menempatkan kedua posisi tersebut pada grade yang tepat berdasarkan nilai pekerjaan sesungguhnya, bukan berdasarkan kesamaan nama jabatan semata.

Hasil job evaluation ini kemudian menjadi rujukan bersama ketika organisasi menentukan salary range, jalur promosi, dan keputusan reward lainnya, sehingga seluruh keputusan tersebut berangkat dari titik referensi yang sama.

2. Gunakan Salary Benchmarking untuk Menentukan External Position

Setelah internal value dipahami melalui job evaluation, langkah berikutnya adalah melihat posisi organisasi terhadap market melalui salary benchmarking.

Pertanyaan strategisnya bukan sekadar “berapa median market untuk posisi ini”, melainkan “di mana organisasi ingin berada terhadap market untuk masing-masing role”.

Sebagai contoh, organisasi bisa memilih untuk lead market pada critical roles, match market pada core roles, atau bahkan lag market dengan kompensasi non-finansial yang lebih kuat untuk role tertentu.

Wilson Group menekankan pentingnya menentukan program mana yang perlu lead, be distinctive, atau sekadar meet basic market levels, karena tidak semua peran membutuhkan positioning yang sama agresifnya.

Salary benchmarking yang baik juga mempertimbangkan competitive labor market secara spesifik, bukan sekadar angka rata-rata industri secara umum, karena setiap peran bisa bersaing di pasar tenaga kerja yang berbeda-beda.

Sebagai contoh, peran teknis di satu kota mungkin lebih relevan dibandingkan dengan pasar tenaga kerja lokal, sementara peran manajerial di kantor pusat lebih relevan dibandingkan dengan pasar tenaga kerja nasional atau bahkan lintas industri.

Ketepatan dalam memilih data pembanding inilah yang menentukan apakah hasil salary benchmarking benar-benar merepresentasikan kondisi market yang dihadapi organisasi, atau justru menyesatkan keputusan kompensasi yang diambil.

3. Terjemahkan Internal dan External Value ke Salary Structure

Setelah internal value dan external position sama-sama dipahami, keduanya perlu diterjemahkan ke dalam salary structure yang mencakup job grade, salary range, midpoint, minimum-maximum, market positioning, dan salary progression.

Di sinilah salary structure menjadi mekanisme yang menghubungkan job value, market value, dan compensation decisions menjadi satu kesatuan yang koheren.

Tanpa salary structure yang jelas, hasil job evaluation dan salary benchmarking hanya berhenti sebagai dokumen analisis, tanpa benar-benar memandu keputusan kompensasi sehari-hari.

Salary structure yang baik juga mempertimbangkan overlap antargrade, sehingga karyawan senior pada grade yang lebih rendah tetap dapat menerima gaji kompetitif tanpa harus menunggu promosi ke grade berikutnya.

Selain itu, salary structure membantu organisasi menjaga konsistensi ketika membuka posisi baru di lokasi berbeda, karena grade dan range yang sudah ditetapkan bisa dijadikan acuan tanpa perlu menegosiasikan angka dari nol setiap kali ada kebutuhan hiring baru.

Baca Juga: Panduan Lengkap Job Grading untuk Kompensasi yang Adil

Tahap 3 — Pay Equity & Market Alignment: Menguji Keseimbangan Internal dan Eksternal

Setelah reward architecture terbentuk, tahap berikutnya adalah menguji apakah struktur tersebut benar-benar bekerja dengan baik dalam praktik.

1. Wage Compression Menunjukkan Ketidakseimbangan antara Market dan Internal Structure

Salah satu gejala yang sering muncul adalah wage compression. Karyawan baru masuk dengan salary berdasarkan market terbaru, sementara salary karyawan existing belum mengalami adjustment yang setara.

Akibatnya, gap antara karyawan dengan level dan contribution yang sebanding menjadi semakin kecil, bahkan kadang nyaris hilang.

Kondisi ini berkaitan erat dengan salary benchmarking, salary review, market adjustment, dan internal equity yang perlu dikelola bersamaan, bukan secara terpisah.

Sebagai ilustrasi sederhana, bayangkan karyawan senior yang sudah bekerja lima tahun menerima gaji Rp15 juta, sementara karyawan baru dengan pengalaman lebih singkat direkrut dengan gaji Rp14 juta karena mengikuti harga pasar terkini.

Selisih yang tersisa hanya Rp1 juta, padahal perbedaan pengalaman dan kontribusi keduanya cukup signifikan.

Situasi seperti inilah yang disebut wage compression, dan jika dibiarkan dapat menurunkan motivasi karyawan senior yang merasa kontribusinya tidak lagi dihargai secara proporsional.

2. Pay Equity Membutuhkan Dasar Pembeda yang Konsisten

Pay equity sering disalahpahami sebagai konsep bahwa semua karyawan harus dibayar sama. Padahal, maknanya jauh berbeda dari itu.

Perbedaan compensation tetap sah selama dapat dijelaskan melalui faktor yang relevan, seperti job value, responsibility, competency, performance, contribution, dan market condition.

Konsep ini didukung oleh equity theory dalam literatur akademik, yang menjelaskan bahwa karyawan cenderung membandingkan input yang mereka berikan—seperti skill, effort, performance, dan education—dengan output yang mereka terima, seperti pay, benefits, recognition, dan opportunities.

equity theory dalam total rewards

Ketika karyawan merasa rasio input-output mereka tidak seimbang dibandingkan rekan kerja yang sebanding, muncul persepsi ketidakadilan yang dapat memengaruhi motivasi dan keterikatan mereka terhadap organisasi.

Karena itu, pay equity bukan tentang menyamaratakan angka, melainkan tentang memastikan setiap perbedaan reward punya dasar pembeda yang bisa dijelaskan secara konsisten kepada siapa pun yang bertanya.

Teori expectancy dari Vroom turut memperkuat pentingnya keterkaitan antara usaha, performance, dan reward yang diterima.

Karyawan cenderung mengerahkan upaya lebih besar ketika mereka yakin usaha tersebut akan membuahkan hasil, dan hasil tersebut akan dihargai secara bernilai oleh organisasi.

Jika keterkaitan ini terputus, misalnya karyawan dengan performa tinggi dan rendah menerima reward yang relatif sama, motivasi untuk berupaya lebih keras pun ikut melemah dari waktu ke waktu.

Karena itu, pay equity dan performance differentiation sebenarnya saling berkaitan erat. Membedakan reward berdasarkan kontribusi bukan hanya soal keadilan, tetapi juga soal menjaga mekanisme motivasi tetap berjalan sebagaimana mestinya.

Tahap 4 — Performance & Pay Decisions: Menghubungkan Reward dengan Contribution

Setelah architecture terbentuk, organisasi perlu menentukan bagaimana reward bergerak dari waktu ke waktu seiring dengan kontribusi karyawan.

1. Gunakan Salary Review untuk Menjaga Relevansi Compensation

Salary review idealnya mempertimbangkan banyak faktor sekaligus, mulai dari market movement, salary position, internal equity, business condition, budget, hingga changes in responsibility.

Dengan demikian, salary review bukan sekadar aktivitas tahunan untuk “menaikkan gaji” secara rutin, melainkan proses evaluasi yang mempertimbangkan konteks bisnis secara menyeluruh.

Ketika salary review dilakukan tanpa mempertimbangkan faktor-faktor tersebut, hasilnya cenderung menjadi kenaikan yang seragam untuk semua orang, padahal kondisi masing-masing peran dan individu bisa sangat berbeda.

Salary review yang efektif juga mempertimbangkan bagaimana kondisi budget organisasi tahun berjalan, sehingga kenaikan yang diberikan tetap realistis dan berkelanjutan, bukan sekadar mengikuti ekspektasi karyawan tanpa mempertimbangkan kapasitas finansial organisasi.

Idealnya, hasil salary review juga dikomunikasikan dengan jelas kepada karyawan, termasuk faktor apa saja yang memengaruhi besaran kenaikan yang mereka terima, sehingga proses ini tidak terasa seperti keputusan yang tertutup dan sulit dipahami.

2. Gunakan Merit Increase untuk Membedakan Contribution

Merit increase berfungsi menghubungkan salary movement dengan performance, contribution, competency, dan achievement karyawan secara individual.

Wilson Group memberikan contoh bahwa pay increases sebaiknya mempertimbangkan growth in responsibilities, competencies, serta bagaimana hasil dicapai, bukan hanya hasil akhirnya semata.

Dengan kata lain, merit increase seharusnya mencerminkan cara seseorang bekerja dan berkembang, bukan sekadar angka kenaikan yang ditentukan secara arbitrer berdasarkan budget yang tersedia.

Agar merit increase benar-benar efektif, organisasi membutuhkan performance management yang menghasilkan penilaian yang kredibel dan konsisten antarunit kerja, bukan penilaian yang standarnya berbeda-beda tergantung siapa atasan langsungnya.

Tanpa standar penilaian yang konsisten, merit increase berisiko hanya mencerminkan seberapa murah hati seorang atasan dalam memberi rating, bukan seberapa besar kontribusi aktual karyawan terhadap organisasi.

3. Pisahkan Merit Increase, Market Adjustment, dan Promotion Increase

Salah satu practical insight yang paling sering diabaikan adalah pentingnya memisahkan tiga mekanisme kenaikan gaji yang sebenarnya punya tujuan berbeda.

Ketiganya sering digabung menjadi satu angka kenaikan tunggal, padahal masing-masing menjawab pertanyaan yang berbeda.

MechanismTujuan Utama
Merit IncreaseMenghargai performance dan contribution
Market AdjustmentMenjaga competitiveness terhadap market
Promotion IncreaseMengakomodasi perubahan level/job scope

Ketika ketiganya dicampur menjadi satu angka kenaikan gaji tunggal, organisasi akan sulit mengetahui mengapa salary seseorang berubah dan apakah budget compensation sudah digunakan sesuai tujuannya.

Sebagai contoh, seorang karyawan yang dipromosikan sekaligus mendapat market adjustment pada tahun yang sama akan menerima kenaikan gabungan yang terlihat besar.

Tanpa pemisahan yang jelas, sulit menilai apakah kenaikan tersebut wajar atau berlebihan dibandingkan kasus serupa lainnya.

Memisahkan ketiganya juga membantu organisasi menjelaskan keputusan kompensasi dengan lebih transparan, baik kepada karyawan yang bersangkutan maupun kepada manajemen yang mengevaluasi efektivitas budget.

Tahap 5 — Total Rewards Portfolio: Mengintegrasikan Financial dan Non-Financial Rewards

Setelah compensation architecture dan salary movement sudah jelas, langkah berikutnya adalah memperluas cakupan ke seluruh reward portfolio secara utuh.

1. Compensation dan Variable Pay untuk Mengarahkan Performance

Elemen ini mencakup base salary, merit increase, variable pay, incentive, dan equity, yang secara kolektif berfungsi mengarahkan perilaku dan hasil kerja karyawan.

Variable pay khususnya berperan penting untuk menghubungkan reward dengan pencapaian target tertentu, sehingga karyawan memiliki insentif yang jelas untuk mencapai outcome yang diinginkan organisasi.

Proporsi variable pay yang tepat juga berbeda-beda tergantung karakteristik peran. Peran sales, misalnya, umumnya memiliki proporsi variable pay yang lebih besar dibandingkan peran administratif atau support.

2. Benefits untuk Memberikan Security dan Employee Value

Employee benefits mencakup health benefits, retirement, insurance, paid time off, dan employee services yang memberikan rasa aman bagi karyawan di luar penghasilan rutin mereka.

Elemen ini sering dianggap “given” oleh karyawan, padahal perannya cukup signifikan dalam membentuk persepsi mereka terhadap total value yang diberikan organisasi.

Ketika benefits tidak dikelola dengan strategi yang jelas, organisasi berisiko mengeluarkan biaya besar untuk program yang sebenarnya kurang dimanfaatkan karyawan, sementara kebutuhan yang lebih relevan justru belum terpenuhi.

3. Development dan Recognition untuk Membangun Capability

Training, career development, promotion, recognition, dan professional development menjadi elemen yang membantu karyawan membangun kapabilitas jangka panjang, bukan sekadar penghasilan jangka pendek.

Elemen ini semakin relevan mengingat survei terhadap ribuan karyawan menunjukkan bahwa faktor seperti learning activity dan peningkatan otoritas justru dinilai lebih penting dibandingkan cash reward oleh sebagian besar responden.

Recognition juga tidak selalu harus berbentuk uang. Pengakuan verbal, kesempatan memimpin proyek tertentu, atau sekadar diberi kepercayaan lebih besar dalam pengambilan keputusan bisa memberikan dampak motivasi yang setara, bahkan lebih besar dari bonus dalam jumlah kecil.

4. Workplace Experience untuk Memperkuat Employee Value Proposition

Flexibility, work-life balance, work environment, leadership, dan culture menjadi elemen yang memperkuat employee value proposition organisasi secara keseluruhan.

Wilson Group menggunakan pendekatan reward portfolio karena kebutuhan dan value perception setiap employee segment dapat berbeda-beda, sehingga satu elemen saja tidak cukup untuk memenuhi seluruh ekspektasi karyawan.

Bagi organisasi dengan operasional di berbagai lokasi, workplace experience juga perlu disesuaikan dengan konteks masing-masing tempat kerja.

Fleksibilitas yang relevan bagi tim kantor pusat belum tentu bisa diterapkan dengan cara yang sama pada tim operasional lapangan.

Bangun Total Rewards Strategy yang Lebih Terintegrasi

Kelola kompensasi, benefit, dan berbagai elemen reward secara lebih terstruktur untuk mendukung keputusan compensation yang konsisten dan selaras dengan strategi organisasi.

Kelola Compensation dengan Mekari Talenta
Mekari Talenta Compensation Management

Tahap 6 — Reward Differentiation: Menentukan Area yang Perlu Lead, Match, atau Lag

Organisasi perlu menentukan di area mana harus lead, match, atau lag terhadap market, sekaligus memastikan keputusan tersebut tetap sejalan dengan reward philosophy dan employee value.

1. Tidak Semua Reward Program Perlu Lead the Market

Godaan untuk menjadi “yang terbaik” di semua kategori reward sebenarnya jarang realistis, apalagi jika mempertimbangkan keterbatasan anggaran.

Pendekatan yang lebih realistis adalah menggunakan tiga posisi: lead, match, atau lag, lalu menentukan posisi mana yang paling sesuai untuk setiap program reward.

Organisasi dapat memilih posisi berbeda berdasarkan business priority, talent scarcity, employee segment, cost, dan perceived employee value untuk masing-masing program.

Wilson Group secara eksplisit mengajukan pertanyaan reflektif: apakah organisasi perlu lead atau distinctive di market pada program tertentu, atau cukup memenuhi basic market level saja.

Sebagai contoh, organisasi bisa memilih untuk lead market pada base salary posisi teknis yang langka di pasar, sekaligus memilih untuk match market pada benefit standar seperti asuransi kesehatan dasar.

Kombinasi seperti ini memungkinkan organisasi mengalokasikan anggaran secara lebih efisien, dengan berinvestasi lebih besar pada area yang benar-benar berdampak pada daya saing talent, alih-alih menyebar anggaran secara merata ke semua elemen reward.

2. Investasi Reward Harus Mengikuti Perceived Employee Value

Framework Aon memberikan perspektif penting bahwa value sebuah reward tidak hanya ditentukan oleh cost yang dikeluarkan perusahaan, tetapi juga oleh bagaimana karyawan memahami dan menghargai reward tersebut.

Karena itu, evaluasi sebaiknya tidak berhenti pada pertanyaan “berapa biaya benefit ini”, melainkan berlanjut ke pertanyaan yang lebih penting: seberapa besar value yang dirasakan employee dibandingkan investment yang dikeluarkan.

Ada kalanya sebuah program dengan biaya rendah justru dinilai sangat bernilai oleh karyawan, sementara program dengan biaya tinggi ternyata tidak terlalu dirasakan manfaatnya. Perbedaan inilah yang perlu terus dipantau organisasi.

Sebagai contoh, program fleksibilitas jadwal kerja mungkin tidak membutuhkan biaya besar, tetapi bisa jadi sangat dihargai oleh karyawan dibandingkan program lain yang membutuhkan investasi jauh lebih besar.

Karena itu, survei persepsi karyawan terhadap reward sebaiknya dilakukan secara berkala, bukan hanya mengandalkan asumsi tim kompensasi tentang apa yang dianggap bernilai oleh karyawan.

Tahap 7 — Compensation Governance: Mengoperasionalkan Total Rewards secara Terintegrasi

Setelah reward architecture terbentuk, tantangan berikutnya bukan lagi soal desain, melainkan soal eksekusi yang konsisten dari waktu ke waktu.

1. Satukan Data untuk Melihat Reward secara End-to-End

Idealnya, organisasi dapat melihat hubungan yang utuh mulai dari job, grade, salary range, employee, performance, salary movement, benefits, hingga total reward cost.

Keterhubungan data ini membantu organisasi melihat compensation decision secara menyeluruh, alih-alih melalui spreadsheet atau proses yang terpisah-pisah antarfungsi.

Bagi organisasi dengan banyak unit kerja dan lokasi, keterputusan data semacam ini sering menjadi sumber inkonsistensi terbesar dalam keputusan kompensasi.

Ketika data job, salary, dan performance masih tersebar di berbagai file dan sistem yang berbeda, tim kompensasi kesulitan menjawab pertanyaan sederhana sekalipun, misalnya berapa total reward cost untuk satu unit bisnis tertentu pada satu waktu.

2. Bangun Governance untuk Setiap Compensation Decision

Governance yang jelas perlu menetapkan siapa yang mengajukan, siapa yang mereview, siapa yang menyetujui, data apa yang digunakan, batas kewenangan, bagaimana exception ditangani, dan bagaimana keputusan dievaluasi.

Framework Aon memasukkan administration dan decision support sebagai bagian dari value drivers dalam total rewards, yang menunjukkan bahwa governance bukan sekadar formalitas administratif semata.

Tanpa governance yang jelas, keputusan kompensasi rawan dipengaruhi oleh siapa yang paling vokal bernegosiasi, bukan oleh kerangka yang sudah disepakati bersama.

Governance yang baik juga mempermudah proses audit dan review internal, karena setiap keputusan kompensasi memiliki jejak yang jelas: siapa yang mengusulkan, atas dasar data apa, dan siapa yang menyetujuinya.

Hal ini menjadi semakin penting ketika organisasi harus mempertanggungjawabkan keputusan kompensasi kepada manajemen puncak atau pihak eksternal, misalnya saat proses audit atau due diligence.

Baca Juga: Panduan Lengkap untuk Audit Payroll dengan Checklist yang Efektif

3. Gunakan Data untuk Menguji Apakah Strategy Masih Relevan

Beberapa indikator yang perlu dipantau secara berkala antara lain salary competitiveness, compa-ratio, salary range penetration, pay equity, wage compression, merit distribution, turnover critical roles, reward cost, dan benefit utilization.

Pemantauan ini penting karena kondisi market dan kebutuhan bisnis terus berubah, sementara reward strategy yang disusun beberapa tahun lalu belum tentu masih relevan dengan kondisi hari ini.

Idealnya, indikator-indikator ini dipantau secara berkala, bukan hanya dievaluasi setahun sekali menjelang proses salary review. Tren yang terlihat lebih awal memberi organisasi waktu lebih banyak untuk merespons sebelum masalah membesar.

Mengukur Efektivitas Total Rewards Strategy: Apakah Reward Sudah Menciptakan Value?

Menyusun strategi saja tidak cukup tanpa cara untuk mengevaluasi apakah strategi tersebut benar-benar menciptakan value bagi organisasi maupun karyawan.

Lima pertanyaan berikut dapat digunakan sebagai kerangka evaluasi yang saling melengkapi, mulai dari keselarasan dengan bisnis hingga kemampuan menjelaskan setiap keputusan kompensasi secara transparan.

Align: Apakah Reward Mendukung Business Priority?

Setiap major reward program seharusnya bisa menjawab pertanyaan mendasar: business outcome apa yang ingin dipengaruhi oleh program tersebut?

Jika sebuah program reward tidak bisa dikaitkan dengan business outcome tertentu, ada baiknya organisasi mempertanyakan kembali alasan program tersebut dipertahankan.

Evaluasi align juga membantu organisasi menghindari kondisi di mana program reward terus dijalankan bertahun-tahun hanya karena “sudah dari dulu begitu”, tanpa ada yang benar-benar mempertanyakan relevansinya terhadap prioritas bisnis saat ini.

Assess: Apakah Reward Kompetitif Tanpa Mengorbankan Internal Consistency?

Pada tahap ini, organisasi perlu melihat market position, salary structure, pay equity, dan wage compression secara bersamaan, bukan satu per satu secara terpisah.

Kompetitif terhadap market tanpa menjaga internal consistency berisiko menciptakan masalah pay equity baru, sebagaimana sudah dibahas pada tahap pay equity dan market alignment sebelumnya.

Evaluasi assess sebaiknya dilakukan secara berkala, bukan hanya ketika ada keluhan dari karyawan atau kesulitan hiring yang sudah cukup parah untuk disadari semua orang.

Differentiate: Apakah Reward Membedakan Contribution?

Indikator yang relevan di sini antara lain performance differentiation, merit increase, variable pay, dan recognition yang diberikan kepada karyawan.

Jika seluruh karyawan menerima kenaikan gaji dan recognition yang seragam terlepas dari kontribusinya, reward strategy sebenarnya belum benar-benar membedakan performance secara efektif.

Distribusi merit increase dapat menjadi indikator sederhana untuk melihat hal ini. Jika seluruh karyawan menerima persentase kenaikan yang nyaris sama, itu menjadi sinyal bahwa proses differentiation belum berjalan sebagaimana mestinya.

Measure: Apakah Employee Menganggap Reward Itu Bernilai?

Elemen yang perlu dilihat mencakup employee perception, utilization, satisfaction, retention, dan employee segment preferences terhadap masing-masing program reward.

Sebagaimana disinggung pada tahap reward differentiation, cost yang dikeluarkan organisasi tidak selalu berbanding lurus dengan value yang dirasakan karyawan, sehingga pengukuran persepsi ini menjadi krusial.

Survei berkala, focus group discussion, atau bahkan data utilization dari masing-masing program benefit dapat menjadi sumber informasi yang membantu organisasi memahami persepsi ini secara lebih objektif, bukan sekadar berdasarkan asumsi.

Explain: Apakah Setiap Compensation Decision Punya “Why” yang Jelas?

Tahap ini menjadi final maturity test dari seluruh total rewards strategy yang telah dibangun.

Organisasi perlu mampu menjawab beberapa pertanyaan mendasar: mengapa role ini dibayar pada posisi tersebut, mengapa employee ini mendapat increase sebesar itu, mengapa benefit ini diprioritaskan, dan mengapa kelompok tertentu mendapat treatment yang berbeda.

Jika organisasi tidak dapat menjelaskan hal-hal tersebut secara konsisten, masalahnya kemungkinan besar bukan sekadar soal compensation level, melainkan soal reward strategy itu sendiri yang belum benar-benar terbangun.

Kemampuan menjelaskan “why” secara konsisten inilah yang membedakan organisasi yang benar-benar memiliki total rewards strategy dengan organisasi yang sekadar menjalankan serangkaian program reward tanpa benang merah yang jelas.

Menjaga konsistensi jawaban “why” ini menjadi jauh lebih menantang ketika data job, salary, performance, dan benefit masih tersebar di berbagai sistem dan spreadsheet yang terpisah, terutama pada organisasi dengan banyak unit kerja dan lokasi.

Menghubungkan seluruh data tersebut melalui sistem manajemen kompensasi dalam platform HCM Mekari Talenta dapat membantu tim kompensasi menyusun struktur gaji, memantau pay equity, dan mengevaluasi efektivitas reward secara lebih terukur, tanpa harus merekonsiliasi data secara manual dari berbagai sumber.

Jika organisasi Anda ingin mendiskusikan bagaimana total rewards strategy dapat diterjemahkan menjadi struktur kompensasi yang lebih terintegrasi, silakan hubungi kami untuk konsultasi lebih lanjut bersama tim Mekari Talenta.

Referensi

1. Aon. Total Rewards Strategy: Demand Focus—Total Rewards Strategy. Benefits Quarterly, Fourth Quarter 2009.

2. Jiang, Z., Xiao, Q., Qi, H., & Xiao, L. Total Reward Strategy: A Human Resources Management Strategy Going with the Trend of the Times. International Journal of Business and Management, Vol. 4, No. 11, 2009.

3. Wilson, T. B. Total Rewards Strategy: What’s Your Philosophy? Wilson Group, Inc., 2008.

Pertanyaan Umum seputar Total Rewards Strategy

Apa perbedaan total rewards strategy dengan compensation strategy?

Apa perbedaan total rewards strategy dengan compensation strategy?

Compensation strategy berfokus pada bagaimana organisasi merancang dan mengelola financial rewards seperti base pay, variable pay, dan incentive. Total rewards strategy memiliki cakupan lebih luas dengan mengintegrasikan compensation bersama benefits, recognition, career development, learning, dan workplace experience. Karena itu, compensation menjadi salah satu bagian dari total rewards strategy, bukan keseluruhan strategi reward.

Apakah total rewards strategy harus sama untuk seluruh karyawan?

Apakah total rewards strategy harus sama untuk seluruh karyawan?

Tidak harus. Strategi dapat memiliki prinsip yang konsisten, tetapi penerapannya dapat dibedakan berdasarkan job level, function, critical roles, lokasi, atau karakteristik workforce tertentu. Perbedaan tersebut sebaiknya tetap memiliki dasar yang jelas agar tidak menciptakan inkonsistensi atau persepsi ketidakadilan.

Seberapa sering total rewards strategy perlu diperbarui?

Seberapa sering total rewards strategy perlu diperbarui?

Tidak ada satu periode yang berlaku untuk semua organisasi. Review dapat dilakukan ketika terjadi perubahan besar pada business strategy, talent market, workforce composition, struktur organisasi, atau employee expectations. Organisasi juga dapat melakukan review berkala untuk memastikan reward portfolio tetap relevan tanpa harus mengubah keseluruhan strategy setiap tahun.

Siapa yang seharusnya bertanggung jawab atas total rewards strategy?

Siapa yang seharusnya bertanggung jawab atas total rewards strategy?

Ownership idealnya bersifat lintas fungsi, dengan tim compensation/reward sebagai pengelola utama framework dan governance. Business leaders, finance, HRBP, dan people managers tetap memiliki peran karena keputusan reward berdampak pada budget, workforce planning, performance, dan retention. Dengan model ini, reward strategy tidak menjadi kebijakan yang hanya dipahami oleh fungsi HR.

Bagaimana mengetahui apakah total rewards strategy sudah berhasil?

Bagaimana mengetahui apakah total rewards strategy sudah berhasil?

Jangan hanya melihat total compensation cost atau employee satisfaction. Evaluasi juga dapat mencakup market competitiveness, pay equity, wage compression, performance differentiation, retention pada critical roles, benefit utilization, serta perceived employee value. Yang paling penting, organisasi harus dapat menjelaskan hubungan antara reward investment dan business outcome yang ingin dicapai.

Abidah Ardelia Penulis
A Content Specialist with more than two years of experience covering the Human Resources (HR) industry, with a focus on HR technology, payroll, talent management, recruitment, employment practices, and digital HR transformation. Her work combines regulatory developments, industry research, and insights from HR practitioners to deliver accurate, well-researched content that addresses the strategic and operational priorities of HR professionals and business leaders.
Icon

Satu solusi untuk semua kebutuhan HR Anda

Optimalkan pengelolaan operasi HR Anda dengan bantuan solusi terintegrasi dari Mekari Talenta.

WhatsApp Hubungi sales