Salary Review: Kerangka Strategis untuk Evaluasi Kompensasi Karyawan

Tayang
Di tulis oleh:
Author Avatar
Abidah Ardelia
Highlights

  • Salary review adalah proses mengevaluasi kompensasi berdasarkan kinerja, posisi gaji, kondisi pasar, internal equity, dan kebutuhan bisnis.
  • Proses salary review mencakup penetapan filosofi dan budget, audit data kompensasi, identifikasi gap, simulasi kenaikan, kalibrasi, hingga pengukuran outcome.

Menentukan kenaikan gaji untuk ribuan karyawan bukan sekadar menetapkan satu persentase lalu menerapkannya secara merata.

Semakin kompleks struktur organisasi, semakin banyak pula pertimbangan yang harus diseimbangkan, mulai dari market positioning dan internal equity hingga keterbatasan budget dan kebutuhan mempertahankan talenta kritis.

Ravio Pay Survey: Behind closed doors Compensation reviews (2025) terhadap 140 perusahaan menunjukkan bahwa 58% pemimpin Compensation dan People menilai proses compensation review mereka hanya berada di level 1–3 dari skala 5, menunjukkan bahwa salary review masih menjadi proses yang sulit dieksekusi secara konsisten.

Artikel ini akan membahas cara merancang dan menjalankan salary review secara terstruktur, mulai dari menentukan filosofi dan budget hingga mengukur apakah keputusan kompensasi benar-benar menghasilkan outcome yang diharapkan.

Memahami Apa Itu Salary Review

Salary review adalah proses mengevaluasi kompensasi karyawan secara sistematis terhadap sejumlah variabel.

Variabel yang dimaksud mencakup kinerja, posisi dalam salary range, daya saing terhadap pasar, internal equity, perubahan peran atau tanggung jawab, tingkat kekritisan skill atau role, serta kondisi bisnis dan anggaran yang tersedia.

Proses ini kerap juga disebut compensation review.

Hasil dari salary review bisa bermacam-macam bentuknya: salary increase, promotion adjustment, market adjustment, equity adjustment, atau bahkan tidak ada penyesuaian sama sekali. Semua tergantung pada bagaimana posisi kompensasi karyawan tersebut dievaluasi.

Salary Review vs Salary Increase: Apa Bedanya?

Banyak pihak menyamakan salary review dengan salary increase, padahal keduanya berada pada level yang berbeda.

Salary review adalah keseluruhan proses evaluasi, sementara salary increase hanyalah salah satu kemungkinan hasil dari proses tersebut.

Perbedaan ini penting karena memengaruhi cara organisasi mengomunikasikan proses kepada karyawan dan manager. Berikut perbandingannya secara ringkas.

Aspek Salary Review Salary Increase
Sifat Proses evaluasi dan pengambilan keputusan Salah satu output dari proses tersebut
Cakupan Kinerja, market position, internal equity, budget, role criticality Angka atau persentase kenaikan gaji
Hasil yang mungkin Kenaikan, promotion adjustment, equity fix, atau tidak ada perubahan Selalu berupa kenaikan nominal
Frekuensi Ditentukan oleh kebijakan perusahaan Terjadi hanya jika review menghasilkan keputusan naik
Pihak yang terlibat HR, Finance, pimpinan, manager Karyawan sebagai penerima keputusan

Kesimpulannya, salary review adalah payung besar yang menaungi keputusan kompensasi, sedangkan salary increase adalah salah satu cabang hasil dari payung tersebut.

Mengapa Salary Review Penting dalam Strategi Kompensasi?

Salary review sering direduksi menjadi sekadar cara “meningkatkan motivasi karyawan”. 

Padahal, fungsinya jauh lebih strategis: salary review merupakan salah satu mekanisme untuk mengalokasikan compensation budget secara terarah dan memastikan keputusan gaji tetap selaras dengan total rewards strategy organisasi.

Tanpa proses evaluasi yang terstruktur, anggaran kompensasi cenderung terbagi rata tanpa mempertimbangkan di mana sebenarnya risiko dan kebutuhan organisasi paling besar.

1. Menjaga Daya Saing terhadap Pasar

Pergerakan gaji di pasar tenaga kerja tidak pernah berhenti. Ketika salary internal tertinggal dari market movement, organisasi berisiko kehilangan talenta pada role kritis atau posisi dengan skill langka.

Risiko ini semakin nyata pada niche skills yang sulit digantikan dalam waktu singkat. Pay positioning yang tidak kompetitif dapat mendorong karyawan terbaik untuk mempertimbangkan tawaran dari perusahaan lain.

WTW memproyeksikan salary increase di Indonesia sebesar 6,1% pada 2026, sementara rata-rata kawasan Asia Pasifik berada di angka 5,2%.

Data ini menjadi acuan penting bagi organisasi yang ingin memastikan pay positioning-nya tetap relevan.

Salary review seharusnya menjadi mekanisme untuk menjaga pay positioning tetap kompetitif, bukan sekadar ritual tahunan untuk menyesuaikan gaji.

2. Mengatasi Wage Compression

Wage compression terjadi ketika gaji karyawan baru mendekati atau bahkan melampaui gaji karyawan lama pada level yang sama. Kondisi ini muncul ketika market salary bergerak lebih cepat dibandingkan penyesuaian internal.

Dampaknya, tenure tidak lagi tercermin dalam pay positioning. Karyawan senior yang telah lama berkontribusi bisa merasa diperlakukan tidak adil dibandingkan rekan baru yang direkrut dengan gaji pasar terkini.

Salary review menjadi salah satu mekanisme utama untuk mendeteksi dan mengoreksi kondisi ini sebelum berdampak pada retensi.

3. Mengarahkan Budget kepada Talenta Kritis

Ada dua pendekatan besar dalam mengalokasikan kenaikan gaji: blanket increase, di mana semua karyawan mendapat kenaikan dengan persentase relatif sama, dan targeted increase, di mana anggaran diarahkan ke role, skill, performance, atau populasi karyawan yang paling membutuhkan penyesuaian.

Kenyataannya, banyak organisasi masih terjebak pada pendekatan pertama meskipun idealnya menuju yang kedua.

Mercer menemukan bahwa 83% organisasi dalam surveinya masih berencana mendistribusikan salary increase budget secara sama rata, meskipun skill development dan market competitiveness menjadi prioritas strategis mereka.

Kesenjangan ini menjadi salah satu tension point utama dalam praktik kompensasi saat ini: alokasi anggaran belum tentu mengikuti prioritas strategis yang sudah ditetapkan di atas kertas.

Kapan Perusahaan Perlu Melakukan Salary Review?

Survey Ravio terhadap 140 perusahaan menunjukkan bahwa annual review masih menjadi pola paling dominan, tetapi pola frekuensinya berbeda cukup signifikan berdasarkan ukuran organisasi.

Secara keseluruhan, 45% perusahaan melakukan review satu kali setahun, 23% menjalankan review tahunan ditambah off-cycle adjustment bila diperlukan, dan 27% menjalankan review dua kali setahun. Sisanya menjalankan review tiga kali, empat kali, atau bahkan secara berkelanjutan sepanjang tahun.

survey frekuensi salary review perusahaan
Sumber: Ravio Pay Survey: Behind closed doors Compensation reviews (2025)

Oleh karena itu, perusahaan tidak harus mengikuti satu pola frekuensi salary review yang sama.

Pilihan frekuensi sebaiknya disesuaikan dengan kompleksitas organisasi, dinamika pasar tenaga kerja, serta seberapa sering perusahaan perlu merespons perubahan kompensasi. 

Beberapa pendekatan yang dapat dipertimbangkan meliputi:

Salary Review Tahunan

Annual review menjadi siklus utama untuk mengevaluasi kompensasi secara menyeluruh. Biasanya proses ini diselaraskan dengan budgeting cycle, performance cycle, compensation planning, dan effective date kenaikan gaji.

Data menunjukkan 45% perusahaan menjalankan review satu kali setahun.

Menariknya, organisasi besar tidak otomatis membutuhkan review yang lebih sering; justru 57% perusahaan dengan 1.000 karyawan atau lebih tetap menggunakan siklus tahunan sebagai pendekatan utama mereka.

Off-Cycle Salary Review

Off-cycle salary review adalah penyesuaian yang dilakukan di luar siklus tahunan ketika terjadi perubahan material.

Trigger yang umum meliputi promosi, perubahan job scope, market movement mendadak, munculnya critical skill baru, retention risk, isu internal equity, atau perubahan struktur organisasi.

Sebanyak 23% perusahaan menjalankan annual review dengan tambahan off-cycle adjustment sesuai kebutuhan

Idealnya, off-cycle berfungsi sebagai mekanisme respons terhadap kondisi tertentu, bukan alasan untuk menjalankan salary review secara terus-menerus tanpa struktur yang jelas.

Review Dua Kali Setahun

Sebanyak 27% perusahaan menjalankan review dua kali setahun, dan praktik ini paling umum ditemukan pada organisasi dengan 500 hingga 1.000 karyawan, yaitu 47%. Bandingkan dengan organisasi 1.000 karyawan ke atas yang hanya 25% menjalankan review dua kali setahun.

Beberapa kondisi yang membuat review lebih sering menjadi relevan antara lain perubahan pasar yang cepat, pertumbuhan tenaga kerja yang agresif, perubahan struktur organisasi, atau kebutuhan untuk merespons kondisi bisnis secara lebih adaptif.

Namun perlu digarisbawahi, review yang lebih sering tidak otomatis lebih baik. Frekuensi harus seimbang dengan kemampuan organisasi mengelola proses, data, kalibrasi, dan anggaran secara konsisten.

Compensation Review yang Tertarget

Salary review tidak harus selalu mencakup seluruh populasi karyawan sekaligus. Review dapat diarahkan secara spesifik ke kelompok dengan masalah kompensasi tertentu.

Contohnya adalah jabatan yang gajinya sudah tertinggal dari pasar, kelompok yang mengalami pay compression, karyawan dengan critical skill, atau populasi dengan risiko retensi tinggi. 

Pendekatan ini memungkinkan organisasi merespons masalah spesifik tanpa harus menjalankan review menyeluruh yang memakan waktu dan sumber daya lebih besar.

Faktor yang Perlu Dipertimbangkan dalam Salary Review

Keputusan salary review yang baik tidak pernah berdiri di atas satu variabel saja. Ada enam faktor utama yang idealnya dipertimbangkan secara bersamaan.

1. Kinerja Individu

Kinerja meliputi performance rating, pencapaian terhadap objectives, konsistensi kontribusi dari waktu ke waktu, dan dampak nyata terhadap business outcomes.

Meski penting, performance rating sebaiknya bukan satu-satunya input dalam keputusan kompensasi. Dua karyawan dengan rating sama bisa memiliki kebutuhan penyesuaian yang berbeda tergantung faktor lain di luar kinerja.

2. Posisi dalam Salary Range

Faktor ini melihat posisi gaji karyawan terhadap minimum, midpoint, dan maximum dari salary range, yang biasanya diukur melalui compa-ratio.

Namun, salary range yang digunakan perlu memiliki dasar struktur jabatan yang jelas. Job evaluation dapat digunakan untuk menilai nilai relatif suatu jabatan berdasarkan tanggung jawab, kompleksitas, dan faktor pekerjaan lainnya, sehingga penempatan role ke dalam job level dan salary range memiliki dasar yang konsisten.

Sebagai ilustrasi, Karyawan A dan Karyawan B memiliki performa yang sama, tetapi Karyawan A berada jauh di bawah midpoint salary range.

Kenaikan dengan persentase yang identik belum tentu menghasilkan positioning akhir yang setara bagi keduanya.

3. Daya Saing Pasar

Faktor ini mengevaluasi posisi kompensasi perusahaan terhadap pasar berdasarkan geographic market, industri, job family, level jabatan, dan critical skills yang relevan.

Proses membandingkan data kompensasi internal dengan data pasar tersebut dikenal sebagai salary benchmarking, dan hasilnya membantu perusahaan menentukan apakah pay positioning suatu role masih berada pada tingkat yang ditargetkan.

Survei Ravio menunjukkan bahwa perusahaan menggunakan beragam sumber data untuk memahami posisi kompensasinya terhadap pasar, mulai dari penyedia data kompensasi real-time, survei gaji tradisional, ekspektasi kandidat, masukan dari perusahaan lain di industri, hingga data dari lowongan pekerjaan dan feedback karyawan.

survey provider data benchmark dalam salary review
Sumber: Ravio Pay Survey: Behind closed doors Compensation reviews (2025)
Menariknya, 74% perusahaan menggunakan lebih dari satu sumber data untuk benchmarking, menunjukkan bahwa market competitiveness semakin sulit dipahami hanya dari satu referensi.

Baca Juga: Paket Kompensasi: Panduan Menyusun Benefit yang Kompetitif

4. Internal Pay Equity

Internal pay equity membandingkan role yang setara dari sisi level, scope tanggung jawab, pengalaman, kinerja, dan salary positioning satu sama lain.

Kesenjangan yang tidak dapat dijelaskan dengan faktor yang relevan berpotensi menimbulkan persepsi ketidakadilan di antara karyawan, terutama pada organisasi dengan struktur jabatan yang kompleks dan lintas fungsi.

5. Prioritas Bisnis dan Anggaran

Faktor ini mempertimbangkan kinerja revenue dan bisnis secara umum, profitabilitas, tekanan biaya, workforce plan, prioritas bisnis yang kritis, serta ketersediaan salary budget itu sendiri.

Tanpa mempertimbangkan realitas bisnis ini, keputusan salary review berisiko tidak sejalan dengan kemampuan finansial organisasi secara keseluruhan.

6. Risiko Retensi dan Talenta

Faktor terakhir mengidentifikasi critical roles, high potential employee, karyawan dengan scarce skills, individu dengan replacement cost tinggi, dan mereka yang berpotensi flight risk.

Mengabaikan faktor ini dapat membuat organisasi kehilangan talenta penting justru pada saat mereka paling dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan bisnis.

Baca Juga: 12 Penyebab Turnover Karyawan: Memahami Akar Masalah di Balik Tingginya Attrition

Salary Review Process: Tahapan Melakukan Review Gaji

Setelah memahami faktor dan budget, langkah berikutnya adalah menjalankan proses salary review secara terstruktur.

Berikut tujuh tahapan yang umum digunakan.

Tahap 1: Tetapkan Salary Review Philosophy

Sebelum menentukan siapa yang mendapat kenaikan dan berapa besarannya, perusahaan perlu menetapkan filosofi salary review sebagai prinsip yang akan menjadi dasar seluruh keputusan kompensasi.

Tentukan terlebih dahulu:

  • Tujuan salary review: apakah fokus utamanya meningkatkan kinerja, mempertahankan talenta, memperbaiki daya saing kompensasi, atau kombinasi beberapa tujuan.
  • Pay positioning: perusahaan ingin berada di posisi mana terhadap pasar, misalnya di sekitar median atau percentile tertentu.
  • Peran performance: tentukan seberapa besar performance memengaruhi keputusan kenaikan dan bagaimana membedakan reward untuk tingkat kontribusi yang berbeda.
  • Market positioning: tentukan kapan market movement atau perubahan nilai suatu role dapat memicu salary adjustment.
  • Internal equity: tetapkan prinsip untuk memastikan perbedaan kompensasi dapat dijelaskan berdasarkan faktor yang relevan.
  • Budget philosophy: tentukan apakah budget akan dialokasikan secara merata atau diprioritaskan untuk kebutuhan tertentu seperti merit, promotion, market adjustment, atau critical talent.
Survei Ravio menunjukkan bahwa perusahaan memiliki tujuan yang berbeda dalam menjalankan compensation review. Secara keseluruhan, peningkatan kinerja dan produktivitas serta peningkatan kepuasan dan engagement sama-sama menjadi prioritas utama, masing-masing 31%. Pada perusahaan yang lebih besar, fokus terhadap kinerja dan produktivitas menjadi semakin dominan.

Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada satu salary review philosophy yang cocok untuk semua organisasi.

Perusahaan perlu menentukan terlebih dahulu outcome yang ingin dicapai, kemudian menerjemahkannya menjadi prinsip tentang siapa yang diprioritaskan, bagaimana kenaikan ditentukan, dan bagaimana budget digunakan.

Praktiknya, sebelum masuk ke tahap berikutnya, perusahaan sebaiknya sudah bisa menjawab:

  1. Apa tujuan utama salary review tahun ini?
  2. Posisi kompensasi seperti apa yang ingin dicapai terhadap pasar?
  3. Seberapa besar performance memengaruhi kenaikan?
  4. Compensation gap apa yang ingin diperbaiki?
  5. Kelompok karyawan atau role mana yang menjadi prioritas?
  6. Bagaimana budget akan digunakan untuk mencapai tujuan tersebut?

Tahap 2: Tetapkan Salary Budget

Selanjutnya, tentukan total salary budget berdasarkan business outlook, market movement, dan kondisi compensation internal.

Gunakan salary budget survey dan market benchmark sebagai referensi, lalu sesuaikan dengan kemampuan finansial, workforce plan, compensation gaps, dan prioritas talenta perusahaan.

Setelah menentukan total budget, tentukan siapa yang terlibat dalam pengambilan keputusan.

Penentuan salary budget biasanya melibatkan tiga kepentingan utama:

  • Finance memastikan budget sesuai kemampuan finansial dan batas biaya organisasi.
  • Pimpinan menghubungkan keputusan kompensasi dengan prioritas bisnis.
  • HR mempertimbangkan struktur gaji, kebutuhan talenta, daya saing pasar, dan internal equity.
Survei Ravio menunjukkan bahwa 38% compensation review budget dipimpin oleh Finance karena pertimbangan keterbatasan anggaran, 31% ditentukan secara top-down oleh pimpinan berdasarkan prioritas bisnis, dan 25% dipimpin oleh HR berdasarkan kebutuhan untuk mencapai tujuan review. Sisanya menggunakan kombinasi pendekatan atau belum memiliki budget yang ditetapkan secara formal.

Berikutnya, alokasikan total budget ke beberapa pool berdasarkan prioritas, bukan langsung memberikan persentase yang sama kepada seluruh karyawan.

Allocation Pool Tujuan Siapa yang Diprioritaskan
Merit Increase Menghargai kinerja High performers
Promotion Adjustment Menyesuaikan perubahan level dan tanggung jawab Karyawan yang dipromosikan
Market Adjustment Menutup gap dengan pasar Role yang tertinggal dari market
Internal Equity Memperbaiki ketimpangan internal Karyawan dengan gap yang tidak dapat dijelaskan
Critical Talent Menjaga talenta atau skill yang strategis Critical roles / scarce skills

Terakhir, uji beberapa skenario budget sebelum menetapkan angka final. Bandingkan dampaknya terhadap total biaya, market gap, salary positioning, dan critical talent untuk menentukan skenario yang paling sesuai dengan kondisi dan prioritas perusahaan.

Tahap 3: Audit Current Compensation Data

Pada tahap ini, kumpulkan dan satukan data kompensasi setiap karyawan, lalu gunakan data tersebut untuk melihat di mana posisi gaji saat ini dan apa yang berubah sejak salary review sebelumnya.

Minimal, bandingkan current salary dengan salary range dan compa-ratio, lalu hubungkan dengan performance, job level, riwayat promosi, dan penyesuaian gaji sebelumnya.

Setelah itu, tandai karyawan atau kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih lanjut, misalnya high performer dengan compa-ratio rendah, karyawan di bawah market, salary band outlier, atau karyawan yang baru mengalami perubahan level.

Data Ravio menunjukkan bahwa 86% perusahaan memasukkan performance-based adjustment, 82% memasukkan market-based adjustment, dan 80% memasukkan promotion adjustment dalam salary review.

Artinya, ketiga data tersebut sebaiknya sudah tersedia dan dapat dibandingkan sebelum perusahaan menentukan kenaikan.

Tahap 4: Identifikasi Compensation Gaps

Bandingkan current salary dengan market position, salary range, internal peer, performance, dan criticality untuk menentukan area kompensasi yang membutuhkan intervensi.

Jangan berhenti pada identifikasi gap, tetapi nilai seberapa material gap tersebut terhadap risiko dan prioritas bisnis.

Area yang Dinilai Pertanyaan Strategis Indikasi Prioritas Adjustment
Market Position Seberapa jauh kompensasi tertinggal dari pasar? Tinggi jika gap signifikan pada role yang kompetitif di pasar
Salary Range Position Apakah posisi gaji masih sesuai dengan struktur internal? Tinggi jika berada di bawah range atau terjadi salary band outlier
Internal Equity Apakah perbedaan kompensasi antar peer dapat dijelaskan? Tinggi jika terdapat gap yang tidak didukung faktor pekerjaan, level, atau kinerja
Performance vs Pay Apakah kompensasi mencerminkan tingkat kontribusi? Tinggi untuk high performer dengan positioning yang masih rendah
Role Criticality Seberapa besar dampaknya jika role tersebut kehilangan talent? Tinggi untuk role yang kritis terhadap bisnis
Skill Market Value Apakah nilai pasar skill tersebut berubah lebih cepat dari struktur gaji internal? Perlu adjustment jika terjadi market movement yang signifikan
Data Ravio menunjukkan 64% perusahaan melakukan penyesuaian untuk salary band outliers dan 49% melakukan pay equity fixes sebagai bagian dari compensation review.

Ini memperkuat bahwa compensation gap perlu dilihat dari beberapa sisi, bukan hanya apakah gaji seseorang berada di bawah benchmark pasar.

Tahap 5: Simulasikan Salary Increase

Sebelum menetapkan kenaikan final, uji beberapa skenario alokasi untuk melihat trade-off antara biaya, fairness, market competitiveness, dan prioritas bisnis.

  • Skenario A: Equal Increase — seluruh karyawan mendapatkan persentase kenaikan yang sama. Pendekatan ini sederhana, tetapi tidak membedakan kontribusi, market position, atau compensation gap.
  • Skenario B: Merit-Based — kenaikan dibedakan berdasarkan performance, sehingga budget lebih banyak diarahkan kepada karyawan dengan kontribusi lebih tinggi.
  • Skenario C: Market & Performance Weighted — keputusan mempertimbangkan performance, market position, dan criticality secara bersamaan. Finom, misalnya, mengombinasikan performance dengan data pasar terkini berdasarkan lokasi untuk menyeimbangkan penghargaan terhadap top performer dengan kebutuhan menjaga daya saing kompensasi.
  • Skenario D: Targeted Investment — budget dikonsentrasikan pada populasi dengan compensation gap atau risiko bisnis paling besar, seperti critical roles, scarce skills, atau high performer dengan positioning yang tertinggal.

Untuk setiap skenario, bandingkan total biaya, dampak terhadap salary positioning, compensation gaps yang terselesaikan, coverage terhadap critical talent, dan konsekuensi jika kebutuhan tertentu tidak diakomodasi.

Contoh:

Skenario Total Budget Dampak ke Salary Positioning Compensation Gap Critical Talent Trade-off
Equal Increase Rp10 M Relatif merata Sebagian gap tetap ada Coverage luas Fair secara sederhana, tetapi kurang targeted
Merit-Based Rp10 M Lebih baik untuk high performer Gap non-performance bisa tetap ada High performer lebih ter-cover Kurang responsif terhadap market gap
Market & Performance Weighted Rp10 M Memperbaiki positioning sekaligus reward performance Gap market pada role prioritas lebih banyak terselesaikan Coverage berdasarkan performance + criticality Membutuhkan data dan calibration lebih kuat
Targeted Investment Rp10 M Fokus pada populasi dengan gap terbesar Gap prioritas lebih banyak terselesaikan Critical talent menjadi prioritas Tidak semua karyawan mendapat adjustment yang sama

Baca Juga: Panduan Remunerasi untuk Menyusun Sistem Imbalan Karyawan

Tahap 6: Lakukan Calibration dan Governance

Sebelum keputusan salary increase difinalkan, lakukan calibration lintas manager untuk membandingkan usulan kenaikan dan memastikan standar yang digunakan konsisten.

Review setiap usulan dengan mempertimbangkan performance, salary positioning, compensation gap, dan prioritas bisnis, lalu cek kembali apakah totalnya masih sesuai dengan budget.

Untuk kasus yang berada di luar guideline, seperti kenaikan di atas range atau adjustment khusus, tetapkan mekanisme exception approval yang jelas

Dokumentasikan rationale setiap keputusan agar perbedaan kenaikan antar-karyawan dapat dijelaskan secara konsisten dan dapat ditelusuri.

Tahap 7: Komunikasi dan Implementasi

Setelah keputusan difinalkan, komunikasikan hasil salary review kepada karyawan dengan menjelaskan besaran adjustment, alasan utama keputusan, dan bagaimana keputusan tersebut ditentukan.

Pastikan manager yang menyampaikan hasil sudah memiliki konteks dan panduan yang sama agar komunikasi antar-tim tetap konsisten.

Setelah komunikasi, implementasikan adjustment ke payroll dan salary records, lalu pantau dampaknya terhadap retensi karyawan, employee sentiment, salary positioning, dan compensation gaps.

Bagaimana Menentukan Siapa yang Mendapat Kenaikan Gaji?

Salah satu pertanyaan paling menantang dalam salary review adalah menentukan prioritas: siapa yang layak mendapat kenaikan lebih besar dibandingkan yang lain.

Salary Review Decision Matrix berikut dapat membantu menyusun kerangka pengambilan keputusan yang lebih objektif.

Faktor Bobot Contoh Pertanyaan Kunci
Performance 30% Seberapa besar kontribusi karyawan?
Market Position 20% Seberapa kompetitif gajinya?
Internal Equity 20% Apakah ada gap dengan peer?
Role Criticality 15% Seberapa penting role tersebut?
Skills Scarcity 10% Seberapa sulit skill tersebut diperoleh?
Retention Risk 5% Seberapa besar risiko kehilangan talent?

Perlu ditekankan, bobot di atas bukan formula universal yang berlaku untuk semua organisasi. Setiap organisasi perlu menentukan weighting sendiri sesuai dengan compensation philosophy yang telah disepakati.

1. Performance: Seberapa Besar Kontribusi Karyawan?

Performance tetap menjadi input utama, terutama untuk melihat pencapaian target, konsistensi kontribusi, kualitas hasil kerja, dan dampaknya terhadap outcome bisnis.

Namun, performance rating tidak seharusnya langsung diterjemahkan menjadi persentase kenaikan. Kinerja yang sama dapat menghasilkan prioritas adjustment yang berbeda ketika positioning gaji, market value, atau criticality role-nya berbeda.

2. Market Position: Seberapa Kompetitif Gajinya?

Lihat seberapa jauh kompensasi karyawan dari market benchmark dan posisi yang ditargetkan perusahaan. Compa-ratio, salary range, market midpoint, serta perubahan nilai suatu jabatan dapat membantu menunjukkan apakah karyawan yang performanya baik masih memiliki market gap yang perlu ditangani.

Dalam kondisi budget terbatas, karyawan dengan performance tinggi tetapi berada jauh di bawah market dapat memiliki prioritas lebih tinggi daripada karyawan dengan performance setara yang sudah berada pada positioning yang kompetitif.

Baca Juga: Membangun Strategi Kompensasi dan Benefit yang Efektif

3. Internal Equity: Apakah Ada Gap dengan Peer?

Bandingkan karyawan dengan peer yang memiliki level, scope, pengalaman, dan performance yang relatif sebanding.

Tujuannya adalah memastikan setiap perbedaan kompensasi memiliki alasan yang dapat dijelaskan berdasarkan faktor pekerjaan yang relevan.

Gap yang tidak dapat dijelaskan menjadi sinyal untuk ditinjau lebih lanjut dalam salary review, terutama ketika perbedaannya muncul pada kelompok karyawan dengan karakteristik pekerjaan yang serupa.

4. Role Criticality: Seberapa Penting Role bagi Bisnis?

Tidak semua posisi memiliki konsekuensi bisnis yang sama ketika kehilangan talent. Evaluasi criticality dapat melihat ketergantungan bisnis terhadap role tersebut, dampak jika posisi kosong, kesulitan mencari pengganti, serta keterkaitannya dengan prioritas bisnis.

Karena itu, criticality lebih tepat digunakan untuk menentukan tingkat urgensi adjustment daripada menjadi alasan otomatis bahwa suatu karyawan harus menerima kenaikan lebih besar.

5. Skills Scarcity: Seberapa Sulit Skill Tersebut Diperoleh?

Untuk beberapa role, masalahnya bukan hanya posisi gaji saat ini, tetapi seberapa cepat nilai skill tersebut bergerak di pasar.

Pertimbangkan ketersediaan talent, tingkat kesulitan rekrutmen, waktu untuk membangun kompetensi, demand pasar, dan perubahan market value skill tersebut.

Persepsi bahwa suatu skill “susah dicari” sebaiknya tetap divalidasi dengan data pasar. Dengan begitu, skills scarcity dapat menjadi dasar adjustment yang lebih objektif, bukan sekadar asumsi.

6. Retention Risk: Apa Risiko Bisnis Jika Karyawan Pergi?

Retention risk perlu dilihat dari konsekuensi bisnis, bukan sekadar kemungkinan seseorang resign. Pertimbangkan replacement cost, waktu untuk mengisi posisi, knowledge loss, dampak terhadap tim, serta apakah karyawan tersebut memiliki kontribusi atau kompetensi yang sulit digantikan.

Risiko retensi sebaiknya menjadi trigger untuk melakukan evaluasi kompensasi lebih lanjut, bukan alasan untuk memberikan kenaikan secara reaktif setelah karyawan menyampaikan niat resign

Cara Menggunakan Decision Matrix dalam Praktik

Gunakan matrix sebagai alat untuk memprioritaskan budget, bukan sebagai kalkulator otomatis persentase kenaikan.

  1. Tentukan skala penilaian, misalnya 1–5 untuk setiap faktor. Gunakan definisi yang jelas agar skor antar-karyawan dapat dibandingkan secara konsisten.
  2. Nilai setiap karyawan berdasarkan data yang sudah diaudit, bukan persepsi manager. Misalnya performance dari hasil appraisal, market position dari compa-ratio, dan criticality dari klasifikasi role.
  3. Kalikan skor dengan bobot yang sudah ditentukan untuk mendapatkan weighted score.
  4. Urutkan karyawan berdasarkan skor dan kelompokkan berdasarkan prioritas, misalnya priority adjustment, standard adjustment, dan no adjustment.
  5. Hubungkan hasilnya dengan allocation pool dan budget yang tersedia. Karyawan dengan prioritas lebih tinggi tidak otomatis mendapat persentase tertentu, tetapi menjadi kandidat utama ketika budget dialokasikan.
  6. Lakukan calibration dengan manager dan HR untuk menguji apakah hasil matrix masuk akal dan memastikan tidak ada keputusan yang terlalu dipengaruhi subjektivitas.

Contohnya, karyawan dengan performance tinggi + market position rendah + role critical dapat memperoleh skor lebih tinggi dibandingkan karyawan dengan performance sama tetapi sudah berada di atas market.

Dengan begitu, matrix membantu menjawab pertanyaan yang lebih penting: ketika budget terbatas, siapa yang harus diprioritaskan terlebih dahulu?

Contoh Implementasi Salary Review

Untuk memahami penerapan decision matrix secara lebih konkret, berikut ilustrasi sederhana membandingkan dua karyawan.

Faktor Bobot Karyawan A Skor A Karyawan B Skor B
Performance 30% Sangat tinggi 5 Tinggi 4
Market Position 20% Di bawah market 5 Sesuai market 3
Internal Equity 20% Ada gap signifikan 5 Tidak ada gap 3
Role Criticality 15% Sangat kritis 5 Kritis 4
Skills Scarcity 10% Sangat langka 5 Umum 2
Retention Risk 5% Tinggi 5 Sedang 3
Weighted Score 5,0 3,3

Dengan hasil tersebut, Karyawan A menjadi prioritas lebih tinggi untuk salary adjustment karena memiliki kombinasi performance, market gap, internal equity issue, dan business criticality yang lebih kuat.

Setelah scoring, jangan langsung mengubah skor menjadi persentase kenaikan. Gunakan hasilnya untuk menentukan urutan prioritas, kemudian cocokkan dengan allocation pool, budget yang tersedia, dan hasil calibration.

Salary Review Template

Template berikut dapat digunakan sebagai kerangka dasar untuk mendokumentasikan setiap keputusan salary review secara konsisten.

Download Template Salary Review Mekari Talenta
Download Template
Template Salary Review Mekari Talenta

Di dalam template tersebut, Anda dapat mencatat informasi karyawan, riwayat salary review dan promosi, masa kerja, hasil performance appraisal, hingga usulan kenaikan gaji berdasarkan equity increase maupun merit increase.

Bagian approval juga memudahkan proses validasi oleh pihak-pihak terkait sebelum perubahan gaji diterapkan.

Dengan menggunakan template ini, perusahaan dapat memiliki dokumentasi yang lebih jelas untuk setiap keputusan penyesuaian kompensasi sekaligus memastikan proses salary review dilakukan secara konsisten.

Buat Salary Review Lebih Terukur dan Strategis

Kelola proses salary review dengan lebih terstruktur berdasarkan data kompensasi, kinerja, dan posisi karyawan dalam salary range untuk mendukung keputusan kenaikan gaji yang lebih tepat.

Kelola Salary Review dengan Mekari Talenta
Mekari Talenta Compensation Management

Mengapa Salary Review yang Terlihat Baik di Atas Kertas Bisa Gagal dalam Praktik?

Tantangan salary review bukan hanya menentukan siapa yang mendapat kenaikan, tetapi juga menyelaraskan stakeholder, mengendalikan budget, membaca perubahan pasar, menjaga objektivitas, dan mengelola permintaan di luar siklus normal.

1. Tidak Menyelaraskan Stakeholder Sejak Awal

Perbedaan kepentingan antara HR, Finance, pimpinan, dan manager kerap memunculkan ketidaksepakatan mengenai philosophy, budget, prioritas, dan metode alokasi.

Data Ravio menunjukkan 37% perusahaan menganggap mendapatkan alignment stakeholder sebagai salah satu bagian paling menantang dalam salary review. Angka ini mencapai 50% pada perusahaan dengan 100 hingga 500 karyawan, dan turun menjadi 27% pada perusahaan dengan lebih dari 1.000 karyawan.

Semakin banyak stakeholder yang terlibat, semakin penting governance ditetapkan sejak sebelum proses dimulai.

Salary review yang tidak memiliki kesepakatan tentang prinsip dan prioritas sejak awal akan menjadikan proses kalibrasi sebagai ajang memperdebatkan hal-hal yang seharusnya sudah diputuskan jauh sebelumnya.

2. Menetapkan Budget Tanpa Memperhitungkan Trade-Off

Budget bukan sekadar angka yang harus dipenuhi. Perlu ada penentuan prioritas ketika budget terbatas, dengan trade-off yang jelas antara merit, market adjustment, promotion, equity correction, dan critical talent.

Sebanyak 37% perusahaan menganggap menjaga review tetap dalam batas budget sebagai salah satu tantangan terbesar, sementara 33% kesulitan mencapai kesepakatan mengenai besaran budget itu sendiri. Pada perusahaan dengan lebih dari 1.000 karyawan, angka menjaga budget mencapai 42%, sementara menyepakati budget mencapai 54%.

Masalah salary budget sering kali bukan karena perusahaan tidak tahu berapa banyak yang bisa dibelanjakan, melainkan karena stakeholder belum sepakat untuk apa sebenarnya budget tersebut harus digunakan.

3. Menggunakan Data Pasar yang Tidak Lagi Relevan

Market benchmark bukan data sekali pakai. Perlu ada perhatian terhadap perubahan demand terhadap skill, lokasi, industri, dan jabatan tertentu dari waktu ke waktu, dan hindari menggunakan angka benchmark lama hanya karena sudah dipakai pada siklus sebelumnya.

Sebanyak 33% perusahaan menganggap memahami perubahan market data sejak review sebelumnya sebagai tantangan tersendiri. Angka ini mencapai 45% pada perusahaan dengan kurang dari 100 karyawan dan 46% pada perusahaan dengan 500 hingga 1.000 karyawan.

Oleh karena itu, market data seharusnya menjadi input yang terus diperbarui dalam setiap salary review, bukan angka yang sekadar diwariskan dari satu siklus ke siklus berikutnya.

4. Membiarkan Penilaian Kinerja Terlalu Subjektif

Sebanyak 33% perusahaan menganggap memastikan objective performance evaluation sebagai tantangan. Angka ini mencapai 36% pada perusahaan dengan kurang dari 100 karyawan dan 37% pada perusahaan dengan 100 hingga 500 karyawan.

Isu ini mencakup konsistensi performance rating antar-manager, perbedaan standar penilaian antar-fungsi, dan hubungan antara performance rating dengan keputusan salary increase.

Jika performance menjadi salah satu dasar utama salary adjustment, kualitas proses penilaian kinerja ikut menentukan kualitas keputusan kompensasi yang dihasilkan.

Kalibrasi sebelum keputusan kompensasi ditetapkan menjadi langkah penting untuk menjaga objektivitas ini.

5. Membiarkan Ad Hoc Requests Mengubah Prioritas Salary Review

Kadang kala, manager dapat mengajukan adjustment di luar guideline yang telah ditetapkan, dan permintaan individual semacam ini dapat menggeser alokasi budget secara tidak terencana.

Sebanyak 33% perusahaan menganggap mengelola permintaan ad hoc dari manager sebagai tantangan, dengan angka mencapai 46% pada perusahaan 500 hingga 1.000 karyawan dan 38% pada perusahaan dengan lebih dari 1.000 karyawan.

Diperlukan kriteria yang jelas untuk setiap exception, lengkap dengan rationale dan approval yang konsisten.

Fleksibilitas dalam salary review memang diperlukan, tetapi tanpa governance yang memadai, fleksibilitas tersebut dapat berubah menjadi keputusan yang tidak konsisten antar-karyawan.

6. Menganggap Manager Hanya sebagai Penyampai Keputusan

Sebanyak 27% perusahaan menganggap melatih manager untuk mengomunikasikan hasil sebagai bagian yang menantang, dan 14% juga kesulitan melatih manager mengenai cara mengalokasikan compensation adjustment. Secara keseluruhan, 69% perusahaan menilai kesiapan manager mereka hanya 1 hingga 3 dari skala 5.

Oleh karena itu, manager perlu memahami dasar dari setiap keputusan, mampu menjelaskan hasil tanpa menciptakan ekspektasi yang keliru, dan dibekali panduan percakapan yang jelas beserta batas informasi yang dapat mereka sampaikan.

Manager bukan sekadar penyampai keputusan kompensasi. Mereka adalah titik di mana kebijakan salary review benar-benar diterjemahkan menjadi pengalaman nyata bagi karyawan.

7. Menganggap Komunikasi Karyawan sebagai Tahap Akhir

Sebanyak 15% perusahaan menganggap komunikasi proses kepada karyawan sebagai tantangan, sementara 22% kesulitan menangani employee concerns setelah hasil dibagikan. Secara keseluruhan, 68% perusahaan menilai kualitas komunikasi kompensasi mereka hanya 1 hingga 3 dari skala 5.

Padahal, menyampaikan nominal adjustment saja tidak cukup. Perlu ada penjelasan mengenai alasan dan proses pengambilan keputusan, serta kesiapan merespons pertanyaan setelah hasil diumumkan.

Data menunjukkan 93% perusahaan memberi tahu besaran adjustment kepada karyawan, tetapi hanya 59% yang benar-benar menjelaskan alasan di balik keputusan tersebut. 

Komunikasi yang baik bukan berarti perusahaan harus membuka seluruh data kompensasi, melainkan memberikan konteks yang cukup agar karyawan memahami mengapa keputusan tersebut diambil.

6. Tidak Menyediakan Mekanisme Setelah Salary Review

Sebanyak 22% perusahaan menganggap menangani employee concerns setelah hasil diumumkan sebagai tantangan. Pada perusahaan dengan lebih dari 1.000 karyawan angkanya hanya 8%, jauh lebih rendah dibandingkan 28% pada perusahaan dengan kurang dari 100 karyawan.

Organisasi perlu menyediakan jalur pertanyaan atau klarifikasi, mendokumentasikan concern yang muncul, dan mengidentifikasi pola masalah yang berulang dari satu siklus ke siklus berikutnya.

Salary review tidak berakhir ketika keputusan diumumkan. Respons setelah keputusan dapat menunjukkan apakah compensation philosophy organisasi benar-benar dipahami dan diterapkan secara konsisten di lapangan.

Bagaimana Membuat Salary Review Lebih Data-Driven?

Setelah memahami berbagai tantangan di atas, langkah selanjutnya adalah membangun proses yang lebih berbasis data. Berikut empat langkah praktis yang dapat diterapkan.

1. Gunakan Satu Compensation Dataset

Satukan master data karyawan, salary, job level, performance, salary range, market benchmark, riwayat promosi, dan tenure ke dalam satu sumber data yang konsisten.

Data yang terfragmentasi di berbagai spreadsheet dan sistem berbeda menjadi salah satu penyebab utama sulitnya menjaga konsistensi keputusan antar-departemen dan antar-lokasi.

2. Gunakan Compa-Ratio untuk Melihat Positioning

Compa-ratio digunakan untuk melihat posisi gaji karyawan terhadap midpoint salary range yang berlaku.

Formula:

Formula: Compa-Ratio = (Current Salary ÷ Salary Range Midpoint) × 100%

Contohnya, karyawan dengan gaji Rp15 juta dan midpoint Rp18 juta memiliki compa-ratio sekitar 83%.

Artinya, gajinya berada di bawah midpoint dan perlu dilihat lebih lanjut bersama performance, market position, dan faktor lainnya.

Dalam salary review, gunakan compa-ratio untuk membandingkan positioning antar-karyawan, bukan sebagai aturan otomatis bahwa semakin rendah rasionya berarti semakin besar kenaikannya.

Karyawan dengan compa-ratio rendah tetapi performance tinggi dan berada di role yang market-nya kompetitif, misalnya, dapat menjadi prioritas adjustment yang lebih tinggi.

Compa-Ratio Posisi terhadap Midpoint Yang Perlu Dievaluasi
<80% Jauh di bawah midpoint Market gap, experience, performance, dan alasan positioning
80–100% Di bawah hingga mendekati midpoint Performance dan progression dalam range
100–120% Di sekitar hingga di atas midpoint Performance, tenure, dan ruang kenaikan dalam range
>120% Jauh di atas midpoint Alasan positioning dan ruang untuk kenaikan berikutnya

3. Segmentasikan Employee Population

Segmentasi membantu organisasi melihat pola secara lebih jelas, misalnya kelompok high performer yang masih below market, high performer yang sudah at market, karyawan dengan critical skill namun below range, atau low performer yang justru berada above midpoint.

Dengan segmentasi ini, prioritas alokasi budget menjadi lebih mudah ditentukan dibandingkan mengevaluasi setiap karyawan satu per satu tanpa kerangka yang jelas.

4. Simulasikan Beberapa Budget Scenarios

Simulasi dapat dilakukan melalui beberapa skenario, misalnya conservative, baseline, dan targeted investment, dengan membandingkan total cost, average increase, jumlah karyawan yang terdampak, coverage terhadap critical talent, dan remaining budget pada masing-masing skenario.

Pendekatan simulasi ini memungkinkan pengambil keputusan melihat konsekuensi dari setiap pilihan sebelum benar-benar menetapkan angka final.

Measuring Outcome: Apakah Salary Review Benar-Benar Mencapai Tujuannya?

Keberhasilan salary review tidak seharusnya berhenti pada pertanyaan apakah perusahaan tetap sesuai budget.

Budget adherence memang penting, tetapi salary review pada akhirnya merupakan investasi untuk memengaruhi retensi, fairness, positioning terhadap pasar, dan pengalaman karyawan secara keseluruhan.

Indikator 1: Apakah Budget Digunakan Sesuai Strategi?

Setelah salary review selesai, perusahaan perlu melihat apakah keputusan alokasi yang dibuat benar-benar mencerminkan compensation philosophy dan prioritas yang telah disepakati.

Mulailah dengan melihat actual spending dibandingkan dengan budget, kemudian telusuri ke mana budget tersebut dialokasikan.

Jika perusahaan sejak awal memprioritaskan market adjustment dan critical talent, misalnya, evaluasi apakah porsi budget yang signifikan benar-benar digunakan untuk kebutuhan tersebut, sekaligus memastikan tidak terjadi budget yang menganggur atau overspending.

Budget adherence menjadi titik awal pengukuran, tetapi belum cukup untuk menunjukkan bahwa salary review telah menghasilkan outcome yang diharapkan

Indikator 2: Apakah Salary Review Memperbaiki Employee Experience?

Salary review tidak hanya menghasilkan perubahan pada angka gaji, tetapi juga memengaruhi bagaimana karyawan memahami, menilai, dan merespons keputusan kompensasi perusahaan. 

Karena itu, perusahaan perlu melihat apakah karyawan memahami hasil review, merasa prosesnya fair, dan melihat adanya perubahan yang positif terhadap employee experience setelah salary review.

Survei Ravio menunjukkan bahwa 44% perusahaan menggunakan employee satisfaction feedback untuk mengukur keberhasilan compensation review. Namun, penggunaannya berbeda berdasarkan ukuran organisasi: metrik ini digunakan oleh 60% perusahaan dengan kurang dari 100 karyawan, sementara proporsinya lebih rendah pada organisasi yang lebih besar.

Hal ini menunjukkan adanya potensi blind spot dalam salary review. Ketika organisasi semakin besar, perusahaan mungkin semakin fokus mengukur budget, salary structure, dan proses administratif, sementara pengalaman karyawan setelah keputusan kompensasi dibuat menjadi lebih sulit terlihat.

Karena itu, evaluasi pascareview sebaiknya tidak berhenti pada “berapa banyak karyawan yang mendapat kenaikan?”, tetapi juga melihat “bagaimana karyawan merespons dan memahami keputusan tersebut?”.

Indikator 3: Ukur Dampaknya terhadap Retention

Jika salah satu tujuan salary review adalah mempertahankan talenta, maka dampaknya perlu dilihat dari perubahan retention setelah review, bukan hanya dari jumlah kenaikan yang diberikan.

Perusahaan perlu melihat apakah critical talent tetap bertahan, apakah regrettable attrition berubah, dan apakah karyawan yang menerima targeted adjustment menunjukkan retensi yang lebih baik dibandingkan periode sebelumnya.

Survei Ravio menunjukkan bahwa 40% perusahaan menggunakan retention rate sebagai salah satu metrik keberhasilan compensation review. Namun, hanya 26% yang membedakan regrettable dan non-regrettable attrition, padahal pembedaan ini penting untuk mengetahui apakah perusahaan benar-benar berhasil mempertahankan talenta yang paling bernilai bagi bisnis.

Karena itu, evaluasi sebaiknya menghubungkan siapa yang menerima adjustment dengan apa yang terjadi setelahnya.

Jika kelompok critical talent yang mendapat penyesuaian tetap memiliki tingkat retensi yang rendah, misalnya, perusahaan perlu mempertanyakan apakah masalahnya memang kompensasi atau terdapat faktor lain yang lebih dominan dalam keputusan karyawan untuk bertahan.

Indikator 4: Apakah Compensation Gaps Benar-Benar Berkurang?

Salary review seharusnya menghasilkan perubahan pada kesehatan struktur kompensasi. Jadi, perusahaan perlu membandingkan kondisi kompensasi sebelum dan sesudah review untuk melihat apakah gap yang menjadi alasan dilakukannya adjustment benar-benar berkurang.

Dalam praktiknya, bandingkan perubahan pada jumlah karyawan di bawah midpoint, salary band outliers, pay equity gaps, compa-ratio, dan market positioning.

Misalnya, jika market adjustment diberikan untuk memperbaiki positioning suatu kelompok, perusahaan perlu melihat apakah kelompok tersebut benar-benar bergerak lebih dekat ke target market setelah review.

Indikator 5: Apakah Organisasi Semakin Dekat dengan Target Market Position?

Salary review yang menggunakan market data seharusnya menghasilkan perubahan yang dapat terlihat pada posisi kompensasi perusahaan terhadap pasar.

Jika perusahaan sudah menentukan target market percentile, misalnya median atau percentile tertentu, maka setelah review perlu dilihat apakah adjustment yang diberikan benar-benar membawa posisi gaji mendekati target tersebut.

Oleh karenanya, bndingkan target market percentile dengan actual market position sebelum dan sesudah review.

Perhatikan pula apakah critical roles sudah mencapai positioning yang ditargetkan dan apakah terdapat kelompok yang tetap tertinggal meskipun sudah menerima adjustment.

Salary Review Scorecard yang Menghubungkan Proses dengan Outcome

Kelima indikator di atas dapat dirangkum dalam satu scorecard sederhana yang menghubungkan dimensi proses dengan hasil yang terukur.

DimensiContoh Metrik
FinancialBudget adherence
EmployeeSatisfaction feedback
RetentionRetention rate dan regrettable attrition
FairnessPay equity
Internal PositioningCompa-ratio / range penetration
Market PositioningTarget percentile
ProcessReview cycle time
Talent OutcomeOffer acceptance rate

Scorecard semacam ini membantu organisasi melihat salary review bukan sebagai proyek satu kali per tahun, melainkan sebagai siklus yang terus dievaluasi dan diperbaiki dari waktu ke waktu.

Ketika Salary Review Semakin Kompleks, Spreadsheet Mulai Menjadi Bottleneck

Teknologi bukan tujuan akhir dari salary review. Teknologi menjadi penting ketika kompleksitas populasi karyawan, salary structure, approval, calibration, dan kebutuhan analisis membuat proses manual semakin sulit dikendalikan.

Spreadsheet Masih Dominan, tetapi Skalanya Mulai Menjadi Masalah

Data Ravio mengungkapkan sebanyak 54% perusahaan masih menggunakan spreadsheet untuk menjalankan compensation review. Angka ini mencapai 68% pada perusahaan dengan kurang dari 100 karyawan dan 64% pada perusahaan 100 hingga 500 karyawan, tetapi turun tajam menjadi 23% pada perusahaan 500 hingga 1.000 karyawan dan 28% pada perusahaan dengan lebih dari 1.000 karyawan.

Spreadsheet masih masuk akal ketika struktur organisasi relatif sederhana.

Namun ketika jumlah karyawan, fungsi, lokasi, salary range, dan approval semakin banyak, spreadsheet mulai menciptakan risiko nyata: data terfragmentasi, version control yang sulit dijaga, perubahan yang sulit ditelusuri, perhitungan dan simulasi yang semakin kompleks, approval yang tidak terintegrasi, dan kesulitan menjaga konsistensi antar-manager di berbagai lokasi.

Teknologi Salary Review Harus Memperkuat Governance

Sebanyak 24% perusahaan menggunakan modul compensation dalam HRIS mereka, 19% menggunakan software khusus compensation review, dan hanya 2% menggunakan software yang dibangun secara internal.

Idealnya, teknologi yang digunakan mampu mendukung keseluruhan proses compensation management, bukan hanya perhitungan kenaikan gaji.

Cakupannya dapat meliputi pengelolaan salary range dan compa-ratio, budget allocation, simulasi kenaikan, approval, calibration, audit trail, reporting, hingga integrasi data karyawan dan payroll.

Pendekatan ini penting ketika salary review sudah menjadi proses yang melibatkan banyak fungsi, level, lokasi, dan keputusan.

Teknologi tidak lagi sekadar menggantikan spreadsheet, tetapi membantu menghubungkan data kompensasi, proses pengambilan keputusan, dan governance dalam satu alur yang dapat ditelusuri kembali.

Kebutuhan Teknologi Berubah Seiring Skala Organisasi

Pada perusahaan dengan lebih dari 1.000 karyawan, 56% menggunakan modul compensation dalam HRIS. Pada perusahaan 500 hingga 1.000 karyawan, 38% menggunakan modul HRIS dan 31% menggunakan software compensation khusus, sementara pada perusahaan dengan kurang dari 100 karyawan hanya 11% yang menggunakan modul compensation HRIS.

Pola ini menunjukkan bahwa kebutuhan teknologi salary review memang berubah seiring bertambahnya kompleksitas organisasi.

Semakin banyak entitas, lokasi, dan level jabatan yang dikelola, semakin besar pula kebutuhan terhadap sistem yang dapat menyatukan data kompensasi, mendukung simulasi budget, dan menjaga governance secara konsisten di seluruh organisasi.

Pada tahap ini, perusahaan dapat mempertimbangkan platform yang mengintegrasikan pengelolaan data dan proses kompensasi dalam satu sistem.

Salah satu contohnya adalah Mekari Talenta, yang berkembang dari fungsi HRIS menjadi platform Human Capital Management (HCM) terintegrasi.

Artinya, cakupannya tidak berhenti pada pengelolaan data administrasi karyawan, tetapi juga mendukung proses pengelolaan talenta dan keputusan terkait tenaga kerja, termasuk melalui modul Manajemen Kompensasi untuk mendukung proses salary review.

Dengan sistem yang terintegrasi, data gaji, salary range, dan riwayat penyesuaian dapat dikelola dalam satu platform untuk mendukung proses evaluasi dan pengambilan keputusan kompensasi.

Hal ini menjadi semakin relevan ketika salary review melibatkan banyak fungsi, level, lokasi, atau entitas dan mulai sulit dikelola secara manual.

Jika organisasi Anda ingin menjalankan salary review yang lebih data-driven, terstruktur, dan scalable, hubungi tim Mekari Talenta untuk konsultasi mengenai kebutuhan manajemen kompensasi perusahaan.

Referensi

1. Ravio. Behind Closed Doors: Compensation Reviews. Pay Review Survey.

2. WTW. Salary Increases in Asia Pacific, Including Singapore, Remain Stable Amidst Global Uncertainties. 2025.

3. Mercer. Most US Employers Plan to Keep 2026 Salary Increases Flat to 2025. 2025.

Pertanyaan Umum seputar Salary Review

Apakah salary review harus selalu dilakukan setiap tahun?

Apakah salary review harus selalu dilakukan setiap tahun?

Tidak. Siklus tahunan memang paling umum, tetapi frekuensi dapat disesuaikan dengan dinamika pasar, struktur organisasi, dan kebutuhan bisnis. Survei Ravio menunjukkan 45% perusahaan melakukan review tahunan, sementara sebagian lainnya menggunakan off-cycle adjustment atau review dua kali setahun.

Apakah salary review harus selalu menghasilkan kenaikan gaji?

Apakah salary review harus selalu menghasilkan kenaikan gaji?

Tidak. Salary review adalah proses evaluasi, sedangkan kenaikan gaji hanya salah satu kemungkinan hasilnya. Hasil review juga dapat berupa promotion adjustment, market adjustment, equity correction, atau tidak ada perubahan apabila positioning kompensasi masih sesuai.

Apakah kenaikan gaji harus sama untuk semua karyawan dalam satu perusahaan?

Apakah kenaikan gaji harus sama untuk semua karyawan dalam satu perusahaan?

Tidak harus. Perusahaan dapat menggunakan pendekatan berbeda berdasarkan compensation philosophy, misalnya merit-based, market-based, atau targeted adjustment. Yang penting, kriteria dan governance-nya ditetapkan terlebih dahulu agar perbedaan keputusan dapat dijelaskan secara konsisten.

Kapan perusahaan perlu melakukan salary review di luar siklus tahunan?

Kapan perusahaan perlu melakukan salary review di luar siklus tahunan?

Off-cycle review dapat dipertimbangkan ketika terjadi perubahan material seperti promosi, perubahan tanggung jawab, market movement yang signifikan, perubahan struktur organisasi, atau munculnya risiko retensi pada role tertentu. Tujuannya bukan menggantikan annual review, tetapi memberi ruang untuk merespons kondisi yang tidak dapat menunggu siklus berikutnya.

Siapa yang seharusnya memiliki keputusan akhir dalam salary review?

Siapa yang seharusnya memiliki keputusan akhir dalam salary review?

Tidak ada satu fungsi yang selalu menjadi pemilik keputusan akhir. HR membawa perspektif compensation dan talent, Finance mempertimbangkan kemampuan biaya, pimpinan menghubungkan keputusan dengan prioritas bisnis, sementara manager memberikan konteks mengenai kontribusi dan kondisi tim. Ravio menemukan 41% perusahaan menggunakan model dengan adjustment yang direkomendasikan secara terpusat tetapi masih memberi ruang bagi manager untuk melakukan penyesuaian.

Abidah Ardelia Penulis
A Content Specialist with more than two years of experience covering the Human Resources (HR) industry, with a focus on HR technology, payroll, talent management, recruitment, employment practices, and digital HR transformation. Her work combines regulatory developments, industry research, and insights from HR practitioners to deliver accurate, well-researched content that addresses the strategic and operational priorities of HR professionals and business leaders.
Icon

Satu solusi untuk semua kebutuhan HR Anda

Optimalkan pengelolaan operasi HR Anda dengan bantuan solusi terintegrasi dari Mekari Talenta.

WhatsApp Hubungi sales