Talent Management 15 min read

12 Penyebab Turnover Karyawan: Memahami Akar Masalah di Balik Tingginya Attrition

Tayang
Di tulis oleh:
Author Avatar
Abidah Ardelia
Highlights
  • Turnover karyawan adalah kondisi ketika karyawan keluar dari perusahaan, baik secara sukarela maupun karena keputusan organisasi, sehingga perusahaan perlu melakukan penggantian tenaga kerja.
  • Penyebab turnover karyawan meliputi jalur karier yang tidak jelas, work-life balance, kualitas manajer, kompensasi, budaya kerja, fleksibilitas, hingga ketidakpastian masa depan pekerjaan.

Banyak pemimpin perusahaan masih menganggap gaji sebagai penyebab utama karyawan resign.

Anggapan ini masuk akal secara intuitif, tetapi berbagai riset besar justru menunjukkan hal sebaliknya.

Kompensasi memang penting. Namun, posisinya lebih sering menjadi baseline requirement, bukan alasan tunggal yang membuat karyawan terbaik memutuskan pergi.

Artikel ini merangkum temuan dari beberapa riset global tentang turnover karyawan, untuk memahami akar penyebabnya secara akurat.

Perusahaan Kerap Berpikir Gaji adalah Penyebab Utama Turnover Karyawan

Ada gap persepsi yang cukup lebar antara apa yang diyakini HR dan apa yang sebenarnya dirasakan karyawan. Gap ini muncul konsisten di beberapa riset sekaligus.

Riset iHire dan SHRM menemukan bahwa employer cenderung overestimate peran gaji dalam keputusan resign karyawan. Sebanyak 36,3% employer menganggap gaji sebagai alasan utama, padahal hanya 20,5% karyawan yang benar-benar mengaku demikian.

Sebaliknya, HR justru underestimate soal budaya kerja dan lingkungan toxic. Sebanyak 32,4% karyawan menyebut toxic work environment sebagai alasan resign terbesar mereka, tetapi hanya 15,3% employer yang menyadari hal ini sebagai faktor penting.

Riset Gallup dan Work Institute menunjukkan pola serupa. Alasan yang paling sering disebut karyawan justru berkisar pada career development, manajer, dan work-life balance, bukan semata soal angka di slip gaji.

Kesalahan membaca akar masalah ini berdampak langsung ke alokasi budget retensi. Perusahaan yang terus menaikkan gaji sebagai satu-satunya solusi sering kali tetap kehilangan talenta terbaiknya.

Faktor Penyebab Turnover Karyawan menurut Riset: Mengapa Perusahaan Kehilangan Talenta Terbaik?

Berikut adalah 12 penyebab turnover karyawan yang paling konsisten muncul di berbagai riset, mulai dari Gallup, SHRM, iHire, hingga Work Institute Retention Report 2026.

1. Jalur Karier dan Pengembangan yang Buram

Ketidakjelasan jalur karier adalah penyebab resign paling konsisten di hampir semua riset. Ini berlaku baik pada survei HR, exit interview, maupun self-report langsung dari karyawan.

Work Institute Retention Report 2026 mencatat career sebagai penyebab resign nomor satu selama lima belas tahun berturut-turut sejak 2011. Di tahun 2025, kategori ini menyumbang 19,2% dari seluruh alasan resign, porsi tertinggi sejak 2021.
(1) career trend
Sumber: Work Institute Retention Report (2026) 

Di dalam kategori career, ada tiga sub-motif berbeda. Growth-seekers mencari promosi dan pengembangan skill, dengan angka promosi naik 118% sejak 2022.

Career-changers ingin beralih ke jalur karier yang sama sekali berbeda, termasuk kembali ke bangku sekolah.

Sementara itu, security-seekers resign karena mencari kepastian pekerjaan, dengan alasan job security naik dua kali lipat dari tahun sebelumnya.

Ada perbedaan signifikan antar gender di kategori ini. Pria mencatat 22,7% resign karena career, sementara wanita 17,2%, dengan pria lebih dominan di sisi promosi dan job security.

Perbedaan generasi juga tajam. Career menjadi alasan resign nomor satu di semua generasi kecuali Baby Boomer, dan bagi Gen Z, career menyumbang lebih dari satu dari empat alasan resign mereka.

SHRM turut menegaskan pola ini lewat riset Career Development Gaps. Perusahaan dinilai gagal menjelaskan nilai pembelajaran dari sebuah peran kerja, padahal karyawan sekarang mengharapkan jalur karier berbentuk pengalaman, bukan tangga jabatan linear.

Gallup menambahkan konteks lain lewat riset turnover preventable. Compensation dan career advancement bersama-sama mencakup sekitar dua dari lima alasan yang menurut mantan karyawan sebenarnya bisa mencegah mereka resign.

Intinya, karyawan tidak semata mencari kenaikan jabatan. Mereka mencari kejelasan tentang masa depan mereka di perusahaan tempat bekerja.

2. Wellbeing dan Work-Life Balance

Work-life balance kini telah berubah dari sekadar fasilitas tambahan menjadi ekspektasi dasar yang wajib dipenuhi perusahaan.

Work Institute mencatat angka 12,4% di tahun 2025 untuk kategori ini, naik terus setiap tahun sejak 2020 dengan kenaikan total 19% dalam lima tahun terakhir. Faktor pendorong utamanya adalah jadwal shift dan waktu commuting.
(2) work life balance trend
Sumber: Work Institute Retention Report (2026) 

Riset ini bahkan secara eksplisit memperingatkan perusahaan yang menerapkan kebijakan return-to-office secara ketat. Fleksibilitas dianggap bukan lagi privilese, melainkan syarat non-negotiable bagi banyak karyawan.

Wanita mencatat angka lebih tinggi di kategori ini dibanding pria, yaitu 12,8% berbanding 10,3%. Perbedaan ini konsisten di hampir semua sub-tema, dari commute, remote work, hingga jam kerja tambahan.

Gen Z dan Millennial juga jauh lebih sensitif terhadap isu ini dibanding Gen X atau Baby Boomer. Pekerja muda cenderung masih menguji apakah pekerjaan mereka bisa mendukung kehidupan pribadi secara seimbang.

Gallup Indicator menunjukkan tema wellbeing dan work-life balance menyumbang 31% dari total alasan resign.

iHire menambahkan, poor work-life balance disebut oleh 20,8% karyawan, sedikit lebih tinggi dari alasan gaji. Yang menarik, riset iHire lainnya mencatat lack of work-life integration sebagai alasan resign nomor satu khusus untuk karyawan yang keluar di tahun pertama kerja mereka.

3. Manajer dan Kepemimpinan

Kualitas manajer adalah salah satu leverage terkuat dalam retensi karyawan. Riset menunjukkan pola ini berulang kali, di berbagai metodologi dan sumber data.

Work Institute Retention Report 2026 mencatat kategori manajemen menyumbang 9,2% alasan resign di 2025. Temuan paling tajam ada di sub-tema professional behavior, yang naik hampir 30% dalam dua tahun terakhir.
(3) manager professional behaviour trend
Sumber: Work Institute Retention Report (2026) 

Masalahnya bukan soal kompetensi teknis manajer. Riset ini menegaskan bahwa akar masalahnya adalah perilaku harian, yaitu bagaimana manajer memperlakukan tim, memberi respect, dan menegakkan keadilan di bawah tekanan.

Gallup menemukan fakta yang cukup mengejutkan. Sebanyak 42% voluntary leavers percaya resign mereka sebenarnya bisa dicegah manajer atau organisasi.

Namun 45% dari mereka justru mengaku tidak pernah mengalami percakapan proaktif soal kepuasan kerja atau masa depan karier dalam tiga bulan terakhir sebelum resign.

Bahkan dari yang sempat berdialog, hanya 17% yang benar-benar ditanya apa yang membuat mereka mau bertahan.

(4) what did manager do
Sumber: Gallup (2024) 

iHire menambahkan data serupa dari sisi lain. Poor company leadership dan ketidakpuasan terhadap supervisor menjadi alasan resign kedua dan ketiga terbesar, mengalahkan faktor gaji.

Ada perbedaan gender yang menarik di kategori ini. Wanita lebih sering menyoroti perilaku profesional dan komunikasi manajer, sementara pria lebih fokus pada kurangnya pengetahuan atau skill manajer.

Gen X juga tercatat paling terdampak isu manajemen, dengan lebih dari 13% dari total exit mereka terkait faktor ini.

Wajar, mengingat generasi ini punya ekspektasi leadership yang lebih matang dibanding Gen Z yang baru memulai karier.

Baca Juga: 13 Ciri-Ciri Pemimpin yang Baik dan Contoh Penerapannya dalam Dunia Kerja

4. Kesehatan dan Keluarga

Dalam kategori ini, Work Institute Retention Report 2026 mencatat 11,4% di 2025, sedikit turun dari 12,3% di tahun sebelumnya.

Kategori Health & Family mencakup berbagai kondisi seperti kebutuhan mengasuh anak atau orang tua (child/elder care), masalah kesehatan pribadi, hingga situasi keluarga lainnya seperti kehamilan, perpindahan domisili, atau tanggung jawab caregiving.

Kategori ini cenderung stabil secara angka, tetapi ternyata menyimpan tekanan yang nyata di baliknya.

(5) health and family subtrend
Sumber: Work Institute Retention Report (2026) 

Insight pentingnya, karyawan jarang resign murni karena isu kesehatan atau keluarga semata. Mereka resign ketika isu ini bertabrakan dengan jadwal kerja yang kaku dan dukungan manajer yang tidak konsisten.

Gap gender di kategori ini cukup besar. Health and family menjadi alasan resign kedua terbesar bagi wanita dengan angka 13,8%, tapi hanya menempati posisi kelima bagi pria dengan 8,6%.

Menariknya, Gen Z juga mencatat angka cukup tinggi soal tanggung jawab child atau elder care, mendekati bahkan sedikit melampaui Gen X. Millennial, sebagai generasi sandwich, tetap paling dominan di kategori ini.

Implikasinya jela. Kebijakan flexible leave dan dukungan caregiving menjadi diferensiator penting, terutama untuk mempertahankan talenta perempuan dan generasi Millennial.

5. Kompensasi dan Benefit

Kompensasi tetap penting, tetapi  bukan faktor penentu utama seperti anggapan umum selama ini.

Work Institute mencatat kategori total rewards hanya 7,7% di 2025, turun tiga tahun berturut-turut dari puncaknya 11,3% saat era inflasi 2022.

Bahkan di puncak tertingginya sekalipun, total rewards hanya menempati posisi kelima sebagai penyebab resign.

Temuan Gallup juga memperkuat pola tersebut. Dalam survei terhadap karyawan yang keluar secara sukarela, tambahan kompensasi atau benefit memang menjadi faktor yang paling sering disebut dapat mencegah resign (30%).

Namun, 70% alasan preventable turnover lainnya justru berkaitan dengan pengalaman bekerja sehari-hari. 

Ini menegaskan bahwa gaji bukan variabel tunggal yang menentukan keputusan karyawan untuk bertahan atau pergi.

Menariknya, terdapat perbedaan persepsi antara perusahaan dan karyawan mengenai penyebab turnover yang berkaitan dengan kompensasi.

Survei SHRM menunjukkan bahwa profesional HR masih menempatkan inadequate total compensation sebagai penyebab turnover paling umum, bahkan memperkirakan perusahaan perlu menaikkan anggaran kompensasi sekitar 8–10% untuk mengatasinya.

Jika dilihat berdasarkan gender, pria jauh lebih sering menyebut base pay sebagai alasan resign, sementara wanita sedikit lebih fokus pada isu benefit.

Millennial mencatat angka tertinggi di kategori ini dibanding generasi lain, kemungkinan besar karena beban finansial ganda. Mereka harus membesarkan anak, mendukung orang tua, sekaligus membangun karier secara bersamaan.

Baca Juga: 10 Jenis Benefit Karyawan yang Bantu Tingkatkan Loyalitas

6. Kurangnya Pengakuan atau Recognition

Recognition sering diremehkan sebagai strategi retensi, padahal dampaknya terbukti signifikan. 

Studi longitudinal Gallup dan Workhuman terhadap sekitar 3.500 karyawan menemukan bahwa karyawan yang menerima recognition berkualitas tinggi memiliki kemungkinan 45% lebih kecil untuk resign dalam dua tahun.

Dampaknya bahkan lebih besar ketika recognition diberikan secara konsisten sesuai praktik terbaik.

Karyawan yang menerima apresiasi yang memenuhi setidaknya empat dari lima pillar utama, yaitu sesuai ekspektasi karyawan, diberikan secara tulus, dipersonalisasi, diterapkan secara adil, serta menjadi bagian dari budaya kerja sehari-hari, memiliki kemungkinan 65% lebih kecil untuk aktif mencari pekerjaan lain.

(6) effect of employee engagement
Sumber: Gallup (2024)

Sayangnya, lebih dari separuh karyawan di Amerika Serikat sama sekali tidak menerima recognition yang memenuhi standar pilar-pilar ini. Ini artinya masih ada ruang besar yang belum tergarap oleh kebanyakan perusahaan.

Baca Juga: Mengenal Recognition Program Sebagai Penghargaan bagi Karyawan

7. Fleksibilitas Kerja

Fleksibilitas kerja kini menjadi salah satu faktor penting dalam strategi retensi karyawan.

Survei SHRM terhadap profesional HR menunjukkan bahwa 43% responden memasukkan lack of workplace flexibility sebagai salah satu dari tiga penyebab turnover paling umum, bersama isu kompensasi dan pengembangan karier.
(7) work flexibility
Sumber: SHRM (2025)

Perspektif karyawan menunjukkan tren yang serupa.

Dalam survei iHire, 54,7% responden menyatakan mereka lebih mungkin bertahan jika perusahaan menawarkan fleksibilitas jam kerja (flextime), sementara 68,1% mengatakan mereka akan lebih loyal apabila perusahaan benar-benar memprioritaskan work-life balance.

Temuan ini menunjukkan bahwa fleksibilitas kerja tidak lagi dipandang sebagai fasilitas tambahan (perk), melainkan telah menjadi bagian dari ekspektasi dasar karyawan.

Perusahaan yang mampu menawarkan fleksibilitas sesuai kebutuhan tenaga kerjanya memiliki peluang lebih besar untuk mempertahankan talenta dibandingkan organisasi yang masih menerapkan kebijakan kerja yang kaku.

8. Lingkungan Kerja dan Budaya Perusahaan

Environment adalah masalah tentang manusia, bukan sekadar tempat kerja.

Work Institute mencatat kategori ini mencapai 8,1% di 2025, titik tertinggi sejak 2022.

Faktor pendorongnya ada dua, yaitu organizational culture yang mendekati puncak 2022, dan co-worker dynamics yang melonjak lebih dari dua kali lipat sejak tahun yang sama. Tren return-to-office membuat gesekan antar tim jadi lebih terlihat.

(8) enviroment trend
Sumber: Work Institute Retention Report (2026) 

Gallup Indicator bahkan menempatkan engagement and culture sebagai tema terbesar dari total alasan resign, mencapai 37%.

Kategori ini mencakup berbagai aspek pengalaman kerja, mulai dari kesesuaian nilai dengan organisasi, rasa dihargai, hingga kualitas hubungan dengan lingkungan kerja.

(9) enagegemnt and culture
Sumber: Gallup (2026)

iHire menguatkan dengan angka toxic work environment sebesar 32,4% versi karyawan, jauh di atas persepsi employer yang hanya 15,3%.

Kesenjangan ini menunjukkan bahwa organisasi sering kali tidak menyadari pengalaman kerja yang dirasakan karyawan, termasuk praktik-praktik yang secara tidak langsung membatasi kesempatan berkembang, seperti kurangnya dukungan terhadap internal mobility atau budaya talent hoarding.

Baca juga: Talent Hoarding: Ancaman Tersembunyi dalam Pengembangan Talenta

9. Isu Organisasi, Beban Kerja, dan Staffing

Masalah operasional sehari-hari juga dapat menjadi pemicu turnover ketika tidak ditangani secara sistematis.

Dalam riset Gallup terhadap karyawan yang keluar secara sukarela, organizational issues menyumbang 13% dari tindakan yang menurut karyawan dapat mencegah mereka resign, sementara perbaikan staffing, workload, dan scheduling menyumbang 9%.
(10) the exit journey
Sumber: Gallup (2024)

Jika digabungkan, kedua faktor ini mencapai 22% dari seluruh peluang intervensi yang dapat dilakukan perusahaan untuk mengurangi preventable turnover.

Temuan ini menunjukkan bahwa risiko turnover tidak selalu berasal dari keputusan besar seperti kompensasi atau perpindahan karier.

Hambatan operasional sehari-hari, seperti beban kerja yang tidak seimbang, kekurangan sumber daya, atau proses kerja yang tidak efektif, dapat menumpuk menjadi frustrasi dan pada akhirnya mendorong karyawan untuk keluar.

10. Relocation atau Kepindahan Domisili

Relocation adalah kategori baru yang muncul di Work Institute Retention Report 2026, dengan angka 9,3% di tahun 2025. Kategori ini sering disalahpahami sebagai pencarian peluang kerja yang lebih baik.

Padahal mayoritas kasus relocation murni keputusan hidup, seperti kedekatan dengan keluarga, pekerjaan pasangan, atau pertimbangan biaya hidup.

(15) relocation trend
Sumber: Work Institute Retention Report (2026) 

Karena keputusannya biasanya sudah bulat, organisasi jarang mendapat early warning signal sebelum karyawan benar-benar resign.

Wanita jauh lebih sering resign karena mengikuti relokasi pasangan, dengan angka hampir dua kali lipat dibanding pria.

Ini mencerminkan pola di mana wanita masih lebih sering “mengalah” secara karier demi mobilitas pasangan mereka.

11. Involuntary Exit atau PHK Rekan Kerja

Involuntary exit tercatat 6,7% di 2025, naik 59% sejak 2022.

Kategori ini penting karena dampaknya tidak berhenti pada karyawan yang di-PHK saja.

Karyawan yang bertahan pun ikut merasakan efek riaknya. Persepsi ketidakstabilan organisasi menekan keberanian mereka mengambil risiko dan memicu apa yang disebut Work Institute sebagai quiet disengagement.

12. Job Security dan Kecemasan terhadap AI

Ini adalah insight paling segar dari Work Institute Retention Report 2026 dan belum banyak dibahas di riset-riset sebelumnya. Kecemasan soal job security berlipat ganda hanya dalam setahun terakhir.

(11) job security reasons
Sumber: Work Institute Retention Report (2026) 

Penyebabnya bukan gelombang PHK massal, melainkan anticipatory anxiety soal bagaimana AI dan otomasi akan mengubah peran kerja ke depan.

Karyawan early-career mempertanyakan relevansi skill mereka, sementara karyawan mid-career mempertanyakan apakah pengalaman mereka masih akan dihargai.

Poin krusial dari riset ini, AI sebenarnya bukan penyebab langsung turnover. Ketidakpastian yang tidak dijelaskan dengan baik oleh leadership-lah yang menjadi akar masalah sesungguhnya.

Organisasi yang memilih diam soal bagaimana AI akan digunakan justru memperbesar risiko kehilangan talenta. Ini topik yang sangat relevan untuk strategi retensi enterprise di tahun 2026 dan seterusnya.

Di Balik Angka Turnover: Penyebabnya Tidak Selalu Sama pada Setiap Kelompok Karyawan

Salah satu temuan penting dari Work Institute Retention Report 2026 adalah bahwa keputusan karyawan untuk resign tidak didorong oleh faktor yang sama.

Bobot setiap alasan dapat berubah secara signifikan tergantung karakteristik tenaga kerja, terutama berdasarkan gender dan generasi.

Segmentasi Risiko Turnover Berdasarkan Gender

Faktor pendorong turnover tidak selalu sama antara laki-laki dan perempuan.

Meskipun career menjadi alasan resign terbesar bagi kedua kelompok, konteks di balik keputusan tersebut memiliki perbedaan.

Bagi Gen Z, career menjadi isu paling dominan dengan kontribusi lebih dari satu dari empat alasan resign mereka.

Laki-laki lebih banyak meninggalkan perusahaan karena alasan seperti pengembangan karier, peluang promosi, job security, atau perpindahan jalur karier.

Sementara itu, perempuan lebih sering menyebut alasan terkait pendidikan atau studi lanjutan.

(12) reasons for living by gender
Sumber: Work Institute Retention Report (2026)

Sebaliknya, gap terbesar terlihat pada kategori Health & Family. Bagi perempuan, kategori ini menjadi alasan resign terbesar kedua (13,8%), sedangkan bagi laki-laki hanya 8,6%

Perempuan juga lebih sering menyebut isu seperti child care, elder care, dan kesehatan non-pekerjaan, yang menunjukkan bahwa faktor caregiving dan kebutuhan personal memiliki pengaruh lebih besar terhadap keputusan karier mereka.

Perbedaan juga terlihat pada kategori Environment. Meski angkanya relatif serupa (8,1% laki-laki vs 7,8% perempuan), fokusnya berbeda.

Perempuan lebih banyak menyoroti hubungan dengan rekan kerja (coworkers), sementara laki-laki lebih sering mengaitkannya dengan aspek organisasi dan budaya perusahaan.

Segmentasi Risiko Turnover Berdasarkan Generasi

Faktor penyebab turnover juga berubah berdasarkan tahap karier karyawan. Perbedaan generasi bukan sekadar soal preferensi kerja, tetapi mencerminkan perubahan kebutuhan dan prioritas sepanjang employee lifecycle.

Secara umum, career menjadi alasan resign terbesar di hampir seluruh generasi kecuali Baby Boomer. Namun, motivasi di balik keputusan tersebut berbeda.

Bagi Gen Z, career menjadi isu paling dominan dengan kontribusi lebih dari satu dari empat alasan resign mereka.

Kelompok ini lebih sering meninggalkan perusahaan karena ingin mengeksplorasi jalur karier, melanjutkan pendidikan, atau mencari pekerjaan yang lebih sesuai dengan minat dan kemampuan mereka.

Hal ini menunjukkan bahwa karyawan di tahap awal karier membutuhkan kejelasan arah, kesempatan belajar, serta ruang untuk mencoba berbagai pengalaman kerja.

(13) reasons for living by generations
Sumber: Work Institute Retention Report (2026)

Sementara itu, Millennial lebih banyak meninggalkan perusahaan karena alasan pengembangan karier.

Sebagai kelompok yang berada di fase pertengahan karier, mereka cenderung mencari peluang peningkatan kompetensi, tanggung jawab yang lebih besar, serta perkembangan profesional yang berkelanjutan.

Di sisi lain, Gen X memiliki kebutuhan yang lebih berkaitan dengan stabilitas dan keberlanjutan karier.

Work Institute mencatat kelompok ini lebih sering menyebut isu seperti job security dibanding generasi yang lebih muda.

Pada tahap ini, kepastian peran dan dukungan organisasi menjadi faktor penting untuk mempertahankan talenta berpengalaman.

Untuk Baby Boomer, pola turnover berbeda karena alasan terbesar bukan lagi career, melainkan retirement.

Hal ini menunjukkan bahwa strategi retensi untuk kelompok senior perlu mempertimbangkan transfer knowledge, succession planning, dan kesiapan organisasi menghadapi kehilangan talenta kritis.

Perbedaan lain terlihat pada kategori Health & Family. Work Institute menemukan bahwa isu caregiving ternyata juga semakin relevan pada generasi yang lebih muda.

Gen Z menunjukkan angka child/elder care yang lebih tinggi dari ekspektasi banyak perusahaan, bahkan mendekati Millennial dan sedikit melampaui Gen X.

Sementara itu, Millennial sebagai bagian dari sandwich generation menghadapi tekanan ganda karena harus mengelola tanggung jawab terhadap anak sekaligus orang tua.

Baca Juga: Analisis Karakter Karyawan Secara Umum Dan Berdasarkan Generasi

Sebagian Besar Penyebab Turnover Karyawan sebenarnya Masih dapat Dikendalikan

Turnover karyawan sering kali dianggap sebagai keputusan yang muncul secara tiba-tiba ketika seseorang sudah menerima tawaran dari perusahaan lain.

Namun, riset Gallup menunjukkan bahwa banyak keputusan resign sebenarnya sudah melalui proses yang panjang dan masih memiliki peluang untuk dicegah.

Dalam studi terhadap 717 karyawan yang keluar secara sukarela dalam 12 bulan terakhir, Gallup menemukan bahwa 42% responden merasa keputusan mereka untuk meninggalkan perusahaan sebenarnya dapat dicegah oleh organisasi atau manajer.

Masalahnya, banyak perusahaan baru mengetahui risiko tersebut ketika keputusan karyawan sudah hampir final.

Gallup menemukan bahwa 77% voluntary leavers memutuskan keluar dalam waktu tiga bulan setelah mulai mencari pekerjaan baru, atau bahkan tidak secara aktif mencari pekerjaan sebelum akhirnya resign.

Selain itu, 36% karyawan yang resign tidak berbicara dengan siapa pun sebelum mengambil keputusan untuk keluar.

Kondisi ini menunjukkan bahwa turnover bukan hanya persoalan angka keluar-masuk karyawan, tetapi juga kemampuan organisasi dalam membaca sinyal risiko lebih awal.

Ketika karyawan mulai kehilangan keterikatan dengan perusahaan, peluang intervensi sering kali sudah semakin kecil.

Salah satu area yang paling menentukan adalah kualitas percakapan antara manajer dan karyawan.

Gallup menemukan bahwa 45% voluntary leavers tidak pernah mendapatkan percakapan proaktif dengan manajer atau pemimpin terkait kepuasan kerja, performa, atau masa depan mereka di perusahaan dalam tiga bulan terakhir sebelum resign.

Baca Juga: Turnover Karyawan Tinggi? Begini Cara Menguranginya

Turnover Rendah Tidak Selalu Berarti Karyawan Loyal

Quit rate secara nasional telah turun ke level terendah dalam lebih dari satu dekade.

(14) quit rate
Sumber: Work Institute Retention Report (2026)

Namun angka rendah ini tidak serta merta menandakan karyawan benar-benar puas dengan pekerjaan mereka.

Work Institute menyebut fenomena ini sebagai quiet disengagement. Karyawan bertahan lebih lama bukan karena komitmen yang tulus, melainkan karena keraguan terhadap kondisi pasar kerja saat ini.

Risiko yang tertunda ini tidak hilang begitu saja, melainkan menumpuk secara diam-diam di bawah permukaan.

Ketika kondisi ekonomi membaik dan peluang kerja kembali terbuka lebar, risiko ini berpotensi meledak menjadi gelombang resign secara berkelompok.

Bagi perusahaan, ini adalah peringatan penting. Stabilitas angka turnover jangan sampai membuat organisasi lengah dan berhenti berinvestasi pada strategi retensi jangka panjang.

Pendekatan Strategis untuk Menekan Risiko Turnover Karyawan dan Mempertahankan Talenta Terbaik

Berbagai riset menunjukkan bahwa sebagian besar penyebab turnover sebenarnya dapat dicegah.

Namun upaya retensi tidak cukup dilakukan melalui satu kebijakan saja, melainkan membutuhkan strategi talent management yang terintegrasi.

Strategi ini mencakup mulai dari identifikasi talenta terbaik hingga pemanfaatan data untuk mendeteksi risiko resign lebih dini.

Berikut enam pendekatan strategis yang relevan.

1. Identifikasi dan Pertahankan High Potential Employee Sebelum Menjadi Flight Risk

High Potential Employee (HiPo) adalah kelompok yang paling cepat resign ketika jalur karier terasa tidak jelas.

Data Work Institute mencatat kenaikan angka promotion-seekers sebesar 118% sejak 2022, menandakan urgensi kelompok ini semakin tinggi.

Gallup menemukan bahwa hanya 11% dari preventable leavers merasa mendapat kejelasan soal career advancement dari organisasi mereka.

Bahkan, 45% voluntary leavers mengaku tidak pernah diajak diskusi soal masa depan karier mereka sebelum resign.

Perusahaan perlu mengidentifikasi kelompok High Potential Employee ini lebih awal dan lebih sistematis.

Bukan sekadar berdasarkan penilaian subjektif atasan, melainkan lewat kriteria yang terukur dan konsisten.

Setelah teridentifikasi, langkah berikutnya adalah memberikan recognition yang tepat sasaran dan melakukan career conversation secara berkala.

Percakapan ini idealnya terjadwal rutin, bukan hanya dilakukan setelah tanda-tanda resign mulai terlihat.

2. Bangun Leadership Development yang Berfokus pada Kemampuan Memimpin Orang

Poor leadership konsisten mengalahkan gaji sebagai penyebab resign di berbagai riset, termasuk iHire. Sub-tema professional behavior bahkan naik 30% dalam dua tahun terakhir menurut Work Institute.

Leadership Development sebaiknya tidak lagi berfokus semata pada kompetensi teknis manajerial.

Interpersonal leadership, coaching, pemberian feedback, recognition, dan kemampuan melakukan retention conversation perlu menjadi bagian inti dari kurikulum pelatihan.

Perusahaan juga perlu memperhatikan kelompok Gen X secara khusus dalam program ini. 

Data menunjukkan mereka paling terdampak isu manajemen dibanding generasi lain, karena ekspektasi leadership yang mereka miliki cenderung lebih matang dan spesifik.

3. Bangun Talent Management Strategy yang Berbasis Career System, Bukan Sekadar Career Promise

Work Institute secara eksplisit menekankan pentingnya berhenti menjual janji karier semata. Perusahaan perlu membangun sistem karier yang nyata dan bisa diverifikasi oleh karyawan.

iHire juga menemukan bahwa employer cenderung overestimate peran kompensasi dalam retensi karyawan.

Ini menandakan alokasi investasi HR sering kali tidak sesuai dengan faktor penyebab turnover yang sebenarnya.

Talent Management Strategy yang solid membutuhkan sistem pengembangan karier yang jelas dan terdokumentasi.

Jalur progresi jabatan harus transparan, termasuk opsi jalur lateral bagi karyawan yang tidak mengejar posisi struktural vertikal semata.

Alokasi budget retensi juga perlu dievaluasi ulang secara berkala. Perusahaan perlu memastikan investasi benar-benar diarahkan ke faktor yang paling signifikan mempengaruhi keputusan karyawan untuk bertahan.

4. Siapkan Succession Management untuk Mengantisipasi Risiko Kehilangan Talenta Kritis

Angka retirement mencapai titik tertinggi dalam lima tahun terakhir menurut Work Institute Retention Report 2026.

Gelombang pensiun generasi Baby Boomer akhir ini membawa risiko knowledge loss yang signifikan bagi organisasi.

Di saat bersamaan, ketidakpastian terkait AI turut menciptakan risiko baru pada perencanaan suksesi.

Karyawan mempertanyakan bagaimana peran-peran kunci akan berubah dalam beberapa tahun ke depan akibat otomasi.

Succession Management yang efektif membutuhkan pemetaan posisi kritis secara menyeluruh. Perusahaan perlu memastikan transfer knowledge berjalan lancar sebelum karyawan senior benar-benar meninggalkan organisasi.

Kandidat penerus juga perlu disiapkan jauh sebelum gelombang pensiun atau perubahan organisasi menciptakan succession gap yang mendadak.

Kejelasan soal dampak AI terhadap peran strategis juga perlu dikomunikasikan secara terbuka kepada calon suksesor.

5. Dorong Internal Mobility agar Talenta Tidak Mencari Peluang di Luar Perusahaan

Career-changers adalah sub-motif terbesar kedua dalam kategori career menurut Work Institute.

Kelompok ini ingin beralih ke jalur karier yang berbeda, dan seringkali mencarinya di luar organisasi jika opsi internal tidak tersedia.

Kategori relocation juga sebenarnya bisa diminimalisir lewat kebijakan mobilitas yang lebih fleksibel.

Banyak karyawan yang resign karena pindah domisili sebenarnya tidak ingin meninggalkan perusahaan, hanya tidak menemukan opsi kerja remote atau hybrid yang memadai.

Internal Mobility melalui rotasi jabatan, perpindahan fungsi, maupun jalur karier lateral bisa menjadi alternatif kuat.

Ini memberi kesempatan bagi karyawan untuk mengeksplorasi minat baru tanpa harus meninggalkan organisasi sepenuhnya.

Perusahaan yang menyediakan opsi mobilitas nyata, bukan sekadar tersedia secara teori, akan lebih mampu menangkap talenta yang mulai mencari perubahan. Ini jauh lebih efisien dibanding harus merekrut dan onboarding karyawan baru dari luar.

6. Gunakan Predictive HR Analytics untuk Mengidentifikasi Risiko Turnover Lebih Awal

Turnover pada dasarnya adalah lagging indicator, sinyal yang muncul terlambat setelah masalah sebenarnya sudah lama terjadi.

Work Institute menegaskan bahwa risiko turnover sebenarnya sudah bisa terdeteksi jauh lebih awal.

Fenomena quiet disengagement menjadi tantangan tersendiri bagi tools engagement survey tradisional.

Skor engagement yang terlihat stabil bisa saja menyembunyikan risiko resign yang sebenarnya sedang menumpuk di bawah permukaan.

Perusahaan perlu menggunakan pendekatan seperti Net Excellence Score, yang membedakan rating “excellent” dari sekadar “acceptable”. Metode ini membuat sinyal negatif tidak tenggelam dalam rata-rata skor yang terlihat baik-baik saja.

Integrasi data juga menjadi kunci keberhasilan Predictive HR Analytics. Data exit interview, stay interview, dan engagement survey perlu disatukan dalam satu sistem yang saling melengkapi, bukan berjalan terpisah di masing-masing fungsi.

Dengan pendekatan berbasis data ini, HR bisa mendeteksi sinyal risiko resign jauh sebelum karyawan benar-benar mengajukan pengunduran diri.

Inilah yang membedakan strategi retensi reaktif dengan strategi retensi yang benar-benar proaktif.

Pendekatan seperti ini dapat diterapkan lebih mudah melalui platform HCM seperti Mekari Talenta, yang dilengkapi Predictive HR Analytics untuk membantu HR memantau risiko turnover secara lebih dini.

Insight tersebut memungkinkan perusahaan mengambil keputusan retensi yang lebih cepat, berbasis data, dan terarah.

Predictive analisis

Hubungi tim Mekari Talenta untuk melihat bagaimana solusi berbasis data dapat membantu perusahaan membangun strategi retensi karyawan yang lebih proaktif dan efektif.

Sumber:

Pertanyaan Umum seputar Penyebab Turnover Karyawan

Apa perbedaan turnover karyawan dengan attrition?

Apa perbedaan turnover karyawan dengan attrition?

Turnover mengacu pada seluruh perpindahan karyawan keluar dari perusahaan, baik yang kemudian digantikan maupun tidak. Sementara itu, attrition adalah jenis turnover ketika posisi yang ditinggalkan memang tidak diisi kembali karena efisiensi, restrukturisasi, atau perubahan kebutuhan bisnis. Dengan kata lain, semua attrition merupakan turnover, tetapi tidak semua turnover termasuk attrition.

Berapa tingkat turnover karyawan yang masih dianggap normal?

Berapa tingkat turnover karyawan yang masih dianggap normal?

Tidak ada angka baku karena setiap industri memiliki karakteristik yang berbeda. Secara umum, perusahaan lebih tepat membandingkan turnover mereka dengan rata-rata industri, jenis pekerjaan, dan kondisi pasar tenaga kerja. Selain melihat persentasenya, perusahaan juga perlu mengevaluasi apakah turnover didominasi oleh talenta berkinerja tinggi atau justru karyawan dengan performa rendah.

Bagaimana cara menghitung turnover karyawan?

Bagaimana cara menghitung turnover karyawan?

Rumus yang paling umum digunakan adalah jumlah karyawan yang keluar dalam periode tertentu dibagi rata-rata jumlah karyawan pada periode tersebut, kemudian dikalikan 100%. Misalnya, jika ada 12 karyawan yang resign dalam satu tahun dan rata-rata jumlah karyawan adalah 200 orang, maka turnover rate sebesar 6%. Pengukuran sebaiknya dilakukan secara berkala agar tren kenaikan atau penurunan dapat dipantau.

Apa dampak turnover karyawan yang terlalu tinggi bagi perusahaan?

Apa dampak turnover karyawan yang terlalu tinggi bagi perusahaan?

Turnover yang tinggi dapat meningkatkan biaya rekrutmen, onboarding, dan pelatihan karyawan baru. Selain itu, produktivitas tim bisa menurun akibat hilangnya pengetahuan, terganggunya kolaborasi, serta meningkatnya beban kerja bagi karyawan yang masih bertahan. Dalam jangka panjang, turnover yang tidak terkendali juga dapat memengaruhi employer branding dan pengalaman pelanggan.

Apa perbedaan voluntary turnover dan involuntary turnover?

Apa perbedaan voluntary turnover dan involuntary turnover?

Voluntary turnover terjadi ketika karyawan memutuskan resign atas keinginan sendiri, misalnya karena mendapat peluang karier yang lebih baik atau alasan pribadi. Sebaliknya, involuntary turnover terjadi ketika hubungan kerja berakhir atas keputusan perusahaan, seperti karena restrukturisasi, PHK, atau masalah kinerja. Memisahkan kedua jenis turnover ini penting agar perusahaan dapat menentukan strategi retensi dan perbaikan yang tepat.

Abidah Ardelia Penulis
Content Specialist yang telah berfokus pada industri Human Resources (HR) selama lebih dari dua tahun. Ia secara rutin menulis artikel mengenai HRIS, payroll, talent management, rekrutmen, ketenagakerjaan, dan transformasi digital HR dengan mengacu pada regulasi, riset industri, serta wawasan praktisi untuk menghasilkan konten yang akurat dan relevan bagi profesional HR dan pemimpin bisnis.
Icon

Satu solusi untuk semua kebutuhan HR Anda

Optimalkan pengelolaan operasi HR Anda dengan bantuan solusi terintegrasi dari Mekari Talenta.

WhatsApp Hubungi sales