Insight Talenta

Cara Menghitung Pajak Penghasilan dan Simulasi Tarif Pembayarannya

Bagaimana cara lapor pajak online juga cara menghitung pajak penghasilan orang pribadi?

Salah satu komponen penting dalam payroll adalah potongan pajak penghasilan atau PPh 21 yang dikenakan kepada karyawan sebagai subjek wajib pajak orang pribadi.

PPh 21 dalam praktiknya sangat lekat kaitannya antara perusahaan dengan karyawan. Sehingga, penting bagi HRD perusahaan terutama staf payroll untuk bisa memahami bagaimana cara menghitung Pajak Penghasilan Karyawan atau PPh 21.

Melalui artikel ini, Insight Talenta akan membahas pengertian PPh 21 orang pribadi hingga cara menghitung PPh 21 tersebut.

Pengertian Pajak Penghasilan Orang Pribadi atau PPh 21

tarif pajak pph

Sebelum kita mengetahui cara menghitung pajak penghasilan, ada baiknya kita mengetahui dulu apa itu PPh?.

PPh 21 di Indonesia memiliki dua landasan hukum. Pertama melalui Undang-Undang No.28 Tahun 2007 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan.

Kedua melalui UU No 36 Tahun 2008 tentang Undang-Undang Pajak Penghasilan.

Dalam Undang-Undang, pajak penghasilan adalah kontribusi wajib kepada negara yang bersifat memaksa yang  terutang oleh orang pribadi atau badan atas penghasilannya.

Penghasilan yang dimaksud merupakan setiap tambahan kemampuan ekonomis yang diterima oleh wajib pajak baik yang berasal dari Indonesia maupun luar Indonesia.

Kemampuan ekonomis ini juga baik bersifat konsumtif maupun tidak dapat menambah kekayaan orang atau badan yang bersangkutan dengan nama dan dalam bentuk apa pun.

Lalu kenapa ada pajak penghasilan atau PPh 21 dan bagaimana cara menghitung pajak tersebut?

PPh 21 merupakan istilah dari Pasal 21 dalam Undang-Undang PPh yang mengatur pemungutan pajak atas penghasilan dari pekerjaan, jasa, atau kegiatan dengan nama dan dalam bentuk apapun yang diterima oleh Wajib Pajak Pribadi.

PPh 21 satu ini erat kaitannya dengan karyawan. Hal ini karena karyawan menerima penghasilan setiap bulannya atas suatu pekerjaan sehingga perusahaan wajib menghitung pajak mereka dengan cara tertentu yang akan dibahas nanti.

Misalnya, Aldy seorang karyawan yang menerima gaji setiap bulannya, maka gaji yang diterima Aldy merupakan penghasilan yang dikenakan pajak.

Baca juga: Berikut Serba-serbi PPh 21 Pegawai Tetap dan Tidak Tetap

Subjek dan Pemotong PPh 21

Trik Mudah Cara Menghitung PPh 21 THR dan Bonus

Dijelaskan sebelumnya, objek pajak atau PPh 21 merupakan penghasilan yang diterima wajib pajak atas hubungan pekerjaan, jasa, atau kegiatan lainnya.

Dengan catatan, penghasilan yang diterima adalah lebih dari Rp4.500.000 dalam sebulan.

Dalam ranah HRD perusahaan, maka subjek pajak penghasilan adalah karyawan dan perusahaan wajib mengetahui cara menghitung pajak tersebut.

Adapun pihak pemotong pajak adalah perusahaan yang mempekerjakan karyawan.

Metode pemotongannya pun beragam. Ada yang dipotong langsung dari gaji karyawan atau perusahaan memberikan insentif pajak kepada karyawan yang nantinya akan dibahas dalam artikel ini.

Baca juga: Serba-Serbi Bukti Potong Pajak Karyawan dengan Formulir 1721 A1

Jenis-Jenis Pajak Penghasilan Orang Pribadi (PPh 21)

Sebagai seorang HRD, Anda perlu memahami ada beberapa jenis pajak penghasilan atau PPh 21 yang biasanya terlibat dalam aktivitas perusahaan yaitu sebagai berikut:

  • Penghasilan dari karyawan tetap
  • Penghasilan dari karyawan tidak tetap. Termasuk pegawai harian, mingguan, atau freelance
  • Penghasilan dari non-karyawan atau bukan pegawai
  • Penghasilan yang dipotong secara final seperti perhitungan pesangon, uang manfaat pensiun, tunjangan hari tua atau jaminan hari tua

Berapa Besaran Tarif Pajak Penghasilan Orang Pribadi (PPh 21)?

Untuk tarif pajak penghasilan orang pribadi atau PPh 21 adalah menggunakan tarif pajak progresif yang tercantum pada Pasal 17.

Tarif progresif yang dimaksud adalah tarif dikenakan per lapisan penghasilan kena pajak. Semakin besar penghasilan kena pajak, maka tarif yang dikenakan semakin tinggi.

Berikut tarif PPh 21 menurut Pasal 17:

 

Lapisan Penghasilan Kena Pajak (PKP) Tarif
hingga Rp50.000.000 per tahun 5%
Lebih dari Rp50.000.000 hingga Rp250.000.000 per tahun 15%
Lebih dari Rp250.000.000 hingga Rp500.000.000 per tahun 25%
Lebih dari Rp500.000.000 per tahun 30%

 

Penghasilan Kena Pajak merupakan penghasilan bruto orang pribadi atau dalam hal ini penghasilan karyawan Anda dikurangi Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP).

PTKP untuk status tidak kawin dan belum memiliki tanggungan adalah Rp54.000.000. Untuk melihat status PTKP lain, Anda bisa cek artikel berikut: Kategori PTKP Karyawan

Tarif PPh 21 Berdasarkan RUU HPP

Belakangan, Presiden Joko Widodo mewacanakan adanya penyesuaian aturan perpajakan di Indonesia melalui RUU HPP atau Rancangan Undang-Undang Harmonisasi Pajak Penghasilan.

RUU HPP sendiri sudah disetujui dan disahkan menjadi Undang-Undang pada tanggal 7 Oktober 2021 dan mulai efektif diterapkan pada bulan Januari 2022.

Di dalam RUU HPP, terdapat perubahan beberapa aturan perpajakan termasuk tarif PPh 21 orang pribadi.

Adapun perubahan tarif PPh 21 yang dimaksud adalah sebagai berikut:

 

Lapisan Penghasilan Kena Pajak (PKP) Tarif
hingga Rp60.000.000 per tahun 5%
Lebih dari Rp60.000.000 hingga Rp250.000.000 per tahun 15%
Lebih dari Rp250.000.000 hingga Rp500.000.000 per tahun 25%
Lebih dari Rp500.000.000 hingga Rp5.000.000.000 30%
Lebih dari Rp5.000.000.000 35%

 

Jika melihat tabel di atas, ada dua perubahan yaitu batas lapisan pertama dan penambahan lapisan kelima.

Lapisan pertama yang sebelumnya memiliki batas PKP hingga Rp50.000.000 kini menjadi Rp60.000.000.

Perubahan kedua adalah penambahan lapisan kelima yaitu tarif penghasilan kena pajak (PKP) lebih dari Rp5 miliar atau Rp5.000.000.000.

Perubahan tarif ini ditujukan untuk meningkatkan inklusi PPh 21 orang pribadi.

Hal ini karena pengenaan tarif pajak terutang yang lebih rendah dibanding dengan metode lapisan tarif sebelumnya.

Perbedaan kedua metode tarif tersebut dapat Anda lihat melalui tabel di bawah ini.

cara menghitung pajak penghasilan

Bagaimana Cara Menghitung Pajak Penghasilan PPh 21?

Sering kali HRD atau staf payroll pemula salah dalam cara menghitung tarif pajak penghasilan.

Kesalahan yang sering terjadi adalah tidak menghitung dengan membagi per lapisan.

Bagaimana cara menghitung pajak penghasilan orang pribadi yang benar?

Misal, Penghasilan Kena Pajak (PKP) Edo adalah Rp120.000.000.

Penghasilan tersebut jelas masuk ke lapisan kedua tarif pajak penghasilan orang pribadi, sekarang tinggal mengetahui cara menghitung tarifnya.

Penghitungan yang sering kali salah adalah PKP Edo, Rp120.000.000 ini langsung dikalikan dengan tarif lapisan kedua yaitu 15%.

Cara menghitung pajak penghasilan orang pribadi yang benar adalah dengan membaginya ke batas lapisan tarif yang kemudian hasil dari penghitungan per lapisan tersebut dijumlahkan.

Anggap dalam contoh ini menggunakan tarif PPh sebelum UU HPP.

Caranya Rp120.000.000 tadi dikurangi batas lapisan pertama yaitu Rp50.000.000.

Hasil pengurangan ini lah nantinya dikalikan dengan tarif lapisan kedua.

Ilustrasinya sebagai berikut:

 

Penghasilan Kena Pajak Edo Rp120.000.000
Tarif lapisan pertama 5% x Rp50.000.000

= Rp2.500.000

Tarif lapisan kedua 15% x (Rp120.000.000 – (batas PKP lapisan pertama)

15% x (Rp120.000.000 – Rp50.000.000)

15% x Rp70.000.000

= Rp10.500.000

PPh 21 Terutang Edo Rp2.500.000 + Rp10.500.000

=Rp13.000.000

Contoh Cara Penghitungan Pajak Penghasilan Orang Pribadi (PPh 21) Karyawan

Misalnya, Andy adalah seorang karyawan dan memiliki seorang istri yang telah bekerja lama di perusahaan CYX dengan gaji pokok sebesar Rp8.000.000 per bulan.

Bagaimana cara menghitung pajak penghasilan dari Andy? ( Contoh ini menggunakan tarif PPh berdasarkan UU HPP )

 

 

Gaji Pokok per Bulan Rp8.000.000
Upah Lembur Rp300.000
Tunjangan Kinerja Rp2.000.000
Tunjangan Transportasi dan Komunikasi Rp500.000
Rp10.800.000
Jaminan yang dibayar oleh perusahaan
BPJS Kesehatan (4%) Rp432.000
JKK Risiko Kecil (0,24%) Rp25.920
JKM (0,3%) Rp32.000
JHT (3,7%) Rp400.000
Jaminan Pensiun (2%) Rp216.000
Rp1.105.290
Penghasilan sebelum deduction Rp10.800.000 + Rp1.105.290

=Rp11.905.290

Deduction (pengurang)
Biaya Jabatan (maksimal Rp500.000) Rp500.000
BPJS Kesehatan ditanggung karyawan (1%) Rp108.000
JHT ditanggung karyawan (2%) Rp216.000
Jaminan Pensiun (1%) Rp108.000
Rp932.000
Gaji yang Diterima Andy Sebulan Rp11.905.290

(-Rp932.000)

=Rp10.973.290

Gaji yang Diterima Andy Setahun Rp10.973.290 x 12

=Rp131.679.480

 

Kemudian untuk penghitungan PPh 21 Andy adalah sebagai berikut

 

Gaji yang Diterima Andy Setahun Rp131.679.480
Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) golongan K/0 karena Andy memiliki seorang istri (-Rp58.500.000)
Penghasilan Kena Pajak Andy Rp73.179.480
Penghitungan PPh terutang (menggunakan tarif progresif karena penghasilan lebih dari Rp60.000.000)

*ingat contoh sebelumnya!

73.179.480 – 60.000.000 = Rp13.179.480

5% x Rp60.000.000

= Rp3.000.000

15% x Rp13.179.480*

=Rp1.976.922

PPh terutang Andy (Rp3.000.000 + Rp1.976.922)

= Rp4.976,922

 

Setelah mengetahui cara menghitung pajak penghasilan dari Andy, PPh terhutangnya jika menggunakan tarif UU HPP adalah Rp4.976.922.

Baca juga: Begini Cara Lapor PPh 21 dan Pentingnya Aplikasi Penghitungan Pajak

Cara Menghitung Pajak Penghasilan Dengan Metode Pemotongan PPh 21 Terutang

Pada sub-bab Subjek dan Pemotong PPh 21 artikel ini, sempat disinggung beberapa metode pemotongan pajak penghasilan terutang yang terdapat tiga jenis metode umum menghitung pph yaitu nett, gross, dan gross up.

  • Metode nett, perusahaan berperan langsung sebagai pemotong PPh 21 dan ini umum dilakukan. Jenis ini cara menghitung pajak penghasilan karyawan adalah dengan memotong langsung dari gaji Anda.
  • Metode gross, perusahaan tidak ikut memotong PPh 21 dan penyetoran PPh 21 terutang dilakukan oleh Orang Pribadi itu sendiri. Pada jenis ini, cara perusahaan menghitung pajak penghasilan karyawan dengan metode ini adalah apabila perusahaan memiliki tenaga kerja lepas.
  • Metode gross up, penyetoran PPh 21 terutang dilakukan oleh pekerja namun perusahaan memberikan insentif pajak kepada pekerja tersebut.

Itulah penjelasan singkat mengenai cara menghitung pajak penghasilan orang pribadi atau PPh 21.

Baca juga: Dasar Pengenaan Pajak PPh 21, Begini Penjelasannya

Cara Menghitung Pajak Penghasilan dengan Aplikasi Talenta

Anda juga bisa menghitung simulasi PPh 21 atau pajak penghasilan dengan cara menggunakan payroll tax calculator Talenta atau kalkulator PPh 21.

Selain itu, dengan kebutuhan operasional HRD yang semakin banyak dan membutuhkan ketepatan dan kecepatan, perhitungan PPh 21 manual akan sangat merepotkan dan bahkan bisa mengganggu proses bottom-line bisnis perusahaan.

Untuk itu, Anda bisa mulai menghitung pajak penghasilan secara otomatis dengan cara melalui aplikasi payroll Talenta.

Software Payroll Talenta memiliki beragam keunggulan terkait perpajakan.

Diantaranya adalah sebagai berikut:

  • Perhitungan PPh 21
  • Perhitungan PPh 26
  • Perhitungan dan perubahan tarif PTKP
  • Bonus dan insentif

Fitur memilih komponen pajak di dalam aplikasi penggajian & pembayaran gaji karyawan secara online Talenta

Semua dapat dilakukan secara otomatis dengan fitur Payroll Calculation dari Talenta.

Ingin mempelajari lebih lengkap tentang Talenta? Anda bisa menghubungi kami dan ajukan demo software payroll gratis Talenta dengan klik link di bawah ini atau kunjungi situs resmi Talenta.

Saya Mau Coba Gratis Talenta Sekarang!

atau

Saya Mau Bertanya Ke Sales Talenta Sekarang!


PUBLISHED24 Feb 2022
Jordhi Farhansyah
Jordhi Farhansyah