Penghasilan Adalah: Mulai dari Jenis Hingga dalam Konteks Pajak

Pengertian penghasilan bruto, neto, penghasilan kena pajak dalam konteks perpajakan adalah seperti yang akan di jelaskan pada Insight Talenta disini.

Penghasilan adalah salah satu faktor perhitungan untuk mengukur seberapa besar kemampuan suatu individu dalam meningkatkan nilai ekonomis-nya.

Pengukuran yang dimaksud misalnya perhitungan pajak, pengajuan pinjaman, atau mengukur diri sendiri dalam memenuhi hasrat dan kebutuhan hidupnya.

Saya Mau Coba Gratis Talenta Sekarang!

atau

Saya Mau Bertanya Ke Sales Talenta Sekarang!

Sedangkan nilai ekonomis adalah kemampuan individu dalam memanfaatkan asetnya. Misalnya kemampuan seseorang untuk membeli barang tertentu.

Jadi apa sebenarnya penghasilan terutama dalam hal konteks perpajakan? Simak jawabannya melalui artikel ini.

Penghasilan Adalah

Hingga saat ini, sebenarnya tidak ada definisi pasti mengenai pengertian atau apa itu penghasilan secara komprehensif dan universal.

Namun belakangan, pengertian penghasilan ternyata dapat diartikan berdasarkan konteks atau tujuan digunakannya istilah tersebut.

Misalnya, pengertian dari konteks pajak berbeda dengan arti pendapatan menurut teori ekonomi mikro.

Namun secara umum, bisa disepakati bahwa penghasilan adalah sesuatu hasil yang didapat oleh baik pribadi maupun perusahaan yang berkaitan dengan suatu kegiatan usaha maupun pekerjaan.

Jadi, apa pun hasilnya. Baik dalam bentuk uang maupun aset yang diperoleh pribadi maupun perusahaan itu disebut pendapatan.

Saya Mau Coba Gratis Talenta Sekarang!

atau

Saya Mau Bertanya Ke Sales Talenta Sekarang!

Sekarang, mari pahami mengenai penghasilan bruto, neto, penghasilan kena pajak dalam konteks perpajakan adalah seperti apa.

Pengertian penghasilan bruto, neto, penghasilan kena pajak dalam konteks perpajakan adalah seperti yang akan di jelaskan pada Insight Talenta disini.

Penghasilan dalam Konteks Pajak

Sebelumnya, telah dibahas bahwa pengertian penghasilan tidak bisa diartikan secara mentah dan harus diartikan berdasarkan konteks.

Di mana pada bahasan kali ini, Anda akan memahami bagaimana pengertian dan konsep pendapatan dari konteks pajak.

Dalam konteks pajak sendiri, jenis-jenis pajak dibagi ke dalam beberapa kategori sesuai dengan faktor dari sumber dan berapa pendapatan yang didapat.

Adapun jenis-jenis penghasilan dalam konteks pajak adalah sebagai berikut.

Berdasarkan Ada atau Tidaknya Sumber

Dalam konteks pajak, ada dua jenis konsep pendapatan yaitu konsep sumber dan konsep yang tidak memandang dari mana pendapatan itu diperoleh.

Konsep pertama adalah konsep berdasarkan sumber. Dimana konsep ini menjelaskan bahwa penghasilan adalah penerimaan yang mengalir terus-menerus dari suatu sumber pendapatan.

Dengan kata lain, pendapatan hanya ada apabila terdapat sumber pendapatan yang berkesinambungan. Contoh gaji atau upah.

Konsep kedua adalah konsep penghasilan tanpa memandang sumber atau yang lebih dikenal sebagai konsep pertambahan nilai atau akresi.

Konsep ini dikemukakan oleh George Schanz, Robert Murray Haig, dan Henry Simons. Di mana menurut mereka dalam mengartikan pendapatan perlu memerhatikan poin-poin berikut.

  • Tidak memandang dari mana sumber pendapatan baik itu dari dalam maupun luar negeri.
  • Bisa berasal dari bentuk usaha, pekerjaan, modal, maupun pendapatan lainnya.
  • Pemungutan pajak diperlakukan sama untuk semua pendapatan terlepas apakah dikonsumsi maupun ditabung.

Seperti yang Anda tahu bahwa sebuah entitas atau orang mampu mendapatkan penambahan kemampuan yang berasal dari pendapatannya tidak hanya berada pada satu sumber atau aktivitas saja.

Misalnya, Anda seorang karyawan, namun Anda juga mendapatkan pendapatan dari menabung atau investasi.

Oleh karena itu, konsep akresi digunakan oleh banyak negara dalam mendefinisikan pendapatan dalam konteks pajak. Salah satunya Indonesia yang akan dibahas pada akhir artikel ini.

Nah, jadi penghasilan bruto, neto, penghasilan kena pajak dalam konteks perpajakan adalah bagaimana? Simak dengan baik.

Berdasarkan Perolehan yang Diterima

Jenis pendapatan lainnya adalah pendapatan berdasarkan perolehan yang diterima yaitu apakah pendapatan tersebut diterima secara bersih atau tidak.

Penghasilan neto atau penghasilan bersih adalah pendapatan yang diterima oleh subjek berpendapatan yang sudah melalui perhitungan baik faktor pengurang maupun penambah.

Faktor pengurang misalnya potongan pajak, utang, asuransi, pendapatan yang tertunda atau belum diterima, dan potongan lainnya yang sifatnya subjektif.

Sedangkan faktor penambah pendapatan adalah bonus, insentif, tunjangan, atau faktor penambah lainnya yang sifatnya tidak terduga.

Sedangkan penghasilan bruto penghasilan kotor adalah pendapatan yang diterima sebelum adanya perhitungan oleh faktor pengurang atau penambah pendapatan

Kenapa ada penghasilan kotor jika pada akhirnya yang diterima merupakan pendapatan bersih?

Sebenarnya pertanyaan ini sudah terjawab dari definisinya. Dimana tidak mungkin ada pendapatan bersih jika tidak melalui perhitungan dari pendapatan kotor.

Itu artinya, alih-alih sebagai pendapatan final, pendapatan kotor berperan sebagai acuan untuk menghitung pendapatan yang diterima oleh subjek.

Baca Juga : Pajak Penghasilan, Hitung Sederhana dengan Software Penghitung Gaji

Pengertian Penghasilan Berdasarkan Perhitungan Pajak Adalah Berikut

Jenis pendapatan selanjutnya adalah berdasarkan perhitungan pajak. Dimana definisi ini berlaku di Indonesia yang ditetapkan oleh Kementerian Keuangan melalui Direktorat Jenderal Pajak.

Jadi, pendapatan berdasarkan perhitungan pajak adalah Penghasilan Kena Pajak dan Penghasilan Tidak Kena Pajak.

Penghasilan Kena pajak 

Penghasilan Kena Pajak merupakan pendapatan yang menjadi dasar perhitungan tarif pajak.

Adapun tarif Penghasilan Kena Pajak diatur dalam Pasal 17 UU No.36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan.

Dimana tarif pajak penghasilan atas orang pribadi berlaku atas lapisan perhitungan yaitu:

  • Pendapatan tidak lebih dari Rp50 juta per tahun dikenakan tarif 5%
  • Pendapatan lebih dari Rp50 juta hingga Rp250 juta dikenakan tarif 15%
  • Pendapatan lebih dari Rp250 juta hingga Rp500 juta dikenakan tarif 25%
  • Pendapatan lebih dari Rp500 juta dikenakan tarif 30%

Perlu diingat juga bahwa perhitungan ini tidak serta-merta dihitung sekaligus. Misal, Anda berpendapatan Rp80 juta maka perhitungan pajaknya tidak langsung 15%.

Perhitungan yang benar adalah membagi batas atas lapisan tarif kemudian dijumlahkan. Jadi dari Rp80 juta itu dikurangi Rp50 juta maka hasilnya adalah Rp30 juta.

Itu artinya perhitungannya adalah Rp50 juta dikali 5% dan Rp30 juta dikali 15%. Kemudian hasil dari kedua lapisan tersebut dijumlahkan. Hasil dari penjumlahan merupakan tarif pajak yang dikenakan.

Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP)

Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) merupakan batas atas dimana seseorang dengan pendapatan tertentu tidak dikenakan pajak penghasilan.

Selain itu, untuk meringankan tarif pajak, PTKP juga digunakan sebagai faktor pengurang dari penghasilan yang diterima subjek pajak yang hasilnya menjadi Penghasilan Kena Pajak (PKP).

Berapa batas Penghasilan Tidak Kena Pajak?

Jika mengacu pada PMK No.101/PMK.010/2016, besaran PTKP bagi Wajib Pajak Orang Pribadi tanpa tanggungan adalah Rp54 juta.

Itu berarti, jika dibagi 12 bulan maka Penghasilan Tidak Kena Pajak sebesar Rp4.500.000.

Baca Juga : Cara Hitung Gaji Karyawan dan Bagaimana Perhitungan Gaji Karyawan

Penghasilan Menurut Undang-Undang Pajak Penghasilan (PPh) Adalah Sebagai Berikut

Di awal sudah dibahas dalam konteks pajak bahwa definisi penghasilan adalah berdasarkan dua konsep yaitu konsep sumber dan akresi.

Pada Undang-Undang No.36/2008 tentang PPh sejatinya menganut konsep akresi di mana pendapatan adalah sebagai tambahan kemampuan ekonomis yang diperoleh Wajib Pajak baik yang berasal dari luar negeri maupun dalam negeri.

Adapun yang dianggap sebagai pendapatan terutama yang dikenakan pajak oleh Undang-Undang adalah sebagai berikut:

  • Upah atau imbalan atas pekerjaan. Misalnya gaji, upah, tunjangan, honorarium, komisi, insentif, uang pensiun, dll.
  • Hadiah dari kegiatan lomba atau penghargaan.
  • laba usaha dan keuntungan lainnya yang berasal dari penjualan atau pengalihan harta. Misalnya modal, keuntungan dari saham, dan lain-lain.
  • Penerimaan kembali pembayaran pajak yang telah dibebankan sebagai biaya dan pembayaran tambahan.
  • Bunga termasuk premium, diskonto, dan imbalan jaminan pengembalian utang.
  • Dividen.
  • Royalti.
  • Pendapatan dari sewa.
  • Penerimaan atau perolehan pembayaran yang diterima secara berkala.
  • Keuntungan dari pembebasan utang yang batasannya diatur dalam Peraturan Pemerintah.
  • Keuntungan selisih kurs mata uang asing.
  • Premi asuransi.
  • Iuran yang diterima perkumpulan dari anggota yang terdiri dari Wajib pajak.
  • Tambahan kekayaan neto yang berasal dari pendapatan yang belum dikenakan pajak.
  • Pendapatan dari usaha berbasis syariah.
  • Imbalan bunga sebagaimana yang dimaksud dalam Undang-Undang yang mengatur Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan.
  • Surplus Bank Indonesia.

Itulah beberapa jenis penghasilan yang dianggap dalam UU No.36/2008 tentang Pajak Penghasilan.

Jika dilihat dari jenis pendapatannya, sudah pasti bersifat akresi di mana penghasilannya tidak memandang sumber pendapatan namun dampak yang diberikan kepada kemampuan ekonomis seseorang.

Meski begitu, Undang-Undang PPh juga menganggap arti pendapatan berdasarkan sumber. Namun meski begitu, UU PPh tidak menganggap konsep tersebut mampu membatasi istilah dari pendapatan itu sendiri.

Itulah penjelasan singkat mengenai penghasilan terutama dalam konsep pajak.

Tentu sekarang Anda sudah paham mengenai penghasilan bruto, neto, penghasilan kena pajak dalam konteks perpajakan adalah seperti yang telah dijelaskan diatas.

Jika berbicara tentang Pajak Penghasilan maka biasanya yang paling umum berkaitan dengan payroll atau gaji.

Untuk itu, bagi Anda yang masih kesulitan dalam melakukan perhitungan PPh dalam payroll, Anda bisa menggunakan software payroll Talenta.

Saya Mau Coba Gratis Talenta Sekarang!

atau

Saya Mau Bertanya Ke Sales Talenta Sekarang!

Software payroll Talenta memungkinkan Anda mengelola dan menghitung payroll secara otomatis dengan komponen gaji seperti tunjangan hingga Pajak Penghasilan (PPh 21) sampai pembuatan slip gaji.

Jika tertarik, Anda bisa berkonsultasi dengan Kami dan ajukan demo melalui formulir berikut ini.


PUBLISHED20 Aug 2021
Jordhi Farhansyah
Jordhi Farhansyah


Kelola payroll & administrasi HR jadi lebih mudah, siap kembangkan bisnis lebih cepat

Jadwalkan Demo

Jadwalkan Demo

Jadwalkan demo & konsultasi langsung dengan Talenta

Jadwalkan Demo
Coba Demo Interaktif

Coba Demo Interaktif

Eksplorasi fitur Talenta untuk kebutuhan payroll & administrasi HR

Coba Sekarang
WhatsApp Hubungi sales