7 Hak Cuti Karyawan yang Harus Diketahui Perusahaan

7 Hak Cuti Karyawan yang Harus Diketahui Perusahaan

Hampir semua pekerja dalam suatu perusahaan pasti pernah tidak masuk kantor seperti jadwal yang sudah ditetapkan perusahaan. Karena kadang karyawan ada yang sakit, izin karena berbagai urusan atau bahkan cuti kerja dalam beberapa waktu. Tapi bila ada seorang karyawan yang hampir tidak pernah absen di kantor, berarti dia harus diberikan hak untuk mengambil cuti.
Dan ternyata di Indonesia, cuti merupakan hak setiap karyawan perusahaan yang ada landasan hukumnya yaitu Undang-Undang Nomor 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Adanya ketentuan jelas pada perusahaan tentang peraturan perlaksanaan cuti  ini dimaksud agar antara karyawan dan perusahaan sama-sama diuntungkan dan tidak terjadi perselisihan. Karena peraturan cuti karyawan ini juga menentukan pemberian gaji oleh perusahaan.
Cuti  merupakan hak karyawan yang diberikan oleh perusahaan. Dan ini akan menaikkan semangat dalam bekerja karena hak cutinya diperhatikan. Permberian cuti kerja ini diharapkan karyawan makin loyal berkualitas pada perusahaan dan saat nanti kembali bekerja akan lebih fokus.
Tapi di lapangan, masih banyak sekali kita lihat kalau masih banyak perusahaan yang peraturannya tidak sesuai dengan Undang-Undang Ketenagakerjaan tentang cuti kerja Karyawan. Atau kadang karyawan sendiri yang cuti tapi merugikan perusahaan, seperti absen dengan alasan tidak jelas.Karena itulah UU No 13 tahun 2003 ini penting untuk dipelajari baik oleh perusahaan maupun karyawan agar masing-masing pihak tidak ada yang melanggar.
Perselisihan tentang cuti kerja karyawan juga kerap terjadi mulai dari pengajuan, waktu, proses penyetujuannya, waktu cuti hingga adanya pemotongan gaji atau tidak saat melakukan cuti. Karena itulah, kita wajib tahu apa saja hak cuti karyawan itu setelah kewajiban bekerja untuk perusahaan sudah dilakukan.
Yang perlu kita pahami, cuti merupakan hak karyawan yang harus diberikan perusahaan. Menurut Undang-undang Nomor 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, perusahaan wajib memberikan cuti kepada karyawan dan karyawan akan tetap mendapat gaji meskipun sedang mengambil cuti.
Ternyata cuti kerja karyawan itu ada beberapa jenis yang harus diketahui, bahkan pasti ada yang beberapa jenis cuti baru kita dengar. Ini dia 7 hak cuti kerja karyawan sesuai peraturan UU No 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan yang berlaku.

Tinggalkan HR dan payroll manual, saatnya beralih ke Aplikasi HRIS Talenta dengan fitur absensi online, payroll dan fitur yang mempermudah pekerjaan HRD lainnya.

Dalam wikipedia dijelaskan bahwa yang dinamakan cuti tahunan adalah waktu cuti yang diberikan oleh perusahaan yang dapat digunakan sesuai kondisi dan keperluan tenaga kerja. Setiap tenaga kerja berhak mendapatkan satu hari cuti dalam sebulan atau dua belas hari dalam setahun.
Pengaturan ketentuan cuti tahunan ini diatur sedemikian rupa pada UU Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan yaitu pasal 84 dan pasal 79. Disebutkan dalam Undang-Undang No 13 Tahun 2003 Pasal 79 ayat (2), bahwa seorang pekerja yang sudah bekerja minimal 12 bulan secara terus-menerus berhak atas cuti tahunan sekurang-kurangnya 12 hari kerja. Jadi bila cuti karyawan belum genap 1 tahun bekerja, sebuah perusahaan berhak untuk menolak permintaan cuti karyawan tersebut. Tapi bila perusahaan memberikan cuti, maka cuti tersebut merupakan kebijakan perusahaan dan disebut cuti di luar tanggungan dengan perhitungannya berdasarkan permotongan gaji prorata berapa lama tidak masuk kerja.
Perusahaan memiliki aturan dalam masa durasi cuti tahunan ini. Misalnya ada karyawan yang tidak mengambil cuti tahunan di tahun lalu, ada perusahaan yang mengakumulasikan jatah cuti tahunan tahun lalu dan tahun ini. Tapi biasanya perusahaan menghanguskan jatah cuti tahun lalu bila sudah terjadi pergantian tahun dan ada pula yang memberikan kompensasi uang sisa cuti tahunan yang tidak digunakan. Berapa besarnya tergantung peraturan perusahaan, karena itulah karyawan harus benar-benar membaca peraturan perusahaan agar paham hak cuti karyawan.

  • Cuti Sakit

Bila seorang karyawan meminta izin tidak masuk kerja karena sakit, maka perusahaan wajib memberikan izin agar karyawan tersebut istirahat di rumah agar tidak memaksakan diri utnuk bekerja.
Karyawan haruslah memberikan surat izin dokter setelah memeriksakan diri dan disarankan dokter untuk beristirahat. Pemberian surat izin dokter pada perusahaan itu dilakukan saat sudah masuk kantor. Atau bila dirawat di rumah sakit karena sakit atau kecelakaan, lebih baik menggunakan kurir untuk memberikan surat izin dirawat ke HRD kantor.
Biasanya, cuti sakit ini tidak memotong cuti tahunan. Tapi setiap perusahaan memiliki kebijakan yang berbeda-beda. Karena bila cuti sakit dalam waktu lama, perusahaan akan memberikan saran pada karyawan untuk mempertimbangkan untuk cuti kerja tanpa dibayar. Semua ini tergantung peraturan dan kesepakatan perusahaan karyawan tersebut bekerja. Karena cuti sakit dan cuti tahunan seharusnya diatur secara jelas oleh perusahaan.
Durasi cuti sakit disesuaikan dengan waktu istirahat yang disarankan oleh dokter dalam surat keterangan sakit atau dirawat tersebut.
Pada kasus cuti sakit dalam waktu lama ada aturan pembayaran gaji karyawan :

    1. 4 bulan pertama, karyawan dibayar 100% upah kerja penuh\
    2. Bila masih sakit, maka upah kerja akan dibayar 75% selama 4 bulan kedua
    3. Bila belum sembuh juga maka karyawan dibayarkan 50% dari upah kerja
    4. Dan bulan selanjutnya dibayar 25% dari upah kerja, kemudian karyawan dan perusahaan harus mencari solusi bijak untuk status pekerja dalam perusahaan. Apakah akan dilakukan pemutusan kerja atau pensiun dini atau karyawan mengundurkan diri?
  • Cuti Haid atau Menstruasi

Di dalam pasal 81 ayat (1) tertulis jelas bahwa karyawan perempuan dalam masa haid yang merasakan sakit dan memberitahukan kepada pengusaha, bahwa tidak wajib bekerja pada hari pertama dan kedua pada waktu haid.
Pelaksanaan cuti haid atau menstruasi ini diatur oleh peraturan perusahaan, karena merupakan cuti yang jarang karyawan perempuan lakukan. Berapa lama waktu cuti haid ini tergantung kebijakan perusahaan, yang pasti perusahaan harus memberikan cuti haid ini agar sesuai undang-undang yang berlaku. Beberapa perusahaan, kadang hanya memberikan cuti haid di hari pertama menstruasi saja. Tapi ada juga yang memberikan cuti 2-3 hari bila dirasa karyawannya membutuhkan. Itupun masuknya jadi cuti sakit karena menggunakan surat dokter.

  • Cuti Bersalin atau Melahirkan

Bagi karyawan perempuan yang akan melahirkan, mereka berhak mendapatkan cuti bersalin atau melahirkan dan wajib diberikan oleh perusahaan. Biasanya cuti lahiran ini diambil sebelum lahiran, agar pekerja perempuan bisa mengatur pekerjaannya dengan baik sebelum lahiran dan dapat mempersiapkan kelahiran bayi dengan nyaman tanpa bingung pekerjaan kantor. Selain itu,  karyawan harus mendelegasikan pekerjaannya pada orang lain agar pekerjaannya bisa terhandle baik sebelum cuti melahirkan.
Perlindungan terhadap karyawan perempuan ini tercantum dalam pasal 82 UU No 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.

  1. Ayat (1) Undang-Undang Ketenagakerjaan disebutkan bahwa karyawan perempuan berhak memperoleh istirahat selama 1,5 (satu setengah) bulan sebelum saatnya melahirkan anak dan 1,5 (satu setengah) bulan sesudah melahirkan menurut perhitungan dokter kandungan atau bidan.
  2. Ayat (2) disebutkan pekerja atau buruh perempuan yang mengalami keguguran kandungan berhak memperoleh istirahat 1,5 (satu setengah) bulan atau sesuai dengan anjuran surat keterangan dokter kandungan atau bidan.

Cuti melahirkan tidak mengambil jatah cuti tahunan, tapi karyawan perempuan berhak untuk mengambil kedua jenis cuti yang berbeda itu yaitu cuti tahunan dan cuti melahirkan. Perusahaan wajib memberikan hak karyawan dengan menyetujuinya.

  • Cuti Besar

Cuti besar atau istirahat panjang biasanya diberikan pada karyawan yang masa kerjanya sudah lama dan loyal pada perusahaan bertahun-tahun. Biasanya setelah masa kerja masuk tahun ke-7 dengan jangka waktu satu bulan lama cutinya.
Walau ini diatur dalam perundang-undangan, ternyata tidak semua perusahaan memberikan cuti besar kepada karyawannya. Jadi hanya perusahaan tertentu saja yang memberikan hak cuti besar ini. Dan pengajuan cuti besar ini harus 6 bulan sebelum waktu cuti besar kita tentukan, karena kalau tidak cuti besar ini hangus.

  • Cuti Bersama

Cuti bersama sudah diatur pemerintah dan akan dihitung dalam cuti tahunan. Jadi jangan menggunakan tanggal cuti bersma untuk libur bekerja karena jatah cuti tahunan berkurang. Biasanya cuti ini diberikan pada saat libur akhir pekan, hari raya keagamaan,  hingga peringatan hari nasional.
Ini sudah diatur dalam Surat Edaran Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor SE.302/MEN/SJ-HK/XII/2010 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Cuti Bersama di Sektor Swasta dimana menyebutkan bahwa cuti bersama merupakan bagian dari pelaksanaan cuti tahunan.
Namun, karena sifatnya fakultatif yang tergantung kebijakan perusahaan maka kemungkinn cuti bersama itu tidak diliburkan. Jadi semua merujuk kpada keputusan perusahaan.

  • Cuti Karena Urusan Penting

Cuti ini merupakan cuti yang sering digunakan oleh karyawan dalam menggunakan hak cutinya. Karena memang seorang karyawan berhak untuk mengajukan cuti bila ada urusan penting dan berhalangan bekerja. Dan karyawan tetap berhak dibayar sebulan penuh bila menggunakan cuti jenis ini dengan mengajukan permohonan cuti sebelumnya.
Dengan mengenal dan memahami jenis cuti yang merupakan hak karyawan, kita akan semakin semangat dalam bekerja. Dan bisa menggunakan hak cuti tersebut dengan sebaik-baiknya. Jangan lupa untuk membaca seksama peraturan perusahaan yang mengatur semua cuti karyawan. Dan selamat cuti kerja!

 


PUBLISHED10 Dec 2019
Ervina
Ervina