Cascading Goals: Menyelaraskan Target Individu dengan Perusahaan

Tayang
Di tulis oleh:
Author Avatar
Abidah Ardelia
Highlights
  • Cascading goals adalah metode untuk menerjemahkan strategic priorities menjadi goal yang relevan bagi fungsi, tim, hingga individu.
  • Cara menerapkan cascading goals dimulai dari menentukan strategic priorities, menghubungkannya dengan kontribusi fungsi, menetapkan team outcomes, lalu menyusun individual goals.

Sebuah perusahaan dapat memiliki strategic priorities yang sangat jelas di level leadership. Namun, semakin jauh strategi tersebut diterjemahkan ke dalam organisasi, semakin besar kemungkinan konteks dan prioritasnya berubah.

Di level individu, setiap karyawan kemudian memiliki target yang terlihat relevan dengan pekerjaannya masing-masing, tetapi seluruh target tersebut belum tentu memiliki hubungan yang jelas dengan prioritas bisnis yang sama.

Hal ini menjadi salah satu tantangan dalam performance management.

SHRM menemukan bahwa 94% profesional HR mengatakan karyawan di organisasinya menetapkan individual goals, tetapi pada 37% organisasi, organizational goals tidak cascade dari senior leadership untuk menjadi acuan individual goals.

Artinya, keberadaan individual goals belum otomatis menunjukkan bahwa organisasi telah menciptakan strategic alignment.

Goal dapat ditetapkan, diukur, dan bahkan tercapai tanpa benar-benar mendukung arah bisnis yang sedang menjadi prioritas.

Artikel ini membahas cascading goals, mengapa konsep ini penting dalam performance management modern, perbedaannya dengan goal alignment, hingga framework praktis untuk menerapkannya tanpa mengorbankan konteks dan otonomi tim.

Apa Itu Cascading Goals?

Secara sederhana, cascading goals adalah metode goal setting yang menerjemahkan organizational goals menjadi tujuan yang relevan di level fungsi, tim, hingga individu.

Prosesnya bergerak dari atas ke bawah, tetapi bukan sekadar mengecilkan angka besar menjadi angka-angka kecil. Setiap level menerjemahkan makna strategis dari level di atasnya sesuai dengan peran dan kapasitasnya sendiri.

Alurnya seperti ini: Organizational goal diterjemahkan menjadi functional goal, functional goal diterjemahkan menjadi team goal, dan team goal akhirnya diterjemahkan menjadi individual goal.

Alur ini terlihat linear, tetapi setiap perpindahan dari satu level ke level berikutnya sebenarnya membutuhkan proses penerjemahan, bukan sekadar penurunan angka secara otomatis.

Ada satu caveat penting yang sering terlewat dalam praktiknya. Cascade bukan berarti setiap level harus memiliki versi kecil dari goal di atasnya secara harfiah.

Yang diturunkan dari satu level ke level berikutnya adalah strategic intent dan kontribusi, bukan selalu angka yang persis sama. Fungsi yang berbeda memiliki cara berbeda untuk berkontribusi terhadap satu prioritas yang sama.

Misal, jika target organisasi adalah meningkatkan revenue sebesar 20%, bukan berarti setiap tim harus punya target revenue 20% juga. Tim Engineering, misalnya, bisa berkontribusi lewat stabilitas sistem yang mendukung kelancaran proses penjualan.

Tim Finance mungkin berkontribusi lewat efisiensi proses billing yang mempercepat siklus revenue. Tim HR bisa berkontribusi lewat kecepatan hiring untuk posisi sales yang kritis bagi pertumbuhan bisnis.

Inilah yang membedakan cascading goals yang efektif dari sekadar “broadcast target” ke seluruh organisasi. Cascading yang baik menjaga relevansi strategis tanpa memaksakan keseragaman angka di setiap level.

Mengapa Cascading Goals Penting dalam Performance Management?

Cascading goals menjadi tulang punggung yang menentukan apakah performance management benar-benar berfungsi.

Berikut empat alasan mengapa cascading goals layak mendapat perhatian serius dari siapa pun yang bertanggung jawab atas strategi dan kinerja organisasi.

1. Menghubungkan Strategi dengan Pekerjaan Sehari-hari

Cascading goals menciptakan apa yang sering disebut sebagai line of sight. Karyawan memahami bagaimana pekerjaannya terhubung dengan hasil yang ingin dicapai organisasi secara keseluruhan.

Tanpa line of sight ini, karyawan hanya bekerja berdasarkan instruksi harian. Mereka tahu apa yang harus dikerjakan, tetapi tidak selalu paham mengapa pekerjaan itu penting bagi bisnis.

Pertanyaan sederhana yang seharusnya bisa dijawab setiap karyawan adalah: “Apa kontribusi pekerjaan saya terhadap hasil yang ingin dicapai organisasi?”

Jika pertanyaan ini sulit dijawab oleh sebagian besar karyawan, itu tanda bahwa proses cascading di organisasi belum berjalan dengan baik, terlepas seberapa rapi dokumentasi goal-nya.

Deloitte melihat pergeseran ini sebagai bagian dari evolusi performance management, di mana penilaian kinerja karyawan semakin berorientasi pada business outcomes dan kontribusi tim, bukan hanya pencapaian individu semata.

Ketika line of sight ini hilang, motivasi kerja cenderung bergeser. Karyawan bekerja untuk terlihat baik di mata atasan langsung, bukan untuk mendukung arah strategis perusahaan secara keseluruhan.

Dalam jangka panjang, pergeseran motivasi ini berdampak pada kualitas keputusan yang diambil di level operasional. Keputusan yang seharusnya mempertimbangkan dampak strategis justru diambil semata untuk memenuhi metrik lokal.

Line of sight yang kuat juga membantu proses onboarding karyawan baru berjalan lebih cepat. Karyawan baru tidak hanya belajar tugas teknis, tetapi juga langsung memahami di mana posisi mereka dalam gambaran besar organisasi.

2. Memperjelas Prioritas ketika Organisasi Memiliki Banyak Target

Masalah organisasi besar bukan selalu kekurangan goals. Justru sebaliknya, banyak organisasi kewalahan karena memiliki terlalu banyak target yang berjalan bersamaan sepanjang tahun.

Setiap divisi punya inisiatif sendiri, setiap kuartal punya prioritas baru, dan setiap pemimpin punya agenda yang ingin dikejar. Semuanya terasa penting pada saat yang sama.

Fenomena ini semakin terasa di organisasi yang tumbuh cepat, di mana strategic initiatives baru terus bermunculan tanpa proses yang jelas untuk menghentikan initiative lama yang sudah tidak relevan.

Cascading membantu organisasi menentukan mana yang benar-benar merupakan prioritas utama. Proses ini juga memperjelas bagaimana prioritas tersebut seharusnya diterjemahkan ke setiap fungsi secara konsisten.

Tanpa cascading yang jelas, setiap fungsi akan menafsirkan sendiri mana yang paling penting. Hasilnya, energi organisasi terpecah ke banyak arah yang tidak saling memperkuat satu sama lain.

3. Memperjelas Accountability

Cascading goals membantu organisasi membedakan tiga hal yang sering tercampur: organizational outcome, team contribution, dan individual ownership.

Ketiganya berada pada level yang berbeda, tetapi harus saling terhubung. Tanpa pembedaan ini, accountability menjadi kabur ketika target tidak tercapai di akhir periode.

Penting untuk dipahami bahwa satu business outcome sering kali membutuhkan kontribusi dari beberapa fungsi sekaligus, bukan hanya satu tim tunggal yang bekerja sendirian.

Retention rate, misalnya, dipengaruhi oleh product, customer success, sekaligus marketing. Ketiganya memiliki peran berbeda, tetapi sama-sama menentukan hasil akhir yang sama.

Dengan cascading yang jelas, setiap fungsi tahu persis bagian mana dari outcome tersebut yang menjadi tanggung jawabnya. Ini menghindarkan organisasi dari saling lempar tanggung jawab saat target meleset di akhir tahun.

4. Membuat Performance Evaluation Lebih Kontekstual

Individual performance tidak seharusnya dinilai dalam ruang kosong, terlepas dari konteks bisnis yang lebih besar. Sayangnya, ini masih sering terjadi di banyak organisasi.

Goal cascade memberikan konteks yang dibutuhkan, mulai dari goal, lalu contribution, hingga akhirnya outcome. Ketiganya menjadi satu rangkaian yang saling menjelaskan satu sama lain.

Dengan konteks ini, performance discussion tidak hanya membahas apakah target tercapai atau tidak. Diskusi juga bisa membahas mengapa target tersebut penting bagi bisnis secara keseluruhan.

Manajer yang memahami rantai kontribusi ini akan memberi feedback yang lebih bermakna. Karyawan pun lebih mudah memahami relevansi pekerjaannya, bukan sekadar mengejar angka semata.

Cascading Goals vs Goal Alignment: Apa Bedanya?

Cascading goals dan goal alignment sering digunakan secara bergantian. Padahal, keduanya menggambarkan dua hal yang berbeda.

Cascading goals merupakan mekanisme untuk menerjemahkan tujuan dari satu level ke level lainnya.

Goal alignment merupakan kondisi ketika tujuan yang berbeda tetap saling mendukung dan bergerak menuju strategic priorities yang sama.

Cascading GoalsGoal Alignment
Mekanisme menerjemahkan tujuan dari satu level ke level lainKondisi ketika tujuan-tujuan saling mendukung satu sama lain
Biasanya bergerak dari organizational menuju individualBisa terjadi secara vertikal maupun horizontal
Fokus pada struktur hubungan antar-goalFokus pada relevansi dan konsistensi antar-goal
Dapat dilakukan secara formal melalui proses tertentuTidak selalu membutuhkan hierarki formal

Perbedaan ini penting karena sebuah organisasi dapat memiliki cascading goals tanpa memiliki alignment yang kuat.

Misalnya, organizational goal diturunkan secara formal ke setiap departemen. Setiap manager kemudian membuat team goals berdasarkan target tersebut, dan setiap karyawan memiliki individual goals.

Secara administratif, cascade tersebut terlihat lengkap. Namun, jika individual goals hanya menyalin target dari level di atas tanpa mempertimbangkan scope pekerjaan, maka alignment yang sebenarnya belum tentu terjadi.

Karena itu, cascading adalah salah satu cara untuk menciptakan alignment, tetapi cascading tidak menjamin alignment.

Framework Cascading Goals yang Efektif

Untuk membantu organisasi menerapkan cascading goals secara lebih terstruktur, berikut sebuah framework sederhana yang bisa dijadikan panduan praktis: ALIGN Framework.

Framework ini terdiri dari lima langkah yang berurutan, mulai dari menentukan prioritas strategis hingga memastikan goal tetap relevan sepanjang tahun berjalan.

A — Anchor pada Strategic Priorities

Langkah pertama adalah memulai dari titik yang benar. Pilih tiga hingga lima prioritas organisasi yang benar-benar menentukan business outcomes, bukan seluruh daftar strategic initiatives yang ada.

Semakin banyak prioritas yang dicascade, semakin encer maknanya di level bawah. Fokus adalah kunci di tahap ini, meski sering kali terasa sulit dilakukan karena banyaknya kepentingan yang ingin diakomodasi.

Beberapa pertanyaan yang bisa membantu proses ini adalah: apa outcome terpenting tahun ini, prioritas mana yang paling berdampak terhadap bisnis, dan apa yang harus berubah jika strategi ini berhasil dijalankan.

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini akan menjadi anchor yang menuntun seluruh proses cascading di langkah-langkah berikutnya.

Tahap ini idealnya melibatkan diskusi lintas fungsi sejak awal, bukan hanya keputusan sepihak dari satu fungsi tertentu. Prioritas yang disepakati bersama lebih mudah diterima ketika diterjemahkan ke level di bawahnya.

Setelah prioritas ditentukan, langkah berikutnya adalah menerjemahkan organizational priorities menjadi kontribusi masing-masing fungsi secara spesifik.

Misalnya, jika strategic priority-nya adalah improve customer retention, setiap fungsi bisa memiliki kontribusi yang berbeda tetapi tetap sejalan dengan prioritas tersebut.

FungsiContribution
ProductImprove feature adoption
Customer SuccessIncrease renewal rate
EngineeringReduce critical incidents
MarketingImprove customer education

Yang perlu ditekankan di tahap ini, tidak semua fungsi harus memiliki KPI yang sama persis. Yang harus sama adalah arah strategic contribution-nya, bukan angka atau metriknya.

Dengan cara ini, setiap fungsi tetap punya ruang untuk menentukan cara kerja terbaiknya sendiri, selama arah kontribusinya tetap menuju prioritas yang sama dengan fungsi lain.

Proses linking ini idealnya didiskusikan bersama pemimpin masing-masing fungsi, bukan ditentukan secara sepihak oleh satu pihak saja. Diskusi ini juga menjadi kesempatan untuk mengidentifikasi potensi konflik prioritas antar-fungsi sejak dini.

I — Identify Team Outcomes

Langkah ketiga adalah menurunkan functional contribution menjadi outcome yang dapat dimiliki secara konkret oleh sebuah tim tertentu.

Kontribusi fungsi Customer Success untuk meningkatkan renewal rate, misalnya, perlu diterjemahkan lebih spesifik lagi. Team Customer Success bisa memiliki outcome berupa meningkatkan renewal rate dari angka X menjadi angka Y.

Pada tahap ini, outcome mulai menjadi terukur dan dapat dipantau progresnya secara berkala, biasanya dalam siklus bulanan atau kuartalan tergantung kebutuhan bisnis.

Tim memiliki target yang jelas, bukan sekadar arahan umum dari atas yang masih perlu diterjemahkan lagi oleh masing-masing anggota tim.

Semakin konkret outcome di level tim, semakin mudah pula proses ini diturunkan lagi ke level individu pada langkah selanjutnya. Ambiguitas di tahap ini akan terbawa dan membesar di level berikutnya.

Baca Juga: Memahami OKR: Apa Itu Objectives & Key Results?

G — Ground Individual Goals

Barulah pada langkah ini kontribusi individu ditentukan. Contohnya, seorang Customer Success Manager bisa memiliki goal meningkatkan renewal rate pada account portfolio yang dipegangnya sebesar persentase tertentu.

Namun, ada satu hal yang perlu dihindari di tahap ini. Jangan memaksakan setiap individual goal harus secara matematis menjumlah persis menjadi organizational goal secara keseluruhan.

Individual goal harus tetap controllable dan relevan dengan scope pekerjaan orang tersebut. Memaksakan kalkulasi yang terlalu kaku justru membuat goal terasa tidak realistis di level individu.

Yang lebih penting adalah memastikan setiap individual goal masih memiliki garis lurus yang jelas menuju outcome tim dan fungsi di atasnya, meski tidak dalam bentuk angka yang persis sama.

Manajer memiliki peran besar di tahap ini untuk membantu karyawan menerjemahkan target tim menjadi goal yang masuk akal sesuai perannya masing-masing, tanpa membuat karyawan merasa dibebani target yang di luar kendalinya.

N — Navigate melalui Continuous Review

Langkah terakhir ini menghubungkan cascading goals dengan performance management modern. Goal cascade bukan dokumen yang dibuat sekali dalam setahun lalu dikunci sampai periode berikutnya.

Goal perlu direview ketika terjadi perubahan penting, misalnya business priorities berubah, scope pekerjaan berubah, kondisi pasar berubah, resources berubah, atau strategic initiatives dihentikan maupun ditambahkan.

Deloitte secara eksplisit menempatkan agile goal management, check-in rutin, dan continuous feedback sebagai bagian dari evolusi performance management yang lebih relevan dengan cara kerja saat ini.

Review ini idealnya tidak menunggu siklus formal tahunan. Check-in singkat setiap bulan atau kuartal jauh lebih efektif untuk menangkap perubahan konteks lebih awal.

Baca Juga: Memahami dan Menerapkan SMART Goals: Panduan Lengkap dengan Contoh

Contoh Cascading Goals

Untuk memperjelas bagaimana ALIGN Framework bekerja dalam praktik, berikut satu contoh end-to-end yang mengikuti alur dari organizational goal hingga individual goal secara berurutan.

Organizational Goal
Meningkatkan customer retention sebesar 10% dalam satu tahun
Functional Goal
Product Team meningkatkan adoption fitur utama guna mengurangi churn
Team Goal
Product Analytics meningkatkan adoption fitur X sebesar 15%
Individual Goal
Product Analyst mengidentifikasi tiga behavioral patterns yang paling berkorelasi dengan feature adoption dan menyediakan insight untuk Product Team setiap kuartal

Perhatikan bahwa individual goal di atas bukan berbentuk angka revenue atau KPI bisnis langsung. Kontribusinya berupa insight yang mendukung pengambilan keputusan tim di atasnya secara berkelanjutan.

Ini poin penting yang perlu dipahami, terutama oleh siapa pun yang merancang sistem goal di organisasinya. Tidak semua individual goals harus berbentuk revenue atau KPI bisnis secara langsung.

Kontribusi individu dapat berupa banyak bentuk lain, seperti outcome, capability, operational improvement, insight, quality, hingga efficiency. Semua bentuk kontribusi ini tetap sah selama garis hubungannya ke prioritas organisasi jelas.

Contoh kasus ini menunjukkan mengapa Ground Individual Goals dalam ALIGN Framework menekankan pentingnya controllability. Goal yang baik selalu bisa dijelaskan lewat aksi konkret yang benar-benar berada dalam kendali orang yang memegangnya.

Cascading Goals yang Efektif Tidak Harus Sepenuhnya Top-Down

Cascading goals secara tradisional sering diasosiasikan dengan struktur top-down. Strategic goals ditetapkan di level leadership, kemudian diturunkan melalui setiap layer organisasi hingga individual contributor. Model tersebut memiliki keunggulan dalam hal direction dan consistency.

Namun, jika diterapkan terlalu kaku, cascade dapat membuat karyawan terkunci pada target yang tidak lagi sesuai dengan pekerjaan aktual. Tim hanya menerima target tanpa ruang untuk menyesuaikan dengan konteks mereka.

Ketika Cascading Goals Terlalu Top-Down

Dalam cascade yang terlalu top-down, tim hanya menerima target tanpa ruang untuk menyesuaikannya dengan konteks pekerjaan mereka.

Strategic direction memang menjadi lebih konsisten, tetapi proses penerjemahannya dapat kehilangan konteks di level operasional.

Ketika ini terjadi, karyawan cenderung mengejar angka semata tanpa benar-benar memahami atau meyakini alasan di baliknya. Hasilnya, goal tercapai di atas kertas tetapi tidak benar-benar menggerakkan perilaku yang diharapkan.

Namun, masalah ini bukan berarti cascading goals perlu ditinggalkan. Pendekatan yang terlalu bottom-up juga memiliki risiko tersendiri karena setiap tim dapat bergerak berdasarkan preferensinya masing-masing tanpa koneksi yang jelas dengan prioritas organisasi.

Menyeimbangkan Strategic Direction dan Team Autonomy

Model yang lebih sehat berada di antara keduanya. Leadership menentukan strategic direction, fungsi menentukan contribution-nya, manager dan employee mendefinisikan bagaimana execution dilakukan, lalu goals di-review ketika konteks berubah.

Dengan pendekatan ini, cascading tetap memberikan alignment tanpa menghilangkan otonomi tim dalam menentukan cara kerja terbaik sesuai konteks masing-masing.

Cara mudah membedakannya adalah dengan melihat siapa yang menentukan “apa” dan siapa yang menentukan “bagaimana”. Leadership dan fungsi menentukan arah serta prioritas, sementara tim dan individu menentukan cara terbaik untuk mencapainya.

Ruang dialog tersebut tetap berada dalam koridor strategic priorities yang sudah disepakati pada tahap Anchor. Jadi, autonomy bukan berarti setiap tim bebas menentukan prioritasnya sendiri tanpa batas.

Pembagian peran ini membuat proses cascading lebih partisipatif. Karyawan tidak hanya menerima target, tetapi memiliki ruang untuk memberikan konteks dan menentukan bagaimana kontribusinya dapat diwujudkan secara efektif.

Bagaimana Mekari Talenta Performance Management Membantu Menyusun Cascading Goals yang Efektif

Memahami ALIGN Framework secara konsep memang penting, tetapi eksekusinya di lapangan sering kali yang paling menantang.

Semakin banyak level dan fungsi yang terlibat, semakin sulit memastikan setiap goal benar-benar terhubung ke goal di atasnya tanpa bantuan sistem yang tepat.

Dalam modul Performance Management dari Mekari Talenta, kebutuhan ini dijawab lewat fitur Goal Hierarchy.

Modul ini dapat digunakan sebagai bagian dari ekosistem platform HCM yang terintegrasi dengan fitur HR lainnya, maupun secara modular sesuai kebutuhan organisasi, sehingga perusahaan dapat membangun proses performance management yang terhubung dengan proses HR lainnya tanpa harus mengadopsi seluruh solusi sekaligus.

Berikut bagaimana fitur ini dapat digunakan untuk mendukung setiap tahap cascading goals di organisasi.

1. Visualisasikan Rantai Goal dari Company hingga Individual dalam Satu Tampilan

Tahap Anchor dan Link pada ALIGN Framework membutuhkan kejelasan tentang bagaimana goal di level Company diturunkan hingga ke Organization dan Team.

Tanpa visualisasi yang jelas, kejelasan ini sulit dipastikan, terutama saat jumlah goal sudah mencapai puluhan atau ratusan.

Goal Hierarchy pada Mekari Talenta Performance Review membantu memvisualisasikan seluruh goal yang sudah dibuat dalam satu chart, disusun berdasarkan urutan tingkatan tipe goal yang sudah di-align sebelumnya.

Untuk mengaksesnya, masuk ke akun Talenta Performance Review, buka menu Goals, lalu klik “Goal hierarchy”. Halaman ini juga bisa diakses langsung dari daftar goal Company, Organization, Team, maupun Individual dengan klik tombol yang sama.

Setelah itu, pilih periode goal yang ingin ditinjau lewat “Select period”, kemudian centang checkbox Time Range yang tersedia. Chart hierarchy akan otomatis menyesuaikan dan menampilkan goal dari level tertinggi hingga terendah, yaitu Company, Organization, Team, kemudian Individual.

goal hierarchy di mekari talenta

Dengan tampilan ini, tim HR maupun pemimpin fungsi bisa langsung melihat apakah setiap Company Goal benar-benar memiliki turunan di level Organization, Team, dan Individual, atau justru ada goal di level bawah yang berdiri sendiri tanpa parent goal yang jelas.

2. Telusuri Hubungan Parent-Child Goal untuk Memastikan Tidak Ada Goal yang Terlepas

Salah satu risiko terbesar dalam cascading goals adalah munculnya goal yang secara administratif tercatat, tetapi sebenarnya tidak benar-benar terhubung ke prioritas di atasnya. Goal seperti ini sulit terdeteksi jika hanya dilihat satu per satu lewat daftar biasa.

Goal Hierarchy menampilkan hubungan parent-child antar-goal secara eksplisit. Misalnya, sebuah Company Goal dapat terlihat sebagai parent goal dari satu atau beberapa Organization Goal yang diturunkan darinya, lengkap dengan strukturnya masing-masing.

Untuk menelusuri goal tertentu, gunakan Search bar guna mencari goal owner berdasarkan kata kunci. 

Anda juga bisa klik ikon panah ke atas pada sebuah goal untuk menyembunyikan sementara anak goal di bawahnya, sehingga tampilan tetap rapi saat meninjau struktur cascading pada fungsi atau tim tertentu.

Jika ingin melihat detail dari salah satu goal, klik “View detail” untuk membuka halaman Detail goals, lengkap dengan informasi dan pengelolaan goal tersebut. 

Cara ini memudahkan proses audit sederhana untuk memastikan tidak ada goal individu maupun tim yang “menggantung” tanpa garis hubung ke organizational priorities.

3. Pantau Progres Cascading secara Berkelanjutan, Bukan Sekali Setahun

Tahap Navigate pada ALIGN Framework menekankan bahwa cascading goals perlu direview secara berkelanjutan, bukan dikunci sejak awal tahun. Goal Hierarchy dirancang untuk mendukung kebutuhan review yang berulang ini.

Karena chart dapat digenerate ulang berdasarkan periode yang dipilih, tim HR maupun manajer bisa meninjau struktur cascading kapan pun dibutuhkan, misalnya setiap kuartal, tanpa harus membangun ulang pemetaan goal dari awal.

Tampilan hierarchy juga dilengkapi tombol pengubah ukuran, sehingga struktur goal yang kompleks dengan banyak level dan cabang tetap dapat dibaca dengan nyaman dalam satu layar, baik saat direview sendiri maupun didiskusikan bersama tim lain.

Dengan cara kerja seperti ini, proses cascading goals tidak lagi bergantung pada dokumen terpisah atau spreadsheet manual di setiap fungsi.

Seluruh rantai goal, mulai dari Company hingga Individual, dapat dipantau, ditelusuri, dan direview dalam satu sistem yang sama secara berkelanjutan.

Bagaimana Mengetahui apakah Goal Sudah Tercascade dengan Baik?

Memiliki struktur organizational goal, functional goal, team goal, dan individual goal belum cukup untuk menyatakan bahwa cascading telah berjalan dengan baik.

Organisasi perlu mengevaluasi kualitas hubungan antar-goal. Salah satu cara yang dapat digunakan adalah melakukan Cascading Goals Health Check dengan lima pertanyaan berikut.

1. Strategic Relevance: Apakah Goal Ini Mendukung Strategic Priority yang Jelas?

Setiap goal sebaiknya memiliki hubungan yang dapat dijelaskan dengan satu atau lebih strategic priorities.

Hubungan tersebut tidak harus selalu direct. Seorang employee dapat berkontribusi melalui capability, process improvement, quality, atau enablement yang mendukung outcome organisasi.

Namun, hubungan tersebut harus masuk akal.

Jika sebuah goal tidak dapat dikaitkan dengan strategic priority apa pun, organisasi perlu mempertanyakan apakah goal tersebut memang perlu menjadi bagian dari performance management.

Hal ini tidak berarti seluruh pekerjaan yang dilakukan karyawan harus masuk ke performance goals. Pekerjaan rutin tetap perlu dilakukan, tetapi tidak semuanya harus diperlakukan sebagai strategic objective.

2. Contribution Clarity: Apakah Jelas Bagaimana Pekerjaan Ini Berkontribusi?

Karyawan seharusnya dapat menjelaskan hubungan antara pekerjaan dan outcome yang ingin dicapai.

Jika seseorang hanya mengetahui targetnya tetapi tidak memahami kontribusinya, cascade belum memberikan line of sight yang cukup.

Pertanyaan yang dapat digunakan dalam goal discussion adalah: kontribusi apa yang diharapkan dari goal ini, dan bagian mana dari outcome yang dapat dipengaruhi oleh pemilik goal?

Pertanyaan tersebut membantu mengubah percakapan dari “apa target saya?” menjadi “hasil apa yang saya bantu capai?”

3. Ownership: Apakah Employee Memiliki Kontrol yang Cukup atas Outcome Tersebut?

Goal harus berada dalam ruang pengaruh yang masuk akal bagi pemiliknya. Semakin jauh sebuah individual goal dari kontrol individu, semakin besar kemungkinan performance evaluation menjadi dipengaruhi oleh faktor eksternal.

Misalnya, revenue perusahaan dapat dipengaruhi oleh market conditions, pricing, competition, product quality, demand, dan berbagai faktor lainnya.

Seorang Sales Manager dapat memiliki pengaruh signifikan terhadap revenue, tetapi seorang internal operations employee mungkin tidak dapat dinilai secara fair berdasarkan outcome tersebut.

Karena itu, cascading perlu membedakan antara contribution terhadap outcome dan ownership penuh atas outcome.

4. Measurement: Apakah Keberhasilan Dapat Diukur secara Objektif?

Goal perlu memiliki indikator keberhasilan yang jelas. Namun, measurable tidak selalu berarti harus menggunakan angka finansial.

Measurement dapat berupa target kuantitatif, milestone, quality standard, completion criteria, behavioral indicator, atau outcome tertentu.

Kejelasan measurement juga penting untuk membantu mengurangi subjective judgment dalam performance evaluation.

Ketika penilaian terlalu bergantung pada kesan umum manager, pencapaian pada satu aspek dapat memengaruhi penilaian terhadap aspek lainnya.

Misalnya, karyawan yang sangat komunikatif dan aktif dalam meeting dapat secara tidak sadar dinilai lebih tinggi pada aspek performa lain. Ini merupakan salah satu bentuk halo effect, ketika satu karakteristik positif memengaruhi penilaian terhadap aspek lain yang sebenarnya perlu dievaluasi secara terpisah.

Sebaliknya, pengalaman negatif pada satu project dapat menciptakan horn effect, ketika satu kelemahan atau kesalahan membuat keseluruhan performa karyawan dipandang lebih buruk daripada evidence yang sebenarnya menunjukkan.

Goal yang memiliki measurement dan success criteria yang jelas membantu manager kembali pada evidence ketika melakukan evaluasi. Penilaian dapat didasarkan pada pencapaian goal dan kualitas kontribusi yang relevan, bukan hanya pada overall impression terhadap employee.

Baca Juga: Performance Bias: Mengapa Penilaian Kinerja Bisa Tidak Objektif

5. Adaptability: Apakah Goal Dapat Direvisi Ketika Prioritas Bisnis Berubah?

Goal yang aligned pada awal tahun dapat menjadi tidak relevan ketika business context berubah. Karena itu, cascading goals perlu direview secara berkala, bukan hanya ketika performance review berlangsung.

Regular check-in juga membantu mengurangi risiko recency bias, yaitu ketika performa yang terjadi menjelang akhir periode mendapat bobot terlalu besar dibandingkan kontribusi sepanjang periode evaluasi.

Tanpa dokumentasi progress yang konsisten, manager dapat lebih mudah mengandalkan hal-hal yang paling baru atau paling mudah diingat ketika memberikan penilaian. Pencapaian yang terjadi beberapa bulan sebelumnya berisiko tidak mendapatkan perhatian yang sama.

Dengan progress tracking dan regular check-ins, manager dapat melihat perkembangan goal sepanjang performance cycle. Evidence tersebut membantu performance discussion mempertimbangkan keseluruhan periode, bukan hanya performa yang paling baru terlihat.


Referensi

  1. Society for Human Resource Management. (2025). HR leaders, are you sure your employees have the right goals? SHRM.
  2. Sloan, N., Pastakia, K., & Garr, S. (2017, February 28). Performance management: Playing a winning hand. Deloitte Insights.

Pertanyaan Umum seputar Cascading Goals

Apa tujuan utama cascading goals?

Apa tujuan utama cascading goals?

Tujuan utamanya adalah memastikan pekerjaan di berbagai level organisasi memiliki arah yang selaras dengan strategi bisnis. Dengan cascading goals, organisasi dapat melihat hubungan antara prioritas strategis dan kontribusi masing-masing fungsi maupun individu. Proses ini juga membantu mengidentifikasi ketika ada goals yang tidak lagi relevan dengan arah organisasi.

Siapa yang bertanggung jawab menetapkan cascading goals?

Siapa yang bertanggung jawab menetapkan cascading goals?

Penetapan cascading goals sebaiknya menjadi proses kolaboratif dengan pembagian peran yang jelas. Leadership menetapkan strategic priorities, pemimpin fungsi menerjemahkannya menjadi kontribusi fungsi, lalu manager dan employee menyusun goals yang sesuai dengan scope pekerjaan. Dengan demikian, cascading tidak menjadi tanggung jawab satu fungsi saja.

Apakah cascading goals cocok untuk semua jenis organisasi?

Apakah cascading goals cocok untuk semua jenis organisasi?

Prinsip cascading goals dapat diterapkan pada berbagai ukuran dan struktur organisasi, tetapi tingkat formalitasnya perlu disesuaikan. Organisasi dengan struktur yang kompleks biasanya membutuhkan mekanisme yang lebih terstruktur untuk menjaga visibility dan consistency. Sementara itu, organisasi yang lebih kecil dapat menerapkannya dengan proses yang lebih sederhana tanpa menghilangkan hubungan antara organizational dan individual goals.

Apa yang terjadi jika individual goals tidak tercapai meskipun organizational goals tercapai?

Apa yang terjadi jika individual goals tidak tercapai meskipun organizational goals tercapai?

Pencapaian organizational goal tidak selalu berarti seluruh individual goals harus tercapai, karena satu outcome dapat dipengaruhi oleh kontribusi banyak pihak. Evaluasi perlu melihat apakah individual tersebut memenuhi contribution yang menjadi tanggung jawabnya dan apakah faktor lain memengaruhi outcome. Karena itu, performance evaluation sebaiknya tidak hanya menggunakan pencapaian organizational KPI sebagai dasar penilaian individu.

Seberapa sering cascading goals perlu ditinjau?

Seberapa sering cascading goals perlu ditinjau?

Tidak ada frekuensi yang berlaku sama untuk semua organisasi karena kebutuhan review bergantung pada dinamika bisnis dan performance cycle. Namun, goals sebaiknya ditinjau secara berkala melalui check-in untuk memastikan prioritas, measurement, dan ownership masih relevan. Review tambahan diperlukan ketika terjadi perubahan strategi, struktur organisasi, scope pekerjaan, atau kondisi bisnis yang signifikan.

Abidah Ardelia Penulis
A Content Specialist with more than two years of experience covering the Human Resources (HR) industry, with a focus on HR technology, payroll, talent management, recruitment, employment practices, and digital HR transformation. Her work combines regulatory developments, industry research, and insights from HR practitioners to deliver accurate, well-researched content that addresses the strategic and operational priorities of HR professionals and business leaders.
Icon

Satu solusi untuk semua kebutuhan HR Anda

Optimalkan pengelolaan operasi HR Anda dengan bantuan solusi terintegrasi dari Mekari Talenta.