-
Performance management adalah proses berkelanjutan untuk memastikan kinerja karyawan selaras dengan tujuan bisnis melalui target yang jelas, monitoring, dan feedback.
-
Prinsip utama performance management mencakup alignment dengan bisnis, target berbasis SMART, feedback berkelanjutan, keputusan berbasis data, serta integrasi dengan pengembangan karyawan.
Di banyak perusahaan, masalah kinerja jarang disebabkan oleh kurangnya kemampuan, tetapi lebih sering karena target yang tidak jelas, feedback yang tidak konsisten, dan eksekusi yang tidak terarah.
Dalam skala operasional yang besar, misalignment kecil di level individu dapat berkembang menjadi gap kinerja yang signifikan di level bisnis.
Hal ini membuat perusahaan membutuhkan sistem yang mampu menghubungkan tujuan strategis dengan aktivitas sehari-hari secara terukur.
Performance management hadir sebagai pendekatan yang memastikan setiap kontribusi karyawan memiliki arah, standar, dan evaluasi yang jelas.
Artikel ini akan membahas secara komprehensif konsep, prinsip, tahapan, hingga contoh penerapan performance management dalam praktik nyata.
Apa Itu Pengertian Performance Management?
Performance management adalah proses berkelanjutan yang digunakan perusahaan untuk memastikan bahwa pekerjaan karyawan selaras dengan tujuan bisnis secara keseluruhan.
Proses ini mencakup penetapan ekspektasi yang jelas, pemantauan kinerja secara berkala, pemberian feedback yang konsisten, serta evaluasi hasil untuk mendukung keberhasilan individu dan organisasi.
Berbeda dengan pendekatan tradisional yang hanya mengandalkan penilaian tahunan, performance management berfokus pada proses yang berlangsung terus-menerus melalui komunikasi dan perbaikan yang berkelanjutan.
Manajer dan karyawan bekerja bersama untuk menetapkan target, memantau pencapaian melalui indikator yang terukur, serta mengidentifikasi area pengembangan. Proses ini umumnya didukung oleh HR dashboard yang memberikan insight secara real-time.
Dengan pendekatan ini, karyawan memiliki pemahaman yang lebih jelas mengenai ekspektasi perusahaan serta bagaimana kontribusi mereka berdampak terhadap hasil bisnis secara keseluruhan, yang pada akhirnya berkontribusi pada peningkatan retensi karyawan.
Dalam skala yang lebih luas, performance management juga berkaitan erat dengan talent management, karena membantu memastikan bahwa performa karyawan berkontribusi pada kapabilitas organisasi dalam jangka panjang.
Oleh karena itu, banyak perusahaan mengintegrasikan proses ini ke dalam sistem talent management berbasis teknologi.
Performance Management vs Performance Appraisal
Banyak yang masih menyamakan performance management dengan performance appraisal, padahal keduanya memiliki peran yang berbeda dalam pengelolaan kinerja.
Perbedaan ini penting dipahami karena akan memengaruhi cara perusahaan merancang sistem evaluasi, feedback, dan pengembangan karyawan.
Jika tidak dibedakan dengan jelas, proses yang seharusnya mendorong peningkatan kinerja justru hanya berakhir sebagai formalitas administratif.
Berikut perbandingan utama antara keduanya:
| Aspek | Performance Management | Performance Appraisal |
|---|---|---|
| Definisi | Proses berkelanjutan untuk mengelola, memantau, dan meningkatkan kinerja karyawan | Penilaian kinerja yang dilakukan dalam periode tertentu |
| Tujuan | Meningkatkan kinerja secara konsisten dan selaras dengan tujuan bisnis | Mengevaluasi hasil kerja karyawan dalam periode tertentu |
| Frekuensi | Berjalan terus-menerus (continuous) | Periodik (tahunan, semester, atau kuartalan) |
| Fokus | Proses, perkembangan, dan perbaikan kinerja | Hasil akhir atau pencapaian kinerja |
| Aktivitas Utama | Penetapan target, monitoring, feedback, coaching, dan development | Penilaian, scoring, dan dokumentasi hasil kerja |
| Peran Manajer | Aktif sebagai coach dan fasilitator perkembangan | Evaluator yang menilai kinerja karyawan |
| Orientasi Waktu | Berorientasi ke depan (future-oriented) | Berorientasi ke belakang (past-oriented) |
| Penggunaan Data | Data real-time dan monitoring berkelanjutan | Data historis dalam periode tertentu |
| Dampak | Mendorong peningkatan kinerja, engagement, dan retensi | Menjadi dasar keputusan administratif seperti bonus atau promosi |
Pada intinya, performance appraisal merupakan bagian dari performance management, bukan pengganti.
Performance appraisal berfungsi sebagai titik evaluasi, sementara performance management mencakup keseluruhan siklus yang memastikan kinerja dapat dikelola, dikembangkan, dan ditingkatkan secara berkelanjutan.
Tujuan Performance Management
Pada dasarnya, tujuan manajemen kinerja adalah untuk memastikan kinerja karyawan agar maksimal dapat membantu kinerja perusahaan.
Secara spesifik, tujuan dari performance management adalah:
- Mengidentifikasi kemampuan dan keterampilan karyawan sehingga pekerjaan dapat diselesaikan oleh karyawan yang tepat;
- Mengidentifikasi hambatan-hambatan yang terjadi dan menyelesaikan hambatan tersebut melalui proses monitoring, coaching, dan development.
- Meningkatkan sistem komunikasi dua arah antara manajer dan staff yang sesuai harapan serta memberikan umpan balik yang teratur dan transparan sehingga dapat meningkatkan kinerja karyawan;
- Menciptakan dasar penentuan keputusan administratif seperti kompensasi dan tunjangan karyawan, kenaikan gaji, struktur upah yang berdasarkan kinerja;
- Meningkatkan pengembangan diri karyawan dan kemajuan dalam karir dengan membantu mereka memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang diminati dan dibutuhkan.
Manfaat Performance Management
Jika tujuan menjelaskan apa yang ingin dicapai, maka manfaat performance management mencerminkan dampak nyata yang dirasakan perusahaan ketika sistem ini dijalankan secara efektif.
Berikut beberapa manfaat utama yang paling signifikan:
1. Meningkatkan Kinerja Bisnis dan Pertumbuhan Revenue
Sistem performance management yang terimplementasi dengan baik menciptakan alignment, kejelasan, dan akuntabilitas di seluruh organisasi, yang berdampak langsung pada hasil bisnis.
Ketika karyawan memahami prioritas, mendapatkan feedback yang konsisten, dan dievaluasi berdasarkan metrik yang jelas, eksekusi menjadi lebih terarah dan efisien.
Hal ini terjadi karena performance management mengurangi misalignment dan memastikan setiap upaya diarahkan pada aktivitas yang berdampak tinggi, sehingga menghasilkan kinerja bisnis yang lebih optimal secara berkelanjutan.
2. Meningkatkan Engagement dan Motivasi Karyawan
Performance management memiliki peran besar dalam meningkatkan engagement karena mampu mengatasi salah satu penyebab utama disengagement, yaitu ketidakjelasan arah kerja dan minimnya feedback.
Ketika karyawan memahami ekspektasi, mendapatkan apresiasi, dan rutin berdiskusi dengan atasan, mereka cenderung merasa lebih terhubung dengan pekerjaannya.
Melalui struktur yang jelas, seperti penetapan target, feedback rutin, dan peluang pengembangan, performance management membantu meningkatkan rasa memiliki dan motivasi kerja karyawan.
3. Meningkatkan Produktivitas dan Pencapaian Target
Salah satu dampak paling cepat terlihat dari performance management adalah peningkatan produktivitas.
Dengan target yang jelas dan pemantauan progres yang berkelanjutan, karyawan dapat fokus pada prioritas utama dan mengurangi pekerjaan yang tidak relevan.
Kejelasan ini menghilangkan ambiguitas dalam pekerjaan. Karyawan bekerja dengan arah yang terdefinisi, didukung oleh evaluasi berkala dan penyesuaian yang cepat.
Hasilnya adalah eksekusi yang lebih disiplin, di mana gap kinerja dapat diidentifikasi lebih awal dan segera diperbaiki.
4. Meningkatkan Retensi dan Daya Tarik Talenta
Performance management berkontribusi langsung terhadap retensi karyawan dengan mengatasi faktor-faktor utama yang sering menyebabkan karyawan keluar, seperti kurangnya arah pengembangan, ekspektasi yang tidak jelas, dan kualitas manajemen yang rendah.
Ketika karyawan mendapatkan feedback secara rutin dan melihat jalur pengembangan yang jelas, kecenderungan untuk bertahan akan meningkat.
Sistem yang transparan dan adil membuat karyawan memahami bagaimana mereka dinilai, apa yang perlu ditingkatkan, dan bagaimana mereka bisa berkembang, sehingga meningkatkan kepercayaan dan menurunkan voluntary turnover.
5. Mendukung Pengambilan Keputusan yang Lebih Objektif
Performance management menyediakan data yang terstruktur dan konsisten, sehingga meningkatkan kualitas pengambilan keputusan dalam organisasi.
Tanpa sistem ini, keputusan terkait promosi, kompensasi, atau succession planning sering kali bergantung pada penilaian subjektif.
Dengan data kinerja yang terukur, feedback yang terdokumentasi, serta evaluasi kompetensi, perusahaan dapat mengambil keputusan yang lebih objektif dan dapat dipertanggungjawabkan.
Selain itu, data performa dan engagement juga memiliki korelasi kuat dengan metrik bisnis seperti profitabilitas, retensi, dan kepuasan pelanggan.
Hasil akhirnya adalah keputusan yang lebih transparan, adil, dan dipercaya oleh karyawan, sekaligus memperkuat kredibilitas organisasi secara keseluruhan.
Prinsip Performance Management
Agar performance management benar-benar berdampak pada kinerja bisnis dan retensi karyawan, ada beberapa prinsip kunci yang perlu diterapkan secara konsisten.

Prinsip ini bukan sekadar konsep, tetapi praktik yang membedakan sistem yang efektif dengan yang hanya bersifat administratif.
1. Alignment dengan Tujuan Bisnis
Seluruh target individu harus terhubung langsung dengan prioritas bisnis. Ketika tujuan perusahaan diturunkan secara jelas ke level tim dan individu, setiap pekerjaan memiliki arah yang sama.
Alignment ini biasanya dilakukan melalui cascading goals, di mana KPI atau OKR di setiap level saling terhubung. Hal ini memastikan bahwa setiap kontribusi karyawan memiliki dampak nyata terhadap hasil bisnis, sekaligus meminimalkan pekerjaan yang tidak relevan.
2. Penetapan Target yang Jelas dengan Framework SMART
Target yang efektif harus dirancang secara spesifik dan terukur. Salah satu pendekatan yang paling umum digunakan adalah framework SMART (Specific, Measurable, Achievable, Relevant, Time-bound).
Dengan SMART, karyawan memiliki kejelasan mengenai apa yang harus dicapai, bagaimana cara mengukurnya, serta dalam jangka waktu tertentu. Tanpa struktur ini, target cenderung menjadi ambigu, sulit dievaluasi, dan berisiko menurunkan akuntabilitas.
3. Continuous Feedback dan Check-in Berkala
Performance management bukan aktivitas tahunan, melainkan proses berkelanjutan. Feedback yang diberikan secara rutin memungkinkan koreksi dilakukan lebih cepat sebelum masalah membesar.
Check-in berkala antara atasan dan karyawan juga membantu menjaga fokus terhadap prioritas, memperjelas ekspektasi, serta meningkatkan kualitas komunikasi kerja.
Dalam praktik, organisasi yang konsisten melakukan feedback cenderung memiliki engagement dan retensi yang lebih tinggi.
4. Pengambilan Keputusan Berbasis Data
Evaluasi kinerja harus didasarkan pada data yang terukur, bukan opini. Penggunaan KPI, OKR, serta data performa historis membantu menciptakan penilaian yang lebih objektif.
Organisasi yang matang biasanya mengintegrasikan dashboard atau sistem analitik untuk memantau performa secara real-time. Hal ini tidak hanya meningkatkan akurasi, tetapi juga memperkuat transparansi dalam proses penilaian.
5. Integrasi dengan Pengembangan dan Retensi Karyawan
Performance management yang efektif selalu terhubung dengan pengembangan karyawan. Hasil evaluasi perlu diterjemahkan menjadi rencana pengembangan yang konkret, seperti pelatihan, coaching, atau rotasi peran.
Pendekatan ini membantu karyawan melihat jalur pertumbuhan yang jelas, yang pada akhirnya berdampak langsung pada retensi.
Ketika karyawan merasa berkembang dan dihargai berdasarkan kinerjanya, kecenderungan untuk bertahan dalam jangka panjang akan meningkat.
Tahapan Penting Performance Management
Performance management yang berjalan efektif selalu memiliki siklus yang jelas, terstruktur, dan konsisten dari awal hingga akhir.
Tanpa tahapan yang disiplin, proses ini mudah berubah menjadi formalitas tahunan yang tidak memberikan dampak nyata pada kinerja maupun retensi karyawan.
Berikut tahapan yang umum diterapkan dalam praktik yang matang dan sudah teruji di lapangan:
1. Perencanaan Kinerja dan Penetapan Target
Tahap ini menentukan kualitas seluruh siklus performance management. Fokus utamanya adalah memastikan setiap karyawan memiliki target yang jelas, terukur, dan selaras dengan prioritas bisnis.
Dalam praktik, target tidak ditentukan secara sepihak. Diskusi antara atasan dan karyawan menjadi kunci agar target realistis sekaligus menantang.
Banyak kasus di mana target terlihat “rapi di atas kertas” tetapi tidak executable karena tidak mempertimbangkan kondisi operasional.
Di tahap ini juga ditentukan indikator kinerja, bobot penilaian, serta ekspektasi perilaku kerja. Organisasi yang lebih matang biasanya sudah mengintegrasikan KPI atau OKR langsung ke dalam sistem, sehingga setiap target dapat dimonitor sejak awal, bukan baru dibahas di akhir periode.
2. Komunikasi Ekspektasi dan Alignment
Setelah target ditetapkan, tahap berikutnya adalah memastikan semua pihak memahami ekspektasi secara konsisten. Banyak masalah kinerja sebenarnya berasal dari miskomunikasi di awal, bukan dari kemampuan karyawan.
Alignment dilakukan melalui diskusi yang lebih detail mengenai prioritas, standar kualitas, serta cara pengukuran. Pada tahap ini, penting memastikan bahwa karyawan memahami bukan hanya “apa yang harus dicapai”, tetapi juga “mengapa hal tersebut penting”.
Dalam praktik sehari-hari, organisasi yang disiplin akan mendokumentasikan target dan alignment ini dalam sistem agar bisa diakses dan direferensikan sepanjang periode berjalan.
3. Monitoring Kinerja Secara Berkala
Tahap ini sering menjadi pembeda antara sistem yang hidup dan yang hanya formalitas. Monitoring dilakukan melalui check-in rutin, baik mingguan maupun bulanan, tergantung jenis pekerjaan.
Fokusnya bukan sekadar melihat progres, tetapi mengidentifikasi hambatan lebih awal. Banyak kasus performa buruk sebenarnya bukan karena kompetensi, tetapi karena bottleneck proses, prioritas yang berubah, atau dependensi lintas tim yang tidak terkelola.
Manajer yang efektif menggunakan tahap ini untuk melakukan course correction. Mereka tidak menunggu akhir periode untuk memberikan feedback, tetapi melakukan penyesuaian secara real-time agar kinerja tetap on track.
4. Feedback dan Coaching Berkelanjutan
Feedback yang konsisten memiliki dampak langsung terhadap kualitas kinerja dan engagement. Dalam praktik yang matang, feedback diberikan dalam konteks yang spesifik dan berbasis data, bukan opini umum.
Coaching juga menjadi bagian penting di tahap ini. Pendekatan ini berfokus pada membantu karyawan memahami akar masalah, mengembangkan solusi yang relevan, serta meningkatkan kapabilitas mereka secara berkelanjutan.
Salah satu insight yang sering terlewat adalah timing feedback. Feedback yang diberikan terlalu lama setelah kejadian biasanya kehilangan relevansi. Sementara feedback yang diberikan dekat dengan konteks kerja akan lebih mudah diterima dan diimplementasikan.
5. Evaluasi Kinerja dan Kalibrasi
Di akhir periode, dilakukan evaluasi untuk menilai pencapaian karyawan terhadap target yang telah ditetapkan. Namun, organisasi yang matang tidak berhenti pada penilaian individu saja.
Proses kalibrasi lintas tim menjadi tahap krusial untuk menjaga konsistensi penilaian. Tanpa kalibrasi, standar penilaian bisa sangat bergantung pada gaya masing-masing atasan.
Dalam calibration meeting, distribusi rating, justifikasi penilaian, dan perbandingan antar tim dibahas secara terbuka. Tujuannya adalah memastikan bahwa penilaian benar-benar mencerminkan performa, bukan bias individu.
Tahap ini juga sering menjadi dasar untuk keputusan strategis seperti bonus, promosi, maupun penempatan talenta.
Baca juga: Cara Perusahaan Melakukan Promosi Jabatan untuk Karyawan
6. Tindak Lanjut dan Pengembangan Karyawan
Tahap terakhir sering dianggap selesai setelah appraisal, padahal justru di sinilah nilai jangka panjang dibangun. Hasil evaluasi perlu diterjemahkan menjadi rencana aksi yang konkret.
Pengembangan karyawan bisa berbentuk pelatihan, coaching lanjutan, penugasan baru, atau rotasi peran. Karyawan dengan performa tinggi biasanya juga mulai dipetakan untuk pipeline kepemimpinan.
Di sisi lain, karyawan dengan performa yang belum optimal memerlukan rencana perbaikan yang jelas dan terukur. Tanpa tindak lanjut yang konkret, performance management kehilangan fungsinya sebagai alat pengembangan.
Poin-poin yang Harus Diperhatikan
Manajemen kinerja sangat memperhatikan hal-hal berikut ini:
- Peduli dengan output, proses, dan input. Artinya, manajemen kinerja tidak hanya melihat hasil akhir saja, namun juga proses dan input (pengetahuan, kompetensi, keterampilan) yang dimiliki oleh karyawan dan proses kerja untuk memastikan efektivitas,
- Perencanaan yang matang berkaitan erat dengan proses mencapai kesuksesan kinerja,
- Pengukuran hasil kerja yang jelas. Artinya jika hasil kerja tidak bisa diukur maka Anda tidak bisa mengelolanya,
- Perbaikan yang dilakukan secara terus menerus. Kepedulian atasan kepada timnya adalah dengan melakukan pendampingan dan perbaikan guna mencapai standar yang lebih tinggi,
- Pengembangan yang berkelanjutan. Manajemen kinerja membentuk budaya di mana pembelajaran dan pengembangan individu adalah proses yang berkelanjutan,
- Fokus kepada komunikasi dua arah antara atasan dan bawahan. Komunikasi adalah dialog yang mempertemukan harapan perusahaan dengan kinerja yang akan dilakukan oleh karyawan,
- Pemenuhan kebutuhan dan harapan semua stakeholder, manajemen, karyawan, pelanggan, pemasok, dan masyarakat umum. Khususnya di sini adalah karyawan diperlakukan sebagai mitra perusahaan yang dihormati dengan didengarkan pendapatnya,
- Peduli pada transparansi. Terdapat 4 prinsip etika yang mengatur operasional manajemen kinerja, yaitu menghormati individu, saling menghormati, prosedur yang adil, serta transparansi pengambilan keputusan.
Menerapkan performance management pada sebuah perusahaan bukan lah sesuatu hal yang mudah. Namun, jika sudah diaplikasikan, manajemen kinerja memiliki dampak yang nyata bagi perkembangan bisnis.
Contoh Penerapan Performance Management
Untuk memahami bagaimana performance management dijalankan dalam praktik nyata, berikut dua studi kasus perusahaan global yang menunjukkan bagaimana pendekatan modern telah berkembang jauh dari sistem appraisal tradisional.
1. Adobe: Dari Annual Review ke Sistem “Check-In” Berkelanjutan

Pada tahun 2012, Adobe mengubah pendekatan performance management dengan menghapus penilaian tahunan dan menggantinya dengan sistem “Check-In” yang berlangsung secara berkelanjutan.
Sebelumnya, Adobe menggunakan sistem stack ranking, di mana karyawan dibandingkan satu sama lain. Pendekatan ini memicu kompetisi internal yang tidak sehat, menurunkan morale, serta meningkatkan tingkat turnover.
Sebagai solusi, Adobe mengadopsi model yang berfokus pada feedback berkelanjutan, alignment target, dan pengembangan karyawan.
Alih-alih menunggu evaluasi akhir tahun, manajer kini melakukan check-in rutin untuk:
- Menetapkan dan menyesuaikan target secara dinamis
- Memberikan feedback dan coaching secara real-time
- Membahas pengembangan karier dan pertumbuhan karyawan
Dampak:
- Voluntary turnover menurun sekitar 30%
- Perusahaan menghemat lebih dari 80.000 jam yang sebelumnya digunakan untuk proses review tahunan
Insight utama:
Kasus Adobe menunjukkan bahwa pergeseran dari pendekatan berbasis evaluasi ke pengembangan mampu meningkatkan engagement, retensi karyawan, serta produktivitas secara signifikan.
2. Deloitte: Mengganti Annual Review dengan “Performance Snapshot”

Deloitte juga merancang ulang sistem performance management dengan beralih dari penilaian tahunan ke pendekatan yang lebih sering dan berbasis real-time.
Alih-alih evaluasi panjang yang berfokus pada masa lalu, Deloitte memperkenalkan “performance snapshot”, yaitu penilaian singkat dan berkala yang menilai kontribusi saat ini serta potensi ke depan.
Praktik utama yang diterapkan meliputi:
- Check-in dan diskusi feedback yang lebih sering
- Pertanyaan evaluasi yang singkat dan berorientasi ke depan
- Fokus pada area peningkatan dalam jangka pendek
Perubahan ini didorong oleh kesadaran bahwa penilaian tahunan memakan waktu besar namun tidak memberikan dampak optimal terhadap peningkatan kinerja.
Dampak:
- Engagement karyawan meningkat melalui komunikasi yang lebih intens
- Alignment dengan kebutuhan bisnis yang berubah menjadi lebih cepat
- Fokus organisasi bergeser ke pengembangan, bukan sekadar penilaian
Insight utama:
Pendekatan Deloitte menegaskan bahwa performance management akan lebih efektif ketika dijalankan secara berkelanjutan, sederhana, dan berorientasi ke masa depan, dibandingkan sistem yang berat secara administratif dan hanya melihat ke belakang.
Bangun Sistem Kinerja yang Terukur dengan Solusi Performance Management Modular dari Mekari Talenta
Mengelola kinerja karyawan tidak harus dimulai dari mengganti seluruh sistem HR Anda. Jika saat ini perusahaan sudah menggunakan HRIS atau ERP, Anda tetap bisa meningkatkan kualitas performance management secara signifikan melalui pendekatan yang lebih fleksibel.
Sebagai bagian dari platform HCM Mekari Talenta, fitur Performance Management kini dapat diadopsi secara modular sesuai kebutuhan perusahaan.
Dengan kapabilitas ini, Anda dapat mendigitalkan dan menstrukturkan seluruh proses manajemen kinerja secara end-to-end—tanpa perlu melakukan migrasi atau overhaul sistem yang sudah berjalan saat ini.

Solusi ini dapat diimplementasikan sebagai modul terpisah yang terintegrasi dengan sistem existing, sehingga Anda dapat memperkuat proses performance management tanpa harus mengubah keseluruhan ekosistem HR yang sudah ada.
Kapabilitas utama yang dapat Anda manfaatkan:
- OKR/KPI alignment dari level perusahaan, tim, hingga individu
- Customizable performance review (probation, kontrak, hingga 360° feedback)
- AI-powered review summarization untuk mempercepat evaluasi
- Calibration tools untuk memastikan penilaian lebih objektif dan konsisten
- 9-box matrix untuk talent mapping dan pengambilan keputusan strategis
Simak video ini untuk mengetahui fitur lengkap performance management di Mekari Talenta:
Dirancang untuk mendukung organisasi dengan struktur yang kompleks, solusi ini membantu HR dan manajemen menjalankan proses evaluasi yang lebih cepat, akurat, dan berbasis data.
Mulai dari satu modul yang paling dibutuhkan, tanpa harus mengubah sistem yang sudah ada. Tidak perlu mengganti HRIS Anda. Cukup tingkatkan cara Anda mengelola dan mengembangkan kinerja karyawan.
Jadwalkan demo Mekari Talenta sekarang dan lihat bagaimana Performance Management dapat berjalan lebih efektif dalam skala yang lebih besar.
Reference
Re-Engineering Performance Management – Gallup
Case Study: Why Adobe killed off the annual performance review – CMI
Performance Management at Deloitte: Frequent, Holistic, and Growth-Oriented – Deel
