Siapa yang tidak menikmati cuti berbayar? Tidak masuk kerja dengan alasan tertentu, namun tetap mendapat gaji sama seperti hari kerja, bukankah itu sebuah ‘anugrah’ kecil untuk karyawan? Lalu apakah perusahaan harus membayarkan gaji untuk karyawan yang melakukan hal ini? Lalu bagaimana dengan sebaliknya? Bagaimana dengan cuti tak berbayar? Apakah ada regulasi bakunya?

Mungkin masih ada banyak pertanyaan untuk Anda yang berposisi sebagai pengelola perusahaan atau staff HR yang baru saja mendapatkan posisi tersebut. Di Indonesia sendiri memang cuti memiliki aturan atau regulasi yang cukup detail. Mulai dari cuti yang bersifat wajib dan tetap seperti cuti bersama ketika hari raya, cuti yang dilakukan secara serempak ketika ada ‘harpitnas’, atau bahkan cuti berbayar ketika harus melaksanakan kewajiban tertentu yang diatur dalam UU Ketenagakerjaan.

Cuti berbayar sendiri mengharuskan perusahaan untuk menghitung gaji ketika seorang karyawan tidak masuk kerja dengan alasan yang disebutkan dalam UU Ketenagakerjaan secara penuh. Namun sebagai gantinya, hak cuti yang dimiliki karyawan akan berkurang dan harus menunggu tahun mendatang untuk mengembalikan jumlah hak cuti yang dimilikinya.

Untuk pertanyaan selanjutnya mengenai cuti tak berbayar, hingga sekarang Indonesia belum memiliki regulasi yang baku dalam mengatur cuti ini. Untuk membahas sedikit mengenai cuti yang tidak ditanggung oleh perusahaan, mari simak pada bagian berikutnya.

Cuti untuk Kepentingan Pribadi

Perusahaan yang menerapkan cuti tak berbayar biasanya adalah perusahaan swasta. Cuti ini masih merupakan hak jika tercantum dalam kontrak kerja yang disepakati. Namun biasanya untuk memperoleh cuti ini, karyawan harus bekerja di perusahaan tersebut minimal dua tahun. Baru ketika memasuki tahun ketiga karyawan yang bersangkutan dapat menikmati hak cuti tidak berbayar untuk keperluan pribadinya.

Keperluan pribadi yang dimaksud misalnya saja menunggu anggota keluarga yang sedang berada di rumah sakit, mengikuti suami/istri bekerja di luar kota, menerima tawaran beasiswa yang mengharuskan meninggalkan pekerjaan dan lain sebagainya. Intinya, untuk keperluan yang tidak tercantum dalam Undang-Undang Ketenagakerjaan yang berlaku di Indonesia.

Seperti namanya, ketika karyawan mengambil cuti ini maka jumlah upah yang diterimanya berdasarkan jumlah kehadiran akan berkurang. Katakanlah dalam satu bulan karyawan memiliki hari kerja efektif selama 25 atau 26 hari. Ketika karyawan mengambil cuti yang tidak berbayar selama 2 hari, maka jumlah total upah berdasarkan hari kehadirannya akan dikurangi 2 hari kerja efektif.

Jumlah cuti tak berbayar idealnya adalah 1 hari setiap bulan, dan total selama 1 tahun bisa didapatkan sejumlah 12 hari. Biasanya jumlah cuti ini bisa diambil sekaligus untuk periode yang disetujui perusahaan. Dan pada kasus dimana karyawan baru menerima hak cuti tanpa bayaran setelah tahun ke 2, maka jumlah cutinya diakumulasikan.

Ketentuan dan Konsekuensi Cuti Tidak Berbayar

Ketentuan terkait dengan cuti bersama pada dasarnya kembali pada kebijakan yang dibuat oleh Anda sebagai pemilik perusahaan melalui bagian HR perusahaan. Mulai dari jumlahnya, prosedurnya, pengambilan maksimal, periode pengambilan dan lain sebagainya, semua tergantung pada kebijakan perusahaan. Seperti yang disampaikan sebelumnya, belum ada aturan baku terkait cuti tidak berbayar ini.

Konsekuensi yang harus ditanggung, selain dari pengurangan jumlah total perhitungan gaji, adalah kesediaan perusahaan untuk menerima kembali karyawan setelah mengambil cuti tak berbayar. Namun hal ini tidak bisa dilakukan sesuka hati, biasanya keputusan ini diambil jika karyawan melewati batas yang telah ditentukan tanpa ada kabar atau berita terkait kepergiannya. Jika hal ini terjadi, perusahaan bisa saja tidak menerima kembali karyawan yang kembali.

Prosedur Pengajuan

Cuti tidak berbayar seperti ini prosedur pengajuannya sama dengan cuti biasa. Pengajuan dilakukan beberapa hari atau minggu sebelumnya, ditinjau oleh bagian HR perusahaan kemudian disetujui oleh Anda selaku pemilik perusahaan. Persetujuan cuti yang diambil harus mengacu juga pada kalender cuti dan jumlah karyawan yang telah mengajukan cuti pada saat yang bersamaan. Tujuannya agar perusahaan tetap dapat beroperasi pada tingkat optimal minimum.

Pengajuan cuti seperti ini akan sangat terbantu dengan penggunaan layanan pengelolaan HR yang memiliki fitur tersebut. Nantinya karyawan bisa mengajukan cuti dengan lebih praktis melalui smartphone yang berisi aplikasi yang sama, dan prosesnya bisa dilaksanakan secara otomatis mulai dari pengajuan, peninjauan, hingga persetujuan. Fitur seperti ini telah menjadi satu standar untuk aplikasi atau layanan pengelolaan HR yang ada di Indonesia.

Talenta, sebagai salah satu layanan pengelolaan SDM di Indonesia, memiliki fitur ini. Dengan integrasi database pada setiap karyawan, memungkinkan bagian HRD untuk melakukan peninjauan pengajuan cuti dengan kalender cuti dan data cuti yang telah diajukan. Persetujuan atau penolakan juga dapat dilakukan dengan mudah, melalui aplikasi Talenta yang Anda miliki di perangkat Anda. Talenta juga memungkinkan pengajuan cuti yang diberikan karyawan untuk melalui beberapa tahap sebelum sampai di hadapan Anda untuk diberikan respon lebih lanjut. Daftar Talenta untuk mendapatkan berbagai kemudahan dalam pekerjaan HR, dan dapatkan demo gratisnya.

Apa yang bisa kami lakukan untuk Anda?

Miliki sistem HR tepercaya dengan mencoba Talenta sekarang! Ikuti 3 cara berikut tanpa rasa khawatir untuk mendapatkan sistem HR yang lebih mudah:

Jadwalkan Demo 1:1

Undang kami untuk datang ke kantor Anda dan berdiskusi lebih lanjut tentang Talenta.

Ikuti Demo

Ikuti Workshop Talenta

Datang dan bergabung di workshop untuk ketahui lebih lanjut tentang Talenta.

Daftar Workshop

Coba Demo Interaktif

Coba akun demo langsung dan temukan bagaimana Talenta dapat membantu Anda.

Coba Gratis
  • Indonesia
  • English
loading