12 mins read

Sistem HR Modular: Menyesuaikan Teknologi dengan Kebutuhan HR

sistem hr modular
Highlights
  • Sistem HR modular adalah pendekatan pengelolaan teknologi SDM yang membagi fungsi HR ke dalam modul-modul yang dapat dipilih sesuai kebutuhan.
  • Keunggulan sistem ini meliputi fleksibilitas pengembangan kapabilitas secara bertahap, penyesuaian kompleksitas organisasi, serta pengoptimalan investasi teknologi HR.

Seiring bertambahnya kebutuhan HR, banyak perusahaan menambah aplikasi baru untuk mengelola absensi, payroll, rekrutmen, hingga penilaian kinerja, sering kali tanpa memastikan semuanya saling terhubung.

Berdasarkan riset G2 terhadap 211 pemimpin HR, 69% organisasi masih mengelola sistem HR yang terfragmentasi di beberapa platform dan membutuhkan rekonsiliasi data secara manual, sementara hanya 18% yang sudah memakai satu sistem terpadu.

Temuan ini menunjukkan bahwa masalah banyak perusahaan bukan semata kurangnya fitur, melainkan alat dan modul HR yang tidak saling terhubung.

Sistem HR modular menjadi salah satu pendekatan untuk menjawab masalah tersebut, karena perusahaan bisa memilih modul sesuai kebutuhan dan menambahkan modul lain secara bertahap selama modul-modulnya terintegrasi.

Artikel ini membahas manfaat, jenis modul, dan perbedaan sistem HR modular dengan sistem all-in-one. Pembahasan mencakup cara memilih sistem, tantangan implementasi, serta contoh penerapannya di perusahaan enterprise.

Apa Itu Sistem HR Modular?

Sistem HR modular adalah pendekatan pengelolaan teknologi SDM yang membagi kapabilitas HR berdasarkan fungsi. Perusahaan dapat memilih modul sesuai kebutuhan dan menambahkannya seiring perkembangan organisasi.

Misalnya, perusahaan memulai dengan modul employee database dan payroll, lalu menambahkan performance management, recruitment, atau HR analytics.

Selain ketersediaan fitur, modularitas ditentukan oleh kemampuan modul bertukar data secara konsisten dan mendukung alur kerja HR tanpa duplikasi informasi.

Pendekatan ini memungkinkan perusahaan mempertahankan sistem yang masih relevan tanpa harus memigrasikan seluruh proses HR sekaligus. Namun, kemampuan menggunakan modul secara terpisah bergantung pada arsitektur dan ketentuan vendor, baik dalam satu platform maupun melalui integrasi aplikasi berbeda.

Mengapa Sistem HR Modular Relevan bagi Perusahaan Enterprise?

Perusahaan besar menghadapi perubahan kebutuhan tenaga kerja, struktur organisasi, dan proses bisnis yang tidak selalu terjadi bersamaan. 

Sistem HR modular membantu perusahaan mengelola perubahan tersebut tanpa harus mengganti seluruh kapabilitas teknologi sekaligus.

1. Mengembangkan Kapabilitas HR Secara Bertahap

Perusahaan dapat memulai dari fungsi yang paling mendesak, lalu menambahkan modul setelah proses awal berjalan stabil. Pendekatan ini membantu tim menetapkan prioritas, menguji hasil, dan menyesuaikan implementasi berdasarkan kebutuhan nyata.

Namun, roadmap dan perencanaan arsitektur tetap diperlukan agar penambahan modul tidak menciptakan sistem terpisah dengan integrasi yang semakin kompleks.

2. Menyesuaikan Sistem dengan Kompleksitas Organisasi

Perusahaan enterprise dapat memiliki beragam entitas hukum, lokasi operasional, kelompok pekerja, dan kebijakan internal. Sistem modular membantu menyesuaikan kapabilitas dengan kebutuhan setiap unit, tetapi tetap memerlukan standar data, kontrol akses, dan tata kelola yang konsisten di seluruh organisasi.

3. Mengoptimalkan Investasi Teknologi HR

Penerapan modul berdasarkan prioritas membantu perusahaan mengalokasikan anggaran sesuai kebutuhan bisnis tanpa harus mengimplementasikan semua kapabilitas sekaligus.

Namun, sistem modular tidak otomatis lebih murah. Biaya lisensi, implementasi, integrasi, pelatihan, dan dukungan vendor perlu dihitung untuk menilai total biaya investasi jangka panjang.

4. Melengkapi Sistem HR yang Sudah Berjalan

Jika sistem HR global atau aplikasi khusus yang digunakan masih memenuhi sebagian besar kebutuhan, perusahaan dapat menambahkan kapabilitas tertentu sebagai alternatif sebelum melakukan migrasi menyeluruh.

Keputusan ini tetap perlu mempertimbangkan kompleksitas integrasi, pengalaman pengguna, dan kapasitas tim IT dalam mengelola sistem tambahan.

Apa Saja Modul yang Umum Tersedia dalam Sistem HR Modular?

Modul dalam sistem HR modular dikelompokkan berdasarkan fungsi pengelolaan SDM. Ketersediaannya berbeda antarvendor, sehingga perusahaan perlu memeriksa cakupan produk sebelum menentukan kombinasi modul yang dibutuhkan.

1. Core HR dan Employee Database

Modul core HR menjadi fondasi pengelolaan data karyawan, termasuk identitas, jabatan, struktur organisasi, status kepegawaian, dan riwayat pekerjaan. 

Pada perusahaan enterprise, konsistensi data perlu didukung pengelolaan entitas, perubahan organisasi, dan hak akses yang tepat.

2. Payroll, Absensi, dan Workforce Management

Modul ini mendukung pengelolaan kehadiran, jadwal kerja, lembur, cuti, dan penggajian. Integrasi antarfungsi mengurangi pemindahan data manual, terutama bagi perusahaan dengan banyak lokasi dan pola kerja berbeda.

3. Recruitment dan Onboarding

Modul recruitment mendukung proses rekrutmen dari pembukaan lowongan hingga koordinasi wawancara, sedangkan onboarding mengelola persiapan karyawan baru, dokumen, dan orientasi. Integrasi dengan employee database membantu mengurangi penginputan ulang data ketika kandidat resmi menjadi karyawan.

4. Performance Management dan Talent Development

Modul performance management membantu perusahaan menetapkan sasaran, memantau pencapaian, dan mengevaluasi kinerja. 

Sementara itu, talent development mendukung pemetaan kompetensi, identifikasi potensi, dan perencanaan suksesi untuk menghubungkan kebutuhan kinerja saat ini dengan pengembangan tenaga kerja jangka panjang.

5. Learning, Compensation, dan Benefits

Modul learning mendukung pelatihan dan pengembangan kompetensi, sedangkan compensation dan benefits membantu mengelola remunerasi serta tunjangan sesuai kebijakan perusahaan. 

Perusahaan perlu memastikan dukungan terhadap alur persetujuan, pelaporan, dan integrasi dengan HR serta Finance.

Baca Juga: Membangun Strategi Kompensasi dan Benefit yang Efektif

6. Employee Self-Service dan Manager Self-Service

Employee self-service (ESS) memungkinkan karyawan mengakses informasi dan mengajukan kebutuhan administratif secara mandiri. 

Manager self-service membantu manajer menyetujui permintaan, seperti cuti, dan memantau informasi tim sesuai kewenangannya. Keduanya dapat mengurangi beban administratif HR jika alur persetujuan dan hak akses dirancang dengan tepat.

7. HR Analytics dan Reporting

Modul HR analytics mengolah data tenaga kerja menjadi laporan dan insight untuk pengambilan keputusan, seperti turnover, absensi, biaya tenaga kerja, komposisi tenaga kerja, dan indikator kinerja. Manfaatnya bergantung pada kualitas data, konsistensi definisi metrik, dan tata kelola data yang memadai

Sistem HR Modular vs. Sistem HR All-in-One

Sistem HR modular dan all-in-one sama-sama membantu perusahaan mengelola proses SDM secara digital, tetapi memiliki pendekatan berbeda dalam penyediaan fungsi. 

Sistem modular memungkinkan perusahaan memilih modul sesuai kebutuhan, sedangkan sistem all-in-one menggabungkan berbagai fungsi HR dalam satu platform.

Aspek Sistem HR Modular Sistem HR All-in-One
Arsitektur Fungsi HR dibagi menjadi modul yang dapat dipilih sesuai kebutuhan Berbagai fungsi HR tersedia dalam satu platform
Cakupan fungsi Dapat dimulai dari modul tertentu, lalu ditambah secara bertahap Mencakup berbagai proses HR, seperti administrasi, absensi, payroll, dan manajemen kinerja
Integrasi Bergantung pada integrasi antarmodul, terutama jika berasal dari vendor berbeda Umumnya lebih terpadu karena fungsi tersedia dalam satu ekosistem
Pengalaman pengguna Dapat konsisten jika modul terintegrasi dengan baik Cenderung lebih seragam dalam satu platform
Biaya total Bergantung pada modul yang dipilih, lisensi, implementasi, dan integrasi Bergantung pada paket, cakupan fitur, dan biaya implementasi
Fleksibilitas Memungkinkan penambahan fungsi secara bertahap sesuai kebutuhan Bergantung pada fleksibilitas platform dan opsi pengembangan fitur
Pengelolaan vendor Dapat melibatkan satu atau beberapa vendor

Sistem HR modular tidak selalu melibatkan banyak vendor karena modul dalam satu ekosistem dapat terintegrasi. 

Pemilihannya perlu mempertimbangkan kebutuhan perusahaan, kompleksitas proses HR, dan rencana pertumbuhan bisnis. Sistem modular cocok untuk penambahan fitur secara bertahap, sedangkan all-in-one mendukung pengelolaan berbagai proses HR dalam satu platform. 

Kapan Perusahaan Perlu Mengadopsi Sistem HR Modular?

Sistem HR modular layak dievaluasi ketika sistem saat ini belum memenuhi kebutuhan bisnis atau perusahaan menghadapi perubahan yang tidak memerlukan penggantian seluruh platform. Beberapa indikatornya meliputi:

1. Ada Kesenjangan Kapabilitas pada Sistem HR

Sistem yang ada mungkin memadai untuk administrasi dasar, tetapi belum mendukung kebutuhan analitik, talent management, atau workforce management yang lebih kompleks.

Jika kesenjangan ini menghambat proses bisnis, perusahaan dapat mengevaluasi penambahan modul dibandingkan migrasi seluruh platform.

2. Sistem HR Global atau Legacy Perlu Dipertahankan

Perusahaan multinasional mungkin perlu mempertahankan platform global untuk menjaga standar dan konsolidasi data, sementara kebutuhan operasional lokal memerlukan kapabilitas tambahan.

Solusi pelengkap dapat dipertimbangkan selama mampu terintegrasi dengan sistem utama tanpa menciptakan sumber data yang saling bertentangan.

3. Kebutuhan HR Berbeda Antarunit Bisnis

Perbedaan karakteristik tenaga kerja, proses persetujuan, dan kebutuhan pelaporan antarunit tidak selalu mengharuskan penggunaan sistem terpisah. Perusahaan perlu membedakan kebutuhan yang memerlukan konfigurasi khusus dari kebutuhan yang harus mengikuti standar korporat.

4. Kapabilitas Baru Dibutuhkan Tanpa Migrasi Menyeluruh

Migrasi seluruh sistem membutuhkan waktu, sumber daya, dan pengujian yang signifikan.

Jika kesenjangan hanya terdapat pada fungsi tertentu, penambahan modul dapat menjadi alternatif untuk dievaluasi dengan mempertimbangkan ketergantungan data, risiko transisi, dan kelayakan sistem lama dalam jangka panjang.

Bagaimana Cara Memilih Sistem HR Modular yang Tepat?

Pemilihan sistem HR modular memerlukan evaluasi lintas fungsi. HR menilai kebutuhan tenaga kerja, IT mengevaluasi arsitektur dan keamanan, Finance menghitung biaya, sedangkan stakeholder bisnis memastikan solusi mendukung prioritas operasional.

1. Petakan Kebutuhan dan Prioritas Bisnis

Identifikasi masalah, proses yang terdampak, dan hasil yang diharapkan. Bedakan kebutuhan wajib dari fitur tambahan agar evaluasi berfokus pada kebutuhan bisnis, bukan sekadar jumlah fitur.

Tetapkan indikator keberhasilan, seperti pengurangan proses manual, peningkatan akurasi data, atau tersedianya laporan yang dibutuhkan.

2. Evaluasi Arsitektur Data dan Kemampuan Integrasi

Periksa kemampuan modul bertukar data dengan sistem HR, payroll, ERP, dan aplikasi lain. Evaluasi ketersediaan API, mekanisme sinkronisasi, frekuensi pembaruan, serta penanganan kegagalan integrasi.

Tentukan sistem yang menjadi sumber utama setiap jenis data untuk mencegah duplikasi dan perbedaan informasi karyawan.

3. Periksa Keamanan dan Tata Kelola Data

Evaluasi kontrol akses berbasis peran, pencatatan aktivitas, pengelolaan perubahan data, serta mekanisme pencadangan dan pemulihan. Periksa juga lokasi penyimpanan, akses vendor, dan kesesuaian pengelolaan data dengan kewajiban hukum yang berlaku.

4. Hitung Total Cost of Ownership

Hitung biaya sepanjang siklus penggunaan, termasuk lisensi, implementasi, konfigurasi, integrasi, migrasi data, pelatihan, dukungan, dan pemeliharaan.

Bandingkan biaya penambahan modul dengan biaya mempertahankan proses manual atau menyesuaikan sistem yang ada untuk menilai investasi secara realistis.

5. Evaluasi Skalabilitas dan Dukungan Vendor

Pastikan sistem mampu mengikuti pertumbuhan jumlah karyawan, perubahan struktur organisasi, dan kebutuhan bisnis. Tinjau kualitas dukungan vendor, penanganan masalah, serta roadmap produk.

Periksa apakah penambahan modul di masa depan memerlukan perubahan arsitektur atau kontrak baru yang signifikan.

6. Pastikan Pengalaman Pengguna dan Reporting Konsisten

Uji kemudahan navigasi, alur persetujuan, dan konsistensi informasi bagi HR, manajer, serta karyawan. Pastikan laporan lintas fungsi menggunakan definisi metrik yang selaras.

Gunakan demonstrasi berbasis skenario nyata untuk menilai kemampuan sistem, bukan hanya mengandalkan daftar fitur vendor.

Apa Tantangan dalam Mengimplementasikan Sistem HR Modular?

Fleksibilitas sistem modular tetap memiliki tantangan. Perusahaan perlu mengantisipasi risiko sejak awal agar penambahan kapabilitas tidak menciptakan kompleksitas baru.

1. Integrasi Data dan Sistem

Perbedaan format data, mekanisme sinkronisasi, dan arsitektur aplikasi dapat menghambat pertukaran informasi. Mitigasinya meliputi perencanaan integrasi, dokumentasi aliran data, dan pengujian skenario kegagalan.

2. Fragmentasi dan Inkonsistensi Data

Penyimpanan data yang sama di beberapa modul tanpa aturan jelas dapat menimbulkan perbedaan informasi karyawan. Tetapkan sumber data utama, standar identitas karyawan, dan pemilik data untuk setiap proses.

3. Biaya Kumulatif dan Pengelolaan Vendor

Penambahan modul dapat meningkatkan biaya lisensi, dukungan, dan integrasi. Evaluasi total cost of ownership (TCO) secara berkala untuk memastikan setiap modul memberikan manfaat yang sepadan.

4. Adopsi Pengguna dan Perubahan Proses

Modul baru dapat mengubah alur kerja HR, manajer, dan karyawan. Libatkan pengguna sejak tahap desain, berikan pelatihan sesuai peran, dan siapkan dukungan selama transisi.

5. Keamanan Data dan Kontrol Akses

Aplikasi dan koneksi tambahan memperluas kebutuhan pengawasan akses. Terapkan prinsip hak akses minimum, pengujian keamanan, audit berkala, dan prosedur pencabutan akses ketika peran atau status karyawan berubah.

Bagaimana Mengimplementasikan Sistem HR Modular Secara Bertahap?

Implementasi bertahap memerlukan roadmap yang jelas agar penambahan modul tetap mendukung arsitektur jangka panjang. Berikut tahapan yang dapat diterapkan perusahaan.

1. Tetapkan Sasaran dan Ruang Lingkup

Tentukan masalah bisnis, proses yang akan diperbaiki, indikator keberhasilan, dan stakeholder yang bertanggung jawab. Dokumentasikan pula batasan implementasi serta sistem yang harus tetap berjalan.

2. Tentukan Modul Prioritas dan Ketergantungannya

Pilih modul berdasarkan dampak bisnis, urgensi, dan kesiapan data. Petakan ketergantungan antarmodul agar implementasi tidak mendahului ketersediaan data dasar yang dibutuhkan.

3. Rancang Integrasi dan Tata Kelola Data

Tetapkan sumber data utama, standar informasi karyawan, mekanisme sinkronisasi, dan hak akses. Dokumentasikan integrasi serta pembagian tanggung jawab antara HR, IT, Finance, dan unit bisnis terkait.

4. Uji Implementasi pada Lingkup Terbatas

Lakukan uji coba pada proses, unit, atau kelompok pengguna terpilih. Evaluasi akurasi data, alur persetujuan, keamanan, pelaporan, dan penanganan kendala sebelum memperluas penggunaan.

5. Evaluasi Hasil dan Perluas Penggunaan

Bandingkan hasil dengan indikator keberhasilan, perbaiki kendala, dan kumpulkan umpan balik pengguna. Perluas penggunaan jika modul sudah siap atau lakukan penyesuaian jika masih ditemukan masalah.

Jadikan evaluasi berkala sebagai bagian dari roadmap agar implementasi bertahap tidak berkembang menjadi kumpulan aplikasi yang sulit dikelola.

Contoh Penerapan Sistem HR Modular di Perusahaan Enterprise

Berikut tiga skenario ilustratif penerapan sistem HR modular di perusahaan besar. Contoh ini bukan studi kasus perusahaan tertentu, melainkan gambaran situasi yang mungkin dihadapi organisasi.

1. Perusahaan dengan Sistem HR Global

Perusahaan mempertahankan sistem inti global untuk data karyawan dan pelaporan korporat, tetapi membutuhkan kapabilitas rekrutmen tambahan di tingkat lokal. Solusi rekrutmen yang terintegrasi dengan sistem global dapat menjadi alternatif.

Sebelum implementasi, perusahaan perlu menetapkan aliran data, hak akses, dan tanggung jawab pengelolaan informasi agar tidak terjadi konflik data.

2. Perusahaan dengan Banyak Entitas atau Unit Bisnis

Perusahaan dapat memperluas penggunaan modul workforce management secara bertahap, dimulai dari unit dengan kebutuhan paling mendesak. 

Setelah hasil uji coba dievaluasi, implementasi dapat diperluas dengan tetap menjaga standar data, hak akses, dan pelaporan korporat.

Baca Juga: Memahami Workforce Management untuk Mengoptimalkan Tenaga Kerja

3. Perusahaan yang Ingin Memodernisasi Sebagian Proses HR

Perusahaan dengan sistem HR lama dapat menambahkan kapabilitas HR analytics tanpa harus mengganti seluruh sistem. Namun, kualitas data, kesiapan integrasi, dan konsistensi metrik perlu dipastikan agar hasil analisis dapat diandalkan.

Sistem HR modular memberi fleksibilitas untuk mengembangkan teknologi SDM secara bertahap, selama modul yang dipilih sesuai kebutuhan bisnis dan tetap menjaga integrasi serta tata kelola data.

Bangun Sistem HR yang Fleksibel dengan Solusi Modular Mekari Talenta

Setiap perusahaan memiliki kebutuhan pengelolaan SDM yang berbeda dan dapat berkembang seiring pertumbuhan bisnis. Karena itu, perusahaan membutuhkan sistem HR yang fleksibel agar dapat menyesuaikan penggunaan fitur dengan kebutuhan operasional tanpa harus mengadopsi seluruh modul sekaligus jika belum diperlukan.

Sistem HR modular dari Mekari Talenta memungkinkan perusahaan memilih solusi HR sesuai kebutuhan dan mengembangkannya seiring perubahan prioritas bisnis. Pendekatan ini membantu perusahaan menyesuaikan sistem dengan proses kerja yang berjalan sekaligus mendukung pengelolaan SDM yang lebih terstruktur.

Dengan sistem HR modular, perusahaan dapat menerapkan teknologi HR secara bertahap sesuai kebutuhan, baik untuk mendukung administrasi karyawan, pengelolaan kehadiran, maupun proses payroll. Pemilihan modul yang tepat juga membantu perusahaan memprioritaskan investasi teknologi pada kebutuhan HR yang paling mendesak.

Pelajari lebih lanjut solusi HR modular Mekari Talenta untuk menemukan pendekatan pengelolaan SDM yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan Anda. Hubungi tim Mekari Talenta untuk mendiskusikan solusi yang tepat bagi bisnis Anda.


Referensi

  1. Deel. (n.d.). The HR tech consolidation report.
  2. G2 Research. (2026). How HR software buying logic is changing in 2026.
  3. Sapient Insights Group. (2025). 28th annual 2025–2026 HR systems survey: Key findings.
  4. Society for Human Resource Management. (n.d.). When it makes sense to augment HCM suites with best-of-breed systems.
  5. The Futurum Group. (n.d.). Workday, SAP SuccessFactors, Oracle HCM dominate HR/employee experience market.

Frequently Asked Questions (FAQ)

Siapa yang sebaiknya menjadi pemilik utama sistem HR modular di perusahaan?

Siapa yang sebaiknya menjadi pemilik utama sistem HR modular di perusahaan?

Kepemilikan sistem HR modular sebaiknya ditetapkan melalui pembagian tanggung jawab antara HR, IT, dan pemilik proses bisnis. HR menentukan kebutuhan fungsional dan prioritas pengelolaan SDM, sedangkan IT mengawasi aspek teknis, integrasi, serta keamanan sistem. Pemilik proses bisnis memastikan modul yang digunakan mendukung kebutuhan operasional. Perusahaan juga perlu menunjuk pihak yang bertanggung jawab atas keputusan perubahan sistem dan koordinasi dengan vendor.

Bagaimana cara menentukan apakah modul HR yang sudah digunakan masih layak dipertahankan?

Bagaimana cara menentukan apakah modul HR yang sudah digunakan masih layak dipertahankan?

Perusahaan perlu menilai apakah modul tersebut masih memenuhi kebutuhan pengguna dan mendukung proses bisnis yang berjalan. Evaluasi dapat mencakup tingkat penggunaan, kendala operasional, kualitas dukungan vendor, serta kemampuan sistem mengikuti perubahan kebutuhan. Bandingkan juga biaya pemeliharaan dengan manfaat yang diberikan dan alternatif yang tersedia. Jika modul masih relevan, perbaikan konfigurasi atau integrasi mungkin lebih tepat daripada menggantinya.

Apa yang perlu dilakukan jika vendor menghentikan dukungan terhadap modul HR tertentu?

Apa yang perlu dilakukan jika vendor menghentikan dukungan terhadap modul HR tertentu?

Perusahaan perlu meminta informasi resmi mengenai jadwal penghentian dukungan dan dampaknya terhadap operasional. Identifikasi proses, data, serta integrasi yang bergantung pada modul tersebut. Selanjutnya, susun rencana transisi yang mencakup alternatif solusi, migrasi data, pengujian, dan kebutuhan pelatihan pengguna. Pastikan kontrak vendor dan ketentuan akses data juga diperiksa agar proses perpindahan dapat dilakukan dengan terkendali.

Bagaimana perusahaan menghindari ketergantungan berlebihan pada satu vendor sistem HR?

Bagaimana perusahaan menghindari ketergantungan berlebihan pada satu vendor sistem HR?

Perusahaan dapat mengevaluasi ketentuan kontrak, kepemilikan data, serta kemampuan mengekspor data dalam format yang dapat digunakan kembali. Periksa juga ketersediaan dokumentasi integrasi dan prosedur pemindahan data jika perusahaan beralih ke solusi lain. Sebelum menandatangani kontrak, pastikan biaya penghentian layanan dan batasan penggunaan data dipahami dengan jelas. Langkah ini membantu perusahaan mempertahankan fleksibilitas tanpa harus menghindari penggunaan satu ekosistem vendor sepenuhnya.

Seberapa sering perusahaan perlu mengevaluasi portofolio modul HR yang digunakan?

Seberapa sering perusahaan perlu mengevaluasi portofolio modul HR yang digunakan?

Evaluasi dapat dilakukan setidaknya setiap tahun dan ketika terjadi perubahan besar dalam strategi bisnis, struktur organisasi, atau teknologi. Tinjau apakah setiap modul masih digunakan secara efektif, memenuhi kebutuhan pengguna, dan memberikan manfaat yang sepadan dengan biayanya. Perusahaan juga perlu memeriksa apakah ada fungsi yang tumpang tindih atau kebutuhan baru yang belum terakomodasi. Hasil evaluasi dapat digunakan untuk menentukan modul yang perlu dipertahankan, ditingkatkan, ditambahkan, atau dihentikan.

WhatsApp Hubungi sales