Mengenal “Fraud Triangle” dalam Lingkungan Kerja

Mengenal “Fraud Triangle” dalam Lingkungan Kerja

Pernahkah Anda menonton film Catch Me If You Can yang dibintangi oleh Leonardo diCaprio? Film tersebut menceritakan bagaimana usaha seorang anak dalam bertahan hidup setelah keluarganya hancur dengan melakukan kejahatan masif berupa pemalsuan cek, dokumen, paspor serta penipuan uang. Apa yang dilakukan oleh Leonardo adalah bagian dari teori fraud triangle.

Tinggalkan HR dan payroll manual, saatnya beralih ke Aplikasi HRIS Talenta dengan fitur absensi online, payroll dan fitur yang mempermudah pekerjaan HRD lainnya.

 

Apa itu Fraud Triangle?

Sebelum mengenal apa itu fraud triangle, Anda harus tahu apa itu fraud. Fraud sendiri adalah upaya yang dilakukan sedemikian rupa untuk menguntungkan diri sendiri, kelompok tertentu, instansi, dan manajemen secara ilegal (melanggar hukum dan etika masyarakat). Seseorang dalam melakukan fraud pasti memiliki dorongan dan skema yang disebut dengan fraud triangle.

Fraud triangle adalah skema atau gagasan dalam mengamati penyebab terjadinya kecurangan. Skema ini sendiri pertama kali diperkenalkan oleh Donald R. Cressey (1953) dalam literatur profesional SAS No. 99 yang dinamakan dengan fraud triangle.

Donald R. Cressey (1973) dalam bukunya juga Other’s People Money mengatakan bahwa, “orang-orang tepercaya bisa saja menjadi pelanggar kepercayaan ketika mereka tidak terbuka dengan masalah keuangan yang sedang mereka hadapi dan dengan sadar melakukan pelanggaran dan memanfaatkan posisi mereka saat ini. Orang-orang tersebut juga dengan sadar membujuk dan meyakinkan orang lain untuk mengandalkan mereka pada setiap proyek dan mengambil keuntungan dari proyek tersebut”.

 

Tahapan Fraud Triangle

Dalam analisis Fraud triangle memiliki tiga tahapan. Tahapan itu terdiri dari dorongan, Pressure/incentive, opportunity, dan Rationalize. Tahapan-tahapan tersebut saling berkaitan, misalnya orang tidak akan memiliki kesempatan jika memang tidak ada niat untuk melakukannya, atau orang tersebut tidak akan melakukan fraud jika memang tidak memiliki kesempatan dan juga niat.

Penjelasan mengenai tiga tahapan fraud triangle adalah sebagai berikut.

1. Pressure/Incentive

Pressure atau Incentive dapat dikatakan sebagai niat atau tekanan. Niat untuk melakukan penyelewengan dapat dialami oleh individu atau kelompok tertentu. Tekanan ini muncul karena individu atau kelompok tertentu mengalami masalah dan juga tidak terbukanya pada lingkungan sekitar. Masalah yang cenderung sulit dipecahkan dengan hanya mengutarakan dengan orang lain atau mediasi hukum sehingga terpicu untuk melakukan penyelewengan atau fraud.

Masalahnya yang terjadi pada individu biasanya adalah utang/piutang, kebiasaan gaya hidup yang tinggi dan salah, masalah finansial keluarga, tindak kejahatan lainnya di luar kantor, PHK, dan kesehatan. Sedangkan yang dapat terjadi pada kelompok, misalnya, bisnis yang tidak lancar, dan juga membangun nama baik usaha.

Masalah fraud juga bukan tentang penyelewengan uang. Incentive untuk melakukan fraud juga disebabkan untuk menjatuhkan rekan kerja. Biasanya hal ini dilakukan bagaimana orang tersebut dapat dilengserkan dari jabatan bahkan dikeluarkan dari perusahaan.

2. Opportunity

Opportunity adalah kesempatan karena situasi memungkinkan untuk melakukan praktik fraud. Kesempatan dalam melakukan fraud biasanya terjadi karena,

  1. kontrol perusahaan yang lemah, 
  2. tidak adanya standar regulasi yang baik pada instansi, 
  3. situasi kerja yang kurang kondusif,
  4. adanya multi jobdesk atau wewenang yang tinggi, lemahnya peraturan di suatu negara.

Berbagai kesempatan fraud dapat terjadi misalnya ketika seseorang itu menjabat sebagai penanggungjawab, memiliki job-desc ganda, bekerja pada bagian pembelian dan supply, atau ketika Anda bekerja sebagai pekerja lapangan dengan melakukan reimbursement mark-up.

3. Rationalize

Dalam tahap ini orang akan membenarkan tindakan fraud secara etis. Biasanya dalam merasionalkan tindakan penyelewengan, fraudster (orang yang melakukan fraud) memiliki situasi yang memang cukup menekan sehingga segala tindak kejahatan pun menjadi hal yang wajar baginya. Para fraudster akan mengutarakan segala alasan untuk membenarkan sikapnya.

Fraud Diamond: Capability

Pada tahun 2004, David T. Wolf dan Dana R. Hermanson dalam jurnal The Fraud Diamond: Considering Four Elements of Fraud  menambahkan poin tambahan pada fraud triangle, yaitu capability atau kemampuan seseorang dalam melakukan fraud

Dalam jurnalnya, David dan Dana menjelaskan bahwa seseorang tidak mungkin melakukan fraud jika tidak memiliki keahlian dalam melakukan fraud. Terlebih saat ini, penggunaan teknologi dalam dunia kerja sudah diterapkan oleh banyak perusahaan atau instansi. Kemampuan yang dimiliki dapat berupa programming, menulis, atau mampu membujuk dan meyakinkan orang lain.

Kemampuan juga tidak dilihat secara teknis, namun watak. Watak dianggap sebagai kemampuan karena mampu mendorong seseorang untuk melakukan tindakan fraud. Misalnya saja, kerakusan, hedonisme, sombong, dan lain sebagainya. Fraud masih menjadi masalah yang sering terjadi  baik pada internal kerja maupun pada dunia bisnis secara keseluruhan.

Baca juga: Ini Skill yang Harus Dimiliki Millenial tahun 2020

 

Potensi Fraud di Lingkungan Kerja

Mengetahui potensi adanya fraud di lingkungan kerja dapat dilakukan dengan analisis lingkaran 10-80-10. Bagi Anda seorang auditor atau human resource manager Anda dapat menerapkan analisis tersebut. Analisis ini menggambarkan bagaimana watak, loyalitas, dan juga integritas karyawan di perusahaan Anda. Penggambaran dan analisis dapat dibagi; 10% elite, 80% defiant, 10% resistant bottom.

  • 10% elite

Dalam lingkaran 10-80-10 mereka berada pada inti lingkaran. Karyawan yang berada pada bagian ini adalah orang-orang yang sangat loyal dengan perusahaan, mencurahkan seluruh hidupnya untuk pekerjaannya. Biasanya orang-orang pada bagian ini adalah pemilik usaha. Orang-orang ini sangat tidak mungkin untuk melakukan fraud.

  • 80% defiant

Orang-orang pada bagian ini biasanya sangat patuh dengan peraturan dan lingkungan kerja. Mereka cenderung mencurahkan seluruh kemampuannya kepada pekerjaan. Orang-orang ini juga sulit untuk melakukan fraud, namun tidak menutup kemungkinan untuk melakukan penyelewengan akibat pengaruh fraud triangle.

  • 10% resistant bottom

Orang-orang ini biasanya orang yang memiliki jabatan rendah atau orang-orang yang malas dalam melakukan pekerjaan. Biasanya karyawan yang berada di area ini tidak memiliki etika dalam bekerja. Orang yang berada di area ini selalu mencari cara untuk melakukan tindakan fraud. Malas dalam bekerja pun termasuk tindakan fraud, loh!

 

Mengatasi Potensi Fraud Triangle di Lingkungan Kerja

Berdasarkan rasio 10-80-10, Anda dapat mengubah persentase angka pada tiap lingkaran untuk mengurangi potensi adanya fraud. Orang-orang pada golongan resistant bottom, dapat diatasi dengan motivasi, pelatihan soft skill, atau jika orang-orang ini tidak mengalami perubahan perilaku, Anda dapat memberikan surat peringatan atau berakhir dengan pemecatan. Sedangkan untuk karyawan defiant, Anda hanya perlu mempertahankan loyalitas dan prestasi mereka dengan mengadakan insentif, outing, dan juga meningkatkan fasilitas kerja.

Untuk memaksimalkan dalam mengatasi potensi fraud, Albrecht bersaudara dan Zimbelman (2009) dalam bukunya Fraud Examination menyarankan perusahaan untuk melakukan hal-hal berikut:

  1. Memiliki sistem pengendalian yang baik.
  2. Meningkatkan arus komunikasi dan informasi yang baik.
  3. Menganalisis penilaian risiko.
  4. Memiliki aktivitas dan lingkungan pengendalian yang baik salah satunya adalah melakukan perekrutan calon karyawan yang memperhatikan etika dan kerjasama.
  5. Melakukan Pengawasan.

Untuk memaksimalkan sistem pengendalian dan arus informasi kepada internal perusahaan, Anda dapat menggunakan teknologi software HRIS. Dengan menggunakan software HRIS Anda dapat melakukan otomatisasi dalam pengendalian dan pengaturan sumber daya perusahaan. 

Salah satu software terbaik dalam pengelolaan HRIS adalah Talenta. Talenta selalu menjadikan inovasi teknologi dan sekuritas data pelanggan sebagai prioritas mereka sehingga produk-produk software HR milik Talenta tidak perlu diragukan lagi kualitasnya. Segera daftarkan perusahaan Anda untuk berlangganan software HR dari Talenta untuk hasil kerja HR yang lebih baik.


PUBLISHED21 Feb 2020
Hafidh
Hafidh