- Turnover karyawan adalah proses keluar-masuknya tenaga kerja dalam suatu organisasi selama periode tertentu, baik karena keputusan karyawan maupun keputusan perusahaan.
- Perusahaan dapat mencegah turnover tinggi dengan meningkatkan employee engagement, menyediakan jalur pengembangan karier yang jelas, serta menciptakan sistem kerja dan lingkungan kerja yang lebih sehat.
Anda pasti sering mendengar istilah tingkat turnover karyawan, tetapi tidak semua perusahaan memahami implikasinya secara menyeluruh dalam pengelolaan tenaga kerja.
Secara sederhana, turnover karyawan adalah proses keluar-masuknya karyawan dalam suatu organisasi selama periode waktu tertentu.
Dalam praktik manajemen SDM, turnover sebenarnya merupakan fenomena yang wajar dan sulit dihindari karena dinamika kebutuhan tenaga kerja dan perkembangan karier karyawan.
Pada tingkat yang sehat, pergantian karyawan bahkan dapat membantu organisasi melakukan penyegaran kompetensi serta menyesuaikan kebutuhan talenta dengan strategi bisnis.
Namun jika terjadi terlalu sering, turnover yang tinggi dapat mengganggu stabilitas tim, meningkatkan biaya rekrutmen, serta memengaruhi keberlangsungan operasional perusahaan.
Apa itu Turnover Karyawan?
Secara umum, turnover karyawan adalah aktivitas pergantian tenaga kerja dalam suatu organisasi yang terjadi karena berbagai faktor tertentu.
Perpindahan ini dapat terjadi baik secara sukarela maupun karena keputusan perusahaan, seperti pemutusan hubungan kerja atau restrukturisasi organisasi.
Dalam konteks manajemen SDM modern, fenomena ini sering disebut sebagai employee turnover, yaitu proses keluar-masuknya karyawan dalam siklus tenaga kerja perusahaan.
Apa Itu Turnover Rate?
Tingkat turnover karyawan atau labor turnover rate adalah ukuran yang digunakan untuk melihat intensitas pergantian karyawan dalam periode tertentu.
Pengukuran ini biasanya dilakukan secara berkala, misalnya secara bulanan atau tahunan, untuk melihat tren pergerakan tenaga kerja di dalam perusahaan.
Data tersebut membantu tim HR memahami apakah perusahaan mengalami stabilitas tenaga kerja atau justru menghadapi tingkat perputaran yang tinggi.
Turnover yang tinggi sering kali menjadi sinyal adanya permasalahan dalam organisasi, mulai dari ketidakpuasan kerja hingga kurangnya kesempatan pengembangan karier.
Sebaliknya, tingkat turnover yang sehat dapat menunjukkan bahwa perusahaan mampu mempertahankan talenta sekaligus tetap membuka ruang bagi regenerasi tenaga kerja.
Namun jika tingkat turnover terlalu tinggi, perusahaan dapat mengalami kerugian yang cukup signifikan.
Selain kehilangan tenaga kerja berpengalaman, perusahaan juga harus menanggung biaya tambahan untuk proses rekrutmen, pelatihan, serta adaptasi karyawan baru.
Baca Juga: Atasi Masalah Kinerja Karyawan agar Kembali Optimal Bekerja
Jenis Turnover Karyawan
Pada dasarnya terdapat beberapa jenis turnover karyawan yang dapat diklasifikasikan berdasarkan berbagai pendekatan, seperti tingkat kesukarelaan, tingkat pengendalian organisasi, maupun dampaknya terhadap kinerja perusahaan.
Jenis Turnover berdasarkan Tingkat Fungsinya
Dalam praktik manajemen SDM, salah satu klasifikasi yang sering digunakan adalah berdasarkan tingkat fungsinya terhadap organisasi.
Klasifikasi ini membantu perusahaan memahami apakah pergantian karyawan memberikan dampak positif atau justru merugikan organisasi.
Berdasarkan tingkat fungsi tersebut, turnover karyawan umumnya dibagi menjadi dua jenis utama, yaitu turnover fungsional dan turnover disfungsional.
1. Turnover Fungsional
Turnover fungsional terjadi ketika pergantian karyawan tidak memberikan dampak negatif terhadap kinerja perusahaan.
Dalam beberapa kondisi, turnover jenis ini bahkan dapat memberikan manfaat bagi organisasi.
Hal ini biasanya terjadi ketika karyawan yang keluar memiliki kinerja yang kurang optimal.
Pergantian tenaga kerja memungkinkan perusahaan mendapatkan talenta baru yang memiliki kompetensi lebih sesuai dengan kebutuhan organisasi.
Dengan demikian, perusahaan memiliki kesempatan untuk meningkatkan kualitas tim serta memperbaiki produktivitas kerja secara keseluruhan.
2. Turnover Disfungsional
Sebaliknya, turnover disfungsional adalah jenis turnover yang cenderung merugikan perusahaan.
Pergantian karyawan dalam kondisi ini dapat memberikan dampak signifikan terhadap stabilitas organisasi.
Hal ini biasanya terjadi ketika karyawan yang keluar memiliki kinerja yang baik serta memberikan kontribusi penting bagi perusahaan.
Selain itu, kehilangan sosok pemimpin atau karyawan berpengaruh juga dapat mengganggu koordinasi tim serta proses pengambilan keputusan.
Karyawan yang memiliki pengalaman, kompetensi tinggi, dan pemahaman mendalam mengenai proses bisnis perusahaan biasanya memegang peran strategis dalam organisasi.
Ketika karyawan tersebut meninggalkan perusahaan, organisasi berpotensi kehilangan pengetahuan kerja yang tidak mudah digantikan dalam waktu singkat.
Jenis Turnover berdasarkan Tingkat Kesukarelaan
Sementara itu, berdasarkan siapa yang memutuskan keluar, jenis turnover dapat dibagi menjadi:
1. Turnover Sukarela (Voluntary Turnover)
Turnover sukarela terjadi ketika karyawan memutuskan sendiri untuk meninggalkan perusahaan.
Keputusan ini biasanya dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti peluang karier yang lebih baik, kompensasi yang lebih tinggi, keinginan untuk mendapatkan pengalaman baru, atau ketidakpuasan terhadap lingkungan kerja.
Dalam organisasi dengan struktur tim yang kompleks, voluntary turnover perlu dipantau secara serius karena sering kali melibatkan karyawan yang memiliki kompetensi tinggi atau pengalaman penting.
Jika banyak karyawan berkinerja baik keluar secara sukarela, hal ini dapat menjadi indikator adanya masalah pada sistem manajemen, budaya kerja, atau strategi pengembangan talenta.
2. Turnover Tidak Sukarela (Involuntary Turnover)
Berbeda dengan turnover sukarela, involuntary turnover terjadi ketika perusahaan yang mengambil keputusan untuk mengakhiri hubungan kerja dengan karyawan.
Hal ini biasanya disebabkan oleh beberapa faktor seperti kinerja yang tidak memenuhi standar, pelanggaran kebijakan perusahaan, restrukturisasi organisasi, hingga efisiensi tenaga kerja.
Dalam beberapa situasi, turnover jenis ini merupakan bagian dari strategi perusahaan untuk menjaga kualitas kinerja tim.
Namun jika terjadi terlalu sering, involuntary turnover juga dapat menimbulkan dampak negatif terhadap moral tim dan persepsi karyawan terhadap stabilitas organisasi.
Proses Terjadinya Turnover Karyawan
Pada pembahasan kali ini, proses terjadinya turnover akan dijelaskan dari sudut pandang karyawan.
Pendekatan ini membantu perusahaan memahami bagaimana pengalaman kerja memengaruhi keputusan seseorang untuk tetap bertahan atau meninggalkan organisasi.
1. Evaluasi
Tahap pertama dalam proses terjadinya turnover adalah fase evaluasi yang dilakukan oleh karyawan terhadap lingkungan kerja mereka.
Pada tahap ini karyawan mulai menilai berbagai aspek pekerjaan selama mereka bekerja di perusahaan tersebut. Penilaian ini biasanya terjadi secara bertahap seiring bertambahnya masa kerja.
Dalam banyak kasus, karyawan baru mulai merasakan secara lebih jelas budaya kerja dan tekanan pekerjaan setelah sekitar enam bulan bekerja. Pada periode ini, mereka mulai memahami bagaimana sistem kerja perusahaan berjalan.
Karyawan biasanya mengevaluasi berbagai hal seperti kualitas kerja sama tim, hubungan dengan atasan, sistem kerja yang diterapkan perusahaan, serta apakah organisasi memberikan dukungan terhadap kesejahteraan karyawan.
Selain itu karyawan juga mulai menilai rutinitas pekerjaan yang mereka jalani setiap hari.
Jika pekerjaan dirasa terlalu monoton atau tidak memberikan tantangan yang berarti, hal ini dapat memengaruhi kepuasan kerja mereka.
Evaluasi yang dilakukan karyawan juga sering kali berkaitan dengan persepsi terhadap peluang pengembangan karier di perusahaan tersebut.
Jika karyawan merasa bahwa perusahaan memberikan kesempatan belajar dan berkembang, mereka cenderung memiliki motivasi lebih tinggi untuk bertahan.
Sebaliknya jika mereka merasa sistem kerja tidak mendukung perkembangan profesional, maka evaluasi tersebut dapat memicu keinginan untuk mencari peluang baru di tempat lain.
2. Keputusan
Setelah melalui proses evaluasi, karyawan akan memasuki tahap berikutnya yaitu tahap pengambilan keputusan.
Pada tahap ini karyawan mulai mempertimbangkan dua pilihan utama, yaitu tetap bertahan di perusahaan atau mencari peluang pekerjaan baru.
Fase ini sering kali ditandai dengan perubahan perilaku kerja karyawan. Dalam beberapa kasus, karyawan mulai menunjukkan penurunan performa kerja karena fokus mereka terbagi dengan proses pencarian pekerjaan baru.
Karyawan juga mulai aktif mencari informasi mengenai peluang karier di luar perusahaan.
Hal ini bisa dilakukan melalui jaringan profesional, platform pencarian kerja, maupun rekomendasi dari rekan kerja.
Dalam organisasi dengan struktur kerja kompleks, fase ini sering kali tidak terlihat secara langsung oleh manajemen.
Namun jika tidak dikelola dengan baik, keputusan karyawan untuk meninggalkan perusahaan dapat terjadi secara tiba-tiba tanpa adanya sinyal peringatan yang jelas.
Oleh karena itu perusahaan perlu memiliki sistem monitoring terhadap kepuasan kerja karyawan agar dapat mendeteksi potensi turnover sejak tahap awal.
3. Pengajuan Keluar
Tahap terakhir dalam proses turnover adalah tahap pengajuan keluar atau pengunduran diri dari karyawan.
Pada tahap ini, karyawan secara resmi menyampaikan keputusan mereka untuk meninggalkan perusahaan kepada atasan langsung atau tim HR.
Biasanya, proses ini diawali dengan komunikasi kepada pimpinan tim sebelum dilanjutkan dengan prosedur administrasi resmi kepada departemen HR.
Dalam situasi ini perusahaan perlu mengambil langkah yang tepat untuk mengelola proses transisi secara profesional.
Salah satu langkah penting yang perlu dilakukan adalah melakukan exit interview dengan karyawan yang akan meninggalkan perusahaan.
Komunikasi ini bertujuan untuk mendengarkan masukan serta memahami dinamika kerja yang mungkin menjadi faktor penyebab keputusan resign tersebut.
Masukan dari anggota tim dapat menjadi sumber informasi penting bagi perusahaan dalam memperbaiki sistem kerja dan membangun lingkungan kerja yang lebih sehat.
Faktor Penyebab Turnover Rate Tinggi
Secara umum, faktor penyebab turnover dapat dikelompokkan menjadi tiga kategori utama yaitu faktor individu, faktor organisasi, dan faktor geografis.
Ketiga faktor tersebut saling berinteraksi dan memengaruhi keputusan karyawan
1. Faktor Individu
Faktor individu berkaitan dengan kondisi personal karyawan yang memengaruhi persepsi mereka terhadap pekerjaan.
Setiap karyawan memiliki latar belakang, motivasi, serta ekspektasi yang berbeda terhadap pekerjaan yang mereka jalani.
Perbedaan ini membuat pengalaman kerja setiap individu juga berbeda meskipun mereka bekerja di perusahaan yang sama.
Dalam banyak kasus faktor individu menjadi pemicu utama keputusan seseorang untuk meninggalkan perusahaan.
Hal ini terutama terjadi ketika kebutuhan pribadi karyawan tidak dapat terpenuhi melalui pekerjaan yang mereka jalani.
a) Kepuasan Kerja
Kepuasan kerja merupakan salah satu faktor individu yang paling berpengaruh terhadap tingkat turnover karyawan.
Karyawan yang merasa puas terhadap pekerjaan mereka cenderung memiliki tingkat loyalitas yang lebih tinggi terhadap perusahaan.
Sebaliknya jika karyawan merasa tidak puas terhadap pekerjaannya, kemungkinan mereka untuk mencari peluang kerja lain akan semakin besar.
Ketidakpuasan kerja dapat disebabkan oleh berbagai hal seperti pekerjaan yang tidak menantang, hubungan kerja yang kurang baik dengan atasan atau rekan kerja, serta kurangnya penghargaan terhadap kontribusi karyawan.
Salah satu aspek penting dalam kepuasan kerja adalah work-life balance atau keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan.
Jika karyawan merasa pekerjaan terlalu menyita waktu pribadi mereka, hal ini dapat memicu ketidakbahagiaan dalam bekerja.
Akibatnya karyawan akan lebih cenderung mencari lingkungan kerja lain yang memberikan keseimbangan hidup yang lebih baik.untuk tetap bertahan atau meninggalkan perusahaan.
b) Kurangnya Peluang Pengembangan Karier
Pengembangan karier adalah hal yang sangat penting bagi sebagian besar karyawan. Jika seorang karyawan merasa bahwa mereka tidak memiliki peluang untuk berkembang atau dipromosikan, mereka mungkin merasa stagnan.
Rasa stagnasi ini dapat mendorong mereka untuk mencari pekerjaan di perusahaan lain yang menawarkan kesempatan karier yang lebih baik.
Pengembangan karier yang tidak memadai sering kali menjadi alasan utama karyawan berbakat meninggalkan perusahaan.
Perusahaan yang tidak menyediakan jalur karier yang jelas atau kesempatan pelatihan untuk meningkatkan keterampilan karyawan berisiko kehilangan tenaga kerja yang berharga.
Karyawan ingin merasa bahwa mereka memiliki masa depan di perusahaan, dan jika harapan ini tidak dipenuhi, mereka cenderung beralih ke perusahaan lain yang lebih mendukung pengembangan profesional mereka.
c) Beban Kerja yang Terlalu Berat
Beban kerja yang berlebihan merupakan salah satu penyebab utama stres di tempat kerja.
Karyawan yang terus-menerus merasa kewalahan dengan volume pekerjaan yang terlalu besar atau tenggat waktu yang ketat dapat mengalami burnout atau kelelahan.
Burnout ini tidak hanya mengurangi produktivitas, tetapi juga mendorong karyawan untuk mencari pekerjaan lain yang memberikan beban kerja yang lebih seimbang.
Beban kerja yang tidak seimbang sering kali terjadi di perusahaan yang kekurangan sumber daya manusia atau di mana pekerjaan terus bertambah tanpa adanya penyesuaian dalam jumlah tenaga kerja.
Untuk mengatasi hal ini, perusahaan perlu memantau beban kerja karyawan secara teratur dan memastikan bahwa tanggung jawab yang diberikan sejalan dengan kapasitas dan keterampilan karyawan.
d) Durasi Kerja yang Cukup Lama
Durasi kerja yang cukup lama di satu perusahaan bisa menjadi alasan bagi beberapa karyawan untuk mencari tantangan baru.
Karyawan yang sudah lama bekerja di perusahaan yang sama mungkin merasa bahwa mereka sudah mencapai titik di mana tidak ada lagi yang bisa mereka pelajari atau capai di sana.
Keinginan untuk mendapatkan pengalaman baru dan meningkatkan keterampilan sering kali mendorong karyawan untuk beralih ke perusahaan lain.
Perusahaan dapat mengatasi hal ini dengan memberikan kesempatan untuk rotasi pekerjaan atau pengembangan proyek baru yang menarik bagi karyawan senior, sehingga mereka tetap termotivasi dan merasa terus berkembang dalam karier mereka.
e) Kurangnya Work-Life Balance
Work-life balance menjadi topik yang semakin penting dalam dunia kerja modern.
Karyawan yang merasa bahwa mereka tidak dapat menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, seperti akibat jam kerja yang terlalu panjang atau tuntutan pekerjaan yang terus meningkat, sering kali memilih untuk meninggalkan perusahaan.
Kurangnya work-life balance dapat menyebabkan kelelahan emosional dan fisik, yang berdampak pada produktivitas dan kebahagiaan karyawan.
Perusahaan yang gagal memperhatikan work-life balance karyawan berisiko menghadapi turnover yang tinggi.
Untuk mengatasi masalah ini, perusahaan dapat memperkenalkan kebijakan fleksibilitas waktu kerja, seperti kerja dari rumah atau pengurangan jam kerja, untuk membantu karyawan menjaga keseimbangan tersebut.
Baca Juga: Definisi, Jenis, Faktor, Indikator Kinerja Pegawai
2. Faktor Organisasi
Faktor organisasi mengacu pada kondisi internal perusahaan yang memengaruhi pengalaman karyawan dalam bekerja.
Kebijakan, budaya, dan sistem kerja perusahaan sering kali memiliki pengaruh besar terhadap keputusan karyawan untuk tetap tinggal atau pergi.
Faktor organisasi yang buruk dapat menciptakan lingkungan kerja yang tidak menyenangkan dan menyebabkan karyawan merasa tidak nyaman atau tidak dihargai.
a) Sistem Kerja yang Represif
Sistem kerja yang cenderung represif dan tidak fleksibel sering kali menjadi penyebab turnover yang tinggi.
Perusahaan yang memberlakukan kebijakan yang terlalu ketat tanpa memberikan ruang bagi karyawan untuk berinovasi atau mengekspresikan diri cenderung kehilangan talenta-talenta terbaik.
Karyawan yang merasa terlalu diatur dan tidak diberi kebebasan untuk bekerja sesuai dengan gaya mereka mungkin akan merasa terkekang dan akhirnya memilih untuk pindah ke perusahaan yang lebih fleksibel.
Selain itu, sistem kerja yang tidak memperhatikan kesejahteraan karyawan, seperti tidak adanya program kesehatan, tunjangan, atau cuti yang memadai, juga dapat menyebabkan ketidakpuasan yang signifikan di kalangan karyawan.
Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan harus lebih proaktif dalam mendesain sistem kerja yang mendukung kesejahteraan dan kebahagiaan karyawan.
b) Sistem Gaji yang Tidak Transparan
Gaji dan tunjangan merupakan faktor penting dalam mempertahankan karyawan.
Karyawan yang merasa bahwa gaji mereka tidak sesuai dengan kontribusi yang mereka berikan atau bahwa sistem gaji perusahaan tidak transparan, cenderung mencari peluang di tempat lain.
Ketidakpuasan dengan gaji atau tunjangan sering kali menjadi alasan utama karyawan meninggalkan perusahaan.
Sistem gaji yang tidak adil atau tidak jelas dapat menimbulkan ketidakpercayaan antara karyawan dan manajemen.
Oleh karena itu, penting bagi perusahaan untuk memastikan bahwa sistem penggajian mereka adil, kompetitif, dan transparan.
Komunikasi yang terbuka mengenai bagaimana gaji ditentukan dan kesempatan bagi karyawan untuk mendapatkan kenaikan gaji yang adil dapat membantu mengurangi turnover.
c) Lingkungan Kerja yang Buruk
Lingkungan kerja yang tidak sehat, baik dari segi fisik maupun sosial, dapat menyebabkan karyawan merasa tidak nyaman.
Lingkungan kerja yang penuh tekanan, persaingan tidak sehat, kurangnya dukungan dari manajemen, atau konflik antar-rekan kerja dapat menciptakan atmosfer yang tidak kondusif bagi produktivitas dan kesejahteraan karyawan.
Karyawan yang merasa tidak bahagia di tempat kerja cenderung mencari pekerjaan di tempat lain yang menawarkan lingkungan kerja yang lebih positif.
Perusahaan yang ingin mempertahankan karyawan perlu menciptakan budaya kerja yang mendukung, di mana karyawan merasa dihargai, didengarkan, dan didukung oleh rekan kerja dan atasan mereka.
d) Kepemimpinan yang Buruk
Kepemimpinan yang tidak kompeten atau tidak adil dapat merusak moral karyawan dan menjadi salah satu penyebab utama turnover yang tinggi.
Karyawan ingin bekerja di bawah pimpinan yang memiliki visi yang jelas, adil, dan mampu memberikan bimbingan serta dukungan yang mereka butuhkan.
Ketika manajer tidak mampu memimpin dengan baik, karyawan merasa kurang dihargai dan cenderung meninggalkan perusahaan.
Perusahaan yang ingin mengurangi turnover perlu memastikan bahwa manajer dan pemimpin mereka dilatih untuk menjadi pemimpin yang efektif dan mendukung.
Pelatihan manajemen dan komunikasi yang baik dapat membantu meningkatkan kualitas kepemimpinan di seluruh organisasi.
3. Faktor Geografis
Faktor geografis sering kali memengaruhi keputusan karyawan untuk tetap tinggal di sebuah perusahaan, terutama ketika jarak antara tempat tinggal dan tempat kerja menjadi terlalu jauh.
Waktu dan biaya yang dikeluarkan untuk perjalanan pulang-pergi ke kantor dapat menjadi beban bagi karyawan, terutama jika mereka tinggal di daerah yang jauh dari kantor pusat perusahaan.
Karyawan yang harus menempuh perjalanan jauh setiap hari mungkin merasa lelah dan stres, yang dapat berdampak negatif pada produktivitas dan kesejahteraan mereka.
Selain itu, jika karyawan menemukan pekerjaan yang lebih dekat dengan tempat tinggal mereka, mereka mungkin lebih memilih untuk pindah demi mengurangi beban perjalanan.
Untuk mengatasi masalah ini, perusahaan dapat mempertimbangkan opsi kerja jarak jauh atau fleksibilitas waktu kerja, yang memungkinkan karyawan untuk mengurangi frekuensi perjalanan mereka ke kantor.
Fleksibilitas ini dapat membantu meningkatkan retensi karyawan dan mengurangi turnover yang disebabkan oleh faktor geografis.
Cara Menghitung Tingkat Turnover Karyawan
Menghitung tingkat turnover karyawan atau labor turnover rate dapat dianalisis dengan menggunakan dua metode, yaitu perhitungan satu tahun dan perhitungan masa kerja di bawah satu tahun.
Mana yang lebih efektif? Keduanya efektif sesuai dengan kebutuhan analisis. Berikut penjelasannya.
1. Perhitungan Tingkat Turnover Tahunan
Perhitungan tahunan digunakan untuk melihat tingkat pergantian karyawan dalam satu tahun kerja.
Metode ini sering digunakan dalam analisis HR strategis karena memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai stabilitas tenaga kerja.
Adapun rumus yang digunakan yaitu:

Misalnya, Anda ingin menghitung tingkat turnover karyawan pada tahun 2025. Selama tahun tersebut terdapat 10 karyawan yang keluar dari perusahaan.
Jumlah karyawan pada awal tahun 2025 adalah 100 orang, sedangkan jumlah karyawan pada akhir tahun 2025 adalah 90 orang.
Sehingga perhitungannya menjadi:
(100 + 90) รท 2 = 95
Selanjutnya, tingkat turnover dihitung menggunakan rumus:
Turnover rate = (Jumlah karyawan keluar รท rata-rata jumlah karyawan) ร 100%
Maka hasilnya:
(10 รท 95) ร 100% = 10,53%
Misalnya, Anda ingin menghitung tingkat turnover karyawan pada tahun 2025. Selama tahun tersebut terdapat 10 karyawan yang keluar dari perusahaan.
Jumlah karyawan pada awal tahun 2025 adalah 100 orang, sedangkan jumlah karyawan pada akhir tahun 2025 adalah 90 orang.
Rata-rata jumlah karyawan selama periode tersebut dihitung dengan rumus:
(Jumlah karyawan awal tahun + jumlah karyawan akhir tahun) รท 2
Sehingga perhitungannya menjadi:
(100 + 90) รท 2 = 95
Selanjutnya, tingkat turnover dihitung menggunakan rumus:
Turnover rate = (Jumlah karyawan keluar รท rata-rata jumlah karyawan) ร 100%
Maka hasilnya:
(10 รท 95) ร 100% = 10,53%
Artinya, tingkat turnover karyawan perusahaan pada tahun 2025 adalah sekitar 10,5%.
2. Perhitungan Tingkat Turnover Bulanan
Berbeda dengan perhitungan tahunan, perhitungan turnover bulanan digunakan untuk memantau pergerakan karyawan dalam periode yang lebih singkat.
Perhitungan ini biasanya dilakukan untuk mengetahui tren pergantian karyawan secara lebih cepat sehingga perusahaan dapat mengambil langkah evaluasi lebih dini.
Rumus yang digunakan pada perhitungan bulanan pada dasarnya sama, yaitu:

Sebagai contoh, misalnya dalam satu bulan terdapat 5 karyawan yang keluar dari perusahaan, sementara jumlah karyawan pada periode tersebut adalah 100 orang.
Maka perhitungannya adalah sebagai berikut:
(5 รท 100) ร 100% = 5%
Artinya, tingkat turnover karyawan pada periode tersebut adalah sebesar 5%.
Baca Juga: Karyawan Tetap vs Karyawan Kontrak, Mana yang Terbaik?
Dampak Tingkat Turnover yang Tinggi
Tingkat turnover yang tinggi dapat memberikan dampak signifikan terhadap stabilitas organisasi, produktivitas tim, serta efektivitas operasional perusahaan secara keseluruhan.
Ketika karyawan yang memiliki peran penting meninggalkan perusahaan, proses kerja yang sebelumnya berjalan stabil dapat terganggu.
Hal ini sering terjadi terutama pada organisasi dengan struktur tim yang saling bergantung satu sama lain.
Dalam praktik manajemen sumber daya manusia, tingginya turnover dapat menimbulkan berbagai konsekuensi bagi perusahaan, di antaranya:
- Penurunan produktivitas tim. Ketika karyawan keluar dari perusahaan, tim yang tersisa harus menyesuaikan kembali pembagian tugas. Proses adaptasi ini dapat menyebabkan penurunan produktivitas dalam jangka pendek.
- Hilangnya pengetahuan dan pengalaman kerja. Karyawan yang keluar sering kali membawa serta pengalaman kerja, pengetahuan operasional, serta pemahaman terhadap proses bisnis yang tidak mudah digantikan oleh karyawan baru.
- Meningkatnya biaya rekrutmen dan pelatihan. Perusahaan perlu mengeluarkan biaya tambahan untuk proses perekrutan, seleksi kandidat, hingga program onboarding dan pelatihan bagi karyawan baru.
- Terganggunya stabilitas tim kerja. Pergantian anggota tim yang terlalu sering dapat memengaruhi dinamika kerja tim serta menurunkan tingkat kepercayaan antar anggota tim.
- Menurunnya moral kerja karyawan. Ketika turnover terjadi secara terus-menerus, karyawan yang masih bertahan dapat merasa tidak stabil dalam lingkungan kerja mereka.
Cara Mencegah Naiknya Turnover Rate
Mencegah tingginya tingkat turnover karyawan merupakan salah satu tantangan penting dalam pengelolaan sumber daya manusia.
Perusahaan tidak hanya perlu fokus pada perekrutan talenta baru, tetapi juga memastikan karyawan yang ada dapat berkembang dan merasa dihargai dalam organisasi.
Berikut pencegahan yang dapat dilakukan untuk menekan tingkat turnover karyawan.
1. Menyusun Strategi Engagement Karyawan
Salah satu langkah penting dalam menekan turnover adalah membangun strategi employee engagement yang kuat.
Perusahaan dapat mengembangkan berbagai program yang berfokus pada kesejahteraan dan motivasi kerja karyawan.
Misalnya dengan menyediakan program kompensasi yang kompetitif, program penghargaan bagi karyawan berprestasi, serta insentif berbasis kinerja.
Selain itu, perusahaan juga dapat menyediakan program pelatihan dan pengembangan keterampilan untuk membantu karyawan meningkatkan kompetensi mereka.
Perusahaan juga perlu menerapkan sistem performance review secara berkala agar manajemen dapat mengevaluasi perkembangan karyawan dan memberikan umpan balik yang konstruktif.
Survei kepuasan karyawan juga dapat dilakukan secara rutin untuk mengetahui persepsi karyawan terhadap lingkungan kerja serta mengidentifikasi potensi masalah sejak dini.
2. Menanam Budaya dan Lingkungan Kerja yang Ramah Teknologi
Dalam era digital, penggunaan teknologi dapat membantu perusahaan meningkatkan efisiensi dalam pengelolaan karyawan.
Organisasi yang memanfaatkan teknologi secara optimal biasanya mampu menciptakan pengalaman kerja yang lebih nyaman bagi karyawan.
Contohnya adalah penggunaan software HR untuk mengelola berbagai proses administratif seperti absensi, pengajuan cuti, hingga pengelolaan data karyawan.
Dengan sistem digital yang terintegrasi, proses administrasi dapat berjalan lebih cepat dan transparan.
Selain itu, perusahaan juga dapat menyediakan sistem employee self-service yang memungkinkan karyawan mengakses berbagai layanan HR secara mandiri.
Melalui sistem ini karyawan dapat mengajukan cuti, melakukan absensi, atau mengakses informasi pekerjaan tanpa harus melalui proses administratif yang panjang.
3. Bangun Perencanaan Karier Individu yang Baik
Perusahaan juga perlu menyediakan perencanaan karier yang jelas bagi setiap karyawan.
Perencanaan karier membantu karyawan memahami peluang perkembangan yang dapat mereka capai selama bekerja di perusahaan.
Dengan adanya perencanaan ini, karyawan dapat mengidentifikasi kekuatan, kelemahan, serta keterampilan yang perlu mereka kembangkan.
Perusahaan juga dapat membantu karyawan menentukan tujuan karier jangka pendek maupun jangka panjang.
Pendekatan ini membuat karyawan merasa bahwa mereka memiliki masa depan di dalam organisasi.
Sebaliknya, jika perusahaan tidak memberikan jalur pengembangan yang jelas, karyawan cenderung mencari peluang karier di tempat lain.
4. Menerapkan Succession Planning
Strategi lain yang dapat dilakukan untuk menekan turnover adalah dengan menerapkan succession planning.
Succession planning merupakan proses pengembangan karyawan untuk mempersiapkan mereka mengisi posisi penting dalam organisasi di masa depan.
Program ini membantu perusahaan memastikan bahwa posisi strategis tetap dapat diisi oleh talenta internal ketika terjadi pergantian kepemimpinan.
Selain itu, program ini juga memberikan motivasi bagi karyawan karena mereka melihat adanya peluang untuk berkembang dalam organisasi.
Karyawan yang merasa dilibatkan dalam proses pengembangan karier biasanya memiliki tingkat loyalitas yang lebih tinggi terhadap perusahaan.
Dengan strategi retensi yang tepat, perusahaan dapat menjaga stabilitas tenaga kerja sekaligus memastikan keberlanjutan organisasi dalam jangka panjang.
Baca juga:ย Turnover Karyawan Jadi Masalah Menakutkan Perusahaan, Apa Solusinya?
Kelola Turnover Karyawan Lebih Efektif dengan Mekari Talenta
Mengelola tingkat turnover karyawan berarti juga memahami penyebab di balik keluarnya karyawan serta menjaga stabilitas tim dalam jangka panjang.
Tanpa sistem yang terintegrasi, tim HR sering kesulitan memantau data karyawan, mengidentifikasi risiko turnover, serta mengelola proses rekrutmen dan pengembangan karyawan secara efisien.
Untuk membantu perusahaan mengelola karyawan secara lebih terstruktur, Anda dapat menggunakan software HRIS Mekari Talenta.

Mekari Talenta menyediakan berbagai fitur yang membantu tim HR memantau kondisi tenaga kerja sekaligus membangun strategi retensi karyawan yang lebih efektif, seperti:
- HR Dashboard & Analytics untuk memantau data karyawan, tren turnover, serta berbagai indikator HR secara real-time.
- Performance Management System untuk mengevaluasi kinerja karyawan secara terukur dan mengidentifikasi potensi masalah performa sejak dini.
- Employee Self Service (ESS) yang memudahkan karyawan mengakses kebutuhan HR seperti cuti, absensi, dan informasi pekerjaan secara mandiri.
- Manajemen absensi dan kehadiran online untuk memantau kehadiran karyawan serta memahami pola kerja yang dapat memengaruhi produktivitas.
- Payroll management terintegrasi untuk memastikan pengelolaan gaji, tunjangan, dan potongan berjalan akurat dan transparan.
- Fitur pengembangan karyawan dan perencanaan karier untuk membantu organisasi membangun jalur karier yang jelas bagi setiap karyawan.
- Succession planning dan talent pool untuk mempersiapkan kandidat internal dalam mengisi posisi strategis ketika terjadi pergantian karyawan.
Dengan sistem HR yang terintegrasi, perusahaan dapat mengelola siklus karyawan secara lebih efisien, mulai dari pemantauan kinerja hingga pengembangan karier, sehingga risiko turnover dapat ditekan secara lebih efektif.
Tertarik mencoba Mekari Talenta? Jadwalkan demo bersama tim kami dan temukan bagaimana Mekari Talenta dapat membantu perusahaan Anda mengelola karyawan secara lebih optimal.
