Karyawan Sering Izin Enaknya Diapain Ya?

Karyawan Sering Izin Enaknya Diapain Ya?

Memiliki karyawan untuk melakukan produktivitas dalam perusahaan adalah tujuan suatu bisnis yang memiliki misi mencapai keuntungan bagi perusahaan. Karena itu pengelolaan karyawan dilakukan sedemikian rupa, sehingga produktifitas karyawan bisa berjalan baik. Tapi kadang dalam perjalanan bisnis pasti ada masalah, salah satunya adalah problematika karyawan, yaitu karyawan sering izin. Dan yang paling sering terjadi adalah sering izinnya karyawan karena sakit.  Hal ini menjadi dilema perusahaan, apalagi bila karyawan sering sakit dan sakit-sakitan.

Tinggalkan HR dan payroll manual, saatnya beralih ke Aplikasi HRIS Talenta dengan fitur absensi online, payroll dan fitur yang mempermudah pekerjaan HRD lainnya.

Seorang karyawan memiliki hak untuk beristirahat bila keadaannya memang sedang sakit. Biasanya karyawan membuktikan dirinya dengan berobat ke dokter, kemudian mendapatkan surat keterangan sakit dari dokter. Surat keterangan itu akan diberikan pada bagian HR atau atasan langsung di tempat karyawan bekerja, yang kemudian akan diberikan ke bagian HR sebagai absensi tertulis karena sakit.

Selain karena sakit, karyawan sering izin juga disebabkan oleh beberapa hal misalnya, urusan keluarga, atau urusan-urusan yang berhubungan dengan luar kantor.

Dasar Hukum Karyawan Mendapatkan Hak Ijin Sakit

UU Ketenagakerjaan membahas secara cukup detil mengenai hak-hak karyawan, termasuk hak karyawan bila ada yang sakit.

Dalam Undang Undang Ketenagakerjaan No 13 Tahun 2003 Pasal 93 menyebutkan secara garis besar, perusahaan tetap harus membayar upah karyawan ketika karyawan sakit dan tidak mampu menunaikan pekerjaannya. Bila diberikan sanksi pemotongan gaji, maka perusahaan bisa terindikasi melanggar peraturan ketenagakerjaan. Tapi perusahaan bisa tidak memberikan tunjangan uang makan, uang transport selama tidak masuk bekerja di kantor.

Undang Undang Ketenagakerjaan No 13 Tahun 2003 Pasal 153 ayat 1 huruf a mengatakan bahwa seorang pengusaha dari perusahaan dilarang melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dengan alasan pekerja berhalangan masuk kerja karena sakit. Dengan tolerir masa sakitnya tidak melampaui 12 bulan secara terus-menerus.

Jika karyawan di-PHK karena sakit dan dapat membuktikannya dengan surat keterangan dokter, maka pemutusan hubungan kerjanya batal demi hukum dan pengusaha wajib mempekerjakan kembali pekerja yang bersangkutan seperti sedia kala beserta hak karyawan.

Tapi jika karyawan tidak dapat membuktikan bahwa ia sakit dengan surat keterangan dokter, maka Undang Undang Ketenagakerjaan No 13 Tahun 2003 Pasal 168 dan Pasal 162 yang bersangkutan dapat dikategorikan mangkir atau bolos kerja.

Maka Perusahaan berhak memberikan teguran atau surat peringatan kepada karyawan yang bersangkutan karena telah melanggar perjanjian kerja. Selain itu, Perusahaan juga dapat melakukan PHK kepada karyawan tersebut dengan syarat perusahaan telah memberikan surat panggilan secara patut kepada karyawan yang bersangkutan 2 (dua) kali berturut-turut dalam jangka waktu 5 hari kerja (Pasal 162 Undang Undang Ketenagakerjaan No 13 Tahun 2003). Bila tiba-tiba diputus hubungan kerja tanpa ada peringatan, itu tidak boleh karena perusahaan melanggar perjanjian kerja.

Tindakan Yang Bisa Dilakukan Oleh Perusahaan

Bila karyawan sakit, perusahaan wajib memberikan gaji sesuai perjanjian kerja. Tapi bila karyawan terlalu sering sakit, bahkan sampai tiap minggu sakit, maka Perusahaan bisa melakukan kebijakan persuasif sampai kebijakan lainnya seperti surat peringatan hingga PHK.

Berikut beberapa pertimbangan yang bisa digunakan untuk mengambil keputusan saat menghadapi karyawan yang sering tidak masuk kerja karena sering sakit :

Melakukan langkah persuasif

Perusahaan melakukan analisa yang lebih dalam terhadap penyebab sakit karyawan tersebut yang sering membuat tidak masuk kerja. Penyakit yang dideritanya apakah merupakan penyakit yang sama atau berbeda-beda berdasarkan analisa dokter. Jika penyakit yang sama, sebaiknya Perusahaan memberikan saran agar si karyawan pergi berobat ke dokter spesialis atau dokter yang lebih tinggi plus lengkap dengan analisa laboratorium Rumah Sakit.

Minta hasil Medical Check Up (MCU) karyawan

Untuk menegakkan diagnosa dokter, karyawan bisa dibiayai atau disarankan menjalankan medical check up agar bisa terlihat sakit yang diderita apa. Lihat hasil dari MCU apakah ada yang mengindikasikan karyawan tersebut mengalami sakit sesuai dengan surat keterangan dokter yang biasa HR terima.

Misalnya kejadian surat sakit dokter yang biasa diterima berbeda dengan hasil analisa MCU, Perusahaan perlu memeriksa kebenaran surat dokter tersebut dengan menelepon atau mendatangi praktik kerja dokter yang sudah memberikan surat ijin istirahat karena sakit tersebut kepada karyawan. Jangan lupa memastikan hasil analisa MCU yang karyawan lakukan juga sesuai kebenaran dengan mengkonfimasi langsung kepada rumah sakit atau klinik yang mengeluarkan hasil analisa medical check up tersebut.

Lakukan interview lebih dalam kepada karyawan tersebut

Seorang HR harus bisa menjadi penjembatan antara karyawan dan perusahaan. Bila terdapat karyawan yang sering sakit seperti ini, maka harus dilakukan pendekatan interview tambahan agar bisa memutuskan apa yang akan dilakukan oleh perusahaan pada karyawan tersebut.

Seorang HR bisa menanyakan permasalahan yang dihadapi oleh karyawan baik sisi internal dan ekternal karyawan yang kadang perusahaan dan teman kantor karyawan tersebut tidak mengetahuinya.

Misalnya seorang HR menggali sisi internalnya yaitu karyawan diri sendiri. Apa yang dirasakan karyawan, kesehatannya, keluarga dan hal-hal sensitif yang kadang karyawan sembunyikan dari perusahaan. Ini akan menjadi faktor pendukung kenapa karyawan tersebut sering sakit atau ijin sakit terlalu sering.

Kalau dari sisi eksternal, seorang HR bisa banyak bertanya tentang pekerjaan, teman kerja, atasan atau hal lain kepada karyawan yang ternyata sangat mempengaruhi karyawan sakit atau sakit-sakitan hingga karyawan malas bekerja. Pekerjaan yang berat dan tidak berhenti-henti kadang membuat karyawan marah dan bosan, sehingga mempengaruhi kesehatannya dan jatuh sakit.

Buat Surat Peringatan untuk karyawan

Bila keadaan tidak berubah, padahal sudah diberikan pendekatan dan kebijakan persusif dari perusahaan, maka perusahaan bisa memberikan surat peringatan kepada karyawan.

Surat peringatan atau SP ini ada bermacam-macam, tergantung kadar seringnya karyawan tidak masuk kerja karena sakit. Ada SP 1, SP 2, SP 3 yang biasanya terdapat dalam perjanjian kerjasama perusahaan dan karyawan.

Surat peringatan ini merupakan langkah terakhir yang dapat dilakukan perusahaan. Dan biasanya  dalam banyak kasus surat peringatan tidak memiliki dampak signifikan untuk merubah karyawan. Surat Peringatan adalah salah satu bukti perhatian perusahaan terhadap karyawan, karena tujuan dikeluarkan Surat Peringatan bukanlah PHK melainkan perubahan karyawan tersebut dengan tidak melakukan kesalahannya lagi. Kalau karyawan berubah menjadi baik barulah Surat Peringatan keluarkan dinyatakan berhasil.

Bila semua sudah dilakukan dan karyawan tidak berubah, dalam hal ini masih sering ijn sakit (sakit-sakitan) maka perusahaan memiliki kewenangan dengan memberikan pemutusan hubungan kerja atau PHK. Sebenarnya PHK ini merupakan langkah akhir yang bisa dilakukan setelah pendekatan di atas dilakukan. Karena biasanya karyawan ingin dilakukan PHK agar mendapat pesangon dan perusahaanpun akhirnya lepas dari produktifitas karyawan yang jarang masuk kantor karena sering bermasalah sakit. Hal ini akan membuat roda bisnis perusahaan kembali normal kembali.

Untuk persentase dan cara pemutusan hubungan kerja yang baik, perusahaan dapat merujuk tetap kepada  Undang Ketenagakerjaan No 13 Tahun 2003. Agar antara karyawan dan perusahaan tetap saling menghormati dan melakukan kewajiban plus sama-sama mendapatkan haknya.

Tidak susah kan menghadapi karyawan yang sering ijin sakit. Yang pasti, HRD harus benar-benar memastikan kalau karyawan tersebut sakit atau pura-pura sakit karena malas bekerja. Di sini tantangan seorang HR untuk melakukan pekerjaan dengan hati nuraninya. Karena sebagai HRD Harus bisa mengerti apa yang menjadi permasalahan karyawan juga agar produktifitas karyawan berjalan kembali seperti biasa.

Saat ini, Karyawan dapat melakukan pengajuan izin sakit hanya menggunakan satu aplikasi yang terintegrasi dengan software HR. Salah satu software yang memiliki fitur ijin sakit melalui aplikasi adalah Talenta. Selain izin sakit, Anda juga dapat mengajukan cuti tahunan hingga cuti lahiran. Coba Talenta sekarang untuk memudahkan Anda mengelola karyawan terutama yang sering ijin!


PUBLISHED06 Mar 2020
Echa
Echa