Karyawan Sakit Berkepanjangan, Bagaimana Sikap Perusahaan?

Karyawan Sakit Berkepanjangan, Bagaimana Sikap Perusahaan?

Perusahaan seringkali dihadapi dengan cuti karyawan sakit berkepanjangan. Biasanya cuti sakit yang berkepanjangan adalah karyawan yang memiliki riwayat penyakit parah seperti ginjal, typhus, atau karena wabah virus tertentu. Cuti sakit berkepanjangan juga bisa disebabkan oleh kecelakaan parah yang membutuhkan waktu penyembuhan yang lama.

Tinggalkan HR dan payroll manual, saatnya beralih ke Aplikasi HRIS Talenta dengan fitur absensi online, payroll dan fitur yang mempermudah pekerjaan HRD lainnya.

Sebagai pemilik perusahaan hal ini menjadi dilema. Pertama, absensi karyawan apalagi dalam jangka waktu yang panjang dapat mempengaruhi stabilitas kerja perusahaan. Kedua, Karyawan yang bersangkutan juga tetap memiliki haknya untuk tetap bekerja dan dibayar dengan syarat ada surat keterangan dokter. Lalu, bagaimana langkah perusahaan untuk menghadapi hal tersebut?

Diatur dalam Undang-Undang Ketenagakerjaan 

Pada dasarnya Undang-Undang ketenagakerjaan memegang prinsip no work no pay. Artinya, perusahaan tidak diwajibkan untuk membayar upah kepada karyawan yang tidak bekerja. Hal ini tercantum pada UU Ketenagakerjaan No. 13 tahun 2003 pasal 93.

Dalam pasal tersebut prinsip no work no pay tidak berlaku bagi orang-orang ini,

  1. Pekerja yang sakit sehingga mereka tidak dapat mengerjakan tugasnya
  2. Pekerja perempuan yang sakit pada hari pertama dan keduanya karena haid/menstruasi
  3. Pekerja yang memiliki hajat seperti; menikahkan, menikah, khitan, membaptis, istri melahirkan atau keguguran, atau anggota keluarga dalam satu rumah yang meninggal
  4. Pekerja yang sedang menjalankan kewajiban negara
  5. Pekerja yang tidak dapat melakukan pekerjaannya karena melakukan ibadah agamanya
  6. Pekerja yang sedang melakukan pendidikan dari perusahaannya
  7. Pekerja yang sedang menjalankan hak istirahatnya
  8. Pekerja yang melakukan tugas serikat pekerja dan diizinkan oleh perusahaan
  9. Pekerjaan yang telah dijanjikan namun perusahaan tidak mempekerjakannya

Daftar pekerja yang termasuk pengecualian dalam no work no pay di atas salah satunya adalah karyawan yang sakit. Jadi, karyawan yang sakit tetap mendapatkan haknya berupa upah dengan catatan, karyawan melampirkan surat keterangan dokter. Namun dalam Undang-Undang tidak menyebutkan berapa lama karyawan diperbolehkan cuti.

Baca juga: Hak Cuti karyawan yang Harus Anda Ketahui

Apakah Perusahaan Boleh Memecat Karyawan Cuti Sakit Berkepanjangan?

Jawabannya adalah tidak. Tetapi dengan syarat karyawan yang cuti sakit tidak lebih dari 12 bulan berturut-turut atau 1 tahun penuh. Hal ini diatur dalam UU Ketenagakerjaan No. 13 Tahun 2003 pasal 153.

Perusahaan tetap diwajibkan membayar upah pekerja yang cuti sakit dan masih terikat kontrak dengan catatan surat keterangan dokter. Adapun aturan pengupahan karyawan cuti sakit berdasarkan UU ketenagakerjaan adalah sebagai berikut.

  1. 4 bulan pertama sakit, upah yang dibayarkan sebesar 100% dari upah
  2. Memasuki 4 bulan kedua, upah yang dibayarkan sebesar 75% dari upah
  3. 4 bulan berikutnya, upah yang dibayarkan sebesar 50% dari upah
  4. Untuk bulan selanjutnya sebelum pemutusan hubungan kerja, perusahaan membayar 25% dari upahnya.

Bagi perusahaan yang mengabaikan poin-poin di atas terutama tidak membayarkan hak karyawannya selama sakit, maka akan dijerat sanksi pidana penjara paling singkat 1 bulan dan paling lama 4 tahun dan/atau denda paling sedikit Rp.10 juta dan sebanyak-banyaknya Rp.400 juta sesuai dengan UU Ketenagakerjaan No. 13 tahun 2003 pasal 186.

Bagaimana Jika Karyawan Sakit Memutuskan Tetap Bekerja?

Beberapa karyawan yang sakit belum memahami Undang-Undang Ketenagakerjaan No. 13 tahun 2003 sehingga kebanyakan dari mereka takut tidak dibayar jika mereka tidak masuk bekerja. Dalam hal ini perusahaan harus mengimbau karyawannya tentang risiko-risiko yang terjadi jika karyawan tetap memaksa masuk. Perusahaan juga berhak mengingatkan tentang poin-poin dalam surat kontrak dan juga membuka UU ketenagakerjaan kepada karyawan yang sakit. Perusahaan bahkan diwajibkan untuk menanggung biaya perawatan karyawan yang sakit karena insiden di tempat kerja atau setidaknya memberikan fasilitas kesehatan seperti asuransi kesehatan.

Kesimpulannya, dalam hal menghadapi karyawan yang cuti karena sakit berkepanjangan perusahaan dilarang langsung untuk melakukan pemutusan hubungan kerja. Ada batas maksimal absensi sakit hingga diberlakukan pemutusan hubungan kerja yaitu selama 12 bulan berturut-turut. Bahkan perusahaan dianjurkan untuk memberikan fasilitas kesehatan kepada karyawannya.

Untuk mempermudah dalam mengelola cuti karyawan sakit Anda dapat menggunakan software HR. Salah satu yang terbaik adalah Talenta. Selain mengelola cuti, Anda dapat mengolah database karyawan, melakukan absensi secara mobile dan juga penghitungan payroll. Anda dapat mencoba Talenta sekarang gratis.

 

  


PUBLISHED22 Mar 2020
Hafidh
Hafidh