Mungkin 5 Alasan Ini yang Buat Karyawan Anda Hilang Motivasi

Mungkin 5 Alasan Ini yang Buat Karyawan Anda Hilang Motivasi

Motivasi kerja merupakan bagian penting dalam struktur organisasi. Daripada skill, motivasi lebih mendominasi persentase keberhasilan sebuah goals pekerjaan yaitu hingga40%. Motivasi karyawan yang hilang  juga bukan hanya mempengaruhi tim, bahkan mental dari karyawan itu sendiri.

Motivasi sendiri tidak melulu berkaitan dengan uang apalagi jabatan namun bisa dalam bentuk psikologis. Hal yang sulit terlihat namun sangat bisa terasa.

Dalam jurnal yang disusun oleh Richard Clark yang berjudul, “Engineering Motivation Using Belief-Expectancy-Control Framework” menjelaskan langkah awal untuk membangkitkan kembali motivasi adalah dengan mengidentifikasi sumber masalah yang terjadi oleh karyawan itu sendiri.

Banyak dari beberapa manajer atau atasan salah dalam menyusun strategi agar karyawannya kembali memiliki motivasi. Misalnya dengan memarahinya atau bahkan dengan toxic positivity, ayo semangat! Kamu pasti bisa!”. 

Alih-alih motivasi karyawan yang hilang kembali muncul, malah menjadi semakin menurun atau bahkan karyawan bisa mengalami mental pressure.

Satu lagi yang perlu diingat bahwa kurangnya motivasi bukan berarti malas. Beberapa kasus bahkan karyawan bermotivasi tinggi saja bisa kehilangan motivasinya dalam sekejap karena satu hal. Misalnya karena sakit atau anggota keluarga meninggal.

Jika karyawan Anda kehilangan motivasi dalam bekerja, mungkin 5 alasan ini bisa menjadi bahan identifikasi Anda untuk mencari akar permasalahan kemudian dari poin-poin tersebut Anda bisa menyusun strategi untuk meningkatkan motivasi karyawan.

Alasan Pertama: Ketidaksesuaian Nilai

Pekerjaan terbaik adalah pekerjaan yang kita suka, namun ada pepatah juga yang mengatakan, pekerjaan terbaik adalah pekerjaan yang sesuai dengan kita. Keduanya tidak ada yang salah. Bahkan bisa dikatakan keduanya saling berkaitan.

Lalu apa hubungannya dengan nilai pekerjaan?

Nilai pekerjaan adalah persepsi dari seorang pekerja apakah pekerjaan tersebut worth-it atau bernilai untuk dikerjakan. Jika karyawan merasa pekerjaannya saat ini tidak bernilai, hanya ada satu kemungkinan: hilangnya motivasi pekerjaan, “buat apa saya mengerjakan pekerjaan ini? Toh, saya tidak peduli”.

Lalu apa yang harus dilakukan seorang HR?

Ada empat nilai yang harus dipahami oleh seorang HR atau atasan; interest, identity, importance, dan utility.

Nilai interest adalah nilai ketertarikan karyawan terhadap pekerjaan tersebut. Nilai interest biasanya dipengaruhi oleh tidak-bosannya karyawan terhadap pekerjaan tersebut. Misalnya saja pekerjaan yang repetitif.

Sedangkan nilai identitas adalah nilai yang dibangun atas kemampuan karyawan melakukan pekerjaannya. Misalnya pekerjaan yang dikerjakan memaksa karyawan tersebut bekerja tidak sesuai dengan gaya bekerjanya.

Ada lagi nilai importance, seberapa urgensinya pekerjaan tersebut dilakukan. Terkadang nilai kepentingan antara atasan dan bawahan berbeda. Pekerjaan A bisa saja dianggap tidak penting dikerjakan pada bulan ini, sedangkan pandangan atasan berbeda.

Terakhir, nilai utilitas. Maksudnya adalah konsekuensi dari pekerjaan yang dilakukan. Apakah dengan melakukan pekerjaan tersebut input yang dilakukan sepadan atau tidak. Misalnya saja karyawan B melakukan pekerjaan dengan volume 100% namun bayaran yang didapat tidak sepadan.

Memahami nilai tersebut, Anda sebagai atasan atau HR bisa melakukan pendekatan secara langsung kepada karyawan misalnya dengan one-on-one session untuk sama-sama menyelaraskan nilai.

Baca juga: Apakah Keterlibatan Karyawan dan Motivasi Karyawan Adalah Hal yang Sama?

Alasan Kedua: Kurangnya Rasa Percaya Diri Karyawan

Apa saya bisa melaksanakan pekerjaan ini?” Siapa pun terutama karyawan baru mungkin akan menanyakan hal yang sama jika sedang tidak percaya diri.

Cara yang tepat adalah memberikan tantangan pada setiap tugas dalam periode tertentu. Selain itu, sebagai atasan Anda hanya perlu memberikan kepercayaan yang lebih kepada karyawan. Biarkan bawahan Anda membuat kesalahan.

Tapi ingat, karena delegasi tugas yang diberikan berupa trial, Anda bisa memberikan tugas yang memang tidak begitu krusial namun tetap bisa dipertanggungjawabkan dan setidaknya bisa diemban oleh karyawan tersebut.

Anda juga bisa membuat monthly discussion. Mendiskusikan apa saja yang berhasil dilakukan oleh karyawan tersebut pada bulan tersebut dan bagaimana hasilnya. Berikan apresiasi dan satu hal penting, berikan motivasi.

Rasa percaya diri juga bukan hanya dimiliki oleh mereka yang tidak percaya diri, tapi bisa juga over pede. Lalu bagaimana cara menanganinya?

Karyawan yang over pede cenderung bekerja dengan caranya sendiri dan egois. Anda hanya perlu mengarahkannya untuk beradaptasi dengan metode kerja yang sesuai dengan perusahaan Anda.

Baca juga: Bagaimana Cara Mendesain HR di Masa Depan?

Alasan Ketiga: Emosi Karyawan

Emosi karyawan memang menjadi disrupsi utama dalam bekerja. Misalnya kesedihan, amarah, kebencian, kekhawatiran, dan ketakutan.

Ya, bukan hal yang bagus jika Anda menanganinya dengan, “jangan bawa-bawa urusan pribadi ke kantor!” Hal itu bahkan hanya akan memperburuk keadaan.

Pertama, jika memungkinkan buatlah saluran konseling bagi karyawan satu bulan sekali untuk mengetahui keluhan emosional karyawan. Kedua, Anda bisa membiarkan karyawan tersebut ruang. Misalnya saja membiarkan karyawan tersebut mengerjakan pekerjaan ringan untuk beberapa waktu.

Hingga waktunya emosi karyawan tersebut stabil, barulah Anda bisa membangun komunikasi dengan karyawan tersebut.

Alasan Keempat: Beban Kerja

Maksudnya adalah karyawan tersebut sukar untuk menyelesaikan masalah dan terkadang bisa membuat intrik antar karyawan. Biasanya karyawan seperti ini selain kehilangan motivasi, sering menyalahkan orang lain atas pekerjaannya.

Sama seperti poin-poin sebelumnya bahwa yang dibutuhkan adalah komunikasi kepada karyawan. Anda juga bisa menanamkan nilai, strategi, dan goals perusahaan yang harus dicapai oleh karyawan tersebut.

Baca juga: Turnover Karyawan Jadi Masalah Menakutkan Perusahaan, Apa Solusinya?

Alasan Kelima: Lingkungan Kerja

Terakhir adalah lingkungan kerja. Banyak berbagai macam misalnya peraturan perusahaan yang terlalu strict dan sangat birokratis bahkan mengabaikan sisi kemanusiaan.

Faktor lingkungan kerja juga bisa dipengaruhi oleh atasan yang terlalu micromanage, atau persaingan rekan kerja yang tidak sehat juga bisa mempengaruhi motivasi kerja.

Untuk mengatasi alasan kelima ini, perlunya langkah makro seperti audit organisasi internal, perubahan sistem kerja, dan juga mempercepat arus informasi.

Itulah lima alasan yang membuat karyawan hilang motivasi. Ke lima alasan tersebut bisa menjadi acuan atasan atau tim HR sekalipun untuk berpikir komprehensif apa yang menyebabkan karyawan kehilangan motivasinya dan melakukan langkah strategis untuk menghidupkan kembali motivasi karyawan.

Pada poin terakhir, berbicara sistem kerja satu hal yang perlu dilakukan adalah membuat sistem kerja Anda lebih humane dengan bantuan software HR dan payroll. Anda bisa menggunakan Talenta sebagai software HR Anda.

Talenta memiliki fitur absensi online, otomasi payroll, dan juga pemenuhan employee benefit. Cari tahu fitur lainnya di website resmi Talenta. Dapatkan juga free demo Talenta untuk mendapatkan pengalaman mudahnya kelola karyawan.

 


PUBLISHED17 Jun 2020
Hafidh
Hafidh