Bolehkah Satu Keluarga Berada dalam Satu Perusahaan?

Bolehkah Satu Keluarga Berada dalam Satu Perusahaan?

Bolehkah satu perusahaan mempekerjakan dua orang atau lebih dalam satu keluarga yang sama? Baik itu suami-istri, bapak-anak, kakak-adik, maupun hubungan keluarga yang lain? Dilihat secara kasat mata, memang ada perusahaan yang melarang hal itu terjadi, tetapi ada juga perusahaan yang membiarkan itu terjadi.
Pada dasarnya, tidak ada peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai ketentuan boleh/tidaknya mempekerjakan satu pekerja dalam satu keluarga untuk bekerja di tempat yang sama. Berdasarkan ketentuan Pasal-153 ayat (1) huruf-f UU No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, larangan memiliki hubungan darah dan atau ikatan perkawinan hanya berlaku bila telah diatur dalam Perjanjian Kerja Bersama atau Peraturan Perusahaan. Walaupun dalam beberapa perusahaan bahkan ada kesempatan bagi anak-anak pegawai untuk ikut menjadi pegawai juga sepanjang memenuhi kualifikasi.
Kira-kira pertimbangan apa saja yang dilakukan oleh perusahaan saat mereka melarang hubungan keluarga dalam satu perusahaan?
Potensi berimbasnya konflik pekerjaan terhadap kehidupan, atau sebaliknya. Ketika terjadi masalah dalam rumah tangga, misalnya pasangan suami-istri tersebut hingga tidak saling berbicara satu sama lain. Nah, hal semacam ini sangat mungkin berimbas di kantor sehingga mengganggu profesionalitas kerja. Demikan halnya jika terjadi konflik di kantor, sangat mungkin hal tersebut cukup berimbas terhadap kehidupan rumah tangga juga.
Potensi terjadinya konflik kepentingan (conflict of interest) hingga KKN. Misalnya sang adik bekerja di bagian pembelian dan kakak sebagai project manager. Bisa jadi dalam suatu proses bidding tender, kakak bertanya pada adik mengenai penawaran yang masuk, padahal sebenarnya ini adalah informasi yang sifatnya rahasia (confidential). Kakak juga bisa mengarahkan adik untuk memenangkan vendor yang ia inginkan. Ada pula kemungkinan apabila pihak vendor memberikan bonus tertentu kepada kakak atau adik, maka pasangan bersaudara tersebut bisa bekerja sama yang mengarah kepada KKN.
Potensi timbulnya subyektivitas dalam pekerjaan. Subyektivitas dalam hal ini mencakup beragam hal, mulai dari penilaian kinerja, pemberian reward and punishment, dan sebagainya. Misalnya ada salah satu pegawai yang memiliki ayah yang sudah menduduki posisi senior di kantor, ketika sang anak tersebut memperoleh promosi jabatan, apakah promosi tersebut murni karena prestasi kerja? Atau turut dipengaruhi posisi yang dimiliki ayahnya? Jika penilaian promosi tersebut memang murni dari prestasi kerja, sangat mungkin akan timbul gossip atau omongan yang kurang mengenakkan dari rekan-rekan kerja.
 
Dari pertimbangan-pertimbangan tersebut, jelaslah kini mengapa perusahaan memilih untuk melarang karyawan untuk merekomendasikan keluarga dekatnya untuk bekerja dalam satu perusahaan yang sama. Jika Anda sedang merencanakan untuk bekerja satu kantor dengan ayah, saudara kandung, atau menikah dengan rekan kerja di kantor yang sama, gali sebanyak mungkin informasi mengenai peraturan perusahaan yang mengatur akan hal ini. Diskusikan dengan atasan atau bagian HRD. Yang terpenting, selalu jaga profesionalisme dan pisahkan kehidupan antara ranah professional dan pribadi.

Tinggalkan HR dan payroll manual, saatnya beralih ke Aplikasi HRIS Talenta dengan fitur absensi online, payroll dan fitur yang mempermudah pekerjaan HRD lainnya.

PUBLISHED23 Sep 2016
talenta
talenta