Exit Interview: Panduan Membangun Strategi Retensi Karyawan Berbasis Insight

Tayang
Diperbarui
Di tulis oleh:
Foto profil Jordhi Farhansyah
Jordhi Farhansyah
Highlights
  • Exit interview adalah proses wawancara yang dilakukan sebelum karyawan meninggalkan perusahaan untuk memperoleh masukan mengenai pengalaman kerja, alasan resign, dan peluang perbaikan organisasi.
  • Pertanyaan yang umum diajukan meliputi alasan mengundurkan diri, pengalaman bekerja di perusahaan, hubungan dengan atasan dan rekan kerja, kepuasan terhadap kompensasi dan pengembangan karier, serta saran untuk meningkatkan lingkungan kerja dan retensi karyawan.

Saat ini tidak sedikit HRD yang lebih memfokuskan pada proses rekrutmen pada kasus turnover karyawan daripada melakukan exit interview.

Ketika seorang karyawan memutuskan untuk resign, perusahaan sebenarnya tidak hanya kehilangan talenta, tetapi juga kesempatan memperoleh insight berharga mengenai pengalaman kerja yang selama ini tidak terlihat.

Menurut Gallup State of the Global Workplace 2025, hanya 21% karyawan di dunia yang merasa engaged dengan pekerjaannya, sementara rendahnya engagement berkorelasi dengan tingginya risiko turnover karyawan dan penurunan produktivitas.

Organisasi yang mampu memahami alasan di balik keputusan karyawan untuk keluar memiliki peluang lebih besar untuk memperbaiki budaya kerja, kepemimpinan, hingga employee experience secara menyeluruh.

Di sinilah exit interview berperan sebagai sumber data strategis yang membantu perusahaan mengidentifikasi akar masalah, bukan sekadar mendokumentasikan proses resign.

Artikel ini akan membahas pengertian exit interview, tujuan, contoh pertanyaan, praktik terbaik, serta cara memanfaatkannya sebagai bagian dari strategi retensi karyawan.

Pengertian Exit Interview

Exit Interview adalah sebuah wawancara yang dilakukan oleh perusahaan sebelum ia mengundurkan diri dari perusahaan.

Berbeda dengan wawancara kerja yang menentukan diterima atau tidaknya karyawan dalam bekerja.

Dimana exit interview atau wawancara keluar juga dilakukan namun ia tidak berpengaruh terhadap boleh atau tidaknya karyawan megindurkan diri dari peusahaan.

Tujuan Exit Interview

Tujuan dari exit interview sebenarnya adalah memberikan pertanyaan-pertanyaan terkait dengan alasan karyawan resign dari pekerjaannya.

Berikut tujuannya,

  1. Memberikan perspektif baru perusahaan.
  2. Menampung masukan dari karyawan tentang sistem kerja, tata kelola, lingkungan kerja, dan elemen kompensasi.
  3. Sebagai evaluasi HRD dalam melakukan tata kelola karyawan dan program-program yang telah dijalankan pada satu periode kerja.
  4. HRD dapat menetapkan syarat rekrutmen untuk karyawan baru.

Saat wawancara keluar ini, HRD akan menanyakan pada Anda saran-saran untuk perbaikan perusahaan kedepannya.

Saran-saran anda ini diharapkan dapat membantu untuk perbaikan perusahaan, hingga peningkatan budaya perusahaan agar nantinya lebih baik.

Informasi yang dikumpulkan dari hasil wawancara dapat memberikan perspektif baru bagi perusahaan dan juga hal-hal mengenai organisasi yang selama ini tidak diketahui oleh HRD.

Biasanya, orang-orang cenderung jujur tentang pengalaman mereka dalam sebuah Exit Interview.

Entah manajer mereka yang tidak lagi menyenangkan, kurang dihargai, dan sebagainya.

Karena itu, umpan balik yang didapatkan dari hasil wawancara ini dapat sangat berguna untuk mengidentifikasi masalah dengan retensi operasi, kinerja dan staf.

Baca juga: Retensi karyawan? Coba 4 Cara ini!

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Berikut beberapa contoh pertanyaan standar dalam exit interview:

  • Mengapa anda resign?
  • Jika boleh tahu apa yang perusahaan baru tawarkan kepada anda yang tidak bisa diberikan perusahaan ini?
  • Apa yang tidak anda sukai dari perusahaan ini?
  • Bagaimana bos dan rekan kerja anda selama ini?
  • Apa yang harus ditingkatkan oleh perusahaan untuk memberikan lingkungan kerja yang kondusif?
  • Kenapa Kamu memilih perusahaan yang sekarang?
  • Kenapa kamu menyukai pekerjaan kamu saat ini?
  • Apa yang harus Kami tingkatkan dari segi development?

Exit interview yang baik juga harus menghasilkan informasi yang berguna tentang organisasi pengusaha.

Untuk menilai dan meningkatkan semua aspek lingkungan kerja, budaya, proses dan sistem, manajemen dan pengembangan, hingga sesuatu yang menentukan kualitas organisasi.

Baik dalam hal hubungan dengan staf, pelanggan, pemasok, pihak ketiga dan masyarakat umum.

Untuk itu, ada baiknya anda mengurangi penyebutan nama yang sekiranya tidak terlalu perlu.

Misal Anda tidak suka dengan rekan satu departemen hanya karena hal-hal yang sangat sepele, atau terdapat masalah pribadi yang tidak berhubungan dengan pekerjaan, hal ini perlu disiasati karyawan saat melakukan wawancara keluar ini.

Exit interview juga dapat Anda lakukan dengan berbagai metode, misalnya dengan memberikan formulir pertanyaan, bertanya secara langsung, diskusi antara atasan dan HRD, dan juga secara tidak langsung.

Seperti yang dikatakan sebelumnya, wawancara keluar berguna untuk memperbaiki sistem tata kelola karyawan dan salah satu manfaatnya adalah menekan angka turnover di masa depan.

Baca juga: 10 Pertanyaan yang Tak Perlu Ditanyakan saat Interview akan Berakhir

Permudah Proses Offboarding dan Exit Interview dengan Mekari Talenta

Mengelola proses keluarnya karyawan bukan sekadar menerima surat resign. Perusahaan perlu mengoordinasikan berbagai tahapan, mulai dari knowledge transfer, pengembalian aset perusahaan, pencabutan akses sistem, hingga pengumpulan data dan umpan balik dari berbagai tim dalam waktu yang terstruktur.

Tanpa dukungan HRIS yang terintegrasi, proses offboarding sering kali berjalan secara terpisah, sehingga berisiko menimbulkan inkonsistensi, menghambat koordinasi antar tim, serta menyebabkan data penting, termasuk hasil exit interview, tidak terdokumentasi dengan baik.

Sebagai platform HRIS berbasis cloud yang didukung AI, Mekari Talenta membantu perusahaan mengelola proses onboarding dan offboarding secara lebih terstruktur, efisien, dan terintegrasi.

Melalui solusi onboarding dan offboarding dari Mekari Talenta, perusahaan dapat menyederhanakan proses administrasi sekaligus memperoleh insight berharga dari proses keluarnya karyawan. Beberapa fitur unggulannya meliputi:

  • Alur Offboarding yang Terstruktur. Kelola proses resign dengan alur persetujuan (approval workflow), pembagian tugas, serta penanggung jawab yang jelas di setiap tahapan agar proses berjalan lebih tertib.
  • Form Exit Interview Terintegrasi. Kumpulkan masukan dari karyawan langsung melalui sistem sebagai bagian dari proses offboarding, sehingga seluruh feedback terdokumentasi dalam satu platform dan tidak tercecer.
  • Manajemen Tugas Offboarding. Tetapkan dan pantau setiap tugas offboarding, seperti pengembalian aset, serah terima pekerjaan, hingga penyelesaian dokumen administrasi, lengkap dengan PIC pada setiap proses.
  • Monitoring Terpusat. Pantau progres offboarding seluruh karyawan melalui satu dashboard sehingga koordinasi antar tim menjadi lebih mudah, transparan, dan akuntabel.
  • Insight Berbasis Data dengan AI. Konsolidasikan data hasil exit interview dan proses offboarding untuk mengidentifikasi pola, menemukan akar penyebab turnover, serta mendukung pengambilan keputusan SDM yang lebih tepat.

Dengan mengintegrasikan seluruh proses offboarding dalam satu platform HRIS, perusahaan tidak lagi bergantung pada koordinasi manual yang memakan waktu.

Sebaliknya, organisasi dapat membangun proses transisi karyawan yang lebih konsisten, terdokumentasi, dan berbasis data untuk mendukung pengelolaan SDM yang lebih efektif.

Ingin mengetahui bagaimana Mekari Talenta dapat membantu mengoptimalkan proses onboarding dan offboarding di perusahaan Anda?

Hubungi tim kami dan jadwalkan demo untuk melihat solusi yang paling sesuai dengan kebutuhan organisasi Anda.

Reference

Gallup State of the Global Workplace 2025

Pertanyaan Umum seputar Exit Interview

Siapa yang sebaiknya melakukan exit interview?

Siapa yang sebaiknya melakukan exit interview?

Idealnya exit interview dilakukan oleh tim HR atau pihak yang netral, bukan atasan langsung. Pendekatan ini membuat karyawan lebih nyaman memberikan feedback secara terbuka dan mengurangi potensi bias. Pada beberapa organisasi, hasilnya juga dianalisis bersama manajemen untuk menemukan pola yang berulang.

Kapan waktu terbaik melakukan exit interview?

Kapan waktu terbaik melakukan exit interview?

Waktu terbaik adalah beberapa hari sebelum hari kerja terakhir ketika proses administrasi resign sudah berjalan. Pada tahap ini, karyawan umumnya lebih rileks dan bersedia memberikan masukan secara objektif. Beberapa perusahaan juga melakukan follow-up singkat beberapa minggu setelah karyawan keluar untuk memperoleh perspektif tambahan.

Bagaimana cara memastikan karyawan memberikan jawaban yang jujur?

Bagaimana cara memastikan karyawan memberikan jawaban yang jujur?

Perusahaan perlu menjelaskan bahwa tujuan exit interview adalah perbaikan organisasi, bukan mengevaluasi individu. Kerahasiaan jawaban juga harus dijaga, terutama jika hasilnya akan digunakan sebagai bahan analisis. Pertanyaan yang bersifat terbuka dan tidak menghakimi biasanya menghasilkan feedback yang lebih mendalam.

Apa yang harus dilakukan setelah exit interview selesai?

Apa yang harus dilakukan setelah exit interview selesai?

Data dari berbagai exit interview sebaiknya dikumpulkan, dikategorikan, dan dianalisis untuk menemukan tren penyebab turnover. Hasil analisis tersebut dapat menjadi dasar perbaikan pada proses rekrutmen, kepemimpinan, kompensasi, pengembangan karier, maupun budaya kerja. Tanpa tindak lanjut, exit interview hanya menjadi formalitas administrasi.

Apa indikator bahwa program exit interview berjalan efektif?

Apa indikator bahwa program exit interview berjalan efektif?

Program dapat dikatakan efektif apabila perusahaan mampu mengidentifikasi penyebab turnover secara konsisten, menerapkan perbaikan berdasarkan feedback, dan melihat penurunan voluntary turnover dari waktu ke waktu. Selain itu, meningkatnya employee engagement, kepuasan kerja, atau kualitas hubungan antara karyawan dan manajer juga dapat menjadi indikator keberhasilannya.

Image
Jordhi Farhansyah Penulis
Penulis dengan pengalaman selama sepuluh tahun dalam menghasilkan konten di berbagai bidang dan kini berfokus pada topik seputar human resources (HR) dan dunia bisnis. Dalam kesehariannya, Jordhi juga aktif menekuni fotografi analog sebagai bentuk ekspresi kreatif di luar rutinitas menulis.
Icon

Satu solusi untuk semua kebutuhan HR Anda

Optimalkan pengelolaan operasi HR Anda dengan bantuan solusi terintegrasi dari Mekari Talenta.

WhatsApp Hubungi sales