Sisi Positif Sang Kutu Loncat

Sisi Positif Sang Kutu Loncat

Fenomena “kutu loncat” dalam dunia kerja selalu menimbulkan pro dan kontra. Bagi kelompok generasi babyboomers atau orang-orang yang lahir antara tahun1950 hingga 1960-an, mereka selalu menyarankan agar anak-anaknya setia pada satu pekerjaan dan perusahaan sepanjang karir. Namun fenomena yang terjadi pada generasi milenial yang selalu haus tantangan da pengalaman, tidak setuju atas pendapat tersebut. Merka tidak bisa menemukan kepuasan dengan bekerja di satu bidang dan satu tempat kerja saja. Walaupun perusahaan juga tidak mau ambil risiko kehilangan banyak biaya dengan menerima pekerja yang selalu berpindah tempat kerja atau kutu loncat, mereka mulai mecoba menerima kenyataan mengenai fenomena generasi millennial. Banyak perusahaan yang mulai bersedia mempersilakan pegawai terbaik yang ingin mencari pengalaman bekerja di tempat kerja lain. Istilah kutu loncat juga tidak selamanya dipersepsikan buruk. Apa saja sisi positif yang dari seorang kutu loncat ini?
Banyaknya pengalaman dan bidang kerja yang dapat dikuasai. Setiap berpindah pekerjaan dan perusahaan baru, mereka pastinya akan mendapatkan pengalaman kerja yang baru. Dengan menjalani banyaknya jenis pekerjaan, si kutu loncat dapat memahami cara kerja berbagai bidang pekerjaan dan industri. Hal ini akan membuat keterampilan yang dimiliki juga semakin berkembang. Tentunya ini dapat dijadikan modal yang bagus untuk melamar kerja ke tempat berikutnya atau jika mereka ditemukan oleh headhunter. Belum lagi jika mereka memiliki portofolio menangani proyek-proyek penting, beragam keahlian penting, hingga rekomendasi dari perusahaan sebelumnya. Mereka berpotensi untuk mendapatkan kepercayaan yang lebih besar untuk bertanggungjawab pada sebuah pekerjaan.
Potensi networking yang luas. Bekerja di banyak perusahaan, membuat mereka mengenal banyak orang dari berbagai latar belakang bidang pekerjaan. Mereka berpotensi menjadi penolong dalam karier berikutnya terutama jika sang kutu loncat juga mampu menjaga hubungan baik dengan para koneksinya. Selain tawaran pekerjaan bagus, mereka juga dapat memberikan rekomendasi bahwa si kutu loncat ini memiliki kinerja yang bagus.
Kesempatan promosi dan kenaikan gaji dengan cepat. Salah satu alasan seseorang berpindah kerja adalah karir yang stagnan. Di perusahaan lama, mereka mungkin sudah bosan menunggu kesempatan mendapatkan promosi padahal mereka sudah bekerja semaksimal mungkin. Tentunya mereka cenderung memilih tawaran dari perusahaan lain jika jabatan yang ditawarkan lebih tinggi, dan tentunya gaji lebih besar. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh themuse.com, seseorang yang berpindah tempat kerja mendapat kenaikan gaji sekitar 10-20%. Besaran peningkatan pendapatan ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata kenaikan gaji di satu perusahaan yang rata-rata hanya 3-5%.
 
Mana yang Anda pilih, menjadi kutu loncat secara positif atau loyal dengan satu perusahaan saja? Yuk, share pendapat Anda di kolom komentar di bawah 🙂
 
 
 
Sumber gambar: ruangpegawai.com

Tinggalkan HR dan payroll manual, saatnya beralih ke Aplikasi HRIS Talenta dengan fitur absensi online, payroll dan fitur yang mempermudah pekerjaan HRD lainnya.

PUBLISHED28 Sep 2016
talenta
talenta