10 mins read

Merancang Leadership Development Program yang Berdampak bagi Bisnis

leadership development program
Highlights
  • Leadership development program adalah rangkaian aktivitas terencana untuk membekali karyawan dengan kompetensi, perilaku, dan pola pikir kepemimpinan yang relevan.
  • Pelaksanaan program ini bertujuan untuk menyelaraskan kapasitas pemimpin sesuai tingkat jabatan dan kebutuhan strategis bisnis guna mendorong retensi serta kinerja tim secara berkelanjutan.

Banyak perusahaan menunjuk seseorang menjadi manajer karena prestasi individu atau lamanya masa kerja, padahal kemampuan memimpin tim adalah keahlian berbeda yang perlu dibangun secara sengaja.

Berdasarkan riset Gallup, manajer menyumbang 70% variasi tingkat engagement dalam sebuah tim, tetapi hanya 44% manajer di seluruh dunia yang pernah menerima pelatihan manajemen.

Gallup juga mencatat bahwa manajer yang menyelesaikan program pengembangan berbasis kekuatan (strengths-based) memiliki engagement hingga 22% lebih tinggi, serta tingkat turnover karyawan 21% hingga 28% lebih rendah dibandingkan rekan-rekannya.

Tanpa program pengembangan kepemimpinan yang terstruktur, kualitas pengalaman kerja sebuah tim akhirnya bergantung pada kebetulan, bukan pada kompetensi yang terukur.

Artikel ini akan membahas leadership development program, mulai dari pentingnya menyelaraskan pengembangan pemimpin dengan kebutuhan bisnis hingga kompetensi yang perlu diprioritaskan. Pembahasan juga mencakup contoh program berdasarkan level kepemimpinan, metode pembelajaran, penerapan hasil, dan cara mengukur efektivitas program.

Apa Itu Leadership Development Program?

Leadership development program adalah rangkaian aktivitas terencana untuk membantu karyawan mengembangkan kompetensi, perilaku, dan pola pikir yang dibutuhkan dalam menjalankan peran kepemimpinan. 

Program ini dapat mencakup pelatihan, coaching karyawan, mentoring, penugasan kerja, serta evaluasi perkembangan peserta.

Berbeda dari pelatihan yang berfokus pada keterampilan tertentu, leadership development program menghubungkan pembelajaran dengan tantangan pekerjaan nyata. 

Dengan begitu, keberhasilannya tidak hanya dilihat dari kehadiran peserta atau hasil post-test, tetapi juga dari perubahan perilaku dan kontribusinya terhadap tim.

Bagi perusahaan besar, program ini dapat membantu mempersiapkan talenta untuk memegang tanggung jawab kepemimpinan yang lebih luas. Karena itu, pengembangan perlu mempertimbangkan kebutuhan peran, potensi, dan kompetensi yang masih perlu diperkuat, bukan hanya performa karyawan saat ini.

Baca Juga: Leadership Development: Strategi Membangun Future Leaders Perusahaan

Mengapa Leadership Development Program Perlu Disesuaikan dengan Kebutuhan Bisnis?

Leadership development program akan lebih relevan ketika kompetensi yang dikembangkan sesuai dengan tantangan dan strategi bisnis perusahaan. 

Organisasi yang sedang melakukan transformasi digital, ekspansi, integrasi unit bisnis, atau efisiensi operasional dapat membutuhkan prioritas pengembangan kepemimpinan yang berbeda.

Kesenjangan keterampilan kepemimpinan juga menunjukkan pentingnya menentukan prioritas program secara tepat. Dalam sebuah survei global, pemimpin mengidentifikasi kemampuan menetapkan strategi (setting strategy) dan mengelola perubahan (managing change) sebagai dua kesenjangan keterampilan terbesar. 

Namun, hanya 22% organisasi HR yang memprioritaskan keterampilan kepemimpinan berorientasi masa depan, termasuk menetapkan strategi, mengelola perubahan, mengambil keputusan, dan mengembangkan talenta.

Selain mempertimbangkan strategi bisnis, HR juga perlu menyesuaikan program dengan tanggung jawab setiap level kepemimpinan:

  • First-time manager: berfokus pada pengelolaan tim, delegasi, komunikasi, dan pemberian feedback.
  • Middle manager: berfokus pada penerjemahan strategi menjadi rencana kerja, koordinasi lintas fungsi, dan pengelolaan perubahan.
  • Senior leader dan executive: berfokus pada penetapan arah organisasi, pengambilan keputusan strategis, serta kesiapan menghadapi perubahan bisnis.

Dengan menyesuaikan kompetensi dan metode pengembangan berdasarkan kebutuhan bisnis serta level kepemimpinan, HR dapat merancang program yang lebih terarah dan relevan dengan tanggung jawab peserta.

Baca Juga: Tingkatan Jabatan dalam Organisasi: Panduan Lengkap Untuk HR

Kompetensi Kepemimpinan Apa yang Perlu Diprioritaskan?

Tidak semua perusahaan perlu mengembangkan kompetensi yang sama dengan bobot serupa. 

HR perlu menentukan prioritas berdasarkan strategi bisnis, model operasional, kompleksitas organisasi, dan tantangan yang dihadapi pemimpin.

1. Strategic Thinking dan Setting Strategy

Strategic thinking membantu pemimpin memahami konteks bisnis, mengidentifikasi peluang dan risiko, serta mempertimbangkan dampak keputusan dalam jangka panjang. 

Sementara itu, setting strategy berfokus pada penetapan arah, prioritas, dan langkah konkret untuk mencapai tujuan organisasi.

Kompetensi ini penting bagi middle manager hingga eksekutif yang perlu menerjemahkan strategi perusahaan menjadi prioritas dan rencana kerja. 

Pengembangannya dapat dilakukan melalui studi kasus bisnis, simulasi pengambilan keputusan strategis, penyusunan rencana kerja, atau proyek lintas fungsi berbasis data.

2. Change Management dan Adaptability

Pemimpin perlu membantu tim memahami tujuan perubahan, menghadapi kekhawatiran, dan menyesuaikan cara kerja tanpa kehilangan fokus pada target. 

Kompetensi change management mencakup komunikasi perubahan, pelibatan stakeholder, serta pemantauan penerapan proses baru.

Sementara itu, adaptability membantu pemimpin menyesuaikan pendekatan ketika kondisi bisnis, prioritas, atau asumsi awal berubah. 

Perusahaan dapat mengembangkannya melalui simulasi perubahan, proyek transformasi, diskusi retrospektif, dan latihan menyusun rencana komunikasi bagi stakeholder yang berbeda.

3. Coaching, Feedback, dan People Management

Pemimpin tidak cukup hanya membagi tugas dan memantau hasil. Mereka juga perlu membantu anggota tim berkembang melalui delegasi yang tepat, percakapan kinerja, feedback yang spesifik, dan coaching untuk membantu karyawan menemukan solusi.

Kompetensi ini terutama penting bagi first-time manager dan pemimpin lini depan. 

Contoh pengembangannya meliputi simulasi percakapan kinerja, latihan memberikan feedback berdasarkan situasi dan perilaku, serta sesi coaching yang disertai observasi dan masukan dari atasan atau fasilitator.

4. Pengambilan Keputusan Berbasis Data dan Adaptasi Teknologi

Pemimpin perlu mengevaluasi pilihan berdasarkan data, risiko, dampak terhadap stakeholder, dan keterbatasan sumber daya. Ketika perusahaan menerapkan teknologi baru, mereka juga perlu menilai kesiapan tim, mengidentifikasi kebutuhan keterampilan, serta memastikan perubahan tersebut mendukung tujuan bisnis.

Kompetensi ini dapat dikembangkan melalui simulasi pengambilan keputusan, analisis data, diskusi risiko, atau proyek adopsi teknologi. Fokusnya adalah membantu pemimpin menilai pilihan secara terstruktur dan mengarahkan penerapan teknologi agar sesuai dengan kebutuhan operasional.

Kompetensi yang diprioritaskan perlu disesuaikan dengan tanggung jawab setiap level kepemimpinan. Karena itu, bentuk dan aktivitas leadership development program untuk manajer baru dapat berbeda dari program untuk middle manager maupun eksekutif.

Baca Juga: Pentingnya Transformasi Digital dalam Manajemen SDM Modern

Contoh Leadership Development Program Berdasarkan Level Kepemimpinan

Perusahaan dapat membagi leadership development program menjadi beberapa jalur berdasarkan tanggung jawab dan kebutuhan pengembangan pemimpin. 

Contoh berikut mencakup first-time manager, middle manager, serta senior leader dan executive.

1. Program untuk First-Time Manager

First-time manager adalah karyawan yang baru beralih dari kontributor individual menjadi pemimpin tim. Tantangan utamanya adalah belajar mendelegasikan pekerjaan, mengelola prioritas, dan membantu anggota tim mencapai target tanpa mengambil alih seluruh pekerjaan.

Kompetensi yang perlu diprioritaskan meliputi komunikasi, delegasi, coaching dasar, penyelesaian konflik, dan manajemen kinerja. Aktivitas pengembangannya dapat berupa simulasi percakapan kinerja, latihan menyusun tujuan tim, serta coaching dengan manajer yang lebih berpengalaman.

Sebagai contoh, peserta diminta memimpin rapat mingguan, membagi tanggung jawab, dan melakukan percakapan pengembangan dengan anggota tim. Atasan kemudian memberikan feedback berdasarkan praktik tersebut. 

Hasil yang diharapkan adalah peserta mampu menetapkan ekspektasi yang jelas, mendelegasikan pekerjaan secara efektif, dan menangani masalah tim dengan lebih mandiri.

2. Program untuk Middle Manager

Middle manager berperan menerjemahkan strategi dari pimpinan senior menjadi rencana kerja dan hasil operasional. Mereka juga perlu mengoordinasikan berbagai tim, menyelaraskan prioritas lintas fungsi, serta menyeimbangkan kebutuhan jangka pendek dengan target bisnis yang lebih luas.

Kompetensi prioritas mencakup strategic thinking, pengambilan keputusan berbasis data, pengelolaan perubahan, kolaborasi lintas fungsi, dan kemampuan mengembangkan supervisor. Aktivitas program dapat berupa simulasi alokasi sumber daya, diskusi kasus bisnis, proyek perbaikan proses, dan mentoring bagi pemimpin lini depan.

Sebagai contoh, peserta memimpin proyek lintas departemen untuk mengurangi waktu proses atau meningkatkan kualitas layanan. Hasil proyek dan feedback dari stakeholder digunakan untuk mengevaluasi kemampuan peserta dalam menyelaraskan kepentingan, mengambil keputusan, dan menerjemahkan strategi menjadi tindakan operasional.

3. Program untuk Senior Leader dan Executive

Senior leader dan eksekutif bertanggung jawab menetapkan arah organisasi, mengambil keputusan strategis, serta memastikan perusahaan mampu menghadapi perubahan pasar dan operasional. 

Karena cakupan tanggung jawabnya lebih luas, pengembangan pada level ini perlu berfokus pada dampak keputusan terhadap berbagai unit dan keberlanjutan bisnis.

Kompetensi prioritas meliputi perumusan strategi, pengambilan keputusan dalam ketidakpastian, pengelolaan stakeholder, kepemimpinan transformasi, dan pengembangan pemimpin berikutnya. Aktivitasnya dapat berupa simulasi strategi bisnis, diskusi lintas unit, executive coaching, serta penugasan memimpin inisiatif strategis.

Sebagai ilustrasi, peserta diminta menyusun beberapa skenario pertumbuhan bisnis, mengevaluasi risiko dan kebutuhan sumber daya, lalu mempresentasikan rekomendasi kepada pimpinan perusahaan. Hasil yang diharapkan adalah keputusan yang lebih terstruktur, prioritas lintas unit yang selaras, dan arah transformasi yang lebih jelas.

Metode dan durasi setiap jalur pengembangan dapat berbeda sesuai tujuan program, kesiapan peserta, dan kebutuhan operasional perusahaan. Kombinasi pembelajaran, praktik kerja, dan feedback dapat membantu peserta menerapkan kompetensi yang dikembangkan secara bertahap.

Bagaimana Mengelola Leadership Development Program di Skala Enterprise?

Di perusahaan besar, leadership development program perlu dikelola secara terstruktur agar pengembangan pemimpin berjalan konsisten di berbagai level dan unit bisnis. 

HR perlu memastikan bahwa program memiliki tujuan yang jelas, peserta yang tepat, serta standar pengembangan yang selaras dengan kebutuhan organisasi.

1. Menetapkan Peran HR, Atasan, dan Executive Sponsor

HR bertanggung jawab mengoordinasikan desain program, menentukan kerangka kompetensi, dan memantau pelaksanaannya. Sementara itu, atasan langsung membantu mengidentifikasi kebutuhan pengembangan tim, sedangkan executive sponsor memastikan program mendapat dukungan dan selaras dengan prioritas bisnis.

Pembagian tanggung jawab ini membantu perusahaan menghindari program yang hanya menjadi inisiatif departemen HR tanpa keterlibatan pimpinan bisnis.

2. Menentukan Kriteria Peserta dan Prioritas Pengembangan

Perusahaan perlu menetapkan kriteria peserta berdasarkan kebutuhan peran, kesenjangan kompetensi, dan tujuan program. Dengan begitu, pemilihan peserta tidak hanya bergantung pada senioritas, performa saat ini, atau nominasi atasan.

HR juga dapat menentukan prioritas berdasarkan kebutuhan organisasi, misalnya mengembangkan manajer baru, memperkuat kemampuan pemimpin lintas fungsi, atau mempersiapkan eksekutif untuk memimpin transformasi bisnis.

3. Menjaga Konsistensi Program di Berbagai Unit Bisnis

Perusahaan dapat menetapkan kompetensi inti dan standar pengembangan yang berlaku secara luas, kemudian menyesuaikan aktivitas program dengan konteks setiap unit. 

Pendekatan ini membantu menjaga kualitas pengembangan tanpa mengabaikan perbedaan tantangan operasional dan tanggung jawab jabatan.

Sebagai contoh, kompetensi komunikasi dan pengelolaan tim dapat menjadi standar bersama, sedangkan studi kasus serta proyek pengembangan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing fungsi atau unit bisnis.

Bagaimana Mengukur Efektivitas Leadership Development Program?

Pengukuran leadership development program perlu disesuaikan dengan tujuan dan level kepemimpinan yang menjadi sasaran. 

HR perlu menilai tidak hanya perkembangan peserta setelah mengikuti program, tetapi juga penerapan kompetensi dalam pekerjaan serta kontribusinya terhadap kinerja tim.

1. Evaluasi Perubahan Kompetensi dan Perilaku Kepemimpinan

HR dapat membandingkan kompetensi peserta sebelum dan sesudah program menggunakan indikator yang konsisten. Evaluasi dapat dilakukan melalui assessment, observasi atasan, simulasi, atau feedback dari beberapa pihak sesuai kompetensi yang dikembangkan.

Selain perubahan kompetensi, HR perlu meninjau apakah peserta mampu menerapkan pembelajaran dalam pekerjaan. Misalnya, apakah first-time manager mampu mendelegasikan pekerjaan dengan lebih baik atau apakah middle manager menunjukkan peningkatan dalam mengoordinasikan proyek lintas fungsi.

2. Tentukan Indikator Keberhasilan Berdasarkan Level Kepemimpinan

Indikator keberhasilan perlu disesuaikan dengan tanggung jawab peserta dan tujuan program. Berikut contoh indikator yang dapat dipertimbangkan perusahaan:

Level KepemimpinanContoh Indikator
First-Time ManagerKualitas delegasi, feedback tim, pengelolaan kinerja, dan pencapaian target tim.
Middle ManagerPencapaian target unit, hasil proyek lintas fungsi, serta efektivitas pelaksanaan rencana kerja.
Senior Leader dan ExecutivePencapaian inisiatif strategis, efektivitas implementasi perubahan, dan kesiapan organisasi menghadapi kebutuhan kepemimpinan berikutnya.

HR sebaiknya membandingkan indikator tersebut dengan kondisi sebelum program dan meninjau hasilnya secara berkala. Perubahan KPI juga perlu ditafsirkan secara hati-hati karena dapat dipengaruhi kondisi bisnis, ketersediaan sumber daya, dan faktor lain di luar program.

Dengan pendekatan ini, perusahaan dapat menilai perkembangan peserta sekaligus mengidentifikasi bagian program yang perlu diperbaiki agar lebih relevan dengan kebutuhan organisasi.

Baca Juga: KPI (Key Performance Indicator): Arti, Contoh, & Cara Membuatnya

Maksimalkan Leadership Development Program melalui Talent Development Mekari Talenta 

Leadership development program membantu perusahaan mempersiapkan pemimpin yang mampu mengarahkan tim dan mendukung pencapaian tujuan bisnis. Agar program pengembangan berjalan lebih terarah, HR perlu mengidentifikasi kompetensi kepemimpinan yang dibutuhkan dan menyusun rencana pengembangan yang sesuai.

Melalui fitur Talent Development dari Mekari Talenta, perusahaan dapat mengelola pengembangan karyawan berbasis kompetensi dalam satu sistem terintegrasi. HR dapat memetakan kompetensi berdasarkan peran, mengidentifikasi kesenjangan kompetensi, dan merencanakan pengembangan karyawan sesuai kebutuhan organisasi.

Dengan pendekatan tersebut, perusahaan dapat menyusun rencana pengembangan yang lebih terarah untuk mempersiapkan karyawan mengambil tanggung jawab yang lebih besar. Pengelolaan data kompetensi dan rencana pengembangan juga membantu HR memantau kesiapan talenta untuk kebutuhan kepemimpinan di masa mendatang.

Jika perusahaan Anda ingin mengembangkan calon pemimpin dan merencanakan pengembangan talenta secara lebih terstruktur, hubungi Mekari Talenta untuk mengetahui solusi yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan.


Referensi:

  1. LinkedIn Learning. (2025). 2025 Workplace Learning Report. https://business.linkedin.com/learn/resources/workplace-learning-report
  2. Harvard Business Impact. (2025). 2025 Global Leadership Development Study: Research Findings.
  3. DDI. (2025). Global Leadership Forecast 2025. https://www.ddi.com/about/media/global-leadership-forecast-2025

FAQ (Frequently Asked Questions)

Bagaimana HR mengidentifikasi karyawan yang siap mengikuti leadership development program?

Bagaimana HR mengidentifikasi karyawan yang siap mengikuti leadership development program?

HR dapat menilai kesiapan karyawan berdasarkan konsistensi kinerja, kemampuan mengambil inisiatif, dan cara mereka menangani tantangan. Masukan dari atasan dan rekan kerja juga dapat membantu memberikan gambaran tentang potensi kepemimpinan karyawan. Namun, kinerja individu yang tinggi tidak selalu berarti seseorang siap memimpin tim. Karena itu, penilaian perlu mempertimbangkan kemampuan berkomunikasi, berkolaborasi, dan mengembangkan orang lain.

Apakah peserta leadership development program harus dipromosikan setelah program selesai?

Apakah peserta leadership development program harus dipromosikan setelah program selesai?

Tidak, keikutsertaan dalam program tidak harus menjamin promosi jabatan. Program ini bertujuan mengembangkan kompetensi kepemimpinan agar karyawan lebih siap menghadapi tanggung jawab yang lebih besar. Keputusan promosi tetap perlu mempertimbangkan kebutuhan organisasi, ketersediaan posisi, kinerja, dan kesiapan individu. HR sebaiknya mengomunikasikan tujuan program sejak awal agar peserta memahami bahwa pengembangan kompetensi dan promosi merupakan dua hal yang berkaitan, tetapi tidak selalu berjalan bersamaan.

Bagaimana HR memastikan hasil leadership development program diterapkan dalam pekerjaan sehari-hari?

Bagaimana HR memastikan hasil leadership development program diterapkan dalam pekerjaan sehari-hari?

HR dapat meminta peserta menyusun rencana penerapan kompetensi setelah menyelesaikan program. Rencana tersebut sebaiknya memuat tindakan konkret, seperti memperbaiki cara memberikan umpan balik atau mendelegasikan pekerjaan kepada tim. Atasan langsung perlu dilibatkan untuk memberikan arahan dan mengevaluasi perubahan perilaku peserta. Evaluasi berkala membantu HR mengetahui apakah pembelajaran benar-benar diterapkan, bukan sekadar dipahami selama pelatihan.

Apa yang perlu dilakukan jika peserta leadership development program menunjukkan kemajuan yang berbeda-beda?

Apa yang perlu dilakukan jika peserta leadership development program menunjukkan kemajuan yang berbeda-beda?

Perbedaan kemajuan merupakan hal yang wajar karena setiap peserta memiliki pengalaman, kebutuhan, dan kesenjangan kompetensi yang berbeda. HR dapat meninjau hasil evaluasi untuk mengidentifikasi kompetensi yang masih perlu diperkuat oleh masing-masing peserta. Peserta yang membutuhkan dukungan tambahan dapat diberikan coaching, mentoring, atau tugas praktik yang lebih sesuai dengan kebutuhannya. Pendekatan ini membantu memastikan program tetap relevan tanpa harus memberikan intervensi yang sama kepada semua peserta.

Kapan perusahaan perlu meninjau ulang leadership development program?

Kapan perusahaan perlu meninjau ulang leadership development program?

Perusahaan perlu meninjau program ketika strategi bisnis, struktur organisasi, atau tuntutan kepemimpinan mengalami perubahan. Evaluasi juga perlu dilakukan jika kompetensi peserta tidak menunjukkan peningkatan yang diharapkan atau hasil program belum terlihat dalam perilaku kerja. HR dapat menggabungkan data evaluasi peserta, masukan dari atasan, dan kebutuhan kompetensi organisasi sebagai dasar peninjauan. Dengan begitu, materi dan metode pengembangan dapat disesuaikan agar tetap mendukung kebutuhan bisnis.