Kapan THR Wajib Diberikan Kepada Karyawan? Bagaimanaa Jika Perusahaan Lalai?

Kapan THR Wajib Diberikan Kepada Karyawan? Bagaimanaa Jika Perusahaan Lalai?

Sebagai seorang HR atau pemilik bisnis, mengetahui masalah THR menjadi hal penting. Di mana, membayar THR setiap tahunnya menjadi salah satu kewajiban perusahaan kepada karyawannya. Lalu apa itu THR? Tunjangan Hari Raya atau THR adalah hak karyawan yang wajib dibayarkan oleh perusahaan kepada karyawan menjelang Hari Raya Keagamaan dalam bentuk uang.

Tinggalkan HR dan payroll manual, saatnya beralih ke Aplikasi HRIS Talenta dengan fitur absensi online, payroll dan fitur yang mempermudah pekerjaan HRD lainnya.

Peraturan Pemerintah Nomor  78 Tahun 2015 telah menyebutkan bahwa di Indonesia sendiri terdapat 5 (lima) hari besar agama, yaitu:

  1. Hari Raya Idulfitri
  2. Hari Raya Natal
  3. Hari Raya Nyepi
  4. Hari Raya Waisak
  5. Hari Raya Imlek

 Biasanya THR akan diberikan di hari raya idulfitri, namun ada juga perusahaan yang memberikan THR setiap hari raya keagamaan dan tergantung agama yang dianut oleh masing-masing karyawan. Hal ini diperbolehkan, tergantung bagaimana kebijakan perusahaan itu sendiri. Namun, kebanyakan perusahaan biasanya tidak ingin ambil pusing dan membuat pembayaran THR dilakukan di hari besar agama mayoritas, yaitu Idulfitri.

Apakah THR boleh dibayarkan dengan barang?

Banyak orang yang bertanya-tanya, apakah THR bisa dibayarkan dalam bentuk lain, selain mata uang rupiah? Jawabannya tidak. Perusahaan wajib membayarkan THR dalam bentuk uang, yaitu dalam mata uang Rupiah. Namun, bagaimana jika perusahaan telah memberikan kado lebaran kepada karyawannya? Biasanya ini sering dilakukan perusahaan di hari besar. Di mana, perusahaan akan memberikan hadiah berupa parcel, makanan, pakaian, alat ibadah, dan sebagainya. Hal ini diperbolehkan, namun ini tidak boleh mengurangi nilai THR yang berhak diterima karyawan Anda.

Siapa yang Berhak Menerima THR?

Jika di zaman dahulu, THR mensyaratkan masa kerja 3 bulan untuk karyawan yang berhak atas THR. Namun, Permenaker No. 06 Tahun 2016 telah mengubah ketentuan tersebut. Di mana, saat ini masa kerja karyawan minimal 1 bulan telah berhak mendapatkan THR, namun hitungannya adalah proporsional. Setelah masa kerja 1 tahun, karyawan baru bisa mendapatkan THR penuh, yaitu minimal sebesar 1x upah per bulan. Bagaimana perhitungan THR dengan proporsional? Anda bisa menggunakan rumus perhitungan THR karyawan dengan masa kerja 1 s/d 12 bulan:

THR = Masa Kerja Karyawan (n bulan) x Upah per bulan / 12 bulan

Misalnya, Rudi bekerja di PT Maju Sukses Bersama sejak bulan Januari 2020 dengan gaji per bulan Rp10.000.000. Kemudian, perusahaan Rudi melakukan perhitungan THR di bulan Mei untuk THR di Idulfitri. Berapa THR yang diterima Rudi?

Masa kerja Rudi = Januari – Mei = 4 bulan

THR = 4 bulan x 10.000.000 / 12 bulan = 3.333.000,-

Maka, pada bulan Mei, Rudi berhak mendapatkan THR sebesar Rp3.333.000

Dan perlu diketahui, Aturan ini berlaku bagi karyawan kontrak dan karyawan tetap termasuk karyawan yang masih dalam masa percobaan, selama karyawan tersebut telah bekerja minimal 1 bulan di perusahaan.

Kapan Waktu yang Tepat untuk Membayar THR Karyawan?

Berdasarkan Pasal 5 ayat (4) Permenaker No.6 Tahun 2016 menyatakan bahwa pembayaran THR paling lambat dilakukan perusahaan pada H-7 Hari Raya. Misalnya, perkiraan jatuhnya Hari Raya Idulfitri pada tanggal 20 Mei 2020, artinya pembayaran THR paling lambat adalah tanggal 13 Mei 2020. Perlu diketahui juga bahwa, jika perusahaan telat membayarkan THR pada karyawan, maka perusahaan wajib membayar denda sebesar 5% dari jumlah THR yang seharusnya dibayar. Di mana, denda tersebut diperuntukkan bagi kesejahteraan karyawan yang perlu diatur dalam Peraturan Perusahaan (PP) atau Perjanjian Kerja Bersama (PKB).

Perlu diketahui juga bahwa pembayaran denda di sini bukan berarti menghapus kewajiban membayar THR karyawan. Namun, perusahaan tetap dibebani kewajiban yang sama, ditambah kewajiban membayar denda.

Misalnya, perusahaan memiliki 100 karyawan dengan total gaji yang harus dikeluarkan sebesar Rp500.000.000 per bulan. Jadi, ketika perusahaan telat memberikan THR pada karyawan, maka perusahaan akan dikenakan denda sebesar Rp25.000.000. Sehingga, ketika perusahaan ingin membayar THR kepada karyawan harus mengeluarkan uang sebesar:

Rp500.000.000 + Rp25.000.000= Rp525.000.000 

Bagaimana Ketentuan THR Bagi Karyawan yang di PHK maupun Resign?

Ketika Anda mendapatkan kondisi di mana karyawan tetap mengalami PHK atau mengajukan resign kepada perusahaan sebelum Hari Raya Keagamaan atau sebelum THR dibayarkan, maka Anda tetap wajib membayarkan THR kepada karyawan tersebut. Namun, hal ini berlaku ketika waktu pemutusan hubungan kerja tersebut terjadi dalam kurun waktu 30 hari sebelum Hari Raya Keagamaan. Sedangkan, jika PHK tersebut terjadi sebelum H-30, berarti karyawan tidak berhak atas pembayaran THR.

Misalnya, karyawan Anda mengajukan surat pengunduran diri dua bulan sebelum Hari Raya, dan pemutusan hubungan kerja baru berlaku efektif dalam 30 hari menjelang Hari Raya, sehingga karyawan tersebut tetap berhak atas THR dan Anda wajib membayarnya sesuai ketentuan yang berlaku. Ketentuan ini hanya berlaku bagi karyawan tetap, atau karyawan yang bekerja berdasarkan Perjanjian Kerja Waktu Tidak Tertentu (PKWTT).

Namun, bagi karyawan kontrak dengan Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT), maka perusahaan tidak wajib memberikan THR kepada karyawan tersebut. Sehingga, jika terdapat karyawan kontrak yang kontraknya akan berakhir pada 30 hari sebelum hari raya, Anda tidak berkewajiban membayar THR kepadanya.

Sanksi yang Harus Diterima Perusahaan Jika Lalai Memberikan THR

Saat ini banyak sekali kasus perusahaan yang tidak memberikan THR kepada karyawannya, dengan berbagai alasan tentunya. Berdasarkan Peraturan Menteri Ketenagakerjaan No. 6/2016, konsekuensi bagi perusahaan yang tidak memberikan THR adalah pengenaan sanksi administratif dalam bentuk teguran, peringatan tertulis, hingga pembatasan kegiatan usaha.

Di mana, sebagai bentuk pengawasan dan perlindungan pemerintah terhadap hak-hak karyawan, Kementerian Ketenagakerjaan telah membuka posko pengaduan khusus THR di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota. Sehingga jika terdapat perusahaan yang tidak memberikan THR, karyawan Anda dapat mengadukannya secara langsung kepada dinas tenaga kerja dan Anda akan mendapatkan sanksi.

Itulah beberapa hal terkait THR atau Tunjangan Hari Raya yang harus Anda ketahui sebagai HR maupun perusahaan. Dengan mengetahui beberapa hal di atas, diharapkan Anda bisa memberikan hak karyawan dengan semestinya dan tepat waktu. Lalu bagaimana jika karyawan Anda terlalu banyak dan bisa berisiko terkena denda jika telat melakukan pembayaran THR? Tidak perlu khawatir? Kini, Anda bisa memanfaatkan software payroll atau software HR yang dilengkapi dengan perhitungan THR karyawan sesuai kebijakan perusahaan Anda.

Talenta merupakan salah satu software HR yang bisa menjadi solusi bagi Anda yang ingin menghitung penggajian dan THR secara tepat waktu dan dengan perhitungan yang akurat. Sehingga, Anda tidak perlu lagi menghitung komponen dalam THR seperti pajak THR secara manual. Tunggu apalagi? Ajukan demo Talenta sekarang!


PUBLISHED20 Dec 2019
Novia Widya Utami
Novia Widya Utami