Cara Menyusun Struktur Penggajian Karyawan Beserta Contohnya

Tayang
Diperbarui
Highlights
  • Struktur penggajian adalah kerangka yang mengatur komponen, rentang, dan mekanisme pemberian gaji berdasarkan jabatan, tanggung jawab, serta kebijakan perusahaan.

  • Susun salary structure berdasarkan evaluasi jabatan, tingkat kompetensi, data pasar, kinerja, serta regulasi ketenagakerjaan agar lebih adil dan transparan.

Menyusun struktur penggajian bukan lagi sekadar menentukan besaran gaji, tetapi memastikan setiap keputusan kompensasi konsisten, adil, dan mampu mendukung strategi bisnis jangka panjang.

Seiring bertambahnya jumlah karyawan, jenjang jabatan, dan kompleksitas organisasi, perusahaan membutuhkan salary structure yang mampu menjaga daya saing sekaligus menciptakan transparansi dalam pengelolaan kompensasi.

Hal ini menjadi semakin penting karena studi Mercer terhadap 4.505 karyawan menemukan bahwa karyawan yang merasa dibayar secara adil memiliki tingkat engagement 85% lebih tinggi dan komitmen 62% lebih tinggi dibandingkan mereka yang merasa kompensasinya tidak adil.

Dengan struktur penggajian yang tepat, perusahaan juga dapat mengurangi potensi ketimpangan, mempermudah proses promosi, serta meningkatkan retensi talenta.

Artikel ini akan membahas cara menyusun struktur penggajian karyawan, faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan, serta contoh penerapannya di perusahaan.

Cara Menyusun Struktur Penggajian Karyawan

Secara umum berikut ini beberapa cara menyusun struktur penggajian karyawan perusahaan. Baik dilakukan secara manual maupun dengan bantuan aplikasi payroll untuk pembayaran gaji seperti fitur Mekari Talenta. Dengan langkah di bawah ini tentunya sistem penggajian akan lebih baik.

1. Jumlah Gaji Sesuai Dengan Kinerja Karyawan

Menyusun struktur penggajian karyawan bisa dilakukan dengan mengetahui lebih dulu tentang jumlah gaji yang seharusnya memang diberikan pada karyawan tersebut. Pemberian gaji pada masing-masing karyawan bisa dilakukan dengan berdasarkan pada kinerjanya. Di dalam suatu perusahaan umumnya terdapat berbagai macam bagian atau divisi. Jadi setiap karyawan akan melakukan pekerjaan sesuai dengan bagian atau divisinya.

Untuk karyawan yang memiliki tugas dan beban kerja cukup sulit bisa diberi imbalan atau gaji atau upah yang lebih tinggi. Sebab biasanya pekerjaan yang lebih sulit mengandung resiko yang lebih tinggi. Bahkan tidak jarang jenis pekerjaan tersebut cukup berbahaya dan dapat mengancam keselamatan kerja karyawan. Untuk itu perusahaan harus memberikan rentang gaji yang jelas untuk masing-masing jenis beban kerja.

Selain itu kinerja karyawan yang umumnya memiliki jabatan lebih tinggi daripada staf bisa diberi pula gaji atau imbalan yang lebih tinggi. Sebab karyawan dengan jabatan yang lebih tinggi akan memiliki beban tugas atau pekerjaan dengan tingkat kesulitan yang lebih tinggi.

2. Imbalan Atau Bonus Untuk Karyawan Berprestasi

Tiap karyawan tentu akan merasa senang bila mendapatkan imbalan atau bonus dari perusahaan terlebih lagi jika imbalan diberikan atas prestasinya. Karyawan yang menerima imbalan tersebut tentu akan merasa bangga karena prestasi yang telah diberikannya untuk perusahaan. Di samping itu karyawan juga akan merasa dihargai usahanya sehingga karyawan akan selalu berusaha untuk menjadi lebih baik lagi.

Imbalan berupa bonus memang boleh saja diberikan pada karyawan yang telah menorehkan prestasi di dalam suatu perusahaan. Pencapaian terbaik dari setiap karyawan selama bekerja di suatu perusahaan perlu untuk diapresiasi dan salah satunya dengan bentuk pemberian imbalan berupa bonus. Jadi bonus ini bisa diberikan pada karyawan bersama dengan gaji pokok yang diterima oleh karyawan di tiap periode.

Pemberian imbalan secara khusus yang berupa bonus ini dapat memberikan dampak yang sangat baik untuk karyawan berprestasi sekaligus untuk perusahaan. Adanya imbalan bonus ini dapat membuat karyawan menjadi selalu termotivasi

Pada akhirnya karyawan berprestasi ini akan selalu berusaha untuk dapat mempertahankan prestasinya tersebut dan bahkan sebisa mungkin akan meningkatkan prestasinya. Karyawan akan lebih produktif dan juga menjadi semakin loyal pada perusahaan. Pada akhirnya hal ini akan membuat perusahaan menjadi lebih mudah lagi dalam mencapai target dan keuntungan.

3. Kenaikan Gaji Bagi Karyawan Sesuai Ketentuan

Cara menyusun struktur penggajian karyawan juga dilakukan dengan memperhatikan aspek tertentu. Biasanya setiap perusahaan memiliki beberapa ketentuan yang membuat gaji atau upah karyawan menjadi naik. Misalnya saja adanya prestasi seperti yang telah dijelaskan. Atau bisa juga karyawan mengalami kenaikan gaji karena faktor lama kerja. Semakin lama masa kerja seorang karyawan maka akan semakin tinggi gajinya.

Masih banyak pula hal lain yang menjadi ketentuan dalam suatu perusahaan untuk menaikkan gaji karyawan. Seluruh aspek yang menjadi syarat atau ketentuan perusahaan dalam menaikkan gaji ini bisa ditinjau ulang sehingga bisa memuaskan seluruh karyawan. Selain itu juga bisa disosialisasikan pada seluruh karyawan untuk mendukung transparansi gaji.

Jika Anda membutuhkan template Struktur Gaji, dapatkan versi Word dan PDF yang bisa langsung diunduh dan disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan Anda di bawah ini.

Baca Juga: Masalah Pada Sistem Penggajian Perusahaan dan Solusinya

Pertimbangan Dalam Menyusun Struktur Penggajian Karyawan

Adapun dalam menyusun struktur penggajian karyawan pastinya ada beberapa pertimbangan juga. Maka dari itu sebaiknya pahami beberapa pertimbangan penting ini. Di antaranya yaitu sebagai berikut.

1. Level Dewan Direksi

Struktur penggajian karyawan dalam berbagai perusahaan umumnya disusun dengan memperhatikan level atau tingkatan jabatan karyawan. Misalnya karyawan yang menjadi dewan direksi atau top manajemen umumnya tidak masuk ke dalam struktur gaji yang dibuat. Sebab gajinya ini sudah ditentukan secara khusus dengan didasarkan pada perjanjian yang terjalin antara Dewan Komisaris dengan seluruh pemegang saham.

2. Level General Manager

Di bawah level dewan direksi terdapat posisi general manager yang sudah seharusnya dibuatkan struktur gaji secara lebih jelas. Karyawan yang menjabat sebagai general manager akan mendapatkan gaji tertinggi jika dibandingkan dengan seluruh karyawan di bawahnya. General manager ini umumnya mendapatkan gaji pokok dan tunjangan operasional serta tunjangan jabatan dan juga tunjangan transportasi.

3. Level Kepala Bagian

Jabatan kepala bagian secara struktural berada di bawah jabatan general manager atau manajer umum. Namun jika kepala bagian ini memiliki tingkat jabatan yang sama maka gajinya bisa disetarakan dengan jabatan general manager.

4. Level Pelaksana Teknis

Untuk karyawan di tingkat pelaksana teknis tentunya tidak perlu diberi tunjangan jabatan. Namun boleh saja karyawan di tingkat ini mendapatkan uang lembur sesuai dengan kinerjanya. Karyawan di level ini juga boleh saja mendapat bonus jika memang sesuai dengan ketentuan perusahaan misalnya karena telah menjadi karyawan berprestasi.

Baca Juga: Alasan Software Payroll Berbasis Cloud Lebih Cepat Tanpa Human Error

Contoh Struktur Penggajian Karyawan dalam Perusahaan

Struktur penggajian karyawan dalam sebuah perusahaan biasanya mencakup beberapa komponen, termasuk gaji pokok, tunjangan, potongan, dan insentif. Berikut adalah contoh struktur penggajian yang umum digunakan:

1. Contoh Struktur Penggajian Karyawan Perusahaan

Berikut adalah format standar struktur penggajian:

Komponen GajiJumlah (Rp)Keterangan
Gaji Pokok5.000.000Upah dasar sesuai jabatan
Tunjangan Tetap1.500.000Tunjangan makan, transportasi, dll.
Tunjangan Kinerja1.000.000Berdasarkan evaluasi kerja
Lembur500.000Dihitung berdasarkan jam kerja
Bonus/Insentif1.000.000Tergantung pencapaian target
Total Pendapatan Bruto9.000.000Gaji sebelum potongan
Potongan Pajak (PPh 21)(250.000)Pajak penghasilan
Potongan BPJS Ketenagakerjaan(100.000)Iuran BPJS TK (dari karyawan)
Potongan BPJS Kesehatan(50.000)Iuran BPJS Kesehatan (dari karyawan)
Pinjaman Karyawan(500.000)Jika ada pinjaman ke perusahaan
Total Potongan(900.000)Jumlah total potongan
Gaji Bersih (Take Home Pay)8.100.000Gaji yang diterima karyawan

2. Penjelasan Komponen Struktur Penggajian

a. Komponen Pendapatan

  1. Gaji Pokok
    • Merupakan komponen utama yang dibayarkan kepada karyawan sesuai dengan jabatan, pengalaman, dan kebijakan perusahaan.
    • Minimal harus memenuhi Upah Minimum Provinsi/Kota (UMP/UMK).
  2. Tunjangan Tetap
    • Tunjangan yang diberikan secara rutin tanpa dipengaruhi oleh performa kerja.
    • Contoh:
      • Tunjangan Transportasi
      • Tunjangan Makan
      • Tunjangan Perumahan
  3. Tunjangan Kinerja (Variabel)
    • Dibayarkan berdasarkan produktivitas atau pencapaian kinerja karyawan.
    • Contoh:
      • Tunjangan kehadiran
      • Tunjangan proyek atau pencapaian target
  4. Lembur
    • Diberikan jika karyawan bekerja di luar jam kerja standar.
    • Formula hitung lembur berdasarkan PP No. 36 Tahun 2021: Upahperjam = (GajiPokok+TunjanganTetap)/173
  5. Bonus/Insentif
    • Diberikan berdasarkan kinerja perusahaan atau individu, misalnya target penjualan atau prestasi tertentu.

b. Komponen Potongan

  1. Pajak Penghasilan (PPh 21)
    • Pajak yang dikenakan pada gaji karyawan berdasarkan tarif pajak progresif.
  2. BPJS Ketenagakerjaan
  3. BPJS Kesehatan
    • Potongan 1% dari gaji untuk program jaminan kesehatan.
  4. Potongan Pinjaman Karyawan
    • Jika karyawan memiliki utang atau pinjaman ke perusahaan, akan dipotong dari gaji bulanan.

Baca juga: Contoh Cara Membuat SOP Penggajian Karyawan Perusahaan

3. Contoh Struktur Penggajian Berdasarkan Jabatan

JabatanGaji Pokok (Rp)Tunjangan (Rp)Total Gaji Kotor (Rp)
Direktur30.000.00010.000.00040.000.000
Manajer15.000.0005.000.00020.000.000
Supervisor10.000.0003.000.00013.000.000
Staf Senior7.000.0002.000.0009.000.000
Staf Junior5.000.0001.500.0006.500.000

Struktur penggajian terdiri dari gaji pokok, tunjangan tetap, tunjangan variabel, dan insentif, serta potongan pajak dan iuran BPJS. Model penggajian ini harus sesuai dengan peraturan ketenagakerjaan di Indonesia, termasuk pembayaran minimal sesuai UMP/UMK dan pemenuhan hak karyawan seperti BPJS dan tunjangan lainnya.

Baca Juga: Komponen Penting Penggajian Untuk Proses Payroll Karyawan

Permudah Penyusunan Struktur Gaji Karyawan dengan Mekari Talenta

Menyusun struktur penggajian yang adil dan kompetitif membutuhkan lebih dari sekadar menentukan besaran gaji.

Perusahaan juga perlu memastikan setiap komponen penghasilan, mulai dari gaji pokok, tunjangan, lembur, bonus, hingga potongan pajak dan BPJS, dikelola secara konsisten sesuai kebijakan perusahaan dan regulasi yang berlaku.

Sebagai platform HRIS terintegrasi, Mekari Talenta membantu perusahaan mengelola seluruh siklus administrasi SDM dalam satu sistem, mulai dari data karyawan, absensi, cuti, performance management, hingga payroll.

Dengan seluruh data yang saling terhubung, perusahaan dapat mengurangi pekerjaan administratif sekaligus memastikan setiap proses berjalan lebih efisien dan akurat.

Salah satu fitur unggulannya adalah Payroll Software yang mengotomatiskan perhitungan gaji, PPh 21, BPJS, lembur, bonus, serta berbagai komponen penghasilan lainnya sesuai kebijakan perusahaan dan regulasi yang berlaku.

Selain membantu proses penggajian, Mekari Talenta memudahkan perusahaan mengelola struktur kompensasi yang lebih transparan dan mudah diskalakan seiring pertumbuhan organisasi.

Dengan proses payroll yang lebih efisien, HR dapat mengalokasikan lebih banyak waktu untuk fokus pada strategi pengembangan talenta dan peningkatan produktivitas karyawan.

Jadwalkan demo bersama tim Mekari Talenta dan lihat bagaimana Payroll Software dapat membantu perusahaan menyusun struktur penggajian yang lebih akurat, efisien, dan sesuai regulasi.

Pertanyaan Umum seputar Cara Menyusun Struktur Penggajian Karyawan

Apa perbedaan struktur gaji dengan skala gaji?

Apa perbedaan struktur gaji dengan skala gaji?

Struktur gaji merupakan kerangka yang mengelompokkan posisi berdasarkan nilai jabatan beserta rentang kompensasinya. Sementara itu, skala gaji menunjukkan kisaran minimum, midpoint, dan maksimum yang dapat diberikan untuk setiap kelompok jabatan. Keduanya saling melengkapi dalam membangun sistem kompensasi yang konsisten dan adil.

Seberapa sering struktur penggajian perlu ditinjau?

Seberapa sering struktur penggajian perlu ditinjau?

Idealnya, perusahaan melakukan evaluasi struktur penggajian setidaknya setahun sekali atau ketika terjadi perubahan signifikan, seperti kenaikan UMP/UMK, perubahan strategi bisnis, restrukturisasi organisasi, atau pergeseran pasar tenaga kerja. Review berkala membantu perusahaan menjaga daya saing sekaligus memastikan kepatuhan terhadap regulasi. Perusahaan juga dapat melakukan market salary benchmarking secara rutin sebagai bahan evaluasi.

Mengapa salary benchmarking penting dalam menyusun struktur penggajian?

Mengapa salary benchmarking penting dalam menyusun struktur penggajian?

Salary benchmarking membantu perusahaan memahami posisi kompensasi dibandingkan dengan pasar dan kompetitor. Informasi ini menjadi dasar dalam menentukan apakah rentang gaji yang diberikan sudah kompetitif untuk menarik maupun mempertahankan talenta. Benchmarking juga membantu mengurangi risiko overpay maupun underpay pada posisi tertentu.

Apa saja kesalahan yang sering terjadi saat menyusun struktur penggajian?

Apa saja kesalahan yang sering terjadi saat menyusun struktur penggajian?

Kesalahan yang umum terjadi antara lain menetapkan gaji tanpa evaluasi jabatan, tidak memiliki salary range yang jelas, mengabaikan data pasar, serta tidak memperbarui struktur gaji sesuai perubahan regulasi atau kondisi bisnis. Selain itu, proses yang masih mengandalkan spreadsheet sering meningkatkan risiko kesalahan perhitungan dan inkonsistensi antar divisi. Akibatnya, perusahaan berpotensi menghadapi masalah retensi maupun ketidakpuasan karyawan.

Bagaimana software payroll membantu mengelola struktur penggajian?

Bagaimana software payroll membantu mengelola struktur penggajian?

Software payroll membantu perusahaan mengelola komponen gaji, tunjangan, potongan, lembur, bonus, hingga perhitungan pajak dan BPJS secara otomatis dalam satu sistem. Integrasi dengan data kehadiran, kinerja, dan kebijakan kompensasi membuat proses payroll lebih akurat sekaligus mengurangi pekerjaan administratif HR. Dengan data yang terdokumentasi secara terpusat, perusahaan juga lebih mudah melakukan evaluasi dan penyesuaian struktur penggajian di masa mendatang.

Image
Jordhi Farhansyah Penulis
Penulis dengan pengalaman selama sepuluh tahun dalam menghasilkan konten di berbagai bidang dan kini berfokus pada topik seputar human resources (HR) dan dunia bisnis. Dalam kesehariannya, Jordhi juga aktif menekuni fotografi analog sebagai bentuk ekspresi kreatif di luar rutinitas menulis.
Ade Fatwa
Ade Fatwa Aulia, S.Ak, CPA, CFP

Ade Fatwa Aulia adalah profesional di bidang keuangan dan akuntansi selama 25 tahun. Beliau telah menduduki berbagai posisi strategis seperti Supervisor, Assistant Manager, hingga Head of Finance & Accounting di berbagai industri, mulai dari F&B (restoan), hiburan, hingga perusahaan layanan. Ade memiliki keahlian khusus dalam menangani proses penggajian (payroll), pajak, pengendalian biaya dan arus kas. Penguasaan software payroll dan akuntansi seperti MYOB, Tally, Accurate, dan Microsoft Excel mendukung kinerjanya yang efisien.

Icon

Satu solusi untuk semua kebutuhan HR Anda

Optimalkan pengelolaan operasi HR Anda dengan bantuan solusi terintegrasi dari Mekari Talenta.

WhatsApp Hubungi sales