Solusi Mengurangi Downtime dalam Produksi Industri Manufaktur

Solusi Mengurangi Downtime dalam Produksi Industri Manufaktur

Downtime adalah penghentian operasional industri yang dilakukan oleh perusahaan manufaktur. Ada kalanya, proses produksi industri manufaktur harus tiba-tiba terhenti untuk perawatan karena kerusakan hardware atau software, salah pengoperasian mesin dan berbagai hal tidak terduga lainnya. Di sisi lain, down time juga dilakukan secara sengaja karena melakukan pengecekan pada mesin-mesin, memberikan pelumas, memeriksa sambungan pipa dan berbagai tindakan preventif lainnya.

Tinggalkan HR dan payroll manual, saatnya beralih ke Aplikasi HRIS Talenta dengan fitur absensi online, payroll dan fitur yang mempermudah pekerjaan HRD lainnya.

Dalam proses produksi manufaktur, semenit bahkan sedetik menjadi waktu yang berharga. Pemberlakukan downtime memang berdampak pada kerugian perusahaan hingga ratusan bahkan milyaran rupiah. Tapi nyatanya, sebagai perusahaan manufaktur Anda memang harus menjadwalkan downtime agar mesin dapat beristirahat sejenak. Lalu bagaimana dengan downtime yang terjadi secara mendadak? Adakah cara mempercepat proses downtime itu sendiri? Simak pembahasan berikut.

Audit risiko adalah cara tercepat dan paling efektif bagi industri manufaktur dalam menghadapi downtime mesin yang muncul secara tiba-tiba. Anda dapat mengecek satu per satu alat atau mesin yang digunakan dalam produksi. Seringkali, perusahaan Anda telah menggunakan mesin tersebut dalam jangka waktu yang lama bahkan sampai puluhan tahun. 

Penggunaan mesin yang sudah lama ini juga menyebabkan perbaikan yang sulit dilakukan karena perusahaan yang memproduksi mesin tersebut sudah tidak lagi memproduksi suku cadang. Pada akhirnya, penggunaan yang dipaksakan ini akan berujung pada kemacetan, kerusakan bahkan kualitas produk yang terus mengalami penurunan. Lebih fatal lagi jika terjadi kecelakaan.

Untuk mesin yang memiliki tahun keterbaruan, cukup jadwalkan perawatan secara berkala. Seperti pepatah, sedia payung sebelum hujan. Maka, rawat mesin Anda dan jangan takut kehilangan sedikit saja waktu daripada tiba-tiba macet dan tidak tahu berapa banyak kerugian yang bisa dihasilkan.

Anda juga dapat memasang alat pendeteksi kerusakan. Alat ini relatif murah dan ukurannya yang sedang membuat Anda tidak perlu lagi ragu untuk membeli alat ini. Tanda-tanda kerusakan mesin seperti suara yang lebih berisik, lebih cepat panas dan getaran yang besar dapat diperlihatkan dengan menggunakan alat sensor kerusakan mesin.

  • Perhitungan Kerugian Downtime

Perusahaan juga harus menghitung berapa banyak kerugian saat downtime mesin terjadi. Seperti yang sudah diingatkan sebelumnya, downtime sepuluh menit saja berpotensi merugikan perusahaan manufaktur dalam jumlah yang besar. Perhitungan ini juga harus dihitung dalam bentuk mata uang. Dari mulai penurunan kuantitas produk yang dihasilkan, biaya perbaikan atau jam kerja yang harus dijadwal ulang. Dalam melakukan perhitungan kerugian juga Anda dapat menggunakan sistem ERP untuk melihat data produksi dan pengeluaran biaya perusahaan yang dapat diakses dengan mudah dan kapan saja. Tentu ini akan menghemat waktu Anda.

Baca juga : Mengatasi Tantangan Dalam Industri Manufaktur Agar Tetap Bersaing Dalam Pasar Global

  • Pengembangan dan Pelatihan Karyawan

Cara ketiga dalam mengurangi downtime perusahaan yaitu dengan melakukan pelatihan kepada karyawan manufaktur karena downtime ini juga dapat diakibatkan dari salahnya pengoperasian mesin yang dilakukan karyawan. Karyawan yang mengoperasikan mesin tersebut sebaiknya tahu kapan mesin rusak, kapan mesin harus diperbaiki atau bahkan kapan harus dilakukan perawatan. Oleh karenanya, Anda juga harus tahu bagaimana cara onboarding dan pelatihan karyawan yang tepat bagi perusahaan industri manufaktur.

  • Evaluasi Kinerja Karyawan

Evaluasi kinerja karyawan manufaktur Anda karena ini adalah hal lumrah yang biasa dilakukan. Evaluasi dapat didasarkan sesuai dengan tujuan perusahaan, misalnya apa yang menjadi area keberhasilan pada produksi perusahaan manufaktur dan mana hal yang perlu ditingkatkan. Gunakan lah data yang berkaitan dengan hasil produksi perusahaan dan jelaskan juga dari mana data tersebut bisa didapatkan.

Jika bisa, manajer atau atasan perusahaan menjelaskan kembali bagaimana downtime di produksi terjadi agar mereka merasa lebih dihargai dan dibutuhkan oleh perusahaan. Karena komunikasi dan keterbukaan informasi antara perusahaan dan karyawan juga menjadi hal yang paling dibutuhkan untuk menjaga downtime mendadak dalam proses produksi industri manufaktur.

  • Reward and Punishment 

Biasanya, perusahaan manufaktur akan memberikan reward kepada karyawannya kalau perusahaan tetap mencapai target produksi atau justru melampaui target perusahaan meskipun dijadwalkan downtime. Reward dapat diberikan kepada tim atau divisi tertentu atau bisa juga diberikan kepada seluruh karyawan perusahaan. Tidak perlu terlalu besar dan mengeluarkan anggaran yang banyak. Misal Anda dapat memberikan melalui sertifikat karyawan terbaik setiap bulan, makan buah gratis atau acara lainnya. 

Akan tetapi, perusahaan juga dapat memberikan punishment atau penalti atas downtime yang terjadi dalam proses produksi dan karena kelalaian karyawan. Misalnya, perusahaan Chevron yang memberikan sanksi apabila terdapat karyawan yang tidak disiplin seperti duduk saat jam kerja, padahal seharusnya karyawan tersebut memperhatikan mesin yang sedang beroperasi. 

Ketika Anda mencari solusi mengurangi downtime dalam proses produksi industri manufaktur, carilah solusi yang membuat perubahan tidak hanya pada saat itu saja. Pengecekan, pemeliharaan serta pembaruan mesin tetap harus dilakukan secara berkala. Selain itu, downtime juga tidak melulu soal mesin, melainkan juga pada karyawannya. Dengan memberikan evaluasi, berkomunikasi dengan baik, pelatihan serta pemberian reward akan memacu kinerja karyawan agar bekerja maksimal dan tingkat downtime menjadi minimal. 


PUBLISHED20 Mar 2020
Septina Muslimah
Septina Muslimah