Insight Talenta

Bagaimana Peraturan Durasi Cuti Melahirkan di Indonesia Terbaru?

Bgaimana peraturan hingga durasi cuti melahirkan di Indonesia yang terbaru? Berikut adalah ulasan singkat dari Mekari Talenta.

Bagi wanita, kehamilan dan persalinan adalah salah satu momen penting dalam hidupnya.

Tak heran bila mereka ingin melewatkan momen tersebut dengan baik dan mengutamakannya di atas apapun, termasuk masalah cuti melahirkan di Indonesia.

Di Indonesia sendiri, pekerja perempuan berhak memperoleh jatah cuti selama 1,5 bulan sebelum melahirkan dan 1,5 bulan sesudah melahirkan dan tetap digaji penuh.

Hal ini diatur dalam Undang-undang No. 13 Tahun 2013 tentang ketenagakerjaan.

Walaupun pada prakteknya banyak perempuan yang tidak mengambil cuti sebelum melahirkan agar setelah melahirkan dapat menghabiskan waktu lebih lama dengan bayinya, pada intinya durasi cuti yang diberikan adalah tiga bulan.

Oleh karenanya, bagaimana peraturan terbaru, hingga seperti apa cuti melahirkan untuk ayah? Berikut ulasan Talenta mengenai cuti melahirkan di Indonesia.

Pro Kontra Wacana Perpanjangan Cuti Melahirkan di Indonesia

Bagaimana Peraturan Durasi Cuti Melahirkan di Indonesia Terbaru?

Durasi waktu selama tiga bulan seperti yang sudah disinggung sebelumya, tidak berlaku bagi Pegawai Negeri Sipil ( PNS ) di Aceh.

Baru-baru ini Gubernur Aceh menerbitkan Peraturan Gubernur Nomor 49/2016 mengenai hak cuti selama enam bulan kepada ibu hamil.

Tak hanya bagi ibu, bagi ayah juga mendapat jatah paternity leave selama 7 hari sebelum melahirkan dan 7 hari sesudah melahirkan.

Banyak pihak yang menilai kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah Aceh ini sebagai kebijakan yang sangat baik.

Hal ini juga dinilai telah sesuai dengan rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), dimana sebaiknya perempuan bekerja mendapatkan cuti selama 6 bulan agar bayi bisa mendapatkan ASI eksklusif selama 6 bulan.

Atas dasar inilah, banyak pihak yang juga mengajukan judicial review ke Mahkamah Agung agar kebijakan ini dapat berlaku secara nasional.

Menurut penelitian, durasi cuti yang direkomendasikan oleh WHO ini memberikan dampak positif, diantaranya memberikan kesempatan kepada ibu baru untuk beradaptasi cukup terhadap peran barunya.

Karena, kenyamanan psikologis sang ibu kedepannya juga akan sangat berdampak pada tumbuh kembang anak.

Selain itu, cuti 6 bulan adalah bagian dari usaha peningkatan kualitas hidup anak dengan pemberian asi eksklusif selama 6 bulan.

Pencapaian pemenuhan hak anak untuk asi eksklusif tersebut dinilai belum optimal manakala sang ibu kembali bekerja.

Dengan durasi cuti selama 6 bulan, ibu tak perlu lagi cemas dan khawatir asi eksklusif untuk anaknya.

Cuti melahirkan 6 bulan ini adalah kebijakan yang sangat pro masa depan bangsa.

Mengingat anak adalah masa depan bangsa, ketika anak-anak sehat, maka kualitas anak akan bagus dan diharapkan mampu membawa dampak positif pada kualitas sumber daya manusia di masa yang akan datang.

Meskipun demikian, ada juga pihak yang meragukan efektivitas cuti 6 bulan ini terutama bagi para pengusaha yang tidak ingin rugi saat ditinggal karyawannya.

Tidak hanya soal untung atau rugi perusahaan, melainkan juga ritme kerja perusahaan yang ia tinggalkan.

Tak heran jika selama ini cukup banyak perusahaan yang lebih suka merekrut pekerja laki-laki dibandingkan perempuan mengingat cuti panjang yang mereka dapatkan ketika melahirkan.

Bahkan ada juga yang menilai bahwa kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah Aceh tersebut bertentangan dengan UU nasional.

Meskipun demikian, Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2012 disebutkan bahwa tempat kerja harus mendukung program ASI eksklusif dengan memberikan fasilitas ruang laktasi dan memberikan kesempatan bagi ibu bekerja yang menyusui.

Ancaman hukumannya pun cukup serius jika perusahaan mengabaikan peraturan ini.

Selain denda, izin usaha perusahaan pun terancam dicabut.

Baca Juga : Keuntungan Menggunakan Aplikasi Software Attendance Management

Kapan sebaiknya mengambil cuti melahirkan?

Menurut UU Ketenagakerjaan No.13 tahun 2003, ibu hamil yang bekerja berhak mengambil cuti hamil selama 1,5 bulan sebelum melahirkan, atau setara saat menginjak 36 minggu usia kehamilan.

Namun, waktu yang tepat untuk mulai mengambil cuti hamil pada setiap individu berbeda, tergantung pada kondisi kesehatan kehamilannya.

Dokter bisa saja menyarankan ibu hamil untuk mengajukan cuti hamil lebih cepat dengan mempertimbangkan kesehatan ibu dan janin dalam kandungan.

Baca Juga : Contoh Absensi Online Gratis Dengan Web Google Forms Hingga Aplikasi Mobile App Berbasis Android

Lama cuti melahirkan yang ideal

Lamanya cuti untuk melahirkan yang ideal juga berbeda-beda pada setiap ibu hamil.

Menurut para ahli, cuti sebaiknya diambil selama 40 minggu atau kira-kira 10 bulan untuk menghindari komplikasi.

Namun, penelitian lain menyebutkan bahwa, cuti hamil selama 3 bulan setelah melahirkan dan satu bulan sebelum melahirkan sudah cukup untuk menjamin kesehatan ibu dan bayi dalam jangka panjang.

Maka dapat disimpulkan bahwa, menurut penelitian yang banyak dilakukan, lama cuti melahirkan yang ideal adalah minimal 4 bulan atau 120 hari.

Yakni, satu bulan sebelum persalinan dan 3 bulan pascamelahirkan.

Namun, jika Anda ingin memperpanjang masa cuti, hal itu juga lebih disarankan.

Karena, selain memiliki lebih banyak waktu untuk proses pemulihan, Anda juga memiliki waktu lebih panjang bersama si Kecil. 

Baca Juga : Metode Absensi Kehadiran Secara Online Pengganti Absen Mesin Fingerprint Kantor

Hak cuti hamil untuk pekerja atau buruh wanita

Peraturan yang mengatur tentang cuti melahirkan sudah tercantum dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Pasal 82 tentang ketenagakerjaan bahwa pekerja atau buruh wanita:

  1. Berhak mendapatkan cuti 1,5 bulan sebelum melahirkan dan 1,5 bulan setelah melahirkan menurut perhitungan dokter kandungan atau bidan.
  2. Jika mengalami keguguran kandungan tetap berhak mendapatkan cuti selama 1,5 bulan. Bisa juga sesuai dengan surat keterangan dokter atau bidan yang menanganinya.

Di dalam UU Nomor 13 Tahun 2003 Pasal 93 menyebutkan bahwa seorang pekerja atau buruh wanita yang tidak bekerja karena melahirkan, berhak atas upah dan perusahaan wajib memberikannya.

Sedangkan Pasal 73 ayat 2 juga menyebutkan bahwa antara pukul 23.00 sampai 07.00, pengusaha dilarang mempekerjakan pekerja atau buruh wanita yang hamil yang menurut keterangan dokter atau bidan jika dipaksakan dapat membahayakan kondisi kesehatan dan keselamatan kandungan maupun dirinya.

Jika perusahaan tidak memberikan cuti melahirkan selama 3 bulan atau tidak memberikan upah selama cuti melahirkan, maka akan dikenakan sanksi berupa pidana penjara paling singkat 1 tahun dan paling lama 4 tahun atau denda paling sedikit Rp100.000.000,00 dan paling banyak Rp400.000.000,00.

Hal tersebut telah dijelaskan dalam Pasal 185 UU Nomor 13 Tahun 2003 tentang ketenagakerjaan.

Walaupun demikian, sudah ada perusahaan yang memberikan cuti melahirkan lebih lama dan menjamin kesejahteraan para ibu atau pekerja wanita dengan menyediakan fasilitias ruangan khusus laktasi sampai fasilitas penitipan anak ( daycare ) di lingkungan kantor.

Lalu bagaimana dengan hak cuti untuk pekerja pria yang istrinya melahirkan?

Cuti ini biasa disebut cuti penting.

Peraturan mengenai jenis cuti yang satu ini telah diatur dalam Pasal 93 ayat 4 UU Nomor 13 Tahun 2013.

Pekerja pria yang istrinya melahirkan berhak mendapat cuti selama 2 hari dengan upah penuh sesuai dengan perusahaan tempatnya bekerja.

Dalam hal ini, cuti untuk pekerja atau buruh pria yang istrinya melahirkan diberikan karena berbagai alasan.

Diantaranya untuk mengurangi terjadinya depresi pada ibu pasca melahirkan, turut menjaga keutuhan rumah tangga, dan meningkatkan bonding antara ayah dan anak sejak hari pertama lahir.

Syarat dan cara pengajuan cuti melahirkan

Dalam hal ini, syarat dan cara pengajuan cuti melahirkan biasanya disesuaikan dengan kebijakan yang berlaku di perusahaan Anda.

Namun umumnya, seorang pekerja yang ingin mengajukan cuti ini perlu memberikan pemberitahuan terlebih dahulu, baik secara tertulis maupun lisan kepada manajemen dan atasan yang bertanggung jawab.

Penting bagi Anda untuk membuat surat pengajuan cuti hamil yang disertai dengan surat keterangan dokter atau bidan.

Surat keterangan tersebut isinya memuat informasi mengenai jumlah minimal hari yang harus dilakukan untuk masa-masa pemulihan setelah melahirkan.

Kemudian setelah melahirkan, diwajibkan untuk memberikan informasi mengenai kelahiran anak Anda kepada perusahaan.

Dengan begitu, pihak perusahaan dapat dengan mudah mengurus tunjangan-tunjangan yang diperlukan, seperti asuransi kesehatan, reimbursement rumah sakit, biaya perawatan selama melahirkan, dan sebagainya.

Bagaimana dengan Negara Lain?

Dibandingkan dengan negara lain, ternyata banyak negara yang telah memberikan jatah cuti melahirkan mulai dari 6 bulan hingga satu tahun.

Contohnya di Swedia, dimana seorang wanita yang baru melahirkan berhak atas cuti melahirkan selama 480 hari atau lebih dari 1 tahun!

Terlebih selama cuti, sang ibu juga tetap mendapatkan gaji sebanyak 80 persen dari gaji selama masa cuti dan jatah cuti ini dapat diambil kapanpun hingga sang anak berusia 8 tahun.

Jatah cuti melahirkan yang lama membuat Swedia menjadi negara terbaik terhadap perempuan yang melahirkan.

Selain itu, ada pula Australia, yang memberikan jatah cuti hingga 1 tahun tidak dibayar.

Hal yang sama juga dilakukan oleh Inggris dimana mereka memberikan jatah cuti melahirkan selama 52 dimana 39 minggu diantaranya tetap mendapat gaji.

Namun, rata-rata perusahaan di Indonesia memberikan kebebasan tenaga kerja untuk bebas memilih waktu cuti, asalkan ada rekomendasi dari dokter/bidan dan informasi waktu cuti kepada perusahaan.

Memang, terkadang persalinan tidak bisa hanya berpatokan sesuai rencana.

Hal ini tentu membuat karyawan tersebut mengambil cuti di luar rencana dan tidak mungkin bisa mengurus pengajuan cuti secara manual di kantor.

Karena itulah hadir aplikasi HRIS Talenta sebagai salah satu solusi HR dan cuti tepercaya.

Berkat adanya Talenta, karyawan dapat mengajukan cuti secara mendadak dan dapat dilakukan secara online, kapan dan di mana saja tanpa harus pergi ke kantor dan meminta persetujuan atasan maupun HRD.

Karyawan maupun HRD juga bisa lebih mudah mengajukan cuti dengan bantuan dari Talenta.

Bukan hanya untuk aplikasi cuti karyawan, Talenta juga dilengkapi dengan beberapa fitur yang membantu Anda mengelola administrasi perusahaan maupun karyawan.

Beberapa fitur tersebut mulai dari aplikasi absen karyawan, lembur, hingga penggajian dan perhitungan gaji karyawan beserta komponen-komponen didalamnya.

Tertarik untuk mencoba Talenta? Isi formulir ini untuk jadwalkan demo Talenta dengan sales kami dan konsultasikan masalah HR Anda kepada kami!

Anda juga bisa coba gratis Talenta sekarang dengan klik gambar di bawah ini.

Coba Gratis Aplikasi HRIS Talenta Sekarang!


PUBLISHED05 Aug 2022
talenta
talenta