- HR memegang peran penting dalam membantu manajer membangun komunikasi yang efektif, empati, serta kepercayaan untuk mengurangi praktik micromanagement.
- Dengan dukungan sistem HR dan tools kolaboratif yang tepat seperti Mekari Talenta, perusahaan dapat menciptakan lingkungan kerja yang lebih sehat, efisien, dan berbasis kepercayaan.
Micromanagement memang menjadi benalu dan merupakan salah satu faktor toxic dalam lingkungan kerja.
Alih-alih meningkatkan produktivitas, micromanagement malah dapat membuat karyawan sulit berkembang, tidak produktif, dan juga stress.ย
Salah satu bentuk micromanagement yang sering terjadi adalah ketika manajer terlalu kaku dan tidak memberikan fleksibilitas kerja, seperti menolak opsi work from home atau kerja hybrid meskipun jenis pekerjaannya memungkinkan.
Memang tidak semua perusahaan dapat menerapkan work from home karena proses dan goal bisnis.
Jika fleksibilitas kerja sebenarnya memungkinkan tetapi tetap tidak diberikan tanpa alasan yang jelas, kondisi ini bisa menjadi indikasi adanya micromanagement dan kurangnya kepercayaan terhadap karyawan.
Sebagai seorang HR, peran strategis harus dilakukan agar dapat menangani kebutuhan karyawan dan juga memenuhi hasrat atasan.ย
Seorang HR harus menjadi agen solusi yang mampu menjembatani kebutuhan karyawan akan fleksibilitas, kenyamanan kerja, serta produktivitas, sekaligus memastikan tujuan bisnis tetap tercapai.
Seorang HR pun juga harus mampu menjadi orang yang dapat meyakinkan para manajer untuk berhenti atau bahkan merubah sikap micromanaging pada tatanan kerja.
Lalu, bagaimana langkah strategis seorang HR dalam mengurangi perilaku micromanagement pada manajer?

1. Melakukan Pelatihan Manajerial dan Kerjasama Tim
HR dalam upaya mengurangi sikap mikro manajerial ini adalah melakukan pelatihan pada jajaran manajer.
Pelatihan manajer berisi bagaimana seharusnya seorang atasan mempu terbuka, meningkatkan kualitas komunikasi, dan juga meningkatkan kecerdasan emosi.
Pelatihan juga dapat dilakukan dengan cara meningkatkan kepercayaan antar tim.
Oleh karena itu, pelatihan kerjasama tim seperti outing dan juga pelatihan kepemimpinan perlu dilakukan untuk meningkatkan kualitas kolaborasi dan juga kepercayaan tim.
Karena pada dasarnya micromanagement itu timbul karena kualitas komunikasi atasan yang buruk dan juga rasa insecure yang akhirnya menurunkan kualitas kepercayaan kepada karyawan.ย
Baca juga: Berbagai Jenis Metode Pelatihan Karyawan Efektif untuk Perusahaan
2. Berikan Pandangan Bahwa Micromanagement Beri Dampak Negatif
Pernahkah mendengar istilah, โboss tells you what to do, leader teaches you how and whyโ?
Seorang atasan yang baik akan selalu memberikan masukan kepada karyawan dan berfokus pada hasil.
Sementara itu, seorang atasan micro, cenderung memerintahkan suatu pekerjaan tahap demi tahap sesuai dengan keinginannya dan sangat tidak acuh terhadap masukan.
HR berperan sebagai konsultan terhadap atasan. HR harus memberikan paparan apa itu micromanagement dan dampak buruknya bagi kerjasama tim.
Beberapa studi menjelaskan bahwa micromanagement dapat menurunkan angka produktivitas karyawan hingga 55%.
Studi lain juga menjelaskan seorang karyawan harus diberikan otonomi pekerjaannya agar karyawan produktif dan juga bahagia saat bekerja. Otonomi pekerjaan ini ada jika sudah tidak ada lagi micromanaging.
Patut diingat juga, micromanaging bisa menciptakan tingkat turnover karyawan terutama pada tim, dampaknya apa?
Selain memberikan kerugian perusahaan, atasan akhirnya perlu mengarahkan dan karyawan tersebut perlu beradaptasi kembali dengan lingkungan kerja yang akhirnya dapat memperlambat kinerja tim.
3. Buat Survei Employee Engagement
Survei employee engagement dilakukan untuk mengetahui seberapa baik perusahaan dapat memfasilitasi karyawan dalam bekerja, apa kendala selama bekerja dalam tim tersebut, bagaimana atasan dalam mendelegasikan tugas, bagaimana atasan harus bersikap, hingga masukan karyawan terhadap sistem kerja perusahaan.
Membuat survey sangat penting sebagaiย bahan evaluasi HR terutama dalam mengidentifikasi adanya micromanagement dalam tim.
Melalui survei ini, HR dapat berdiskusi dengan atasan divisi terkait dengan kinerja dan juga langkah yang harus dilakukan.
4. Memfasilitasi Diskusi Tim dan Jelaskan Situasi
Tim HR juga perlu memfasilitasi sesi diskusi tim untuk membahas permasalahan kerja terutama dalam arus komunikasi dan juga kepercayaan.
HR juga perlu memberikan pemahaman kepada manajer mengenai alasan penerapan kerja fleksibel, baik work from home maupun hybrid, berdasarkan efektivitas kerja, kebutuhan peran, dan data kinerja karyawan.
Pada perusahaan dengan karakteristik operasional tertentu seperti manufaktur, HR dapat berkolaborasi dengan tim HSE dan manajemen untuk menyusun kebijakan kerja yang paling aman dan efisien, baik melalui pengaturan shift, kerja hybrid, maupun sistem kerja fleksibel lainnya.
Baca juga: Pengertian Shift Kerja Karyawan, Cara Hitung, dan Aturannya
5. Kembangkan Sistem Kerja yang Terstruktur
Dalam banyak kasus, micromanagement bukan terjadi karena manajer tidak mempercayai karyawan, melainkan karena mereka tidak memiliki informasi yang cukup untuk memastikan pekerjaan berjalan sesuai target.
Ketika progres kerja, kehadiran, dan capaian kinerja tidak terdokumentasi dengan baik, manajer cenderung mengontrol secara berlebihan untuk mengurangi risiko kegagalan.
Di titik ini, dukungan sistem kerja yang terstruktur akan membantu HR menciptakan mekanisme kontrol yang lebih sehat.
Untuk mewujudkan hal tersebut, HR membutuhkan teknologi yang mampu menyatukan berbagai data penting dalam satu platform.
Melalui solusi HRIS seperti Mekari Talenta, HR dapat mengelola kehadiran, cuti, hingga data kinerja karyawan secara terpusat dan real-time.
Informasi yang akurat dan transparan ini membantu manajer memantau tim secara proporsional, tanpa harus terjebak dalam pola micromanagement.
Jadwalkan demo Mekari Talenta sekarang dan rasakan kemudahan mengelola administrasi karyawan secara end-to-end dalam satu platform terintegrasi.

