Outsourcing dapat diartikan sebagai penggunaan tenaga kerja oleh suatu perusahaan yang berasal dari pihak ketiga untuk menyelesaikan pekerjaan tertentu. Saat merekrut tenaga kerja outsource, pihak perusahaan dapat  bekerja sama dengan perusahaan yang menyediakan karyawan outsource. Namun dalam kasus ini, siapa yang membayar dan menghitung gaji karyawan outsourcing?

Selain karyawan tetap, perusahaan juga mengenal istilah karyawan outsourcing. Keberadaan karyawan outsourcing sering kali menjadi pilihan perusahaan karena hanya dibutuhkan pada masa waktu tertentu saja. Serta pekerjaannya tidak berkaitan dengan pekerjaan utama perusahaan. Dalam Pasal 65 Ayat 2 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 disebutkan poin-poin jenis pekerjaan yang dapat dilakukan karyawan outsourcing. Yaitu pada intinya hanya dapat direkrut untuk mengerjakan pekerjaan di luar pekerjaan inti perusahaan pengguna jasa. Misalnya untuk keamanan, kebersihan, kurir, supir, petugas manajemen fasilitas, dan lainnya.

Baca juga: Pentingnya Mengelola Gaji Karyawan dengan Sistem Terpercaya

 

Aturan Terkait Karyawan Outsourcing

Definisi dan aturan pekerjaan karyawan outsourcing sebenarnya tidak disebutkan secara spesifik di dalam Undang-Undang Ketenagakerjaan. Namun, di dalam Pasal 64 disebutkan bahwa pihak perusahaan dapat menyerahkan sebagian pelaksanaan pekerjaan kepada perusahaan lainnya melalui perjanjian pemborongan pekerjaan atau penyediaan jasa karyawan yang dibuat secara tertulis.

Menurut Undang-Undang, karyawan outsourcing bekerja melalui sistem kontrak yang dibagi menjadi 2, yaitu Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) dan Perjanjian Kerja Waktu Tidak Tertentu (PKWTT). Di dalam Pasal 65 Ayat (2) UU Ketenagakerjaan disebutkan beberapa poin jenis pekerjaan yang dapat dilakukan oleh karyawan outsourcing, yaitu:

  1. Pekerjaan dilakukan secara terpisah dari kegiatan utama perusahaan.
  2. Pekerjaan dilakukan dengan perintah langsung atau tidak langsung dari pemberi pekerjaan di perusahaan.
  3. Merupakan kegiatan penunjang bagi perusahaan secara keseluruhan.
  4. Tidak akan menghambat proses produksi secara langsung.

Sistem Kerja Karyawan Outsourcing

Karyawan outsourcing bernaung di perusahaan penyalur sebelum ditugaskan ke perusahaan pengguna jasa. Pekerjaan yang diberikan dapat berupa sebagian pekerjaan saja atau bisa juga dengan sistem borongan. Masa kerja karyawan outsourcing bergantung pada jenis kontrak yang telah disepakati bersama perusahaan yang merekrut mereka. Karyawan outsourcing biasanya bekerja dengan sistem kontrak dengan perusahaan pengguna, bukan dengan perusahaan penyalur jasa.

Sistem outsourcing dapat mendatangkan keuntungan bagi perusahaan pengguna. Tetapi juga bisa merugikan baik dari sisi perusahaan atau dari sisi karyawan. Bagi perusahaan, merekrut karyawan outsourcing dapat menghemat anggaran pelatihan, mengurangi beban rekrutmen, dan lebih fokus mengurusi kegiatan inti bisnis. Sedangkan kekurangannya adalah informasi perusahaan akan lebih rentan bocor keluar dan sistem kontrak singkat, sehingga akan merepotkan jika harus sering berganti karyawan outsourcing.

Sementara keuntungan bagi karyawan, sistem outsource tentu akan membantu mereka mendapatkan pekerjaan tanpa harus memasukkan lamaran ke banyak tempat. Selain itu, mereka juga bisa lebih fleksibel dalam mengembangkan diri karena tidak terikat status pekerja tetap. Sedangkan yang menjadi kekurangannya yaitu melemahkan posisi tawar, tidak ada jaminan kepastian kerja,  tidak ada jenjang karir, dan kesejahteraan karyawan yang cukup rendah.

 

Perhitungan Gaji Karyawan Outsourcing

Sebagaimana yang telah diatur di dalam Pasal 1 Ayat 30 UU Ketenagakerjaan, upah atau gaji dinyatakan dalam bentuk uang sebagai imbalan dari perusahaan kepada karyawan. Besaran upah ditetapkan dan dibayar sesuai Perjanjian Kerja, Kesepakatan Bersama, atau peraturan perundang-undangan yang berlaku. Lalu, bagaimana cara menghitung gaji karyawan outsourcing?

Sebagai contoh, jika perusahaan outsourcing dengan karyawan telah menyepakati gaji sebesar Rp 2.000.000,-, maka perusahaan outsourcing akan meminta biaya dengan perusahaan pengguna jasa sebesar 1,8 kalinya atau Rp 2.000.000,- x 1,8 = Rp3.600.000,-. Selisih uang sebesar Rp 1.600.000,- akan diberikan kepada karyawan dalam bentuk lain seperti iuran BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan, 1/12 dari gaji akan diakumulasikan untuk Tunjangan Hari Raya, dan lainnya.

Baca juga: Cara Menentukan Besaran Gaji Karyawan

 

Sampai saat ini, belum ada regulasi yang jelas dan tegas yang mengatur tentang perhitungan gaji karyawan outsourcing. Setiap perusahaan outsourcing memiliki kebijakan dan cara sendiri-sendiri dalam menghitung gaji karyawan yang pada umumnya berpatokan pada UMP. Soal menghitung gaji karyawan, Anda tentu saja mempunyai cara sendiri. Namun, ada cara yang lebih mudah, yaitu dengan menggunakan software HR. Software HR Talenta dapat membantu Anda menghitung gaji karyawan secara otomatis. Selain itu, penggunaan software HR yang dilengkapi sistem payroll seperti Talenta memungkinkan Anda membayarkan semua gaji karyawan hanya dengan satu klik. Coba Talenta sekarang juga!

 

Apa yang bisa kami lakukan untuk Anda?

Miliki sistem HR tepercaya dengan mencoba Talenta sekarang! Ikuti 3 cara berikut tanpa rasa khawatir untuk mendapatkan sistem HR yang lebih mudah:

Jadwalkan Demo 1:1

Undang kami untuk datang ke kantor Anda dan berdiskusi lebih lanjut tentang Talenta.

Ikuti Demo

Ikuti Workshop Talenta

Datang dan bergabung di workshop untuk ketahui lebih lanjut tentang Talenta.

Daftar Workshop

Coba Demo Interaktif

Coba akun demo langsung dan temukan bagaimana Talenta dapat membantu Anda.

Coba Gratis
loading
Suka dengan Artikelnya?Talenta punya lebih banyak buat kamu!

Dapatkan konten premium mulai dari artikel, ebook, case study, white papers, infographic dengan berlangganan sekarang!

Suka dengan artikelnya?Dapatkan artikel HR premium langsung di email Anda!

Jadilah orang pertama yang akan mendapatkan artikel premium mulai dari study case, infographic, ebook, hingga white paper.