Pentingnya Mengetahui Alasan Karyawan Mengundurkan Diri

Pentingnya Mengetahui Alasan Karyawan Mengundurkan Diri

Jika ada satu atau dua karyawan mengundurkan diri adalah hal yang biasa terjadi dalam dinamika bisnis. Yang patut dipahami adalah, pengunduran diri karyawan secara sukarela atau resign, akan mempengaruhi turnover ratio pada perusahaan Anda. Hal ini patut diwaspai karena turnover ratio yang tinggi akan menimbulkan biaya dan memengaruhi kinerja perusahaan secara umum.

Tinggalkan HR dan payroll manual, saatnya beralih ke Aplikasi HRIS Talenta dengan fitur absensi online, payroll dan fitur yang mempermudah pekerjaan HRD lainnya.

Biaya Akibat Karyawan Mengundurkan Diri

Berikut adalah permasalahan yang mungkin timbul akibat pengunduran diri karyawan:

  • Biaya Langsung

  1. Biaya rekrutmen karyawan baru untuk menggantikan karyawan yang resign. Biaya rekrutmen meliputi uang, waktu dan fasilitas yang digunakan dalam proses seleksi karyawan.
  2. Biaya mengiklankan posisi baru
  3. Biaya pelatihan karyawan baru agar dapat melaksanakan pekerjaan barunya. Selain biaya langsung berupa biaya pelatihan, Anda juga harus memperhitungkan waktu kerja yang terbuang dari departemen personalia atau senior yang melatih serta waktu kerja karyawan yang dilatih.
  • Biaya Tidak Langsung

  1. Kehilangan talent, terutama apabila karyawan yang mengundurkan diri adalah karyawan yang berkinerja bagus.
  2. Selama proses adaptasi karyawan baru, kinerjanya cenderung akan lebih kecil dibandingkan gaji yang sudah dikeluarkan.
  3. Tingkat kesalahan yang dilakukan atau kecelakaan yang dialami oleh para karyawan baru, biasanya cenderung tinggi.
  4. Turunnya hasil produksi selama masa pergantian karyawan.
  5. Adanya peralatan produksi yang menganggur akibat belum adanya penggantian karyawan.
  6. Biaya kerja lembur yang harus dibayarkan kepada karyawan lain, untuk membackup pekerjaan yang sebelumnya dilakukan karyawan yang mengundurkan diri.
  7. Risiko kebocoran rahasia perusahaan.
  8. Turunnya motivasi karyawan yang ditinggalkan.

Terkait dengan poin terakhir, Anda juga harus mewaspadai fenomena turnover intention. Turnover intention adalah keinginan untuk mengundurkan diri yang belum direalisasikan oleh karyawan. Walaupun belum direalisasikan, keinginan ini tetap merugikan karena cenderung menurunkan motivasi dan kinerja karyawan. Jangan sampai pengunduran diri seorang karyawan membuat karyawan lainnya memiliki keinginan yang sama.
Tingginya tingkat turnover karyawan bisa menjadi salah satu indikasi bahwa organisasi bisnis Anda memiliki masalah. Namun, sebelum terburu-buru mengambil kesimpulan demikian, lakukan dulu analisis terhadap alasan karyawan yang mengundurkan diri. Untuk dapat mengetahuinya, dapat dilakukan dengan exit interview.

Exit Interview

Apa saja yang perlu ditanyakan pada exit interview:

  1. Mengapa karyawan mengundurkan diri?
  2. Bagaimana persepsi karyawan terhadap kinerjanya dan pekerjaan yang dilakukan sebelumnya?
  3. Bagaimana hubungan karyawan dengan atasan?
  4. Apa alasan karyawan menerima tawaran di tempat baru? (jika karyawan resign karena berpindah pekerjaan)
  5. Apa yang paling karyawan sukai dan paling tidak sukai dari pekerjaannya?
  6. Menurut karyawan, kemampuan apa yang perlu dimiliki oleh penggantinya?

Pertanyaan di atas, diharapkan dapat menggali apa alasan pengunduran diri karyawan serta memberikan koreksi atau masukan yang konstruktif jika memang diperlukan bagi perbaikan perusahaan Anda.

Alasan Karyawan Mengundurkan Diri

Berbagai alasan pun bisa menjadi faktor mengapa karyawan ingin mengundurkan diri. Alasan tersebut bisa berasal semata-mata dari diri karyawan itu sendiri atau bisa juga berkaitan dengan perusahaan.

  • Alasan Resign karena Faktor Pribadi

    • Ingin Mendapatkan Pengalaman Baru

Setelah bekerja beberapa lama, wajar jika seorang karyawan akan mengalami kejenuhan. Selain kejenuhan, keinginan untuk mendapatkan pengalaman baru juga bisa timbul akibat adanya potensi terpendam yang selama ini ingin diaktualisasikan.

    • Kesehatan

Alasan pribadi lain yang kerap membuat karyawan mengundurkan diri adalah masalah kesehatan atau keterbatasan fisik yang membuat karyawan merasakan ketidakmampuan untuk mengerjakan tugasnya sehari-hari.

    • Keluarga

Alasan ketiga yang juga kerap diajukan oleh karyawan saat mengundurkan diri adalah masalah keluarga. Perpindahan rumah, memiliki bayi atau kondisi orang tua adalah beberapa alasannya.

  • Alasan Resign karena Faktor yang Terkait dengan Perusahaan

    • Ketidaksesuaian antara Keahlian dengan Bidang Kerja

Keinginan untuk bekerja sesuai dengan keahlian atau latar belakang pendidikan juga kerap membuat karyawan ingin berpindah pekerjaan.

    • Pekerjaan yang Membosankan

Hal ini bisa terjadi apabila tidak ada variasi pekerjaan atau pekerjaan yang diberikan kurang menantang. Oleh karena itu, sebagai pimpinan, memang perlu untuk melakukan job enrichment. Bisa juga melakukan rotasi tugas untuk menghindari kejenuhan.

    • Tidak Ada Jenjang Karir

Setiap manusia pasti menginginkan masa depan yang menjanjikan. Ketidakjelasan jenjang karir, dapat membuat karyawan dengan karakter high achievement merasa tidak puas. Selain itu, sistem kontrak yang diberlakukan pada karyawan tidak tetap pun dapat memicu keinginan untuk berpindah kerja atau mengundurkan diri.

    • Tidak Mendapatkan Apresiasi

Apresiasi atas kinerja yang melebihi target, inovasi yang dilakukan dan inisiatif lainnya diperlukan agar karyawan pun tetap merasa dihargai dan menjadi bagian dari perusahaan. Kelalaian perusahaan dalam memberikan apresiasi bisa dianggap sebagai ketidakpedulian yang menurunkan motivasi serta membuat karyawan kehilangan rasa memiliki atas perusahaan.

    • Masalah Gaji

Masalah gaji tidak hanya sekedar memenuhi ekspektasi karyawan semata. Namun lebih kepada memenuhi rasa keadilan. Gaji dianggap adil jika besarnya sesuai dengan beban kerja. Selain itu, perbandingan gaji dalam perusahaan dengan rata-rata gaji pada pekerjaan yang sama di luar perusahaan pun dapat mendorong seorang karyawan untuk mengundurkan diri dan berpindah kerja ke perusahaan lainnya.

    • Konflik dengan Rekan Kerja

Selain masalah karakter, konflik dengan rekan kerja bisa dipicu oleh pembagian tugas yang tumpang tindih dan juga standard operating procedure yang tidak jelas. Hal ini dapat membuat tugas satu karyawan dengan karyawan lain berbenturan dan kemudian berlarut-larut kepada konflik personal yang tidak produktif.

    • Konflik dengan Atasan

Jika alasan ini yang mengemuka ketika exit interview, maka perlu digali lebih lanjut akar masalahnya. Karena apabila konflik timbul akibat karakter atasan yang tidak baik, maka Anda sebagai pimpinan, pun harus mengambil tindakan pembinaan yang tegas kepada yang bersangkutan. Agar hal tersebut tidak terjadi kembali di masa yang akan datang.

Hikmah dari Exit Interview

Tidak hanya alasan yang terkait langsung dengan perusahaan yang patut diperhitungkan dalam manajemen sumber daya manusia. Alasan pribadi pun patut dijadikan dasar pengambilan keputusan bagi manajemen.
Misalkan, alasan keluarga. Memiliki anak dan tidak memiliki support system yang memadai, sering menjadi alasan bagi perempuan bekerja mengundurkan diri. Sementara, kebutuhan akan tenaga kerja perempuan juga tidak dapat dihindari.
Oleh karena itu, beberapa perusahaan yang menginginkan untuk mempertahankan talent perempuan di dalam perusahaannya, berusaha untuk membuat fasilitas atau peraturan yang memungkinkan pekerja perempuan tetap dapat melakukan pekerjaannya. Misalnya, dengan membuat penitipan anak di komplek kantor, atau skema cuti usai melahirkan. Dengan demikian, terjadi kondisi yang solutif bagi kedua belah pihak.
Ketika perusahaan memfasilitasi hal-hal yang terkesan pribadi namun terkait pekerjaan, sebenarnya perusahaan juga memiliki keuntungan. Keuntungannya adalah perusahaan dapat mempertahankan bahkan menarik talent yang berkualitas, selain itu produktivitas karyawan juga dapat meningkat serta dapat meningkatkan loyalitas karyawan.

Data Pendukung Lain

Tentu saja, hasil exit interview yang berupa data kualitatif tadi tidak dapat digunakan serta merta tanpa input informasi lainnya. Sebagai pembanding perlu juga dilakukan analisis terhadap data kuantitatif. Misalnya data presensi karyawan. Informasi tentang kecenderungan keterlambatan karyawan dalam suatu periode tertentu, dapat menunjukkan adanya penurunan motivasi yang bisa mengarah kepada turnover intention.
Untuk itu penting bagi perusahaan untuk memiliki sistem informasi kepegawaian yang baik, tentu untuk mendapatkan data yang akurat serta cepat. Salah satu yang dapat Anda miliki adalah aplikasi Talenta. Dimana terdapat fitur presensi dan juga payroll yang handal, yang akan memudahkan Anda untuk memiliki dasar pengambilan keputusan yang tepat.
 


PUBLISHED09 Dec 2019
Ervina
Ervina