Mengenal Revolusi Industri dan Pengaruhnya pada SDM Industri Manufaktur

Mengenal Revolusi Industri dan Pengaruhnya pada SDM Industri Manufaktur

Beberapa tahun belakang, Indonesia terutama Kementerian perindustrian menyerukan Making Indonesia 4.0 sebagai strategi Indonesia untuk memasuki revolusi industri ke-4. Pemerintah akan berfokus pada lima sektor industri yaitu; FMCG, garmen, otomotif, elektronik, dan juga kimia. Namun apakah Anda sudah mengetahui perkembangan revolusi Industri? Berikut perkembangan revolusi industri dari pertama hingga saat ini, industri ke-4.

Tinggalkan HR dan payroll manual, saatnya beralih ke Aplikasi HRIS Talenta dengan fitur absensi online, payroll dan fitur yang mempermudah pekerjaan HRD lainnya.

Pengertian Revolusi Industri

Revolusi menurut KBBI adalah sebuah perubahan yang mendasar. Revolusi industri bisa dikatakan adalah perubahan besar dan mendasar terhadap yang dilakukan manusia dalam mengelola sumber daya dan memproduksi barang yang berdampak pada tatanan sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat.

Industri 1.0

Revolusi industri pertama terjadi pada pertengahan abad ke-18 ditandai dengan penemuan mesin uap yang digunakan pada proses produksi barang. Saat itu, di Inggris mesin uap digunakan sebagai alat tenun mekanis pertama pada industri tekstil. Sebelumnya masyarakat Inggris masih menggunakan tenaga manusia dalam menenun.

Pada tahun 1776, James Watt akhirnya menemukan mesin uap yang lebih efisien dan canggih untuk alat transportasi laut. Sebelumnya transportasi laut hanya menggunakan arah angin yang sewaktu-waktu bisa berubah. Bahan bakar mesin uap saat itu adalah kayu yang dibakar dan juga batu bara. Lambat laun, teknologi James Watt digunakan oleh seluruh bangsa Eropa yang memungkinkan bangsa-bangsa Eropa saat itu melakukan penjelajahan ke seluruh dunia untuk mendapatkan sumber daya alam di luar wilayah Eropa.

Industri 2.0

Revolusi ini terjadi di awal abad 20. Ditandai dengan penemuan tenaga listrik. Thanks to Nikola Tesla dan Thomas Alva Edison yang berhasil menemukan instrumentasi listrik sebagai sumber penggerak mesin. Berawal pada akhir 1800-an dimana indikasi produksi masif mulai kentara dengan adanya produksi massal transportasi roda 4. Saat itu, produsen mobil ketar-ketir dengan kompleksitas alur produksi mulai dari perakitan komponen, perakitan rangka mobil, hingga pemasangan bodi mobil secara utuh.

Karena hambatan tersebut, pada tahun 1913, terciptalah sistem lini produksi menggunakan conveyor belt yang mempercepat produksi dan juga efektifitas penggunaan sumber daya manusia. Pada era ini juga terdapat spesialisasi pekerjaan. Pekerja dituntut untuk mempelajari satu bidang dan memperdalamnya.

Selain conveyor belt, pada era ini juga diciptakan mesin otomasi pertama yaitu berupa penggerak mesin jarak jauh dimana akhirnya digunakan pada industri-industri terutama pada industri manufaktur transportasi pada saat itu. Revolusi industri kedua juga akhirnya berdampak pada kondisi militer pada perang dunia II. ribuan transportasi tempur diproduksi secara cepat dan massal menggunakan conveyor belt dan juga tenaga listrik. Era Industri ini juga menandakan adanya perubahan masyarakat agraris menjadi masyarakat industri manufaktur.

Industri 3.0

Revolusi industri 3.0 ditandai dengan komputasi data. Pada era ini manusia tidak lagi memiliki peranan penting dalam proses produksi. Industri bukan hanya mengandalkan proses dan tenaga namun juga informasi. Berawal dari penemuan mesin hitung oleh Charles Babbage pada pertengahan tahun 1800-an. Kemudian dikembanagkan oleh Alan Turing pada perang dunia ke II sebagai mesin untuk memecahkan kode buatan Nazi Jerman. Komputer terprogram tersebut berukuran besar dan hanya menerima perintah melalui pita kertas yang membutuhkan daya listrik yang cukup besar. Setelah perang dunia II usah, terciptalah beberapa alat pendukung untuk “memperingkas” ukuran komputer seperti bahan semikonduktor, microchip, dan juga transistor.

Revolusi Industri 4.0

Revolusi industri ini tercetus muncul pada pada tahun 2000-2005. Dimana internet mulai berkembang dan memiliki kecepatan yang tidak biasa dan dapat diakses oleh siapa saja. Ajakan revolusi industri ini juga mulai menggema di akhir tahun 2010-an ketika semakin banyak industri yang mengandalkan penyimpanan cloud, mengandalkan mahadata, cognitive computing dan juga serba internet. 

Salah satunya adalah penggunaan robot pada industri manufaktur, pengolahan data yang tersimpan pada internet, collaborative-working yang terhubung dengan internet, dan juga otomasi beberapa pekerjaan seperti ticketing dan juga pengarsipan. Orang-orang meyakini bahwa revolusi industri 4.0 akan menghapus beberapa bidang pekerjaan yang repetitif sehingga dapat mengancam siapapun terutama beberapa generasi seperti generasi boomers atau X.

Revolusi Industri 5.0?

Belakangan Jepang mengumumkan konsep industri 5.0. Jika industri 1.0 adalah era kebangkitan mesin, industri 2.0 era kebangkitan otomasi, industri 3.0 era kebangkitan komputasi, industri 4.0 era kebangkitan internet, maka industri 5.0 adalah era kebangkitan society.

Konsep industri 5.0 lebih memfokuskan kombinasi pendayagunaan antara manusia, data, dan teknologi. Meskipun mirip dengan industri 4.0, Jepang tidak ingin menganggap kedua era ini sama karena pada industri 4.0 lebih berfokus pada efektivitas produksi, sedangkan industri 5.0 berfokus pada kesejahteraan masyarakat keseluruhan. Sejatinya di Indonesia sudah ada contoh perusahaan yang siap menghadapi era 5.0 a la Jepang, seperti perusahaan ojek online dan juga perusahaan penggalangan dana.

Revolusi Industri dan Pengaruhnya pada SDM Industri Manufaktur

revolusi industri manufaktur
sumber: shutterstock

Jika Anda memahami faktor-faktor pada tiap industri revolusi, Anda juga akan memahami perubahan perilaku manusia. Misalnya pada industri 4.0 SDM perusahaan tidak lagi berfokus pada jumlah produksi, namun persaingan yang lebih dalam seperti bagaimana industri mampu memberikan inovasi, memaksimalkan pelayanan, dan juga kecepatan pengembangan ide.

Di tiap tahapan revolusi, manusia atau SDM dituntut untuk beradaptasi dengan kondisi perubahan. Misalnya pada era revolusi 2.0, manusia dituntut untuk mempelajari mesin dan kelistrikan. Di era revolusi industri 4.0 SDM juga dituntut untuk dapat memahami teknologi lebih mendalam dan mampu bersaing agar manusia tidak kalah dengan segala otomasi yang ada pada era tersebut. Lalu apa kuncinya? Penanaman nilai dan budaya pada SDM itu sendiri.

Jika ingin bertahan pada persaingan industri terutama era 4.0 ini, alat hanyalah pemicu sedangkan agen perubahan adalah SDM itu sendiri. Perusahaan wajib menanamkan nilai-nilai budaya digital dan teknologi pada setiap karyawan.Salah satu bentuknya adalah penggunaan teknologi pada hal-hal mendasar seperti software ERP (enterprise resource planning) atau HRIS (Human Resource Information System).

Talenta berupaya membantu perusahaan manufaktur meningkatkan retensi karyawan dengan memberikan kemudahan dalam pengaturan payroll dan juga database karyawan.


PUBLISHED19 Mar 2020
Hafidh
Hafidh