Silicon Valley, sebuah tempat yang berlokasi di Bay Area atau lebih tempatnya di Pantai Barat Amerika Serikat, adalah rumah bagi perusahaan start-up, teknologi, hingga para entrepreneur. Banyak model bisnis baru hingga technology disruption yang lahir dari sini. Orang-orang luar mungkin berpikir bahwa Silicon Valley mudah untuk direplikasi hanya dengan mengumpulkan dana ataupun engineering talent di satu tempat. Tak terkecuali Indonesia yang juga mengadopsi sistem ini di beberapa kota di Indonesia.
Namun, salah seorang ekspert di Silicon Valley yang bernama James Hong yang juga co-founder sebuah start-up yang bergerak dalam mobile application, menegaskan bahwa belum ada ada suatu inkubator start-up di luar sana yang sukses mengadopsi sistem di Slicon Valley. Salah satu komponen yang sulit untuk ditiru adalah ketersediaan akses para alumni atau co-founder perusahaan start-up yang telah sukses dalam membangun bisnis mereka serta kemauan para alumni untuk membantu para founder startup yang masih berkembang. James merasa bahwa hal tersebut adalah perbedaan utama yang membuat Silicon Valley maju.
Di Silicon Valley, banyak sekali orang sukses yang tetap memiliki tangan terbuka untuk membantu para start-up. Mereka selalu ingat untuk membalas budi. Namun ironisnya, kebanyakan orang-orang yang berada di puncak perusahaan besar cendrung meremehkan start-up.
Berkaca pada pengalaman pribadinya dalam merintis start-up, HOTorNOT, sebuah startup photo rating yang kemudian menjadi situs percintaan, James menjalankan start-up nya secara bootstrap selama delapan tahun hingga akhirnya dibeli investor seharga 20 juta dolar AS. Oleh sebabnya, ia tidak bisa melupakan bantuan yang ia dapat dari seluruh pihak, hingga ia melakukan usaha khusus untuk membalas budi.
Menumbuhkan Budaya Saling Mendukung di Indonesia
Silicon Valley dibangun dengan pondasi saling mendukung antar perusahaan, professional, hingga industri. Mereka tak akan ada tanpa adanya kolaborasi antara “yang besar” pada “yang kecil”. Lalu pertanyaannya, seberapa mampu Indonesia untuk dapat menduplikasi Silicon Valley?
Di Indonesia sendiri, UMKM di Indonesia jumlahnya mencapai 99% dari pelaku usaha yang ada di Tanah Air. Sedangkan jumlah wirausahawan di Indonesia sendiri baru 1,67% dari total populasi penduduk. Badan Pusat Statistik juga mencatat, pada tahun 2015 terdapat 55,2 juta UKM yang seluruhnya memberikan kontribusi pada PDB sebesar 57,9% hingga berkontribusi terhadap penyerapan tenaga kerja sebesar 97,2%. Data ini mengungkapkan fakta bahwa UMKM di Indonesia masih menjadi tumpuan masyarakat, dan sayangnya kontribusi sektor ini terhadap PDB masih belum sebesar usaha-usaha besar yang jumlahnya hanya segelintir namun menguasai perekonomian.
Pertanyaan berikutnya, apakah yang salah dari upaya pemberdayaan UMKM selama ini? Jawaban yang paling memungkinkan adalah, etika bisnis di Silicon Valley menjadi layak untuk dijadikan acuan bagi sector UMKM ketika budaya saling mendukung dikembangkan, hukum rimba ditiadakan, sehingga “yang besar” menolong “yang kecil”, dan yang telah tumbuh tak lupa untuk membalas budi.
Dalam kunjungan terakhirnya ke Silicon Valley, Presiden Joko Widodo turut menyampaikan sejumlah kemudahan untuk memupuk ekosistem digital di Indonesia mulai dari membangun infrastruktur, deregulasi, hingga meningkatkan akses broadband. Bahkan untuk memperluas akses pembiayaan, bunga Kredit Usaha Rakyat juga akan diturunkan lagi dari 9% menjadi 7%per tahun. Selain itu, Kementerian Komunikasi dan Informatika juga telah menyiapkan roadmap perkembangan e-commerce Indonesia.
Namun seluruh usaha tersebut bisa jadi akan sia-sia jika tanpa diiringi pembangunan kultur saling mendukung seperti yang terjadi di Silicon Valley. Selain infrastruktur pendukung, perusahaan besar juga harus mampu menjadi kolaborator yang baik bagi perusahaan start-up, karena mereka juga dulunya dimulai dari perusahaan kecil. Bagi WNI yang bekerja di Silicon Valley, atau memiliki keahlian tertentu stidaknya mampu menyediakan waktunya bagi konsultasi pro-bono bagi perusahaan start-up. Dan tentunya, kolaborasi antara pemerintah, pengusaha, hingga akademisi juga tak boleh dilewatkan jika Indonesia ingin sukses mengadopsi sistem seperti Silicon Valley.

Apa yang bisa kami lakukan untuk Anda?

Miliki sistem HR tepercaya dengan mencoba Talenta sekarang! Ikuti 3 cara berikut tanpa rasa khawatir untuk mendapatkan sistem HR yang lebih mudah:

Jadwalkan Demo 1:1

Undang kami untuk datang ke kantor Anda dan berdiskusi lebih lanjut tentang Talenta.

Ikuti Demo

Ikuti Workshop Talenta

Datang dan bergabung di workshop untuk ketahui lebih lanjut tentang Talenta.

Daftar Workshop

Coba Demo Interaktif

Coba akun demo langsung dan temukan bagaimana Talenta dapat membantu Anda.

Coba Gratis
loading
Tunggu! Talenta punya ebook buat kamu!

Dapatkan ebook "Panduan mudah menghitung gaji sesuai jenis karyawan"

Suka dengan artikelnya?Dapatkan artikel HR premium langsung di email Anda!

Jadilah orang pertama yang akan mendapatkan artikel premium mulai dari study case, infographic, ebook, hingga white paper.