HR Planning 4 min read

Assessment for Learning: Definisi, Proses, dan Contohnya

Tayang
Diperbarui
Di tulis oleh:
Foto profil Jordhi Farhansyah
Jordhi Farhansyah
Di review oleh:
Mekari Talenta Expert Reviewer
Ayu Muharningtyas CHRP
Highlights
  • Assessment for Learning merupakan metode pendekatan asesmen formatif secara kontinu selama proses pembelajaran berlangsung untuk mengukur perkembangan kompetensi individu.
  • Penerapan strategi ini bermanfaat mengoptimalkan potensi karyawan melalui bimbingan mandiri, umpan balik langsung, serta evaluasi kurikulum yang fleksibel.

Assessment for Learning (AFL) adalah istilah yang jamak digunakan pada dunia pendidikan khususnya di sekolah dan perguruan tinggi.

Namun seiring berkembangnya penerapan ilmu pengetahuan, AFL juga sering digunakan dalam ruang lingkup pekerjaan.

Apalagi jika berkaca pada industri tenaga kerja saat ini, perusahaan mulai memperhatikan aspek pengembangkan kemampuan karyawan.

Melalui artikel ini, Mekari Talenta akan menjelaskan apa itu assessment for learning (AFL) yang bisa Anda terapkan di segala aspek khususnya dalam pengembangan kemampuan karyawan.

Baca Juga: 10 Jenis Online Assessment Test yang Digunakan dalam Rekrutmen

Apa itu Assessment for Learning?

Mengutip Cambridge International Education, assessment for learning (AFL) adalah metode pendekatan asesmen individu selama proses pembelajaran berlangsung.

Hal tersebut tentu berbeda dengan assessment of learning (AOL) dimana asesmen dilakukan setelah siswa melakukan pembelajaran.

Metode AFL digunakan agar individu terlibat secara langsung dalam proses pembelajaran dan secara aktif memahami apa yang sudah mereka capai saat ini, apa yang mereka butuhkan, dan apa output-nya.

Metode Asesmen yang Digunakan

Proses asesmen yang dilakukan di tengah-tengah pembelajaran, assessment for learning (AFL) umumnya mengedepankan pendekatan asesmen formatif yaitu:

  • Memberikan pertanyaan
  • Pemberian feedback atau umpan balik secara langsung
  • Memberikan pertanyaan yang relevan terhadap apa yang sedang dikerjakan
  • One-on-one assessment yaitu asesmen yang dilakukan perorangan
  • Self-assessment yaitu asesmen mandiri

JIka melihat pendekatannya, assessment for learning terbilang cukup serbaguna untuk dipakai oleh segala usia khususnya bagi karyawan atau anggota institusi tertentu.

Proses AFL juga tidak melulu mengandalkan asesmen formatif saja. Guna memaksimalkan proses asesmen, Anda juga bisa menggunakan asesmen sumatif sebagai pendukung seperti memberikan tugas dan pembuatan portofolio.

Baca Juga: Cara 20+ Perusahaan Global Menyaring Kandidat: 5 Jenis Asesmen Ini Terus Muncul

Bagaimana Proses Assessment for Learning?

Ada beberapa tahapan dalam melakukan proses assessment for learning yaitu sebagai berikut.

1. Perencanaan

Tahap perencanaan adalah tahapan di mana Anda membuat tujuan pembelajaran. Dalam konteks organisasi misalnya, kira-kira kemampuan apa yang sedang dibutuhkan oleh organisasi.

Pada tahap ini pula, sebagai penyelenggara Anda diminta untuk memetakan kemampuan peserta dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada mereka.

Pertanyaan dapat berupa sejauh mana mereka memahami kemampuan tersebut. Pada tahap ini sejatinya Anda sudah melakukan assessment for learning.

2. Menyusun Kurikulum

Tahap selanjutnya adalah menyusun kurikulum sesuai dengan tingkat kemampuan peserta.

Di tahap ini Anda sudah memiliki kelompok murid sesuai dengan tingkat kemampuan dan kebutuhan pengetahuan mereka.

3. Pelaksanaan Asesmen

Pelaksanaan assessment for learning dilakukan selama durasi pembelajaran berlangsung.

Setelah kelas selesai, Anda bisa menyediakan feedback untuk setiap apa yang telah mereka pelajari selama di dalam kelas.

Anda juga bisa meminta peserta untuk melakukan self-assessment atau menawarkan one-on-one session kepada peserta yang masih tertinggal.

4. Lakukan Asesmen Sumatif

Meski assessment for learning lebih banyak menggunakan asesmen formatif, asesmen sumatif juga perlu digunakan yaitu berupa pemberian tugas dan portofolio.

Hal ini dilakukan untuk memantau sejauh mana peserta memahami pelajaran selama proses pembelajaran atau pelatihan berlangsung.

5. Evaluasi

Tidak ada tahapan kegiatan tanpa evaluasi. Mana hal yang perlu dikembangkan, apa saja kegiatan yang efektif, apakah kurikulumnya sesuai dengan kebutuhan, dan aspek-aspek lainnya.

Baca juga: Memahami Metode PDCA: Langkah-langkah, Manfaat, dan Contohnya dalam Bisnis

Manfaat dari Assessment for Learning

Manfaat dari assessment for learning dapat dirasakan baik oleh peserta maupun penyelenggara.

Manfaat bagi Penyelenggara

  • Penyelenggara bisa memberikan bahan ajar yang tepat sasaran sesuai dengan kemampuan peserta sehingga hasilnya pun jauh lebih efektif.
  • Cenderung fleksibel dan efisien dari segi biaya, hal ini karena proses belajar-mengajar lebih banyak melibatkan peserta
  • Assessment for learning dapat diterapkan di berbagai situasi termasuk perusahaan dan organisasi
  • Membangun kedekatan antara pihak penyelenggara dan peserta sehingga kelas jauh lebih positif
  • Dengan assessment for learning, penyelenggara bisa dengan mudah mengetahui peserta yang tertinggal

Manfaat bagi Peserta

  • Peserta jadi lebih memiliki rasa percaya diri
  • Meningkatkan kolaborasi antar peserta
  • Peserta tidak perlu terpaku pada jadwal dan kelas, hal ini karena proses pembelajaran jauh lebih fleksibel. Bahkan bagi karyawan, metode ini bisa dilakukan di tengah-tengah waktu kerja
  • Peserta lebih bisa memahami konsep atau dasar-dasar kemampuan yang harus dipahami
  • Karena bersifat personalized, jenis asesmen ini dapat memberikan dampak yang jauh lebih efektif dibanding asesmen konvensional
  • Peserta jauh lebih mandiri untuk menyelesaikan masalah

Contoh Assessment for Learning

Anda pernah menonton film The Internship (2013)? Mengisahkan dua orang yang melakukan magang di perusahaan Google. Dimana dua orang tersebut terlibat dalam satu tim untuk mengerjakan proyek latihan.

Terlepas dari benar atau tidak, apa yang digambarkan dalam film The Internship merupakan contoh dari assessment for learning.

Masing-masing anggota kelompok diminta untuk berkontribusi mengerjakan proyek yang diminta, dan masing-masing dari mereka sama-sama memberikan penilaian pada diri mereka sendiri dan teman setimnya.

Lalu bagaimana dengan studi kasus nyatanya?

1. AlphaSights

Perusahaan mSME enabler dimana perusahaan tersebut menghubungkan UMKM di seluruh penjuru Amerika Serikat dengan para investor.

Mengutip 360 Learning, perusahaan asal Amerika Serikat ini memiliki platform pembelajaran digital dimana karyawan dapat mengakses materi pembelajaran sesuai dengan apa yang mereka butuhkan.

Menariknya lagi, materi ajar yang ada di platform tersebut dibuat oleh 240 UMKM binaan dimana, materinya sendiri berasal dari bimbingan karyawan AlphaSight. Dari karyawan untuk karyawan.

Metode asesmen yang digunakan dalam contoh kasus ini adalah self-assessment dan peer-to-peer assessment.

2. Nintendo Japan

Nintendo Japan menghadirkan pelatihan yang cukup holistik. Para karyawan sesekali diminta untuk melakukan brainstorming terkait ide yang dapat digunakan untuk produk mereka ke depan.

Selain itu, karyawan juga terus diminta memberikan feedback, apa saja yang telah mereka pelajari selama periode kerja tertentu.

Bahkan, karyawan juga bisa melakukan pembelajaran peer-to-peer secara langsung dengan rekan dan supervisor mereka.

Assessment for learning merupakan metode asesmen yang cukup serbaguna, apalagi digunakan untuk instansi perusahaan atau organisasi tertentu.

Apalagi dengan kehadiran learning management system secara daring yang memungkinkan karyawan bisa melakukan pembelajaran dan asesmen secara mandiri.

Baca juga: Learning Management System (LMS): Mengoptimalkan Pembelajaran di Era Digital

Karyawan Bisa Self Learning Lewat Fitur Employee Self-service Mekari Talenta

Berbicara mandiri, tahukah Anda bahwa saat ini karyawan juga bisa mengakses kebutuhan administrasi karyawan secarfa mandiri melalui aplikasi HRIS yang memiliki fitur employee self-service.

Selain sebagai software HCM, Mekari Talenta juga memiliki fitur employee self-service di mana karyawan dapat mengakses segala kebutuhan administratif.

Mulai dari absensi online, akses slip gaji, pengajuan cuti, dan pengajuan perubahan data karyawan dapat dilakukan secara online melalui aplikasi.

Bagi HR, kehadiran fitur employee self-service seperti di aplikasi Mekari Talenta juga mempermudah pekerjaan administratif menjadi lebih hemat waktu dan efektif.

FAQ (Frequently Asked Questions)

Kapan waktu yang tepat bagi perusahaan untuk menerapkan Assessment for Learning (AFL)?

Kapan waktu yang tepat bagi perusahaan untuk menerapkan Assessment for Learning (AFL)?

Assessment for Learning dapat mulai diterapkan ketika perusahaan ingin meningkatkan kompetensi karyawan secara berkelanjutan, bukan hanya mengukur hasil akhir pelatihan. Metode ini sangat cocok digunakan saat onboarding, program upskilling, maupun pengembangan calon pemimpin. Perusahaan juga dapat menerapkannya ketika terjadi perubahan teknologi, proses kerja, atau regulasi yang mengharuskan karyawan mempelajari keterampilan baru. Dengan evaluasi yang dilakukan selama proses belajar, perusahaan dapat segera mengetahui kendala yang dialami peserta. Hasilnya, program pelatihan menjadi lebih adaptif dan efektif dibanding hanya melakukan evaluasi di akhir.

Apa perbedaan Assessment for Learning dengan performance appraisal?

Apa perbedaan Assessment for Learning dengan performance appraisal?

Assessment for Learning berfokus pada proses belajar dan membantu peserta meningkatkan kompetensinya melalui umpan balik yang berkelanjutan. Sementara itu, performance appraisal digunakan untuk mengevaluasi kinerja karyawan berdasarkan target atau Key Performance Indicator (KPI) dalam periode tertentu. AFL bersifat formatif dan bertujuan mendukung perkembangan individu, sedangkan performance appraisal lebih bersifat evaluatif untuk kebutuhan penilaian kinerja. Keduanya sebenarnya dapat saling melengkapi dalam strategi pengembangan SDM. Perusahaan dapat menggunakan AFL sebagai dasar peningkatan kompetensi sebelum melakukan evaluasi kinerja formal.

Apakah Assessment for Learning hanya cocok diterapkan pada pelatihan formal?

Apakah Assessment for Learning hanya cocok diterapkan pada pelatihan formal?

Tidak. Assessment for Learning juga efektif diterapkan dalam aktivitas kerja sehari-hari, seperti coaching, mentoring, diskusi proyek, hingga sesi berbagi pengetahuan antar tim. Selama terdapat tujuan pembelajaran yang jelas dan umpan balik yang konstruktif, pendekatan AFL tetap dapat berjalan dengan baik. Bahkan metode ini sering digunakan dalam lingkungan kerja yang dinamis karena lebih fleksibel dibanding pelatihan di kelas. Pendekatan tersebut memungkinkan karyawan belajar sambil menyelesaikan pekerjaan mereka. Dengan demikian, proses pengembangan kompetensi menjadi lebih kontekstual dan relevan dengan kebutuhan bisnis.

Bagaimana cara mengukur keberhasilan penerapan Assessment for Learning di perusahaan?

Bagaimana cara mengukur keberhasilan penerapan Assessment for Learning di perusahaan?

Keberhasilan AFL dapat diukur melalui perubahan kemampuan karyawan sebelum dan sesudah program pembelajaran berlangsung. Selain itu, perusahaan juga dapat melihat peningkatan kualitas pekerjaan, kecepatan penyelesaian tugas, atau kemampuan karyawan dalam menyelesaikan masalah secara mandiri. Tingkat partisipasi peserta, kualitas umpan balik, dan kepuasan terhadap program pelatihan juga menjadi indikator yang penting. Pengukuran sebaiknya dilakukan secara berkala agar perkembangan kompetensi dapat dipantau dari waktu ke waktu. Dengan evaluasi yang konsisten, perusahaan dapat terus menyempurnakan strategi pembelajaran yang diterapkan.

Apa tantangan terbesar dalam menerapkan Assessment for Learning di perusahaan?

Apa tantangan terbesar dalam menerapkan Assessment for Learning di perusahaan?

Salah satu tantangan terbesar adalah membangun budaya belajar yang mendorong karyawan menerima dan memanfaatkan umpan balik secara positif. Selain itu, atasan atau mentor juga perlu memiliki kemampuan memberikan feedback yang objektif, spesifik, dan dapat ditindaklanjuti. Keterbatasan waktu operasional sering menjadi kendala sehingga proses asesmen berkelanjutan sulit dilakukan secara konsisten. Perusahaan juga memerlukan sistem yang mampu mendokumentasikan perkembangan setiap peserta agar proses evaluasi lebih terstruktur. Dengan dukungan teknologi dan komitmen dari manajemen, tantangan tersebut dapat diminimalkan sehingga AFL berjalan lebih optimal.

Image
Jordhi Farhansyah Penulis
Penulis dengan pengalaman selama sepuluh tahun dalam menghasilkan konten di berbagai bidang dan kini berfokus pada topik seputar human resources (HR) dan dunia bisnis. Dalam kesehariannya, Jordhi juga aktif menekuni fotografi analog sebagai bentuk ekspresi kreatif di luar rutinitas menulis.
Ayu M
Ayu Muharningtyas S.Psi CHRP

Ayu M. adalah Human Resources Manager di Qwiik. Ia berpengalaman lebih dari 10 tahun di bidang Human Resources, khususnya dalam Talent Acquisition, Assessment Center, Organizational Development, Employer Branding, serta Culture & Talent Development. Salah satu inisiatif yang paling berkesan adalah Virtual Sharing Session bersama universitas-universitas di kota besar Indonesia, di mana Ayu berperan sebagai moderator.

Icon

Satu solusi untuk semua kebutuhan HR Anda

Optimalkan pengelolaan operasi HR Anda dengan bantuan solusi terintegrasi dari Mekari Talenta.