Flexible Benefit: Pengertian, Manfaat, dan Jenisnya

Tayang
Diperbarui
Highlight
  • Flexible benefit adalah skema tunjangan di mana karyawan dapat memilih paket manfaat dari beberapa opsi yang disediakan perusahaan, sehingga benefit terasa lebih relevan.
  • Agar implementasinya tidak rumit dan tetap terukur, HR bisa menjalankan program flexible benefit melalui Mekari Talenta dan menghubungkannya dengan Mekari Flex untuk alokasi benefit serta dukungan kesejahteraan karyawan yang lebih praktis.

Employee benefit program adalah rangkaian fasilitas dan kompensasi tambahan di luar gaji yang diberikan perusahaan untuk mendukung kesejahteraan karyawan.

Dalam praktiknya, salah satu pendekatan yang makin banyak dipilih perusahaan adalah flexible benefit, yaitu skema benefit yang memberi ruang bagi karyawan untuk memilih manfaat sesuai kebutuhan masing-masing.

Tujuan flexible benefit tetap sama, yaitu mempertahankan karyawan berkualitas dan meningkatkan daya tarik perusahaan sebagai tempat bekerja, tetapi dengan cara yang lebih personal dan relevan untuk tiap individu.

Riset SHRM menunjukkan 29% karyawan mencari pekerjaan lain karena paket benefit, sedangkan 32% lainnya menjadikan benefit sebagai pertimbangan utama untuk bertahan di perusahaan.

Untuk memahami pengertian flexible benefit, cara kerja, contoh benefit yang paling relevan, hingga tips menyusun program yang tepat tanpa membebani biaya perusahaan, simak penjelasan lengkapnya berikut ini!

Apa itu Flexible Benefit?

Dalam menyusun employee benefit program, HR umumnya membagi benefit ke dua kategori, yaitu benefit yang sifatnya normatif dan benefit yang sifatnya fleksibel.

Benefit yang sifatnya normatif biasanya diberikan perusahaan untuk memenuhi kewajiban peraturan perundangan serta peraturan pemerintah.

Employee benefit yang sifatnya sudah baku dan tidak dapat diganti adalah seperti BPJS Ketenagakerjaan, dan lain-lain.

Sementara itu, flexible benefit adalah tunjangan tambahan di luar benefit normatif yang diberikan perusahaan kepada karyawan, di mana karyawan dapat memilih paket manfaat dari beberapa alternatif benefit yang ditawarkan oleh perusahaan.

Program ini dirancang untuk mengakomodasi kebutuhan karyawan yang berbeda-beda, karena tidak semua karyawan membutuhkan manfaat yang sama pada waktu yang sama.

Pada skema flexible benefit, perusahaan tetap menentukan kerangka dan batasannya, seperti jenis benefit yang tersedia, aturan eligibility, periode pemilihan, serta pagu atau nilai maksimal yang bisa digunakan.

Dengan mekanisme ini, karyawan merasa lebih dilibatkan dalam memilih manfaat yang paling berguna, sementara perusahaan tetap memiliki kontrol atas kebijakan, alokasi biaya, dan tata kelola program.

Tren penggunaan skema flexible benefit saat ini semakin populer, tercatat 67% dari bisnis kecil memilih skema ini dibandingkan dengan menggunakan paket benefit standar untuk semua karyawan.

Baca juga: Apa Saja Benefit yang Didapatkan Karyawan Tetap?

Mekari Talenta

Manfaat Flexible Benefit

Pentingnya flexible benefit terletak pada kemampuannya menghadirkan nilai tambah yang lebih relevan di luar gaji, karena manfaatnya dapat disesuaikan dengan kebutuhan karyawan, seperti:

1. Meningkatkan Retensi dan Menekan Biaya Turnover

Paket benefit yang relevan membuat karyawan lebih betah karena merasa kebutuhan dasarnya dipenuhi, mulai dari perlindungan kesehatan sampai dukungan keluarga.

Ini membantu HR menurunkan tingkat turnover karyawan yang biasanya memicu biaya besar seperti rekrutmen ulang, onboarding, training, dan penurunan produktivitas tim selama posisi kosong.

Saat benefit konsisten dan terasa adil, loyalitas meningkat dan keputusan karyawan untuk bertahan jadi lebih kuat.

2. Memperkuat Daya Tarik Perusahaan di Pasar Kerja

Dalam proses hiring, flexible benefit sering jadi pembeda ketika kandidat membandingkan beberapa penawaran yang nilai gajinya mirip.

Program seperti asuransi, cuti tambahan, fleksibilitas kerja, dan dukungan pengembangan diri meningkatkan persepsi bahwa perusahaan serius membangun employee experience.

Hasilnya, employer brand lebih kuat dan HR punya peluang lebih besar mendapatkan kandidat yang sesuai.

3. Menjaga Produktivitas melalui Dukungan Kesejahteraan

Karyawan yang merasa aman dan didukung biasanya lebih fokus bekerja, apalagi saat manfaat yang dipilih sesuai prioritas mereka.

Flexible benefit memungkinkan karyawan memilih dukungan kesejahteraan yang paling berdampak, seperti program wellness, akses konseling, atau benefit kesehatan tambahan untuk mengurangi risiko burnout dan absensi.

Dukungan sederhana seperti tunjangan transport, makan, atau komunikasi juga dapat dipilih oleh karyawan yang memang membutuhkan, sehingga mengurangi distraksi finansial harian.

Karena manfaatnya lebih tepat sasaran, produktivitas tim cenderung lebih stabil dan konsisten.

Baca Juga : Pentingnya Program Employee Benefit bagi Perusahaan

4. Meningkatkan Pemahaman Karyawan terhadap Benefit dan Biaya Program

Dengan program employee benefit yang fleksibel, karyawan akan lebih terdorong untuk mempelajari benefit yang ditawarkan dan biaya yang dikeluarkan.

Sehingga dalam pelaksanaannya nanti, hal ini dapat meminimalisir kesalahpahaman, dan karyawan pun dapat menikmati manfaat dengan optimal.

Program flexible benefit terkesan mengutamakan kesejahteraan karyawan, namun sesungguhnya program employee benefit yang fleksibel ini pun dapat menguntungkan kedua belah pihak.

Baik pihak perusahaan maupun pihak individu karyawan itu sendiri.

Hal ini karena nilai psikologis dari benefit program dapat lebih efektif dan maksimal diperoleh oleh perusahaan dengan hanya membayar benefit yang diinginkan.

Sementara itu karyawan pun merasa diuntungkan karena benefitnya tepat sasaran.

Jenis-Jenis Employee Benefit

Jenis-jenis employee benefit bisa dibagi berdasarkan fungsinya, supaya HR lebih mudah memilih mana yang paling relevan untuk kebutuhan karyawan dan kemampuan budget perusahaan.

1. Benefit Kesehatan dan Perlindungan

Benefit ini fokus pada rasa aman karyawan dan keluarga saat terjadi risiko kesehatan atau kecelakaan.

Contohnya asuransi kesehatan tambahan di luar BPJS, asuransi jiwa, rawat jalan dan rawat inap, kacamata dan dental, medical check up berkala, sampai program EAP seperti konseling psikolog. Benefit kesehatan biasanya paling cepat terasa nilainya karena langsung dipakai saat dibutuhkan.

2. Benefit Finansial di Luar Gaji

Kategori ini berbentuk dukungan uang atau pengganti biaya yang membantu beban hidup karyawan.

Contohnya tunjangan transport, makan, komunikasi, tunjangan perumahan, bonus kinerja, insentif penjualan, THR, bantuan pendidikan, sampai dana pensiun tambahan.

HR perlu memastikan benefit finansial punya aturan yang jelas agar konsisten dan tidak memicu kecemburuan antar tim.

3. Benefit Work Life Balance dan Fleksibilitas

Benefit ini membantu karyawan mengelola ritme kerja dan kehidupan personal tanpa mengorbankan produktivitas.

Contohnya cuti tambahan di luar cuti tahunan, cuti sakit yang lebih fleksibel, cuti parental, jam kerja fleksibel, hybrid atau remote untuk peran tertentu, kebijakan time off untuk urusan keluarga, sampai program recharge seperti wellness day.

Benefit jenis ini biasanya kuat dampaknya ke retensi dan engagement.

3. Benefit Pengembangan Karier dan Kompetensi

Tujuannya meningkatkan skill dan kesiapan karyawan untuk tumbuh di perusahaan. Contohnya budget training, sertifikasi, akses kelas online, mentoring, coaching, program leadership, rotasi jabatan, jalur karier yang jelas, dan dukungan biaya pendidikan lanjutan.

Benefit ini penting untuk menekan turnover talenta yang biasanya resign karena merasa stagnan.

4. Benefit Fasilitas Kerja dan Produktivitas

Benefit ini membantu karyawan bekerja lebih nyaman dan efisien, terutama untuk peran yang butuh dukungan operasional.

Contohnya laptop atau perangkat kerja, subsidi internet, allowance WFH, ergonomics seperti kursi kerja, seragam, fasilitas makan di kantor, transport shuttle, sampai ruang laktasi atau daycare jika memungkinkan. Dampaknya sering terlihat pada kelancaran operasional harian.

5. Benefit Pengakuan dan Apresiasi

Tidak semua benefit harus berbentuk uang. Program apresiasi yang rapi bisa meningkatkan motivasi dan budaya kerja.

Contohnya reward berbasis pencapaian, employee of the month, penghargaan masa kerja, voucher hadiah, poin reward yang bisa ditukar, sampai pengakuan publik dalam forum internal. Kuncinya transparansi kriteria agar programnya dianggap adil.

6. Benefit Kesejahteraan Sosial dan Gaya Hidup

Benefit ini biasanya sifatnya pelengkap, tapi bisa jadi pembeda untuk employer branding.

Contohnya membership gym, kelas olahraga, acara family gathering, komunitas hobi, bantuan relokasi, program CSR yang melibatkan karyawan, atau benefit gaya hidup seperti diskon merchant.

Cocok untuk meningkatkan sense of belonging dan pengalaman kerja yang lebih menyenangkan.

Baca Juga : 10 Benefit Karyawan yang Bantu Tingkatkan Loyalitas

Tips Menyusun Flexible Benefit untuk Karyawan

Sebelum menyusun flexible benefit program, HR perlu memastikan benefit yang dibuat tidak sekadar menarik di atas kertas, tetapi benar-benar dipilih, dipakai, dan berdampak.

Kuncinya ada pada dua hal, yaitu relevansi untuk kebutuhan karyawan dan kontrol biaya yang tetap sehat untuk perusahaan.

Dengan pendekatan yang terstruktur, program flexible benefit bisa jadi win-win karena meningkatkan retensi sekaligus menjaga efisiensi anggaran.

Berikut beberapa tips yang bisa HR terapkan untuk merancang flexible benefit program yang tepat.

1. Mulai dari Data Kebutuhan Karyawan

Langkah paling aman adalah mengumpulkan data, bukan menebak kebutuhan karyawan. HR bisa pakai survei singkat, interview, dan catatan exit interview untuk menangkap alasan karyawan bertahan atau resign.

Setelah itu, kelompokkan hasilnya berdasarkan profil seperti level jabatan, usia, status keluarga, dan lokasi kerja karena kebutuhan tiap segmen berbeda.

Pastikan juga Anda membedakan kebutuhan yang sifatnya wajib, penting, dan hanya nice to have agar prioritasnya jelas.

Dengan data yang rapi, HR lebih mudah menyusun benefit yang tepat sasaran sekaligus menghindari program mahal yang ternyata jarang dipakai.

2. Tetapkan Benefit Dasar yang Paling Berdampak

Sebelum menambah benefit yang fancy, pastikan benefit dasar sudah kuat dan konsisten. Fokus pada hal yang paling sering dirasakan karyawan seperti perlindungan kesehatan, kebijakan cuti, dan dukungan saat sakit.

HR perlu memastikan aturan benefit dasar jelas, termasuk siapa yang eligible, cara klaim, dan batasan penggunaannya.

Benefit dasar yang rapi akan menurunkan potensi komplain karena karyawan merasa perusahaan memberi rasa aman yang nyata.

Saat pondasinya kuat, HR lebih gampang menambahkan benefit lain tanpa memicu rasa tidak adil atau kebingungan.

3. Terapkan Flexible Benefit dengan Opsi yang Jelas dan Relevan

Tidak semua karyawan membutuhkan benefit yang sama, jadi fleksibilitas bisa membuat paket benefit terasa lebih relevan.

Berikan pilihan benefit tambahan di luar benefit dasar, misalnya dental, financial planning, kupon makan, tunjangan transportasi, atau dukungan tempat tinggal sesuai kondisi karyawan.

Dengan opsi seperti ini, karyawan bisa merasa ikut terlibat karena memilih benefit yang paling sesuai kebutuhan individual mereka.

Dampaknya, benefit lebih dihargai lintas generasi karena tiap kelompok bisa mengambil yang paling relevan untuk fase hidupnya.

Dari sisi perusahaan, program fleksibel membantu efisiensi karena anggaran lebih banyak dipakai untuk benefit yang benar-benar digunakan, sekaligus mengurangi salah paham karena karyawan terdorong memahami detail benefit dan biayanya.

4. Buat Aturan dan Komunikasi yang Konsisten

Benefit yang bagus bisa gagal kalau aturan dan komunikasinya tidak jelas.

Jadi, HR perlu menuliskan kebijakan benefit secara ringkas, mudah diakses, dan tidak menimbulkan interpretasi ganda antar tim.

Pastikan alur pengajuan dan klaim sederhana, termasuk SLA approval, dokumen pendukung, dan siapa PIC-nya.

Komunikasikan benefit secara berkala, tidak hanya saat onboarding, supaya karyawan ingat haknya dan tahu cara memakainya.

Konsistensi ini penting untuk menjaga rasa adil, menekan rumor internal, dan mengurangi pekerjaan follow up manual yang menguras waktu HR.

5. Evaluasi Program dengan Metrik yang Terukur

Employee benefit bukan program sekali jadi, jadi HR perlu evaluasi rutin berdasarkan angka, bukan asumsi.

Lihat tingkat pemakaian benefit, biaya per karyawan, serta benefit mana yang paling berdampak terhadap retensi dan absensi.

Gabungkan data kuantitatif dengan feedback karyawan agar Anda tahu apakah masalahnya di relevansi benefit atau di komunikasi dan proses klaim.

Dari evaluasi ini, HR bisa menghapus benefit yang rendah pemakaian, mengganti dengan opsi yang lebih relevan, atau mengubah mekanismenya supaya lebih mudah diakses.

Dengan evaluasi berkala, program benefit tetap up to date, anggaran lebih terkendali, dan manfaatnya terasa jelas bagi karyawan maupun perusahaan.

Baca Juga : Cara Menyusun Program Benefit Karyawan yang Efektif

Kelola Benefit Karyawan Lebih Fleksibel dan Praktis dengan Mekari Talenta dan Mekari Flex

Yang sering dikhawatirkan oleh perusahaan dalam menerapkan program employee benefit adalah rumit dan mahalnya infrastruktur yang harus dipersiapkan.

Perusahaan juga acapkali khawatir bahwa program employee benefit yang fleksibel dapat menimbulkan pembengkakan biaya benefit karyawan.

Anda tidak perlu mengkhawatirkan hal tersebut, karena dalam aplikasi HR digital Mekari Talenta, Anda sudah dapat menerapkan program employee benefit yang fleksibel.

Aplikasi ini dirancang dengan sistem cloud, sehingga tidak membutuhkan biaya yang besar dalam pengaplikasiannya.

https://www.youtube.com/watch?time_continue=4&v=WggeQWxkPoI&embeds_referring_euri=https%3A%2F%2Fwww.talenta.co%2F&source_ve_path=MjM4NTE

Dengan aplikasi Mekari Talenta Anda juga dapat mengatur pagu benefit yang akan diberikan, sehingga Anda tidak perlu khawatir program benefit yang diambil pegawai akan mengacaukan cash flow perusahaan.

Agar pengelolaannya makin praktis, Anda juga dapat menghubungkan program benefit fleksibel ini dengan Mekari Flex, bagian dari Mekari Talenta, untuk membantu manajemen alokasi benefit dan dukungan kesejahteraan karyawan secara lebih terstruktur.

Melalui Mekari Flex, perusahaan dapat menyediakan opsi benefit yang bisa dipilih sesuai kebutuhan, sekaligus menghadirkan dukungan finansial seperti Earned Wage Access dan cicilan yang lebih ringan, tanpa membuat proses HR jadi berbelit.

Dengan alur yang terpusat, karyawan dapat mengakses dan memanfaatkan benefit dengan lebih mudah, sementara HR tetap punya kontrol kebijakan dan batasan biaya yang jelas.

Konsultasikan kebutuhan program benefit karyawan Anda dengan tim kami sekarang untuk mendapatkan rekomendasi yang paling sesuai.

Pertanyaan Umum seputar Employee Benefit Program

Apa itu flexible benefit?

Apa itu flexible benefit?

Flexible benefit adalah program benefit karyawan yang memungkinkan karyawan memilih manfaat yang paling sesuai dari beberapa opsi benefit yang ditawarkan perusahaan.

Apa perbedaan benefit normatif dan benefit fleksibel?

Apa perbedaan benefit normatif dan benefit fleksibel?

Benefit normatif adalah benefit wajib yang mengikuti regulasi dan kebijakan pemerintah, sedangkan benefit fleksibel adalah benefit tambahan yang bisa dipilih karyawan dari beberapa opsi sesuai kebutuhan.

Kenapa flexible benefit makin populer di perusahaan?

Kenapa flexible benefit makin populer di perusahaan?

Karena kebutuhan karyawan beragam, flexible benefit membuat paket benefit lebih tepat sasaran, meningkatkan apresiasi, dan membantu perusahaan memberikan nilai tambah tanpa harus menyamaratakan benefit untuk semua orang.

Apakah flexible benefit bikin biaya perusahaan membengkak?

Apakah flexible benefit bikin biaya perusahaan membengkak?

Tidak harus, karena perusahaan bisa mengatur pagu benefit, menetapkan opsi benefit yang tersedia, serta mengontrol kebijakan dan eligibility agar anggaran tetap terjaga.

Bagaimana cara HR menerapkan flexible benefit agar rapi dan mudah dikelola?

Bagaimana cara HR menerapkan flexible benefit agar rapi dan mudah dikelola?

Mulai dari pemetaan kebutuhan karyawan, tentukan benefit dasar dan opsi fleksibel, buat aturan dan proses klaim yang jelas, lalu gunakan sistem seperti Mekari Talenta dan Mekari Flex agar alokasi, approval, dan pelaporan benefit lebih terstruktur.

Emanuella Christianti Penulis
Founder platform edukasi keuangan untuk anak dan remaja, dengan latar belakang lebih dari 10 tahun di bidang pelatihan, manajemen keuangan, dan media digital. Fokus pada literasi keuangan sejak usia dini dan pemberdayaan generasi muda.
Icon

Satu solusi untuk semua kebutuhan HR Anda

Optimalkan pengelolaan operasi HR Anda dengan bantuan solusi terintegrasi dari Mekari Talenta.

WhatsApp Hubungi sales