Payroll 6 min read

Panduan Current Ratio untuk Mengoptimalkan Likuiditas dan Modal Kerja Perusahaan

Tayang
Di tulis oleh:
Foto profil Jordhi Farhansyah
Jordhi Farhansyah
Highlights
  • Current ratio adalah rasio likuiditas yang mengukur kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban jangka pendek menggunakan aset lancar.

  • Current ratio dapat ditingkatkan melalui pengelolaan modal kerja yang lebih efisien, percepatan penagihan piutang, dan optimalisasi utang lancar.

Menjaga likuiditas menjadi tantangan penting bagi perusahaan, terutama ketika harus menyeimbangkan kebutuhan operasional, investasi, dan kewajiban jangka pendek secara bersamaan.

Current ratio menjadi salah satu indikator keuangan yang banyak digunakan untuk mengevaluasi kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban lancarnya sekaligus menilai efektivitas pengelolaan modal kerja.

Hal ini semakin relevan karena PwC Pulse Survey 2024 menunjukkan bahwa 58% CFO mengaku menghabiskan lebih banyak waktu untuk financial planning & analysis (FP&A) dan business performance management dibanding tahun sebelumnya, mencerminkan semakin pentingnya pengambilan keputusan berbasis data keuangan dalam menjaga stabilitas bisnis.

Dengan memahami cara menghitung dan menginterpretasikan current ratio secara tepat, perusahaan dapat mengidentifikasi potensi risiko likuiditas sebelum berdampak pada operasional maupun pertumbuhan bisnis.

Artikel ini akan membahas pengertian current ratio, rumus dan cara menghitungnya, interpretasi hasil perhitungan, contoh penerapan, hingga praktik terbaik dalam mengelola likuiditas perusahaan.

Rumus dan Perhitungan Current Ratio

rumus current ratio

Untuk menghitung current ratio, Anda dapat membandingkan aset lancar (current assets) perusahaan terhadap utang lancarnya. Aset lancar yang tercatat dalam neraca saldo (balance sheet) perusahaan meliputi kas dan setara kas (cash and cash equivalents), piutang dagang (accounts receivable), persediaan (inventory), dan aset lainnya.

Aset-aset perlu dapat dilikuidasi dalam waktu singkat, atau dengan kata lain dapat diubah menjadi kas dalam kurun waktu kurang dari satu tahun.

Utang lancar (current liabilities) termasuk utang dagang (accounts payable), utang gaji (wages), utang pajak (taxes payable), dan bagian dari utang jangka panjang yang sudah akan jatuh tempo tahun depan.

Secara singkat, rumus current ratio adalah sebagai berikut:

1. Rumus Current Ratio = Aset lancar / Utang Lancar

Nilai Current Ratio sebuah perusahaan yang setara dengan nilai rasio rata-rata industrinya atau sedikit lebih tinggi biasanya dianggap masih baik.

Jika nilai rasio lebih rendah daripada rata-rata merupakan indikasi terhadap adanya risiko yang lebih tinggi, yang mungkin disebabkan oleh kesulitan keuangan atau ancaman kebangkrutan pada perusahaan.

Sebaliknya, jika nilai current ratio terlalu tinggi maka menunjukkan bahwa manajemen tidak memanfaatkan aset yang dimiliki secara efisien.

Current ratio menggunakan kata current karena tidak seperti halnya rasio likuiditas yang lain, rasio ini memasukkan seluruh aset utang lancar dalam perhitungannya.

Rasio ini juga sering disebut dengan working capital ratio.

2. Current Ratio dan Utang

Sebuah perusahaan dengan current ratio yang kurang dari satu, dalam kebanyakan kasus, dapat diartikan bahwa perusahaan tersebut tidak memiliki kecukupan modal untuk melunasi seluruh utang jangka pendek jika semuanya jatuh tempo secara bersamaan.

Sedangkan nilai rasio yang lebih dari satu menandakan perusahaan memiliki sumber keuangan yang solid untuk tetap berstatus liquid atau lancar dalam jangka pendek.

Tapi harus diingat bahwa current ratio hanyalah sebuah โ€œcerita pendekโ€ mengenai kondisi keuangan perusahaan sehingga tidak dapat dijadikan gambaran utuh dari likuiditas perusahaan tersebut.

Sebagai contoh, sebuah perusahaan bisa saja memiliki nilai current ratio yang tinggi, tapi piutang dagang yang dimilikinya sangat susah ditagih yang mungkin diakibatkan oleh lambatnya pembayaran oleh buyer dan customer, dan situasi ini tidak dapat terlihat dari angka current ratio yang bagus.

Para analis juga harus mempertimbangkan kualitas aset-aset lain yang dimiliki dengan membandingkannya terhadap utang yang dimiliki perusahaan.

Jika diketahui bahwa persediaan barang dagangan tidak dapat terjual, current ratio masih dapat menghasilkan nilai yang dapat diterima pada suatu waktu, tetapi sebenarnya perusahaan mungkin sedang mengarah ke jurang gagal bayar.

Current ratio yang bernilai kurang dari 1 bisa saja menjadi pertanda adanya bahaya, tapi terdapat situasi tertentu yang akan mempengaruhi nilai rasio ini sehingga terlihat jelek pada sebuah perusahaan yang solid sekalipun.

Contohnya, siklus penerimaan dan pembayaran bulanan normal dalam sebuah perusahaan dapat menghasilkan nilai rasio yang tinggi saat pembayaran telah diterima, tapi kemudian rasio bernilai buruk saat piutang telah menyusut akibat penjualan yang rendah.

Perhitungan current ratio yang dilakukan hanya pada satu periode waktu dapat mengindikasikan perusahaan tidak mampu membayar seluruh utang lancar yang dimiliki, tapi bukan berarti tetap ketidakmampuan akan berlanjut di masa yang akan datang karena saat penerimaan dari piutang tercatat maka nilai rasio dapat berbalik menjadi baik.

Sebagai tambahan informasi, beberapa perusahaan terutama peritel raksasa seperti PT. Matahari Department Store Tbk. (LPPF) dan PT. Mitra Adi Perkasa Tbk (MAPI), memiliki kemampuan untuk menegosiasikan dengan pemasok perihal tempo pembayaran utang mereka hingga memperoleh periode jatuh tempo yang jauh lebih panjang dari termin rata-rata pelanggan lain.

Dengan metode penjualan mereka yang tidak menawarkan penjualan secara kredit kepada pelanggan, maka situasi ini akan tercermin pada neraca saldo di mana saldo utang dagang tinggi dan piutang dagang yang rendah.

Peritel seperti ini juga diharuskan memiliki persediaan barang dagangan yang rendah dengan inventory turnover tinggi, sehingga nilai current ratio acapkali rendah.

Current ratio bermanfaat untuk mengukur likuiditas sebuah perusahaan dalam jangka pendek, dengan catatan bisnis perusahaan berjalan normal, dan perhitungan diulang selama beberapa periode keuangan.

Cara Mengartikan Current Ratio

Nilai rasio di bawah 1 mengindikasikan utang lancar yang lebih besar daripada aset lancar (kas dan aset lainnya yang dapat dikonversi menjadi kas dalam jangka waktu satu tahun) yang dimiliki oleh perusahan pada suatu periode perhitungan.

Secara teori, semakin tinggi nilai current ratio berarti semakin tinggi pula kemampuan perusahaan dalam urusan membayar utang karena perusahaan tersebut memiliki porsi aset jangka pendek yang lebih besar dibandingkan dengan utang jangka pendeknya.

Namun nilai rasio yang terlalu tinggi, katakanlah bernilai 3 atau 4, dapat menjadi pertanda bahwa perusahaan tidak memanfaatkan aset lancarnya secara efisien, jarang menggunakan pembiayaan pihak bank atau yang lainnya, atau kurang pintar dalam mengatur modal kerja.

Cara Menghitung Current Ratio dari Laporan Keuangan Perusahaan Publik

Di bawah ini adalah hasil perhitungan current ratio dari 3 perusahaan publik di Indonesia dengan laporan keuangan yang terbaru di tahun 2021.

Adapun latar belakang industri yang akan kita gunakan sebagai contoh kali ini adalah dari sektor pertambangan: PT. Vale Indonesia Tbk. (INCO), PT. Aneka Tambang Tbk. (ANTM), dan PT. Harum Energy Tbk. (HRUM). Alasan kami menggunakan sektor tambang mineral karena sejak akhir tahun 2020 kinerja sahamnya terus menanjak, terutama pada perusahaan yang turut mengeruk nikel dari bumi pertiwi.

Sentimen yang menjadi pemicu peningkatan harga saham perusahaan tambang adalah adanya megaproyek produksi baterai listrik yang diprakarsai oleh pemerintahan Joko Widodo (Jokowi).

PT. Vale Indonesia dan PT. Aneka Tambang sudah terlebih dahulu menambang nikel, sedangkan PT. Harum Energy yang lebih dikenal sebagai emiten batu bara, baru saja meneken kontrak pembelian PT. Infei Metal Industri (PT. IMI) yang bergerak di bidang pemurnian nikel (smelter) dengan nilai sebesar USD 68,60 juta.

Dengan jual beli ini HRUM berniat untuk mengembangkan bisnis hingga ke hilir dengan memberikan nilai tambah pada nikel yang ditambangnya.

Analisis Current Ratio: Bagaimana Menginterpretasikan Hasilnya?

Menghitung current ratio hanyalah langkah awal. Agar dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan, perusahaan perlu menganalisis hasil perhitungannya dengan mempertimbangkan kondisi operasional, karakteristik industri, serta tren keuangan dari waktu ke waktu.

Nilai current ratio yang baik tidak selalu sama untuk setiap perusahaan, sehingga interpretasinya harus dilakukan secara menyeluruh.

1. Current Ratio di Bawah 1

Current ratio di bawah 1 menunjukkan bahwa nilai aset lancar lebih kecil dibandingkan kewajiban lancar. Kondisi ini dapat mengindikasikan perusahaan berpotensi mengalami kesulitan memenuhi kewajiban jangka pendek apabila seluruh utang jatuh tempo dalam waktu bersamaan.

Namun, angka tersebut tidak selalu berarti kondisi keuangan perusahaan buruk, terutama pada industri yang memiliki perputaran kas sangat cepat, seperti ritel atau supermarket.

2. Current Ratio Sekitar 1 hingga 2

Secara umum, current ratio antara 1 hingga 2 sering dianggap mencerminkan kondisi likuiditas yang sehat.

Artinya, perusahaan memiliki aset lancar yang cukup untuk memenuhi kewajiban jangka pendek tanpa menyimpan aset menganggur dalam jumlah berlebihan.

Meskipun demikian, kisaran ideal tetap perlu dibandingkan dengan rata-rata industri agar hasil analisis lebih relevan.

3. Current Ratio Terlalu Tinggi

Current ratio yang terlalu tinggi, misalnya di atas 3, tidak selalu menjadi kabar baik. Kondisi tersebut dapat menunjukkan adanya kas yang belum dimanfaatkan secara produktif, piutang yang terlalu lama tertagih, atau persediaan yang menumpuk sehingga modal kerja menjadi kurang efisien.

Dalam situasi ini, perusahaan perlu mengevaluasi pengelolaan aset lancarnya agar dapat menghasilkan imbal hasil yang lebih optimal.

4. Bandingkan dengan Tren dan Industri Sejenis

Current ratio sebaiknya tidak dianalisis hanya berdasarkan satu periode pelaporan. Perusahaan perlu membandingkan nilainya dengan periode-periode sebelumnya untuk melihat apakah likuiditas mengalami perbaikan atau justru memburuk.

Selain itu, perbandingan dengan perusahaan sejenis dalam industri yang sama akan memberikan gambaran yang lebih objektif karena setiap sektor memiliki karakteristik modal kerja dan siklus kas yang berbeda.

Kelola Payroll Lebih Akurat untuk Mendukung Pengelolaan Likuiditas Perusahaan

Current ratio merupakan salah satu indikator penting untuk menilai kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban jangka pendek.

Agar perhitungan rasio ini akurat, perusahaan memerlukan data keuangan yang andal, termasuk komponen utang lancar seperti gaji, tunjangan, pajak, dan kewajiban kepada karyawan yang harus dikelola secara tepat waktu.

Melalui Mekari Talenta, perusahaan dapat mengotomatisasi proses payroll mulai dari perhitungan gaji, PPh 21, BPJS, lembur, hingga berbagai komponen penghasilan lainnya dalam satu platform terintegrasi.

Dengan data payroll yang lebih akurat dan terdokumentasi dengan baik, tim HR maupun keuangan dapat meminimalkan kesalahan administrasi sekaligus memperoleh informasi yang lebih siap digunakan dalam proses pelaporan dan analisis keuangan.

Selain itu, integrasi payroll dengan absensi, cuti, dan data karyawan membantu memastikan setiap komponen biaya tenaga kerja tercatat secara konsisten sehingga mendukung pengelolaan operasional yang lebih efisien.

Ingin menyederhanakan proses payroll sekaligus meningkatkan akurasi data SDM dan penggajian? Jadwalkan demo Mekari Talenta bersama tim kami dan temukan solusi yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan Anda.

Pertanyaan Umum seputar Current Ratio

Berapa nilai current ratio yang ideal untuk sebuah perusahaan?

Berapa nilai current ratio yang ideal untuk sebuah perusahaan?

Tidak ada angka ideal yang berlaku untuk semua perusahaan karena setiap industri memiliki karakteristik modal kerja yang berbeda. Secara umum, current ratio sekitar 1,5 hingga 2 kali sering dianggap sehat, tetapi angka tersebut harus dibandingkan dengan rata-rata industri sejenis. Perusahaan ritel misalnya, dapat memiliki current ratio lebih rendah karena perputaran kas dan persediaannya sangat cepat. Oleh karena itu, interpretasi current ratio sebaiknya selalu mempertimbangkan model bisnis perusahaan.

Apa perbedaan current ratio dengan quick ratio?

Apa perbedaan current ratio dengan quick ratio?

Current ratio menghitung seluruh aset lancar, termasuk persediaan, sebagai sumber pembayaran utang jangka pendek. Sementara itu, quick ratio mengecualikan persediaan karena dianggap membutuhkan waktu lebih lama untuk dikonversi menjadi kas. Akibatnya, quick ratio memberikan gambaran likuiditas yang lebih konservatif dibanding current ratio. Kedua rasio sebaiknya dianalisis secara bersamaan agar kondisi keuangan perusahaan dapat dinilai lebih komprehensif.

Apakah current ratio yang tinggi selalu menunjukkan kondisi perusahaan sehat?

Apakah current ratio yang tinggi selalu menunjukkan kondisi perusahaan sehat?

Tidak selalu. Current ratio yang terlalu tinggi dapat mengindikasikan bahwa perusahaan memiliki kas menganggur, persediaan berlebih, atau piutang yang belum dikelola secara optimal. Kondisi tersebut justru dapat menunjukkan modal kerja yang kurang efisien. Oleh karena itu, current ratio perlu dianalisis bersama rasio keuangan lainnya, seperti inventory turnover, receivable turnover, dan cash ratio.

Seberapa sering perusahaan perlu menghitung current ratio?

Seberapa sering perusahaan perlu menghitung current ratio?

Idealnya, current ratio dihitung setiap kali perusahaan menyusun laporan keuangan bulanan, triwulanan, maupun tahunan. Pemantauan secara berkala membantu manajemen mengidentifikasi perubahan kondisi likuiditas lebih dini. Dengan begitu, perusahaan dapat mengambil tindakan korektif sebelum mengalami kesulitan memenuhi kewajiban jangka pendek. Tren current ratio dari waktu ke waktu biasanya lebih bermanfaat dibandingkan hanya melihat satu periode saja.

Faktor apa saja yang dapat memengaruhi perubahan current ratio?

Faktor apa saja yang dapat memengaruhi perubahan current ratio?

Perubahan current ratio dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti peningkatan atau penurunan kas, perubahan nilai piutang, persediaan, utang dagang, maupun utang jangka pendek lainnya. Aktivitas operasional, kebijakan kredit kepada pelanggan, hingga strategi pembayaran kepada pemasok juga dapat memengaruhi nilai rasio ini. Selain itu, keputusan investasi jangka pendek atau pembiayaan baru juga dapat mengubah komposisi aset lancar dan kewajiban lancar perusahaan. Oleh karena itu, analisis current ratio perlu mempertimbangkan konteks aktivitas bisnis yang sedang berlangsung.

Image
Jordhi Farhansyah Penulis
Penulis dengan pengalaman selama sepuluh tahun dalam menghasilkan konten di berbagai bidang dan kini berfokus pada topik seputar human resources (HR) dan dunia bisnis. Dalam kesehariannya, Jordhi juga aktif menekuni fotografi analog sebagai bentuk ekspresi kreatif di luar rutinitas menulis.
Icon

Satu solusi untuk semua kebutuhan HR Anda

Optimalkan pengelolaan operasi HR Anda dengan bantuan solusi terintegrasi dari Mekari Talenta.

WhatsApp Hubungi sales