HR Planning 5 min read

Current Ratio: Definisi, Rumus, dan Cara Hitung

By Mekari TalentaPublished 27 Jun, 2023 Diperbarui 15 Januari 2024

Current ratio adalah bagian dari rasio likuiditas yang dapat didefinisikan sebagai alat untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam hal memenuhi kewajiban jangka pendeknya, atau dengan kata lain, melunasi utang-utang jangka pendeknya beserta utang jangka panjang yang sudah jatuh tempo dalam waktu satu tahun ke depan.

Current ratio dapat menginformasikan kepada investor dan analis bagaimana caranya perusahaan dapat memaksimalkan aset lancarnya yang tercatat dalam neraca saldo untuk memenuhi seluruh utang lancar.

Rumus dan Perhitungan Current Ratio

rumus current ratio

Untuk menghitung current ratio, Anda dapat membandingkan aset lancar (current assets) perusahaan terhadap utang lancarnya. Aset lancar yang tercatat dalam neraca saldo (balance sheet) perusahaan meliputi kas dan setara kas (cash and cash equivalents), piutang dagang (accounts receivable), persediaan (inventory), dan aset lainnya.

Aset-aset perlu dapat dilikuidasi dalam waktu singkat, atau dengan kata lain dapat diubah menjadi kas dalam kurun waktu kurang dari satu tahun.

Utang lancar (current liabilities) termasuk utang dagang (accounts payable), utang gaji (wages), utang pajak (taxes payable), dan bagian dari utang jangka panjang yang sudah akan jatuh tempo tahun depan.

Secara singkat, rumus current ratio adalah sebagai berikut:

1. Rumus Current Ratio = Aset lancar / Utang Lancar

Nilai Current Ratio sebuah perusahaan yang setara dengan nilai rasio rata-rata industrinya atau sedikit lebih tinggi biasanya dianggap masih baik.

Jika nilai rasio lebih rendah daripada rata-rata merupakan indikasi terhadap adanya risiko yang lebih tinggi, yang mungkin disebabkan oleh kesulitan keuangan atau ancaman kebangkrutan pada perusahaan.

Sebaliknya, jika nilai current ratio terlalu tinggi maka menunjukkan bahwa manajemen tidak memanfaatkan aset yang dimiliki secara efisien.

Current ratio menggunakan kata current karena tidak seperti halnya rasio likuiditas yang lain, rasio ini memasukkan seluruh aset utang lancar dalam perhitungannya.

Rasio ini juga sering disebut dengan working capital ratio.

2. Current Ratio dan Utang

Sebuah perusahaan dengan current ratio yang kurang dari satu, dalam kebanyakan kasus, dapat diartikan bahwa perusahaan tersebut tidak memiliki kecukupan modal untuk melunasi seluruh utang jangka pendek jika semuanya jatuh tempo secara bersamaan.

Sedangkan nilai rasio yang lebih dari satu menandakan perusahaan memiliki sumber keuangan yang solid untuk tetap berstatus liquid atau lancar dalam jangka pendek.

Tapi harus diingat bahwa current ratio hanyalah sebuah “cerita pendek” mengenai kondisi keuangan perusahaan sehingga tidak dapat dijadikan gambaran utuh dari likuiditas perusahaan tersebut.

Sebagai contoh, sebuah perusahaan bisa saja memiliki nilai current ratio yang tinggi, tapi piutang dagang yang dimilikinya sangat susah ditagih yang mungkin diakibatkan oleh lambatnya pembayaran oleh buyer dan customer, dan situasi ini tidak dapat terlihat dari angka current ratio yang bagus.

Para analis juga harus mempertimbangkan kualitas aset-aset lain yang dimiliki dengan membandingkannya terhadap utang yang dimiliki perusahaan.

Jika diketahui bahwa persediaan barang dagangan tidak dapat terjual, current ratio masih dapat menghasilkan nilai yang dapat diterima pada suatu waktu, tetapi sebenarnya perusahaan mungkin sedang mengarah ke jurang gagal bayar.

Current ratio yang bernilai kurang dari 1 bisa saja menjadi pertanda adanya bahaya, tapi terdapat situasi tertentu yang akan mempengaruhi nilai rasio ini sehingga terlihat jelek pada sebuah perusahaan yang solid sekalipun.

Contohnya, siklus penerimaan dan pembayaran bulanan normal dalam sebuah perusahaan dapat menghasilkan nilai rasio yang tinggi saat pembayaran telah diterima, tapi kemudian rasio bernilai buruk saat piutang telah menyusut akibat penjualan yang rendah.

Perhitungan current ratio yang dilakukan hanya pada satu periode waktu dapat mengindikasikan perusahaan tidak mampu membayar seluruh utang lancar yang dimiliki, tapi bukan berarti tetap ketidakmampuan akan berlanjut di masa yang akan datang karena saat penerimaan dari piutang tercatat maka nilai rasio dapat berbalik menjadi baik.

Sebagai tambahan informasi, beberapa perusahaan terutama peritel raksasa seperti PT. Matahari Department Store Tbk. (LPPF) dan PT. Mitra Adi Perkasa Tbk (MAPI), memiliki kemampuan untuk menegosiasikan dengan pemasok perihal tempo pembayaran utang mereka hingga memperoleh periode jatuh tempo yang jauh lebih panjang dari termin rata-rata pelanggan lain.

Dengan metode penjualan mereka yang tidak menawarkan penjualan secara kredit kepada pelanggan, maka situasi ini akan tercermin pada neraca saldo di mana saldo utang dagang tinggi dan piutang dagang yang rendah.

Peritel seperti ini juga diharuskan memiliki persediaan barang dagangan yang rendah dengan inventory turnover tinggi, sehingga nilai current ratio acapkali rendah.

Current ratio bermanfaat untuk mengukur likuiditas sebuah perusahaan dalam jangka pendek, dengan catatan bisnis perusahaan berjalan normal, dan perhitungan diulang selama beberapa periode keuangan.

Talenta blog banner

Cara Mengartikan Current Ratio

Nilai rasio di bawah 1 mengindikasikan utang lancar yang lebih besar daripada aset lancar (kas dan aset lainnya yang dapat dikonversi menjadi kas dalam jangka waktu satu tahun) yang dimiliki oleh perusahan pada suatu periode perhitungan.

Secara teori, semakin tinggi nilai current ratio berarti semakin tinggi pula kemampuan perusahaan dalam urusan membayar utang karena perusahaan tersebut memiliki porsi aset jangka pendek yang lebih besar dibandingkan dengan utang jangka pendeknya.

Namun nilai rasio yang terlalu tinggi, katakanlah bernilai 3 atau 4, dapat menjadi pertanda bahwa perusahaan tidak memanfaatkan aset lancarnya secara efisien, jarang menggunakan pembiayaan pihak bank atau yang lainnya, atau kurang pintar dalam mengatur modal kerja.

Cara Menghitung Current Ratio dari Laporan Keuangan Perusahaan Publik

Di bawah ini adalah hasil perhitungan current ratio dari 3 perusahaan publik di Indonesia dengan laporan keuangan yang terbaru di tahun 2021.

Adapun latar belakang industri yang akan kita gunakan sebagai contoh kali ini adalah dari sektor pertambangan: PT. Vale Indonesia Tbk. (INCO), PT. Aneka Tambang Tbk. (ANTM), dan PT. Harum Energy Tbk. (HRUM). Alasan kami menggunakan sektor tambang mineral karena sejak akhir tahun 2020 kinerja sahamnya terus menanjak, terutama pada perusahaan yang turut mengeruk nikel dari bumi pertiwi.

Sentimen yang menjadi pemicu peningkatan harga saham perusahaan tambang adalah adanya megaproyek produksi baterai listrik yang diprakarsai oleh pemerintahan Joko Widodo (Jokowi).

PT. Vale Indonesia dan PT. Aneka Tambang sudah terlebih dahulu menambang nikel, sedangkan PT. Harum Energy yang lebih dikenal sebagai emiten batu bara, baru saja meneken kontrak pembelian PT. Infei Metal Industri (PT. IMI) yang bergerak di bidang pemurnian nikel (smelter) dengan nilai sebesar USD 68,60 juta.

Dengan jual beli ini HRUM berniat untuk mengembangkan bisnis hingga ke hilir dengan memberikan nilai tambah pada nikel yang ditambangnya.

Kesimpulan

Current ratio merupakan rasio keuangan yang membandingkan seluruh aset lancar perusahaan terhadap utang lancarnya.

Aset lancar dapat didefinisikan sebagai aset berupa kas atau aset lainnya yang dapat dikonversi menjadi kas dalam waktu satu tahun atau kurang. Utang lancar dapat didefinisikan sebagai seluruh utang yang harus dilunasi dalam waktu satu tahun atau kurang.

Current ratio yang kadang-kadang juga disebut sebagai rasio modal kerja (working capital ratio), berguna untuk membantu para investor memahami kesanggupan perusahaan dalam membayar utang jangka pendeknya dengan seluruh aset lancar yang dimiliki.

Kelemahan dari current ratio adalah kurang akurat dalam menganalisa keuangan perusahaan dari sektor industri yang berbeda, kurang spesifiknya komponen perhitungan, dan tidak menunjukkan tren perkembangan keuangan perusahaan.

Hitung Current Ratio dengan Aplikasi Keuangan Terintegrasi dengan Mekari Talenta

Mekari Talenta adalah salah satu software HRIS untuk manajemen sumber daya manusia. Software HRIS biasanya bertujuan mengurangi beban kerja administrasi dalam perpajakan karyawan, absensi, performance appraisal, dan pembayaran gaji karyawan.

Melalui fitur Payroll, HR bisa mentrasfer gaji karyawan secara lebih cepat dengan perhitungan yang akurat hanya melalui satu aplikasi Mekari Talenta saja.

Fitur-fitur yang disediakan Mekari Talenta juga dilengkapi dengan detail-detail sehingga memudahkan karyawan dalam melakukan pekerjaan.

Misalnya, pada fitur aplikasi penghitung gaji karyawan, komponen seperti bonus, tunjangan, pajak, insentif, dan lain-lain ditambahkan. Dengan demikian perhitungan akan menjadi lebih efisien dan efektif.

Tunggu apa lagi? Coba Mekari Talenta gratis dan konsultasi bersama tim sales kami sekarang juga.

Image
Mekari Talenta
Mekari Talenta adalah software HR berbasis komputasi awan yang aman dan telah dipercaya oleh ribuan perusahaan di Indonesia. Profil ini dipetakan khusus untuk artikel-artikel lama dari redaksi Insight Talenta.