Upskilling dan Reskilling: Strategi Mengembangkan Kompetensi SDM untuk Masa Depan Bisnis

Tayang
Diperbarui
Di tulis oleh:
Foto profil Jordhi Farhansyah
Jordhi Farhansyah
Di review oleh:
Mekari Talenta Expert Reviewer
Dolfie Waturandang
Highlights
  • Upskilling adalah proses meningkatkan keterampilan karyawan untuk mendukung pekerjaannya saat ini, sedangkan reskilling merupakan proses membekali karyawan dengan kompetensi baru agar siap menjalankan peran yang berbeda.

  • Program upskilling dan reskilling dapat dimulai dengan mengidentifikasi skill gap, menyusun learning pathway, memanfaatkan LMS, serta mengukur hasil pelatihan melalui evaluasi kompetensi dan kinerja.

Perubahan teknologi, otomatisasi, dan munculnya kebutuhan kompetensi baru membuat perusahaan tidak lagi bisa mengandalkan proses rekrutmen sebagai satu-satunya cara memperoleh talenta yang dibutuhkan.

World Economic Forum (Future of Jobs Report 2025) memperkirakan bahwa 59% tenaga kerja global akan membutuhkan upskilling atau reskilling paling lambat pada tahun 2030, sementara sekitar 11% di antaranya berisiko tidak memperoleh pelatihan yang diperlukan.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pengembangan kompetensi karyawan telah menjadi prioritas strategis untuk menjaga produktivitas, mempercepat transformasi bisnis, sekaligus mempersiapkan organisasi menghadapi perubahan pasar kerja.

Oleh karena itu, perusahaan perlu membangun program pembelajaran yang terstruktur agar keterampilan karyawan terus berkembang seiring kebutuhan bisnis.

Artikel ini akan membahas pengertian upskilling dan reskilling, perbedaannya, manfaat, strategi implementasi, hingga praktik terbaik dalam mengembangkan kompetensi karyawan secara berkelanjutan.

Apa Itu Upskilling dan Reskilling?

Upskilling

Upskilling adalah proses meningkatkan atau memperbarui keterampilan karyawan yang sudah ada untuk membantu mereka tetap relevan dalam peran mereka saat ini.

Tujuan utamanya adalah untuk mendukung karyawan agar dapat menangani teknologi baru, prosedur, atau perubahan tren industri. Misalnya, seorang desainer grafis yang mempelajari keterampilan baru dalam desain animasi untuk memperluas kemampuan kreatifnya dalam proyek yang sedang berjalan.

Reskilling

Sementara itu, reskilling adalah proses pelatihan karyawan untuk mengembangkan keterampilan baru agar mereka dapat beralih ke peran yang berbeda di dalam organisasi.

Hal ini sering dilakukan untuk menyesuaikan karyawan dengan perubahan kebutuhan bisnis atau transformasi industri. Contohnya adalah seorang staf administrasi yang dilatih menjadi analis data seiring meningkatnya kebutuhan perusahaan terhadap pengolahan data.

Baca Juga: Mengoptimalkan Program Management Trainee dengan AI Performance Analytics

Perbedaan Upskilling dan Reskilling

Upskilling berfokus pada pengembangan keterampilan dalam peran saat ini, sedangkan reskilling melibatkan pelatihan untuk mempersiapkan karyawan mengambil peran baru.

Keduanya menjadi strategi penting bagi perusahaan untuk menjaga daya saing dan memberdayakan karyawan di era perubahan cepat.

Upskilling bertujuan untuk menghadapi kemajuan teknologi dan meningkatkan efisiensi. Sementara itu, reskilling bertujuan lebih kepada untuk menghindari PHK dengan memberikan kesempatan karier baru.

Baca juga: Apa Itu Headhunter? Pengertian, Tugas, dan Tips Memilih yang Tepat untuk HRD

Mengapa Perusahaan Perlu Memberikan Program Upskilling dan Reskilling?

1. Menghadapi Perubahan Teknologi dan Pasar

Transformasi digital dan otomatisasi semakin mengubah cara kerja di berbagai industri. Dengan program upskilling dan reskilling, perusahaan dapat memastikan karyawan memiliki keterampilan yang relevan untuk menghadapi perubahan ini.

Hal ini memungkinkan bisnis untuk tetap kompetitif dan beradaptasi dengan cepat terhadap tren pasar dan teknologi baru, tanpa kehilangan produktivitas.

2. Meningkatkan Retensi Karyawan

Karyawan yang diberikan kesempatan untuk belajar dan berkembang merasa lebih dihargai oleh perusahaan. Ini menciptakan loyalitas yang lebih kuat dan mengurangi tingkat turnover.

Dengan program pelatihan yang dirancang untuk mendukung karier mereka, karyawan lebih termotivasi untuk tetap bekerja dan berkontribusi bagi perusahaan.

3. Mengurangi Biaya Rekrutmen

Melatih karyawan yang ada melalui reskilling sering kali lebih hemat biaya dibandingkan dengan merekrut tenaga kerja baru. Proses perekrutan melibatkan iklan, wawancara, orientasi, dan waktu adaptasi.

Dengan memanfaatkan karyawan internal, perusahaan dapat menghemat waktu dan biaya sekaligus mempertahankan budaya kerja yang sudah ada.

4. Meningkatkan Produktivitas

Karyawan yang memiliki keterampilan terbaru dapat bekerja lebih cepat dan efisien, terutama dalam mengelola teknologi modern atau proses yang kompleks.

Upskilling membantu mereka menjadi lebih percaya diri dalam menangani tugas, sementara reskilling memastikan mereka siap untuk peran baru yang diperlukan oleh organisasi.

5. Meningkatkan Daya Saing Perusahaan

Tim dengan keterampilan terkini menjadi keunggulan kompetitif bagi perusahaan. Karyawan yang terlatih mampu mengatasi tantangan industri dengan lebih baik, memberikan inovasi, dan memenuhi kebutuhan pelanggan dengan lebih efektif.

Hal ini tidak hanya memperkuat posisi perusahaan di pasar tetapi juga meningkatkan citra organisasi sebagai tempat kerja yang inovatif dan adaptif.

Cara Menerapkan Upskilling dan Reskilling di Perusahaan

Berikut cara menerapkan upskilling dan reskilling yang tepat di perusahaan.

1. Identifikasi Kebutuhan

Langkah awal adalah memahami keterampilan yang dibutuhkan perusahaan untuk tetap relevan di masa depan. Analisis ini dapat dilakukan dengan meninjau tren industri, kebutuhan teknologi, dan strategi jangka panjang perusahaan.

Dengan pemahaman ini, perusahaan dapat menentukan bidang kompetensi mana yang perlu ditingkatkan atau diperbarui.

2. Libatkan Karyawan

Penting untuk melibatkan karyawan dalam proses ini. Dengan meminta feedback, perusahaan dapat memahami minat dan kebutuhan pelatihan karyawan.

Pendekatan ini tidak hanya membuat program lebih relevan tetapi juga meningkatkan motivasi karyawan untuk berpartisipasi, karena mereka merasa menjadi bagian dari proses pengambilan keputusan.

3. Rancang Program Pelatihan

Setelah kebutuhan diidentifikasi, langkah berikutnya adalah merancang program pelatihan yang sesuai. Program ini dapat berupa pelatihan teknis, workshop soft skills, sesi coaching, mentoring oleh senior, atau pengembangan kepemimpinan.

Menyediakan berbagai format pelatihan memungkinkan karyawan belajar dengan cara yang paling efektif bagi mereka.

4. Manfaatkan Teknologi

Teknologi dapat mempermudah implementasi upskilling dan reskilling. Platform e-learning seperti Coursera, Udemy, atau LinkedIn Learning menyediakan akses ke ribuan kursus yang relevan.

Selain itu, aplikasi HRIS berbasis cloud seperti Mekari Talenta dapat digunakan untuk mengelola pelatihan, mencatat progres, dan mengintegrasikan program pengembangan ke dalam sistem HR perusahaan.

Evaluasi Hasil Pelatihan

Langkah terakhir adalah melakukan evaluasi untuk mengukur efektivitas program. Perusahaan dapat memonitor kinerja karyawan sebelum dan sesudah pelatihan untuk menilai dampaknya.

Feedback dari peserta juga penting untuk mengetahui area yang dapat ditingkatkan. Evaluasi ini membantu memastikan bahwa program pelatihan memberikan hasil nyata dan berkontribusi terhadap tujuan perusahaan.

Baca juga: Panduan Lengkap Competency Mapping untuk Tim HR

Tantangan dalam Implementasi Upskilling dan Reskilling

1. Anggaran Pelatihan yang Terbatas

Salah satu tantangan utama dalam menerapkan upskilling and reskilling adalah keterbatasan anggaran. Biaya untuk menyelenggarakan pelatihan, baik secara internal maupun melalui penyedia eksternal, bisa menjadi penghalang.

Solusinya, perusahaan dapat memanfaatkan sumber daya pelatihan gratis atau bersubsidi, seperti kursus online dari platform edukasi yang menawarkan materi gratis. Selain itu, beberapa pemerintah atau lembaga memberikan subsidi untuk pelatihan keterampilan, yang dapat dimanfaatkan oleh perusahaan.

2. Kurangnya Minat dari Karyawan

Tidak semua karyawan tertarik untuk mengikuti pelatihan, terutama jika mereka merasa bahwa keterampilan mereka saat ini sudah cukup atau mereka tidak melihat manfaat langsung dari program tersebut.

Anda dapat memberikan insentif, seperti pengakuan, bonus, atau peluang promosi, dapat meningkatkan motivasi karyawan untuk berpartisipasi. Selain itu, menjelaskan bagaimana pelatihan akan membantu mereka berkembang dalam karier dapat menumbuhkan minat mereka.

3. Sulit Mengukur Hasil

Mengukur keberhasilan program pelatihan sering kali menjadi tantangan, terutama jika hasilnya tidak langsung terlihat.

Perusahaan perlu menetapkan indikator kinerja utama (KPI) yang jelas sebelum program dimulai.

KPI ini bisa mencakup peningkatan produktivitas, efisiensi kerja, atau jumlah proyek yang diselesaikan dengan lebih baik. Selain itu, evaluasi kinerja pasca-pelatihan dan survei kepuasan karyawan dapat membantu mengukur efektivitas pelatihan secara lebih akurat.

Baca juga: Apa Itu Talent Development? Panduan Lengkap Pengembangan Karyawan

Contoh Program Upskilling dan Reskilling yang Sukses

Berikut adalah beberapa contoh studi kasus dari perusahaan ternama yang sukses menerapkan program upskilling dan juga reskilling.

IBM

IBM meluncurkan inisiatif bernama “New Collar Jobs” pada tahun 2015 untuk meremajakan angkatan kerja mereka dan melatih mereka dalam teknologi-teknologi baru seperti AI, cloud computing, dan juga data science.

Inisiatif ini menjadi terobosan bagi mereka yang tidak memiliki gelar universitas, karena mereka tetap dapat menerima pelatihan untuk mengembangkan keterampilan di teknologi zaman baru.

Mereka melatih angkatan kerja mereka dalam pengembangan perangkat lunak, blockchain, keamanan siber, AI, data science, serta teknologi cloud.

Hal ini sangat membantu dalam menciptakan kumpulan talenta yang lebih beragam dan lebih besar, meminimalkan kebutuhan untuk perekrutan eksternal, serta memenuhi permintaan pasar.

Nike

Mereka beralih dari bisnis sepatu olahraga tradisional ke ekosistem yang berfokus pada klien yang didorong oleh perkembangan dunia digital. Nike berinvestasi dalam pelatihan karyawan mereka di analisis data, analisis prediktif, dan segmentasi pelanggan.

Berdasarkan ini, karyawan bekerja dengan data pengguna dari aplikasi seperti Nike Training Club dan Nike Run Club untuk menjalankan kampanye pemasaran yang sangat terarah dan menawarkan pengalaman pelanggan yang dipersonalisasi.

Karyawan juga menjalani pelatihan dalam manajemen platform e-commerce, manajemen inventaris, dan sistem pembayaran digital untuk meningkatkan pendapatan digital.

Pemimpin juga dilatih ulang dalam mengadopsi teknologi-teknologi baru seperti Augmented Reality (AR) dan Blockchain untuk menciptakan strategi yang mengutamakan digital.

Peran HR dalam Mengelola Program Upskilling dan Reskilling

1. Membangun Budaya Pembelajaran

HR memiliki peran kunci dalam menciptakan lingkungan kerja yang mendukung pembelajaran berkelanjutan. Hal ini melibatkan mendorong karyawan untuk terus meningkatkan keterampilan mereka melalui inisiatif seperti pelatihan, diskusi kelompok, atau program mentoring.

Dengan membangun budaya pembelajaran, HR memastikan bahwa karyawan merasa didukung dan termotivasi untuk berkembang, yang pada akhirnya meningkatkan kualitas tenaga kerja dan daya saing perusahaan.

2. Menyediakan Sumber Daya Pelatihan yang Tepat

HR bertanggung jawab untuk menyediakan akses ke sumber daya pelatihan yang relevan dengan kebutuhan perusahaan dan karyawan. Ini dapat mencakup platform e-learning, seminar, pelatihan langsung, atau program sertifikasi.

Dengan menyesuaikan pelatihan dengan kebutuhan spesifik karyawan dan perusahaan, HR dapat memastikan bahwa investasi dalam upskilling dan reskilling memberikan hasil yang maksimal.

3. Membuat Program Pengembangan Karier yang Terstruktur

HR perlu menyusun program pengembangan karier yang jelas dan terarah. Program ini mencakup identifikasi keterampilan yang dibutuhkan, jalur pengembangan yang sesuai, dan indikator keberhasilan yang terukur.

Dengan menyediakan roadmap karier, karyawan dapat memahami bagaimana upskilling dan reskilling berkontribusi pada pertumbuhan mereka di perusahaan, sehingga meningkatkan motivasi dan loyalitas mereka.

Kelola Pengembangan Talenta dan Jalur Karier Lebih Terstruktur dengan Mekari Talenta

Membangun program upskilling dan reskilling yang efektif tidak cukup hanya menyediakan pelatihan. Perusahaan juga perlu memastikan pengembangan kompetensi terhubung dengan target kinerja, jalur karier, serta kebutuhan tenaga kerja di masa depan.

Untuk mendukung hal tersebut, Mekari Talenta menghadirkan solusi Talent Development dalam platform HCM terintegrasi yang membantu perusahaan mengelola pengembangan karyawan secara lebih terstruktur dan berbasis data.

Melalui berbagai fitur yang saling terintegrasi, perusahaan dapat:

  • Learning Management System (LMS) untuk mengelola pelatihan, learning pathway, asesmen, serta program pengembangan kompetensi dalam satu platform.
  • Performance & Goal Management untuk menyelaraskan target pengembangan karyawan dengan KPI, evaluasi kompetensi, dan penilaian kinerja secara berkelanjutan.
  • Career Pathing & Internal Mobility untuk menyusun jalur karier yang lebih jelas, mendukung succession planning, serta mempersiapkan karyawan mengisi peran strategis melalui mobilitas internal.
  • Workforce Development Analytics untuk memantau perkembangan kompetensi, efektivitas program pelatihan, dan kesiapan tenaga kerja melalui dashboard analitik yang didukung Talenta AI (Airene).

Dengan sistem yang terintegrasi, perusahaan dapat memastikan setiap program upskilling dan reskilling tidak hanya meningkatkan keterampilan karyawan, tetapi juga mendukung pengembangan karier, kesiapan organisasi, dan pertumbuhan bisnis secara berkelanjutan.

Ingin membangun strategi pengembangan talenta yang lebih terukur? Jadwalkan demo bersama tim Mekari Talenta dan lihat bagaimana solusi Talent Development dapat membantu perusahaan mengelola pelatihan, career pathing, serta pengembangan kompetensi karyawan dalam satu platform terintegrasi.

Pertanyaan Umum seputa Upskilling dan Reskilling

Bagaimana cara menentukan apakah karyawan membutuhkan upskilling atau reskilling?

Bagaimana cara menentukan apakah karyawan membutuhkan upskilling atau reskilling?

Perusahaan dapat melakukan skill gap analysis dengan membandingkan kompetensi yang dimiliki karyawan saat ini dengan kompetensi yang dibutuhkan untuk mendukung strategi bisnis. Jika karyawan masih menjalankan peran yang sama tetapi membutuhkan kemampuan baru, maka upskilling lebih tepat dilakukan. Sebaliknya, apabila perusahaan membutuhkan karyawan untuk mengisi peran yang berbeda, reskilling menjadi pilihan yang lebih sesuai.

Apa indikator keberhasilan program upskilling dan reskilling?

Apa indikator keberhasilan program upskilling dan reskilling?

Keberhasilan program dapat diukur melalui peningkatan kompetensi, produktivitas, pencapaian KPI, tingkat penyelesaian pelatihan, hingga peningkatan mobilitas internal. Perusahaan juga dapat mengevaluasi dampaknya terhadap retensi karyawan, kesiapan suksesi, dan kemampuan organisasi memenuhi kebutuhan kompetensi baru. Pengukuran sebaiknya dilakukan secara berkala menggunakan data yang terintegrasi.

Apakah semua karyawan perlu mengikuti program upskilling dan reskilling?

Apakah semua karyawan perlu mengikuti program upskilling dan reskilling?

Tidak selalu. Program pengembangan sebaiknya diprioritaskan berdasarkan kebutuhan bisnis, perubahan teknologi, hasil penilaian kompetensi, serta rencana pengembangan karier masing-masing karyawan. Dengan pendekatan ini, investasi pelatihan menjadi lebih efektif dan memberikan dampak yang lebih besar bagi organisasi.

Apa peran HR dalam menyusun strategi upskilling dan reskilling?

Apa peran HR dalam menyusun strategi upskilling dan reskilling?

HR berperan mengidentifikasi kebutuhan kompetensi, menyusun roadmap pengembangan SDM, memilih metode pembelajaran yang sesuai, serta mengevaluasi efektivitas program pelatihan. Selain itu, HR juga perlu berkolaborasi dengan pimpinan unit bisnis agar program yang dijalankan selaras dengan kebutuhan organisasi. Pendekatan berbasis data membantu HR menentukan prioritas pengembangan secara lebih objektif.

Bagaimana teknologi membantu implementasi upskilling dan reskilling?

Bagaimana teknologi membantu implementasi upskilling dan reskilling?

Platform Learning Management System (LMS) dan HRIS memudahkan perusahaan mengelola seluruh proses pengembangan kompetensi, mulai dari pemetaan skill, distribusi materi pelatihan, pemantauan progres belajar, hingga evaluasi hasil pelatihan. Integrasi dengan performance management juga memungkinkan perusahaan menghubungkan hasil pembelajaran dengan peningkatan kinerja karyawan. Dengan demikian, pengembangan kompetensi menjadi lebih terukur, efisien, dan selaras dengan kebutuhan bisnis.

Image
Jordhi Farhansyah Penulis
Penulis dengan pengalaman selama sepuluh tahun dalam menghasilkan konten di berbagai bidang dan kini berfokus pada topik seputar human resources (HR) dan dunia bisnis. Dalam kesehariannya, Jordhi juga aktif menekuni fotografi analog sebagai bentuk ekspresi kreatif di luar rutinitas menulis.
Dolfie W
Dolfie Waturandang, S.E, CT.BNSP

Dolfie adalah Learning & Development manager di Midplaza Holding. Ia memiliki sertifikasi BNSP sebagai trainer dan 12 tahun pengalaman kerja sebelumnya di industri ritel.

Icon

Satu solusi untuk semua kebutuhan HR Anda

Optimalkan pengelolaan operasi HR Anda dengan bantuan solusi terintegrasi dari Mekari Talenta.

WhatsApp Hubungi sales