Tips Atasi Burnout Syndrome Karyawan Manufaktur

Ingat dengan aturan emas? Ya, aturan emas adalah dimana kita sebagai manusia harus mampu memanusiakan manusia. Dalam ranah karyawan, perusahaan tentu harus memikirkan kesehatan baik mental maupun fisik karyawan. Salah satu indikasi kesehatan yang sering dialami karyawan adalah burnout syndrome.

Burnout Syndrome seringkali dialami oleh karyawan-karyawan yang memiliki pekerjaan berat terutama pada industri manufaktur. Menurut studi, bahwa 52% karyawan mengaku stres dan lelah saat bekerja selama satu tahun dan hal ini menyebabkan terjadinya 42% turnover karyawan.

Lantas, apa itu burnout syndrome? Dan bagaimana cara mengatasinya agar produktivitas dan tingkat retensi karyawan meningkat?

Apa itu Burnout Syndrome?

Menurut World Health Organization (WHO), burnout syndrome atau sindrom kelelahan adalah kondisi dimana seseorang mengalami kelelahan kronis akibat tekanan pekerjaan. Tekanan yang ditimbulkan beragam, ada yang secara sadar orang tersebut merasakan dan ada yang secara tidak sadar tiba-tiba mengalami kelelahan.

Sindrom kelelahan ini timbul bukan hanya tekanan mental, namun juga fisik. Faktor tekanan mental meliputi:

  • Atasan yang buruk sehingga memiliki manajemen kerja yang buruk dan pekerjaan yang tidak jelas.
  • Pada manufaktur, biasanya karena kebisingan. Bagi beberapa orang kebisingan dapat meningkatkan tingkat stres.
  • Shift kerja yang tidak beraturan.
  • Lingkungan kerja yang tidak kondusif dan tidak memenuhi kebutuhan hidup.
  • Pekerjaan monoton apalagi pada industri manufaktur.
  • Kompensasi yang tidak adil

Selain faktor mental, burnout syndrome juga dipengaruhi oleh faktor fisik yaitu:

  • Pemenuhan gizi yang tidak seimbang.
  • Kebutuhan kalori dibawah normal.
  • Turunnya fungsi organ akibat dari paparan obyek kerja tertentu misalnya radiasi, kebisingan, asap, dan juga bahan kimia lainnya.
  • Siklus sirkadian yang terganggu akibat begadang.
  • Pekerjaan yang melampaui kapasitas.

Gejala-gejala burnout syndrome juga bermacam-macam. Pada gejala mental misalnya, mengasingkan diri, tidak semangat, malas, sulit tidur dan juga sukar berkomunikasi sedangkan gejala kesehatan misalnya sakit pinggang, sering kram otot, nyeri pada persendian, sakit kepala, bahkan batuk-batuk.

Apa Dampak Burnout Syndrome Pada Karyawan Manufaktur?

Seperti yang dijelaskan sebelumnya, dampak terbesar dari sindrom kelelahan karyawan adalah tingkat turnover yang tinggi. Turnover adalah peristiwa dimana perusahaan mengalami pergantian karyawan. Semakin besar turnover semakin tidak efektif bisnis usaha pada perusahaan terutama pada industri manufaktur yang harus bergerak cepat. Besarnya turnover juga akan mempengaruhi kesehatan keuangan perusahaan. Fokus anggaran perusahaan menjadi tidak seimbang dimana seharusnya anggaran dapat berkonsentrasi penuh pada investasi alat dan juga bisnis.

Burnout Syndrome menyebabkan karyawan tidak puas bekerja dan dapat meningkatkan turnover rate karyawan

Selain tingkat turnover, dampak lainnya adalah menurunnya produktivitas  kerja. Hal ini juga didukung oleh data dari Centers for Disease Control and Prevention pada tahun 2017 bahwa setidaknya perusahaan di Amerika Serikat kehilangan 200 juta hari kerja setiap tahunnya dan mengalami kerugian hingga 680 Miliar rupiah. Angka yang tidak sedikit, bukan?

Adanya sindrom kelelahan berarti perusahaan terbukti telah mengabaikan UU Ketenagakerjaan No. 13 tahun 2003. Dimana pada pasal 35 tertulis perusahaan wajib memberikan perlindungan yang mencakup kesejahteraan, keselamatan, dan kesehatan baik mental maupun fisik. Karena hal ini bisa saja perusahaan dapat dikenakan sanksi hukum atas pelanggaran undang-undang.

3 Tips Atasi Burnout Syndrome Karyawan Manufaktur, Apa Saja?

Sindrom kelelahan bisa saja terjadi pada perusahaan yang sehat sekalipun. Semua memiliki peran termasuk karyawan itu sendiri dalam mengatasi masalah ini. Berikut tips bagi perusahaan maupun karyawan untuk mengatasi burnout syndrome.

Konsumsi Makanan Seimbang

Perusahaan wajib memberikan asupan makanan bergizi pada karyawan terutama pada makanan santap siang. Gizi yang harus diberikan juga harus seimbang. Menurut Kementerian Kesehatan anjuran jumlah kalori berdasarkan Angka kecukupan Gizi 2013 bagi para pekerja sebagai berikut:

Kelamin Usia Intensitas Pekerjaan Kalori yang dibutuhkan (KKal)
Laki-laki 19-29 Ringan-sedang 2.725
Berat 2.975
30-49 Ringan-sedang 2.625
Berat 2.900
Perempuan 19-29 Ringan-sedang 2.250
Berat 2.500
30-49 Ringan-sedang 2.150
Berat 2.400

Saat bekerja kalori yang dihabiskan biasanya sekitar 40% dan 50% dari kalori harian. Sehingga jika dihitung rata-rata asupan kalori sebesar 1.100 KKal hingga 1.200 KKal.

Selain kalori karyawan juga membutuhkan asupan gizi gizi pendukung seperti vitamin, karbohidrat, protein, dan juga lemak.

Lemak yang dibutuhkan adalah 20% hingga 25%(80-100 gram), karbohidrat sekitar 60% hingga 75% (525-630 gram), sedangkan protein 10% hingga 15% (90-160 gram)

Sebagai catatan 1 gram lemak terdiri dari 9 gram kalori, 1 gram karbohidrat terdiri dari 5 gram. 1 gram protein terdiri dari 4 gram kalori.

Asupan gizi dan makanan yang seimbang menjadi penting karena dapat memberikan energi dan juga menjaga metabolisme saat bekerja. Kurangi konsumsi makanan atau minuman yang mengandung kafein dan gula berlebih. Alih-alih menahan kantuk, mengkonsumsi kafein berlebih dapat memperparah kerja organ tubuh yang akhirnya membuat tubuh kita cepat lelah. Sama halnya dengan gula, kalori pada gula cukup tinggi. Jika dikonsumsi berlebih akan membuat tubuh bekerja lebih keras dan akhirnya mudah lelah dan menimbulkan kantuk.

Biasakan Lakukan Olahraga Kecil

Jika tidak sempat berolahraga karena harus berangkat gelap-pulang gelap, Anda dapat menyempatkan diri untuk melakukan olahraga kecil. Misalnya, menggunakan kendaraan umum, atau berjalan kaki. Menurut studi, berjalan kaki dan melihat sekeliling dapat menurunkan tingkat stres dan juga menambah daya ingat hingga 20%,

Anda juga dapat melakukan olahraga kecil dengan mengelilingi gudang pabrik, atau tempat operasi manufaktur. Menaiki dan Menuruni anak tangga. Dalam hal ini, perusahaan juga direkomendasikan untuk mendirikan body fit center atau pusat kebugaran yang diberlakukan untuk karyawan. 

Biarkan Karyawan Bekerja Swadaya 

Hal yang terpenting untuk menekan efek burnout syndrome adalah membiarkan karyawan melakukan kerja swadaya. Artinya, karyawan dapat melakukan pekerjaan dengan fleksibel namun tetap berada di bawah pengawasan perusahaan.

Salah satunya transparansi terkait jam lemburan, shift trading, atau pengajuan tugas dan cuti yang dapat dilakukan secara mandiri. Sebagai perusahaan manufaktur, Anda dapat mengandalkan software HR untuk menanamkan budaya kerja mandiri pada karyawan manufaktur Anda.

Talenta memiliki fitur absensi geolokasi, shift rostering, pengajuan cuti dengan mobile-approval, dan juga pengaturan gaji yang transparan dengan integrasi pajak dan juga iuran wajib lainnya. 

 


PUBLISHED20 Mar 2020
Hafidh
Hafidh

SHARE THIS ARTICLE: