Other 5 min read

7 Etika Menyampaikan Kabar Buruk pada Karyawan dengan Bijak

Tayang
Diperbarui
Di tulis oleh:
Mekari Talenta
Ervina Lutfi

Dalam dunia kerja, tidak selamanya kabar yang disampaikan bersifat positif. Dalam beberapa situasi, seorang atasan atau manajer harus menyampaikan informasi yang tidak menyenangkan kepada karyawannya, baik berupa pengumuman pemutusan hubungan kerja (PHK), restrukturisasi organisasi, pengurangan tunjangan, hingga kerugian perusahaan. Situasi seperti ini membutuhkan keterampilan komunikasi yang cermat, empati tinggi, serta pemahaman etika yang baik agar proses penyampaian tidak menimbulkan kegaduhan atau ketidaknyamanan psikologis bagi pihak yang menerima informasi.

Berikut adalah tujuh etika penting yang harus diterapkan saat menyampaikan kabar buruk kepada karyawan agar proses komunikasi tetap berjalan secara profesional, manusiawi, dan produktif dijelaskan oleh Mekari Talenta.

1. Hindari Menyampaikan Kabar Buruk dengan Cara Sambil Lalu

Salah satu kesalahan fatal dalam menyampaikan informasi yang bersifat negatif adalah melakukannya secara sambil lalu. Menyisipkan kabar buruk di tengah perbincangan ringan atau saat membahas topik lain yang tidak relevan akan menimbulkan kesan bahwa pemberi informasi tidak menghargai perasaan karyawan. Hal ini juga mencerminkan kurangnya empati dan profesionalisme dari pihak manajemen.

Mengumumkan kabar buruk, seperti pengurangan tenaga kerja atau penurunan gaji, memerlukan konteks yang serius dan waktu yang tepat. Oleh sebab itu, penting untuk memilih momen khusus, dengan suasana yang kondusif, agar informasi dapat diterima secara lebih proporsional. Hindari menyampaikannya di tengah kesibukan kerja, saat jam istirahat, atau melalui komunikasi singkat seperti pesan teks atau email tanpa penjelasan lebih lanjut. Idealnya, kabar semacam ini harus disampaikan secara langsung, melalui pertemuan personal atau rapat internal yang sudah dijadwalkan.

Dengan pendekatan yang tepat, penyampaian kabar buruk dapat diterima dengan lebih terbuka. Karyawan pun akan merasa dihargai sebagai manusia, bukan sekadar sumber daya. Etika ini tidak hanya melindungi citra manajer atau perusahaan, tetapi juga memperkuat budaya organisasi yang berorientasi pada empati dan profesionalisme.

2. Hindari Penyampaian yang Bertele-Tele dan Tidak Langsung

Saat menyampaikan kabar buruk, kejelasan adalah kunci utama. Menyampaikan informasi secara berputar-putar hanya akan menambah ketegangan dan kebingungan di pihak karyawan. Gaya komunikasi yang tidak langsung dapat memperpanjang kekhawatiran, menciptakan spekulasi, bahkan memicu kepanikan yang tidak perlu. Karena itu, penyampaian harus dilakukan secara lugas, fokus, dan langsung pada pokok permasalahan.

Namun, penyampaian yang lugas bukan berarti harus terdengar kasar atau dingin. Nada suara tetap harus dikendalikan, pilihan kata harus diperhatikan, dan ekspresi wajah serta bahasa tubuh harus mencerminkan kepedulian. Tujuannya adalah agar karyawan memahami substansi pesan yang disampaikan tanpa merasa ditekan atau ditelantarkan secara emosional.

Penting juga untuk menyusun struktur pembicaraan dengan urutan yang logis. Misalnya, sampaikan terlebih dahulu latar belakang atau alasan mengapa keputusan sulit harus diambil, lalu jabarkan dampaknya secara konkret, dan akhiri dengan penjelasan tentang langkah tindak lanjut atau dukungan yang akan diberikan perusahaan. Pendekatan ini membantu penerima pesan memahami konteks secara menyeluruh, bukan hanya fokus pada sisi negatifnya saja.

3. Hindari Membuka Penyampaian dengan Permintaan Maaf

Meskipun terdengar sopan dan menunjukkan empati, memulai penyampaian kabar buruk dengan permintaan maaf yang tidak tepat justru dapat menciptakan persepsi negatif. Dalam beberapa kasus, permintaan maaf bisa dianggap sebagai pengakuan kesalahan atau ketidakmampuan dalam pengambilan keputusan. Padahal, tidak semua kabar buruk terjadi karena kelalaian manajemen. Banyak keputusan sulit yang harus diambil demi keberlangsungan perusahaan secara jangka panjang.

Dengan memulai pembicaraan dari posisi yang terlalu defensif, manajer justru bisa terlihat kurang percaya diri dan tidak memiliki kendali atas situasi. Karyawan pun bisa menangkap sinyal bahwa pihak manajemen bersikap pasrah, alih-alih bersikap solutif. Ini berpotensi memperburuk suasana hati mereka dan menciptakan ketidakpercayaan terhadap keputusan yang disampaikan.

Sebagai gantinya, penyampaian harus dilakukan dengan nada netral namun tegas. Tegaskan bahwa keputusan yang diambil sudah melewati proses evaluasi yang matang, dan bahwa perusahaan tetap berkomitmen mendampingi karyawan melalui masa-masa sulit. Dengan pendekatan ini, perusahaan tetap menunjukkan empati, tanpa kehilangan wibawa dan profesionalismenya.

Baca Juga: Pentingnya Memahami Konsep Budaya Kerja dalam Perusahaan

4. Sampaikan Informasi Berdasarkan Fakta yang Terverifikasi

Salah satu bentuk etika penting dalam menyampaikan kabar buruk adalah memastikan bahwa setiap informasi yang disampaikan berasal dari data dan fakta yang akurat. Jangan sampai terjadi penyampaian informasi yang ambigu, spekulatif, atau bersifat dugaan. Ketidakjelasan informasi hanya akan memperburuk kondisi psikologis karyawan dan dapat menimbulkan misinformasi di antara rekan kerja.

Dalam hal ini, manajer atau pemimpin divisi perlu terlebih dahulu mengkaji laporan internal, hasil audit, atau data keuangan perusahaan yang relevan. Jika kabar buruk berkaitan dengan efisiensi biaya, misalnya, sertakan data yang menunjukkan tren penurunan profit atau kenaikan beban operasional. Ini akan membantu karyawan memahami logika di balik keputusan manajemen dan mengurangi potensi prasangka negatif.

Penting juga untuk memberikan ruang tanya-jawab setelah penyampaian kabar buruk dilakukan. Ini adalah bagian dari transparansi yang juga menjadi etika komunikasi korporat. Dengan begitu, karyawan merasa diberi ruang untuk mencari kejelasan dan tidak sekadar menjadi objek dari keputusan sepihak.

5. Tunjukkan Empati Tanpa Harus Terlalu Emosional

Penyampaian kabar buruk bukan hanya tentang isi pesan, tetapi juga cara penyampaiannya. Dalam situasi seperti ini, pemimpin harus mampu menunjukkan empati yang tulus tanpa kehilangan kendali emosional. Ekspresi empati dapat ditunjukkan melalui bahasa tubuh yang terbuka, kontak mata yang konsisten, serta intonasi suara yang lembut namun tegas.

Menunjukkan empati berarti Anda peduli terhadap dampak emosional yang mungkin dirasakan oleh karyawan. Namun penting untuk membedakan antara empati dan simpati berlebihan. Jangan sampai penyampaian kabar buruk menjadi ajang meluapkan emosi pribadi, seperti rasa bersalah atau kesedihan yang terlalu dalam. Hal ini justru akan membingungkan karyawan dan membuat suasana menjadi tidak produktif.

Pemimpin yang tangguh adalah mereka yang bisa tetap tenang, rasional, dan penuh perhatian dalam menghadapi situasi sulit. Ini akan memberikan rasa aman bagi karyawan dan membuat mereka lebih siap menghadapi perubahan yang terjadi. Pada akhirnya, kemampuan menunjukkan empati secara profesional adalah ciri khas dari pemimpin yang dewasa dan bertanggung jawab.

Baca Juga: Berbagai Kebiasaan Buruk yang Perlu Dihindari di Tempat Kerja

6. Sediakan Solusi atau Dukungan sebagai Bentuk Komitmen

Menyampaikan kabar buruk tanpa diikuti oleh rencana tindak lanjut hanya akan membuat karyawan merasa diabaikan. Oleh karena itu, salah satu etika penting yang harus dipenuhi adalah menyiapkan langkah konkret untuk membantu karyawan beradaptasi terhadap kondisi baru. Ini bisa berupa program pendampingan karier, pelatihan ulang, atau bahkan bantuan konsultasi psikologis jika diperlukan.

Misalnya, jika kabar buruk yang disampaikan adalah pengurangan jumlah tenaga kerja, perusahaan bisa menyusun program outplacement untuk membantu karyawan yang terdampak menemukan pekerjaan baru. Jika yang disampaikan adalah penghapusan tunjangan tertentu, maka perlu ada alternatif lain yang bisa menggantikan manfaat tersebut secara parsial.

Dukungan tidak selalu harus bersifat materiil. Terkadang, hanya dengan memberikan waktu dan ruang bagi karyawan untuk memahami situasi, itu sudah menjadi bentuk kepedulian yang besar. Yang terpenting adalah menunjukkan bahwa perusahaan tetap berada di sisi karyawan, dan bahwa keputusan yang sulit bukan berarti akhir dari hubungan baik antara kedua belah pihak.

7. Evaluasi Proses Penyampaian dan Ambil Pelajaran

Etika terakhir yang tidak kalah penting adalah melakukan evaluasi terhadap cara penyampaian kabar buruk itu sendiri. Setelah kabar disampaikan, manajemen perlu menilai respons karyawan, mengevaluasi proses komunikasi yang dilakukan, serta mencatat pelajaran apa saja yang bisa diambil untuk perbaikan ke depan.

Evaluasi ini bisa dilakukan secara internal melalui diskusi tim, survei singkat kepada karyawan, atau sesi one-on-one dengan mereka yang terdampak. Hasil evaluasi tersebut akan sangat berharga sebagai dasar dalam merancang pendekatan komunikasi yang lebih baik di masa depan, terutama saat perusahaan menghadapi tantangan serupa.

Melalui proses reflektif ini, perusahaan juga menunjukkan bahwa mereka belajar dari pengalaman dan berkomitmen untuk terus meningkatkan standar etika dan profesionalisme dalam semua aspek manajemen sumber daya manusia.

Kesimpulan

Menyampaikan kabar buruk kepada karyawan memang bukan tugas yang mudah. Diperlukan keseimbangan antara kejelasan informasi, empati, dan sikap profesional agar proses komunikasi tetap berjalan dengan baik. Dengan menerapkan tujuh etika di atas—dari menghindari penyampaian sambil lalu hingga menyediakan solusi pasca pengumuman—perusahaan dapat menjaga kepercayaan dan loyalitas karyawan bahkan di tengah kondisi yang tidak ideal.

Pada akhirnya, keberhasilan dalam menyampaikan kabar buruk bukan hanya tentang menyampaikan informasi, tetapi juga tentang bagaimana perusahaan membangun relasi yang sehat dan penuh hormat dengan seluruh anggotanya. Dan di sinilah letak sejati dari kepemimpinan yang bijak dan humanis.

Image
Ervina Lutfi Penulis
Product manager sekaligus penulis konten profesional yang rutin membahas topik HR, bisnis, dan digital marketing. Gaya penulisan yang terstruktur dan informatif memudahkan pembaca memahami strategi bisnis dan pengelolaan sumber daya manusia.
WhatsApp Hubungi sales