Quiet Hiring: Strategi Rekrutmen yang Low Profile

By Jordhi FarhansyahPublished 17 Oct, 2023

Anda mungkin sudah pernah mendengar istilah quiet quitting. Lalu bagaimana dengan quiet hiring?

Istilah ini kian populer dan mungkin menjadi antitesis dari quiet hiring. Lalu apa itu quiet hiring dan apakah merupakan hal yang baik atau buruk bagi perusahaan maupun karyawan? Simak penjelasannya berikut ini.

Definisi quiet hiring

Quiet hiring atau juga dikenal dengan istilah “silent hiring” adalah suatu praktik perekrutan di mana perusahaan atau organisasi tidak secara terbuka mengumumkan atau mengiklankan posisi pekerjaan yang tersedia.

Emily Rose McRae dari Gartner menjelaskan bahwa quiet hiring juga dapat berarti ketika perusahaan mempekerjakan karyawan kontrak seperti freelancer atau karyawan mereka saat ini untuk melakukan hal di luar tanggung jawab mereka.

Melalui quiet hiring, perusahaan dapat menyelesaikan pekerjaan tanpa perlu membuka lapangan pekerjaan yang baru.

Ada beberapa alasan mengapa perusahaan mungkin memilih untuk melakukan quiet hiring. Misalnya saja, perusahaan ingin merahasiakan sebuah inisiatif tertentu. Dalam beberapa kasus, perusahaan mungkin sedang bekerja pada proyek atau inisiatif tertentu yang masih dirahasiakan.

Dalam situasi seperti ini, perusahaan mungkin ingin mencegah pesaing atau pihak luar lainnya mengetahui rincian tentang proyek tersebut.

Atau bisa juga karena perusahaan membutuhkan pengisian posisi tersebut dalam waktu cepat sekaligus menghemat biaya. Mereka ingin mengisi posisi tersebut lebih efisien tanpa harus melibatkan langkah-langkah yang biasanya terkait dengan pengumuman pekerjaan secara terbuka.

Potensi keuntungan dari quiet hiring

Quiet hiring dapat memberikan sejumlah potensi keuntungan bagi perusahaan, tergantung pada konteks dan kebutuhan spesifik perusahaan tersebut. Beberapa potensi keuntungan dari quiet hiring meliputi beberapa hal ini.

Kerahasiaan sebuah proyek atau inisiatif khusus

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, quiet hiring memungkinkan perusahaan menjaga kerahasiaan proyek atau inisiatif khusus yang sedang berlangsung.

Hal ini dapat memberikan keunggulan kompetitif karena pesaing tidak akan memiliki akses terhadap informasi strategis tentang arah atau tujuan perusahaan.

Efisiensi dan kecepatan

Dalam quiet hiring, proses perekrutan dapat menjadi lebih cepat dan efisien karena perusahaan dapat fokus langsung pada kandidat potensial yang sudah ada di dalam perusahaan.

Tanpa perlu mengelola jumlah besar aplikasi dari pengumuman terbuka, perusahaan dapat menghemat waktu dan sumber daya.

Selain itu, karyawan tidak perlu lagi mengurus proses administrasi seperti layaknya karyawan baru dan langsung fokus ke peran baru mereka dengan mempelajari skill set yang baru.

Pengisian posisi penting dengan cepat

Posisi kepemimpinan atau posisi dengan tanggung jawab khusus mungkin dapat diisi dengan lebih cepat karena perusahaan dapat langsung berhubungan dengan individu yang memiliki kualifikasi yang dibutuhkan.

Meskipun quiet hiring memiliki potensi keuntungan, penting untuk diingat bahwa praktik ini juga dapat menimbulkan beberapa tantangan dan kritik.

Hal ini termasuk masalah transparansi, ketidaksetaraan akses ke peluang pekerjaan, dan risiko kurangnya keragaman dalam perekrutan.

Oleh karena itu, perusahaan perlu mempertimbangkan dampak yang mungkin terjadi dan memastikan bahwa proses rekrutmen tetap adil dan etis.

Lalu apa saja risikonya untuk perusahaan?

Baca juga: Pengertian quiet quitting dan penyebabnya

Potensi risiko untuk perusahaan

Meskipun quiet hiring dapat memberikan keuntungan tertentu, terdapat juga potensi kerugian yang perlu dipertimbangkan.

Beberapa kerugian yang mungkin terkait dengan praktik quiet hiring meliputi hal-hal berikut ini.

Kurangnya transparansi

Quiet hiring dapat mengakibatkan kurangnya transparansi dalam proses perekrutan, yang dapat menciptakan ketidaksetaraan akses ke peluang pekerjaan.

Kandidat yang mungkin cocok untuk posisi tersebut mungkin tidak menyadari adanya kesempatan tersebut, terutama jika tidak ada pengumuman pekerjaan secara terbuka.

Ketidakberagaman

Dengan tidak mengumumkan posisi secara terbuka, perusahaan berisiko mengurangi keragaman dalam keberagaman tempat kerja. Hal ini disebabkan perusahaan hanya ‘merekrut’ karyawan dari dalam.

Potensial untuk favoritisme

Praktik quiet hiring dapat meningkatkan risiko favoritisme atau nepotisme, di mana perusahaan lebih mungkin merekrut dari jaringan internal atau referensi pribadi, tanpa memberikan kesempatan yang sama kepada semua kandidat yang berpotensi.

Kurangnya kesetaraan peluang

Dalam pengumuman terbuka, semua individu memiliki kesempatan yang sama untuk melamar posisi. Quiet hiring dapat menyebabkan kesenjangan akses ke peluang pekerjaan dan memberikan keuntungan kepada orang-orang yang memiliki koneksi atau jaringan yang lebih kuat.

Kesulitan menemukan kandidat terbaik

Meskipun quiet hiring dapat memungkinkan efisiensi dalam beberapa hal, perusahaan mungkin melewatkan kesempatan untuk menemukan kandidat yang sangat berkualifikasi yang mungkin tidak terdengar atau terlihat oleh mereka.

Reputasi perusahaan

Jika diketahui bahwa perusahaan sering menggunakan quiet hiring, ini dapat mempengaruhi reputasi perusahaan. Masyarakat dan calon karyawan mungkin melihatnya sebagai kurang transparan atau kurang adil, yang dapat merugikan citra perusahaan.

Oleh karena itu, perusahaan yang mempertimbangkan untuk melakukan quiet hiring perlu memastikan bahwa mereka mengatasi potensi kerugian ini dengan mempraktikkan transparansi yang wajar, mempromosikan kesetaraan peluang, dan tetap mematuhi prinsip-prinsip etika rekrutmen.

Jika tidak dikelola dengan baik, quiet hiring dapat menimbulkan masalah etis dan kecemburuan sosial di antara karyawan.

Potensi Keuntungan dan kerugian untuk karyawan

quiet hiring

Berikut adalah beberapa keuntungan dan kerugian quiet hiring secara spesifik yang bisa berdampak pada karyawan.

Keuntungan dari quiet hiring bagi karyawan

Kerahasiaan pribadi

Kandidat yang dihubungi secara pribadi dalam praktik quiet hiring dapat merasa dihargai karena perusahaan telah mengidentifikasi mereka sebagai kandidat potensial.

Mereka dapat menghargai kerahasiaan dan tidak terpapar secara publik dalam proses perekrutan.

Peluang yang tidak terbuka umum

Quiet hiring memberikan kesempatan kepada karyawan untuk mendapatkan posisi tanpa harus bersaing dalam proses yang mungkin sangat kompetitif jika posisi tersebut diumumkan secara terbuka.

Hal ini tentu dapat meningkatkan peluang mereka untuk sukses dalam mendapatkan pekerjaan.

Pengakuan keterampilan khusus yang dimiliki karyawan 

Dalam quiet hiring, karyawan dihubungi perusahaan berdasarkan keterampilan atau pengalaman khusus yang mereka miliki.

Hal ini dapat menjadi bukti pengakuan langsung atas keahlian mereka, dan mereka mungkin lebih dihargai untuk kontribusi unik yang dapat mereka bawa ke perusahaan.

Baca juga: 5 metode keberhasilan rekrutmen internal

Kerugian dari quiet hiring bagi karyawan

Kurangnya kesetaraan peluang

Praktik quiet hiring dapat menciptakan ketidaksetaraan dalam akses peluang pekerjaan karena tidak semua kandidat memiliki kesempatan yang sama. Ini dapat merugikan mereka yang tidak memiliki koneksi atau jaringan yang kuat.

Ketidaktransparanan proses

Karyawan mungkin merasa tidak nyaman dengan kurangnya transparansi dalam proses rekrutmen. Mereka mungkin merasa bahwa proses tersebut tidak adil atau bahwa mereka tidak memiliki informasi yang cukup untuk membuat keputusan informasi.

Rawan eksploitasi

Perusahaan yang tidak transparan bisa saja menambah beban kerja ke karyawan tertentu padahal beban tersebut seharusnya dikerjakan oleh karyawan baru tanpa menambah kompensasi.

Karyawan pun bisa tidak menyadari bahwa ternyata ia mengerjakan pekerjaan di luar tanggung jawabnya. Tidak semua karyawan bisa langsung merasa bahwa ia mengalami eksploitasi oleh perusahaan.

Kurangnya pilihan

Karyawan yang direkrut melalui quiet hiring mungkin tidak memiliki banyak pilihan dalam mempertimbangkan berbagai opsi pekerjaan atau mendapatkan tawaran persaingan untuk meningkatkan kondisi pekerjaan mereka.

Tingkat keterbukaan yang rendah

Karyawan mungkin merasa bahwa perusahaan yang cenderung menggunakan quiet hiring memiliki tingkat keterbukaan yang rendah dan mungkin kurang transparan dalam hal kebijakan dan prosedur.

Dalam kaitannya dengan karyawan, penting bagi perusahaan untuk menimbang keuntungan dan kerugian praktik quiet hiring dan memastikan bahwa prinsip-prinsip etika dan keadilan dijaga dalam seluruh proses rekrutmen.

Cara mengoptimalkan quiet hiring

Anda telah mengetahui potensi keuntungan beserta kerugian dari adanya quiet hiring.

Namun, jika sebuah perusahaan memutuskan untuk mengadopsi atau mengoptimalkan praktik ini, berikut adalah beberapa langkah yang dapat diambil untuk memastikan bahwa proses ini dilaksanakan secara efektif dan etis.

1. Transparansi dan keterbukaan yang terukur

Pastikan ada tingkat keterbukaan yang memadai dalam proses perekrutan, meskipun tidak melibatkan pengumuman terbuka. Sediakan informasi yang jelas tentang tahapan proses, kriteria seleksi, dan harapan perusahaan kepada karyawan.

2. Melibatkan karyawan yang ada

Melibatkan karyawan yang ada dalam proses rekrutmen dapat membantu mendeteksi kandidat potensial dan memperkuat budaya perusahaan. Referensi karyawan dapat menjadi masukan yang tepat karena mereka terlibat langsung dan sudah pernah bekerja sama dengan karyawan yang jadi kandidat.

3. Menjaga keadilan dan kesetaraan peluang

Pastikan bahwa proses seleksi tetap adil dan setiap kandidat memiliki kesempatan yang setara untuk berhasil.

Hindari favoritisme atau nepotisme dan pilih kandidat berdasarkan merit.

4. Pengembangan jaringan

Aktif terlibat dalam acara industri, konferensi, atau seminar untuk membangun dan memperluas jaringan kontak potensial untuk kandidat di luar talenta internal karyawan.

Mengoptimalkan quiet hiring memerlukan keseimbangan antara kebutuhan kerahasiaan perusahaan dan prinsip-prinsip transparansi dan keadilan.

Dengan memperhatikan aspek-aspek ini, perusahaan dapat mengurangi risiko dan memaksimalkan potensi keuntungan dari praktik ini.

Apakah quiet hiring eksploitatif?

Dengan melihat kondisi ekonomi yang sulit diprediksi untuk tahun-tahun mendatang, kemungkinan besar quiet hiring akan menjadi fenomena yang cukup populer sebagai salah satu metode perusahaan dalam menghemat biaya rekrutmen.

Lalu dengan melihat keuntungan serta risikonya, lantas apakah quiet hiring dapat disimpulkan sebagai ‘metode rekrutmen’ yang eksploitatif?

Jawabannya tentu tidak, namun bisa memiliki potensi untuk menjadi eksploitatif. Emily Rose McRae menyimpulkan quiet hiring bukan hal yang buruk.

Ia menuturkan bahwa hal ini justru bisa mempromosikan karyawan dan membantu perkembangan karier karyawan yang sudah ada.

Perusahaan dapat memikirkan rencana yang lebih strategis, melihat bakat-bakat di dalam sebuah perusahaan, serta menemukan cara baru untuk menanganinya.

Hal ini pun cenderung dilakukan ketika perusahaan sedang kesulitan ekonomi karena tidak mampu untuk merekrut karyawan baru.

Dengan redistribusi sumber daya, perusahaan mampu lebih fleksibel karena biayanya lebih murah ketimbang harus merekrut karyawan baru.

Namun demikian, jangan sampai hal ini menjadi satu hal yang dieksploitasi, misalnya sekadar menambah tanggung jawab ke karyawan tanpa memberikan kompensasi yang lebih baik.

Contoh kasus quiet hiring

Ada banyak beberapa contoh kasus quiet hiring, baik yang negatif maupun yang positif. Berikut adalah beberapa contoh kasusnya.

Positif

  • Perusahaan melihat potensi dari karyawan dan menawarkan posisi lain yang lebih tinggi dengan kompensasi yang berbeda.
  • Perusahaan mencari karyawan baru untuk posisi penting melalui referensi dari kenalan, karyawan, atau rekan dari perusahaan lain tanpa melakukan rekrutmen secara terbuka.

Negatif

  • Perusahaan mulai memberikan beban kerja tambahan dan tanggung jawab baru di luar pekerjaan karyawan tanpa memberikan kompensasi.
  • Perusahaan meminta bantuan karyawan untuk sebuah proyek atau inisiatif dengan iming-iming bahwa proyek ini penting untuk pertumbuhan bersama.
  • Karyawan tambahan yang tidak kunjung disetujui permintaannya dan membiarkan karyawan lama menjalankan tanggung jawab ekstra yang seharusnya bisa dikerjakan dengan tenaga tambahan

Itulah tadi penjelasan mengenai quiet hiring. Meskipun quiet hiring dapat memberikan keuntungan tertentu bagi perusahaan, ada juga kritik terhadap praktik ini karena dapat menciptakan ketidaksetaraan akses ke peluang pekerjaan dan mengurangi transparansi dalam dunia kerja.

Terlepas dari pendekatan rekrutmen yang dipilih, penting bagi perusahaan untuk memastikan bahwa proses perekrutan tetap dilakukan secara adil.

Untuk membantu memetakan talenta karyawan, Anda bisa menggunakan fitur Talent Development dari software HRIS Mekari Talenta. Contohnya, dalam fitur ini terdapat Sucession Planning yang merupakan salah satu elemen penting dalam quiet hiring.

Dengan Succession Planning, Anda dapat membuat program suksesi yang strategis untuk memastikan transisi posisi kepemimpinan di perusahaan dapat digantikan oleh calon penerusnya dengan lebih mulus.

Anda dapat melakukan program pengembangan dan mempersiapkan mereka untuk peran kepemimpinan di masa mendatang.

Selain itu, fitur Advance Recruitment dari Mekari Talenta juga dapat membantu kebutuhan Anda dalam melakukan rekrutmen yang terintegrasi. Segala kebutuhan Anda mulai dari proses pengumpulan CV, penjadwalan tugas dan interview, hingga onboarding dapat dilakukan di dalam satu dashboard yang terintegrasi.

Tertarik mencoba fitur-fitur dari Mekari Talenta? Anda bisa berkonsultasi bersama tim sales kami dan mencoba demo aplikasinya gratis sekarang juga.

Image
Jordhi Farhansyah
Penulis yang selama 2 tahun terakhir fokus memproduksi konten seputar HR dan bisnis. Selain menulis, sehari-hari Jordhi juga aktif merawat hobinya di bidang fotografi analog.