Mekari Conference 2019: Mengembangkan Bisnis UMKM Lewat People Operation

Mekari Conference 2019: Mengembangkan Bisnis UMKM Lewat People Operation

Saat ini, usaha kecil mikro menengah (UMKM) memang sepertinya sudah berkembang sangat pesat. Terbukti dari banyaknya pihak yang mulai turun tangan untuk membantu memfasilitasi perkembangan UMKM. Hal ini bukan tanpa alasan mengingat sektor UMKM memiliki peran penting dalam membantu pertumbuhan ekonomi di Indonesia.

Meskipun kecil, semua usaha tentunya memiliki potensi yang sama untuk naik kelas ke level lebih tinggi. Lalu, bagaimana cara UMKM bisa naik kelas? Tentu saja ada indikator-indikator yang menentukan, seperti aspek pemasaran, produksi, pembiayaan, hingga sumber daya manusia (SDM).

Tinggalkan HR dan payroll manual, saatnya beralih ke Aplikasi HRIS Talenta dengan fitur absensi online, payroll dan fitur yang mempermudah pekerjaan HRD lainnya.

Pentingnya Peran HR dalam Sebuah Industri

Saat kita membicarakan scaling, hal yang harus dilihat adalah apa yang mau dilakukan HR untuk mendukung perkembangan bisnis? Pertama, ketahui tahapan bisnis dari sebuah perusahaan terlebih dahulu. Hindari memaksakan semua proses serba digital saat karyawan masih 10 orang saja. Ada sisi growth, ekspansi yang akan mengiringi dan kemudian mengubah perusahaan menjadi lebih besar. Setelah besar, pilihannya ada dua, apakah perusahaan tersebut akan menjadi Unicorn atau malah hancur. Tanyakan pada diri sendiri, ada di stage manakah perusahaan Anda karena dari sanalah Anda bisa memulai. 

Dudi Arisandi selaku Chief People Officer di Tiket.com dalam Mekari Conference menyebutkan bahwa HR memiliki beberapa peran penting, antara lain:

  • HR harus mengerti bisnis dari sebuah perusahaan. Tidak hanya me-record saja, tapi juga harus menjadi business partner yang baik. 
  • Mengerti teknologi untuk mensimplifikasi proses HR
  • Mengadopasi customer centric mentality (intrapeneurship HR); dengan menjadi intrapreneur, HR akan lebih kreatif karena mindset mereka ditantang untuk membuat sesuatu yang menarik serta mampu menjawab tantangan dari masing-masing user.
  • Mengerti culture agility; hidup di digital itu bukan hal yang mudah, di mana tantangan dan kulturnya sudah pasti berbeda.

Cara Tepat HR Dalam Menghadapi Tantangan

Sebagai salah satu online travel agent terbesar di Indonesia, Tiket memang sudah memiliki usia yang matang dan berada di bawah naungan Djarum. Tentunya, ada berbagai tantangan yang dihadapi, salah satunya adalah perubahan kultur. Adanya generasi lama dan generasi baru yang memiliki mindset berbeda menjadi salah satu tantangan yang harus ditaklukkan di mana HR harus mengubah mindset tersebut dan setiap rekrutmen harus tahu agar prosesnya lebih cepat. Selain itu, perusahaan juga perlu mempersingkat administrasi yang panjang dengan mensimplifikasi kontrak dan tidak perlu banyak menggunakan kertas. 

Untuk menciptakan kultur perusahaan yang baik dan nyaman, perusahaan tentunya perlu menjalankan strategi yang tepat. Targetnya adalah karyawan atau people experience sebab percuma saja membicarakan strategi saat tidak ada eksekusi yang dilakukan. 

“A Vision & Strategy is not enough. The success key is Best Execution, each day with Passion and bring Impact to our people.”

Tips untuk Scaling Up HR dari Transactional to Strategic 

Pertanyaannya, apakah penting atau tidak? Jadi, walaupun kesannya transaksional, ini adalah sebuah pondasi penting. Hidup di startup tentunya akan melalui banyak percobaan. Setiap hari, Anda akan berpacu dengan waktu untuk mengubahnya menjadi strategic. Saat kita membicarakan strategic inilah, HR berperan sebagai talent management.
Bagaimana caranya? Agustinus Risang, Head of HR Finmas dalam acara Mekari Conference menjabarkan beberapa cara sederhananya, yaitu:

  • Plan & Prepare: awali dengan mimpi Anda. Hal ini bisa dilakukan dengan cara memahami bisnis terlebih dahulu sebelum menjalankannya
  • Process: apa pun harus diproses dengan cepat, bahkan saat memutuskan sesuatu. Selain itu, bisnis juga dapat diawali dengan hal yang sederhana, secara verbal, misalnya saat bicara santai di pantry kantor. Namun, perlu diingat bahwa action apa pun yang diambil harus konsisten dan jangan lupa untuk selalu mendokumentasikannya. 
  • Paperless: Anda bisa mulai menekan penggunaan kertas dalam berbagai berkas, seperti attendance, cuti, payroll, klaim, dan lain sebagainya.
  • Performance: pentingnya mendukung performance employee dengan menyediakan segala kebutuhannya dan menjadi pendengar sekaligus memberikan solusi terbaik. 

Tantangan di Mekari (Beberapa Perusahaan yang Bergabung dalam Satu Atap)

Mekari adalah sebuah platform teknologi terkemuka untuk bisnis dan tempat kerja saat ini yang fokus pada akuntansi, pajak, dan SDM. Yanti Wijaya, VP Mekari mengungkapkan tantangan yang dihadapinya saat beberapa perusahaan (Sleeker, Talenta, Jurnal, Klikpajak) bergabung menjadi satu di bawah naungan PT Mid Solusi Nusantara.

Walaupun startup, tantangan yang dihadapi tidak kalah dengan perusahaan besar karena dalam satu tahun, perusahaan harus memikirkan bagaimana gap atau kultur yang ada bisa diminimalkan dengan cepat. Saat tiga perusahaan bergabung menjadi satu, tentunya tim HRnya semakin banyak, di sinilah mereka menyadari bahwa jumlah rekrutmen sudah berlebihan.

Beranjak dari sana, mereka berusaha untuk menilai orang-orang di HR yang mungkin bisa ditempatkan di area lain. Mereka tidak memilih termination atau lay off karena ini bukan suatu langkah yang baik. Selain itu, muncul juga communication issue, di mana yang tadinya karyawan bisa langsung berkomunikasi dengan manager-nya masing-masing, sementara saat ini sudah ada pirantinya. Oleh karena itulah, diperlukannya sebuah company brand yang kuat.

Menyelesaikan Masalah dalam People Operations 

Membicarakan soal people operations, mungkin kita akan menyamakan dengan HR, padahal ada perbedaannya. Hal yang ditekankan di sini adalah people, bagaimana Anda mengatur orang-orangnya dan bagaimana Anda memberi pengalaman kepada mereka yang bekerja di perusahaan. Oleh karena itu, ada beberapa prioritas yang dilakukan Mekari untuk menyelesaikan masalah-masalah tersebut, salah satunya adalah culture alignment.
Kultur ini sangat penting karena mau startup atau perusahaan yang sudah besar pun hal ini sangat penting. Saat Anda membangun suatu perusahaan, pastikan untuk menentukan kulturnya dari awal. 

Selanjutnya, ada juga employee experiences, yaitu kebutuhan karyawan untuk bekerja, produktivitas, engagement (di mana HR memperhatikan karyawan agar lebih bahagia karena saat mereka happy, produktivitas pun akan meningkat), dan experience (membangun ownership dalam diri karyawan dengan membuat mereka tetap happy).

Employee experience sangat berkaitan dengan customer experience. Untuk menciptakan customer experience yang baik, tentunya employee ini harus didengar dengan beragam cara, misalnya  tools communication yang jelas. Teknologi adalah hal yang sangat penting. Saat Anda meminta karyawan untuk bekerja dengan cepat, maka Anda harus mendukungnya dengan teknologi yang memadai. Jadi, tidak perlu ada lagi hal-hal tradisional di HR dengan memanfaatkan teknologi untuk sistem.

Cara Me-manage HR di Startup dan Konvensional

Di korporasi yang sudah besar, fokusnya sudah nggak ke orang-orangnya, tapi bagaimana cara mempertahankan bisnisnya. Saat ini kita hidup di era VUCA, di mana perusahaan-perusahaan besar jg harus melakukan transformasi. Jadi, tergantung strategi dari perusahaan itu sendiri, apakah mereka cenderung lebih fokus ke bisnis atau people. Sebenarnya, tidak ada yang berbeda karena tujuan dari setiap HR adalah sama yaitu untuk membuat karyawan bahagia bekerja di sebuah perusahaan. Hal yang membedakan adalah decision yang sangat cepat.


PUBLISHED22 Oct 2019
Novia Widya Utami
Novia Widya Utami