Audi Lumbantoruan: “HR Jangan Jadi Orang di Belakang Layar”

Audi Lumbantoruan: “HR Jangan Jadi Orang di Belakang Layar”

Dikenal sebagai Chairman OneHR, salah satu komunitas praktisi HR di Indonesia, Audi Lumbantoruan yang sehari-hari bekerja sebagai Human Capital Business Partner di Suntory Garuda Beverage ini ternyata punya banyak cerita menarik di balik karirnya di dunia HR.
Mengawali karirnya sebagai Management Trainee di Toyota Motor Corporation di Tokyo, Jepang, lulusan Akuntansi Universitas Padjadjaran ini mengaku tidak menyangka akan berkarir dan jatuh cinta di bidang HR. Bahkan, pada tahun 2010, ia bersama beberapa teman mengawali sebuah group di BBM yang kemudian menjadi cikal bakal komunitas yang hari ini dikenal dengan OneHR. Para praktisi HR yang bergabung di OneHR saat ini ada 898 anggota di group Telegram, 300 anggota di group Whatsapp, dan 400 download aplikasi One HR.
Lantas, bagaimana ceritanya seorang lulusan Akuntansi ini menemukan passion-nya di HR? Mari kita simak langsung wawancara dengan team TALENTA berikut ini.
Bagaimana awalnya Bapak berkarir di HR?
To be honest, i didn’t expect to be in HR. Pada waktu masih kuliah saya berkesempatan ikut program AIESEC  dan diterima sebagai Management Trainee di Toyota Jepang. Dari situlah kemudian saya ditawari bekerja di Toyota Motor Asia Pacific di Singapura. Di Toyota itu saya sempat ngerjain berbagai posisi, seperti sales marketing, market forecesting, sales planning, bahkan termasuk product development. Saya megang Group Operation 1, untuk sales, operation dan planning, wilayah Indonesia dan Vietnam.
Di situ sebenarnya saya sudah jatuh cinta dengan HR, karena ketika bicara sales operation di dalamnya ada training untuk dealer maupun salesman. Di Toyota ada yang namanya product knowledge training, di situlah saya mulai tertarik dengan dunia training.
Nah, tahun 2004 akhir, saya pindah, ke perusahaan namanya Body Countour. Dari situ saya sama temen-teman bikin usaha di Singapura, karena saya sudah mendapat green card. Karena saya pencinta musik, kita bikin EO, untuk membawa musisi-musisi Indonesia ke Singapura dan juga sebaliknya. Kami pernah ngerjain konser Krisdayanti di Singapura. Salah satu achivement kami bisa engage dengan MTV Asia.
Sampai tahun 2007, saya dipanggil orangtua ke Jakarta. Di Jakarta saya sempat kerja di agency-nya Ford, sempat juga freelance sebelum akhirnya bergabung di NBO sebagai sales.
Dua tahun di situ, saya mulai belajar dunia HR, tidak hanya training. Di tahun ketiga, saya mulai diterjunkan ke proyek-proyek. Mengerjakan proyek transformasi di perusahaan, membuat saya semakin tertarik pada dunia HR.
Saat itulah di sela-sela kesibukan pekerjaan saya mengambil kuliah MM UI magister manajemen Ekonomi konsentrasi di sumber daya manusia.
Awal tahun 2012 saya ditawari bergabung dengan Darya-Varia. Di situlah saya pertama kalinya terjun di HR korporasi, khususnya bagian Organization Development (OD). Di situ saya belajar performance management, succession planning, dan lain-lain. Dari Darya-Varia saya pindah ke Technip, sebelum akhirnya masuk di sini (Suntory Garuda Beverage-red) sebagai Learning and Development Manager. Baru January kemarin saya dipromosikan menjadi Business Partner. So, my career wasn’t perfect.
Mengapa memilih profesi HR?
Waktu di NBO saya menemui banyak kasus menarik dan saya melihat, kunci semuanya itu ada di people. Strategi, Anda bisa copy and paste. Tetapi people, tidak bisa. Di situlah saya mulai mengambil keputusan, saya memberanikan diri untuk mencoba (di bidang HR-red). Dan saya memberanikan diri untuk kuliah. Waktu itu saya baru nikah, jadi kerasa banget-lah.. (biayanya-red)
Apa enaknya menjadi orang HR?
Selama 8 tahun di HR, saya enjoy. Karena menemukan passion. Saya senang melihat orang berkembang. Menyaksikan hal itu bagi saya adalah suatu luxury.
Yang kedua, HR bisa me-mapping orang-orang yang benar-benar punya performance luar biasa. Orang-orang top talent ini biasanya bisa di-strecth, di luar kemampuan dan tugas dia. Gak keberatan untuk belajar hal-hal baru. Dari sisi organisasi biasanya ada posisi-posisi yang sifatnya mission critical, yaitu posisi-posisi yang tidak boleh kosong. Ada juga posisi yang sifatnya enabler, tetapi bukan berarti tidak penting, karena posisi di atas gak akan jalan kalau tidak ada enabler. Nah HR me-mapping orang-orangnya.
Senangnya lagi di HR, bisa banyak bertemu orang dan kadang melakukan negosiasi. I enjoy hearing the story.
Kalau gak enaknya?
Gak enaknya sih sebenarnya saya jujur gak jago angka. Untuk accounting saya lebih kuat di auditnya. Sekarang karena business partner, saya pegang semua aspek HR, termasuk compensation and benefit. Di situ the most challenging part. Bukan di number-nya. Ada story behind the number, you must understand.
Tips untuk rekan-rekan HR agar semakin dipercaya dan menjadi Strategic Partner CEO?
You mention a good point. Saya selalu sampaikan ini di berbagai kesempatan seminar dan lain-lain. Kenapa gak banyak orang HR yang menjadi CEO? Kenapa selalu orang marketing atau orang finance?
We must help organization to grow. Berapa banyak pekerjaan HR sudah digantikan oleh software, digantikan oleh aplikasi. Don’t lose the essence, yaitu people.
Karena itu orang HR harus mengerti bisnis dan memberikan solusi kepada business owner dan CEO. Win the heart of the management. Jangan jadi orang di belakang layar. HR harus mengerti industrinya bagaimana, prosesnya bagaimana.
Saya sendiri duduk bisa di mana saja, gak punya kursi atau meja. Saya bisa seminggu di procurement, seminggu lagi di finance. Because i just want to learn from them.

Tinggalkan HR dan payroll manual, saatnya beralih ke Aplikasi HRIS Talenta dengan fitur absensi online, payroll dan fitur yang mempermudah pekerjaan HRD lainnya.

PUBLISHED16 May 2017
Ervina
Ervina