fbpx

Artificial Intelligence Berkembang Pesat, Bagaimana Antisipasi Perusahaan?

BY Wiji
04 Feb 2020

Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) berkembang sangat pesat dan digadang-gadang akan menggantikan peran manusia di berbagai aspek pekerjaan. Saat ini banyak sekali perusahaan yang telah memikirkan tentang jenis pekerjaan apa yang suatu hari kelak dapat hilang dengan adanya Artificial Intelligence .

Survei Narrative Science pada tahun 2016 mengatakan 38 persen perusahaan besar sudah menggunakan teknologi Artificial Intelligence. Angka tersebut terus meningkat hingga 62 persen pada 2018.

Awalnya, teknologi Artificial Intelligence ini diusung untuk mempermudah pekerjaan atau menyelesaikan suatu masalah dengan lebih cepat. Namun seiring dengan kemampuannya yang bertambah, beberapa perusahaan melihat potensinya justru lebih dari itu.

“AI salah satu komponennya merupakan sebuah teknologi yang tingkat intelijensinya hampir menyerupai manusia. AI mengerti konteks, analisis, korelasi antara data-data yang sudah disimpan serta mampu memprediksi masa depan,” ungkap VP of People and Culture Kata.ai, Reno Rafly, di diskusi Insight Talenta: Catching up to Workforce 2020: Leading the Digital Age di Aone Hotel, Jakarta, (30/1).

Reno menjelaskan bahwa perusahaannya berdiri pada tahun 2015 lalu yang sebelumnya bernama YesBoss. Kebetulan, Kata.ai merupakan perusahaan yang bergerak dalam mengembangkan Artificial Intelligence.

Dia bilang bahwa berkembangnya Artificial Intelligence memberikan dampak yang cukup signifikan seperti adanya sektor pekerjaan yang tergantikan. Namun menurutnya hal tersebut bukanlah sesuatu yang harus ditakuti karena berkembangnya Artificial Intelligence juga menciptakan jenis pekerjaan baru.

“Ada pekerjaan yang hilang dan muncul tentunya setelah ada AI. AI bukan lagi sesuatu yang menakutkan, AI justru membantu,” ucapnya.

VP of people and Culture Kata.ai, Reno Rafly, di diskusi Insight Talenta: Catching up to Workforce 2020: Leading the Digital Age di Aone Hotel, Jakarta, (30/1).

Pada kesempatan tersebut, dia menjelaskan bahwa keberadaan Artificial Intelligence juga ikut mengubah budaya bekerja. Misalnya muncul tempat-tempat co-working yang membantu orang-orang bekerja lebih mudah dan lebih cepat tanpa harus pergi ke kantor.

Ketika laptop atau ponselnya terhubung dengan wifi yang sudah tersedia di tempat tersebut, maka mereka akan langsung terhubung dengan pekerjaan, dapat mengirim dan menerima apapun tanpa gangguan. Untuk urusan yang sifatnya administrasi seperti absensi, payroll, dan pengelolaan benefit bisa diserahkan ke Human Resources Information System (HRIS) seperti Talenta.

Talenta memberikan kemudahan bagi HR untuk mengatur jam kerja dan shift karyawan bahkan untuk setiap individu. Kehadiran karyawan seringkali menjadi penentu jumlah total penghasilan yang diterima oleh seorang karyawan. Automasi dari Talenta memungkinkan perusahaan untuk melakukan pencatatan kehadiran yang akurat dan terdokumentasikan dengan baik. 

Tak hanya HR, karyawan juga dipermudah untuk mengajukan lembur, cuti, dan izin secara mudah dan terkontrol. Fitur ini juga memungkinkan karyawan untuk mengajukan koreksi atas catatan kehadirannya dalam hal karyawan melakukan perjalanan dinas atau bekerja di luar kantor. Manajer pun dimungkinkan untuk memberikan persetujuan atau penolakan atas pengajuan tersebut secara berjenjang. Hal ini memberikan pengalaman baru bagi karyawan dalam mengelola absensinya sendiri yang mampu meningkatkan tingkat kepuasan karyawan.

Oleh karena itu, Reno menyebutnya sebagai collaborative intelligence yaitu sebuah gerakan dimana manusia dan AI akan bekerja sama dalam mengurangi pekerjaan yang sifatnya repetitif.

“ini juga akan jadi tren,” sebutnya.

Sementara itu, Director of Career Service Mercer, Isdar Marwan, menambahkan ada beberapa tipe pekerjaan baru yang muncul akibat berkembangnya AI. Misalnya drone manager yang bertugas untuk memastikan kondisi dan stabilitas kamera yang dipasang di alat quadcopter atau drone. Ada lagi machine learning compliance dan happiness coach yang bertugas untuk menjaga mentalitas para tenaga kerja.

Isdar mengakui jika perkembangan Artificial Intelligence yang begitu pesat menghilangkan banyak sektor pekerjaan yang otomatis mengurangi jumlah karyawan. Isdar sepakat dengan riset yang dilakukan oleh PricewaterhouseCoopers (PWC) di tahun 2017 yang memprediksi robot mampu menggantikan 20 juta pekerjaan manufaktur yang dilakukan manusia di tahun 2030. Selain manufaktur, ada dua industri lainnya yang berisiko paling tinggi terkena dampak AI yaitu transportasi dan logistik.

Director of Career Service Mercer, Isdar Marwan, di diskusi Insight Talenta: Catching up to Workforce 2020: Leading the Digital Age di Aone Hotel, Jakarta, (30/1).

“Semisalnya dulu dia sering bertatap muka dengan rekan kerjanya, interaksi dan komunikasi. Sekarang, dia hanya bekerja dengan mesin, lambat laun akan ada kecenderungan stres dan jenuh (burnout),” tutur Isdar.

Untuk Menghadapi beberapa tantangan ini, Isdar memberikan beberapa solusi bagi perusahaan khususnya kalangan Human Resources (HR). Pertama adalah sebuah perusahaan khususnya industri diharapkan mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi yang begitu cepat. Kemudian dibutuhkan juga redefinisi pekerjaan maksudnya perusahaan harus mau mengevaluasi posisi pekerjaan yang masih diperlukan dan harus diganti dengan teknologi.

Selain itu, untuk menghadapi era disrupsi saat ini perlu juga skill up atau terus mengembangkan keterampilan yang diperlukan. Ini menjadi penting ketika implikasi sosial dari perubahan tersebut menjadi semakin luas. Tim HR akan memainkan peran penting untuk mempersiapkan SDM yang mumpuni.

“Banyak HR yang tidak mau melakukan ini dikarenakan beberapa hal, pertama ada yang bilang buat apa diajarkan kalau nanti karyawannya resign juga? Lalu, ada juga HR yang bahkan tidak tahu apa saja kemampuan-kemampuan tersebut,” ujarnya.

Diskusi Insight Talenta: Catching up to Workforce 2020: Leading the Digital Age di Aone Hotel, Jakarta, (30/1).

Hal penting lainnya yang harus diperhatikan menurut Isdar adalah perusahaan harus memiliki persona yaitu suatu identitas yang mendefinisikan lembaga mereka. Sehingga perusahaan tersebut memiliki panduan untuk mencari karyawan yang memiliki ciri yang sesuai dengan citra dan kebutuhan perusahaan.

“Walaupun AI mulai mengambil alih dunia pekerjaan, yang paling penting adalah bagaimana kita beradaptasi serta positif terhadap perubahan. Sama halnya dengan HR, supaya selalu up-to-date dengan zaman yang berubah sangat cepat, sekaligus mengimplementasikan pengetahuan barunya ke dalam sistem,” tutupnya.


PUBLISHED04 Feb 2020
Wiji
Wiji

SHARE THIS ARTICLE:

Suka dengan Artikelnya?Talenta punya banyak buat kamu!

Dapatkan konten premium mulai dari Artikel, ebook, case study, white papers, info-graphics dengan berlangganan sekarang!