Bagaimana Cegah Turnover Karyawan Tinggi saat COVID-19?

Bagaimana Cegah Turnover Karyawan Tinggi saat COVID-19?

Turnover karyawan tinggi atau rendahnya tingkat retensi karyawan selayaknya virus, “a small problem with a bigger impact”. Tingginya turnover dapat memberikan dampak ganda pada aspek perusahaan; moral, keuangan, bahkan dari segi bisnis itu sendiri. Turnover rentan pada momen-momen tertentu, misalnya selepas hari raya, akhir tahun, dan pandemi global seperti COVID-19.

Tinggalkan HR dan payroll manual, saatnya beralih ke Aplikasi HRIS Talenta dengan fitur absensi online, payroll dan fitur yang mempermudah pekerjaan HRD lainnya.

Bayangkan, jika Anda memiliki karyawan yang memiliki dampak besar bagi perusahaan namun tiba-tiba mengajukan pengunduran diri. It’s a huge deal. Bukan hanya kehilangan potensi besar, bisa saja keseluruhan tim baik kinerja maupun moral berubah yang pada akhirnya akan mempengaruhi seluruh bisnis. Selain dampak moral, keuangan perusahaan juga  terkena imbasnya. Bahkan bisa saja perusahaan mengalami kerugian hanya karena turnover yang tinggi. Contoh biaya perekrutan, pesangon, biaya pelatihan,  dan turnover cost lain yang sebenarnya tidak perlu dikeluarkan.

Di tengah pandemi seperti ini merupakan waktu paling rawan bagi karyawan untuk pergi dari perusahaan. Situasi panas-dingin pun dialami perusahaan. Anda mungkin sebagai pemilik usaha harus memutar otak dan berkoordinasi dengan tim HRD bagaimana mengantisipasi dan mencegah turnover yang tinggi pada karyawan. 

Namun tidak semua perusahaan menyadari bahwa turnover yang tinggi bisa sangat membahayakan bagi kelancaran bisnis perusahaan apalagi ketika pandemi COVID-19. Beberapa mengabaikan aspek humanis karyawan dan hanya sedikit perusahaan yang mengantisipasi dengan melakukan analisis manajemen krisis sehingga kemungkinan karyawan resign karena aspek keamanan dan kesehatan mungkin saja terjadi.

Melalui riset yang dilakukan oleh Linkedin di tahun 2015, ada beberapa alasan kenapa karyawan pergi meninggalkan perusahaannya saat ini diantaranya ketidakpuasan terhadap kurangnya kesempatan pengembangan karir, tantangan baru, lingkungan kerja yang tidak sehat, dan yang terakhir adalah kompensasi.

Dari riset tersebut salah satu ada poin kompensasi dan juga lingkungan kerja. Di tengah pandemi seperti ini, kompensasi dan working environment menjadi penting agar karyawan mengurungkan niatnya untuk angkat kaki dari perusahaan. Dalam hal ini perusahaan perlu melakukan langkah strategis untuk mencegah turnover karyawan tinggi saat COVID-19.

Baca juga: Turnover Karyawan Jadi Masalah Menakutkan Perusahaan, Apa Solusinya?

Work From Home atau Tidak, Perusahaan Harus Kedepankan Kebutuhan Karyawan

Memang work from home menjadi solusi yang digunakan oleh perusahaan untuk mencegah penyebaran COVID-19 dan juga agar perusahaan tidak resesif. Namun tidak semua perusahaan bisa menerapkan work from home seperti industri pelayanan dan manufaktur.

Di antara informasi work from home yang berseliweran, perusahaan lupa mengedepankan aspek kebutuhan karyawan. Misalnya bagi karyawan yang masih bekerja ke kantor, perusahaan tidak menerapkan kebijakan pro-keamanan dan kesehatan seperti pengurangan jam kerja, transparansi pekerjaan, dan juga alur perubahan kerja ketika pandemi. 

Bagi pekerja work from home, beberapa perusahaan seperti terbata-bata beradaptasi dengan perpindahan model kerja ini salah satunya adalah alat penunjang kerja remote. Contohnya saja Rani yang sudah bekerja selama 2 tahun di perusahaan equipment supplier. Baru kali ini Rani mengalami work from home dan kesulitan untuk mendapatkan laptop karena dari perusahaannya sendiri pun tidak siap untuk melakukan work from home

Bukan hanya urusan laptop, beberapa perusahaan kebingungan terkait tools penunjang arus komunikasi dan manajemen kerja. Misalnya software kerja untuk akuntansi dan karyawan misalnya. Pengetahuan tentang proses absensi dan work tracking juga sangat minim bagi perusahaaan. “Kami sulit mengontrol kerja dan absensi saat work from home” begitulah gambaran umum apa yang dikatakan beberapa perusahaan.

Employee Self-Service: Tidak Begitu Efektif Tapi Sangat Berpengaruh

Mungkin sebagian perusahaan masih awam dengan istilah employee self-service padahal secara tidak sadar mereka telah menerapkan di perusahaan namun tidak dilakukan dengan tidak efektif.

Employee self-service  (ESS) atau layanan mandiri karyawan adalah metode dimana karyawan secara mandiri melakukan pekerjaannya dan memenuhi kebutuhan kerja secara mandiri. ESS sangat erat kaitannya dengan teknologi karena memang semua dikerjakan berdasarkan data.

Penerapan ESS sangat bermacam-macam misalnya pengajuan cuti, aksesibilitas slip gaji, pelaporan kerja, dan juga absensi. Karena sifatnya personal, ESS diyakini dapat meningkatkan engagement dan kepuasan karyawan.

Contohnya ketika dalam wabah seperti ini, ESS cukup berperan dalam menghubungkan karyawan dengan perusahaan misalnya absensi dari rumah, pengajuan reimbursement, pelaporan kerja, dan juga pengajuan lemburan. Ingat, work from home bukan liburan, Karyawan tetap berhak memiliki batasan kerja seperti lembur.

Meski ESS kurang efektif misalnya bergantung pada konektivitas internet dan respon layanan tergantung dari user, ESS tetaplah menjadi solusi yang sangat berpengaruh dalam menahan laju turnover karyawan karena kinerja dan layanan tidak lagi berpusat pada perusahaan, namun karyawan.

Baca juga: 4 Tips Work From Home (WFH) Agar Bisnis Sukses & Produktif

Perusahaan Selayaknya Negara Demokrasi

Perusahaan selayaknya sebuah negara, memiliki ide yang harus dicapai dengan memberdayakan sumber daya manusia, dalam hal ini adalah karyawan. Perusahaan perlu bersikap demokratis dengan mendengar dan memenuhi kebutuhan karyawan dan tidak ada cara lain selain itu. Ingat, karyawan merupakan aset terpenting perusahaan.

Take a more dollar mungkin bisa jadi opsi dalam meningkatkan retensi karyawan. Tapi seperti yang Anda ketahui, banyak penelitian yang sama sekali tidak berbicara gaji dalam mencegah adanya turnover karyawan yang tinggi. Oleh karena itu, lebih demokratis, menciptakan lingkungan kerja yang nyaman dan anti-toxic adalah jalan satu-satunya yang harus ditempuh oleh perusahaan.

Berbicara panjang lebar terkait ESS, Talenta merupakan software HR yang dapat menciptakan budaya ESS pada karyawan. Anda pun tidak perlu khawatir tentang retensi karyawan di saat momen-momen kritis seperti pandemi. Anda dapat mencoba gratis Talenta dengan meng-klik banner di bawah ini.

CTA Talenta


PUBLISHED07 Apr 2020
Hafidh
Hafidh