Insight Talenta 4 min read

Pengertian Quiet Quitting: Penyebab serta Dampaknya

By Jordhi FarhansyahPublished 05 Jan, 2023

Fenomena quiet quitting merupakan salah satu fenomena yang cukup marak diperbincangkan sejak tahun 2022 kemarin.

Jika sebelumnya kita mengenal hustle culture yang menuntut seseorang untuk terus bekerja keras, quiet quitting merupakan kebalikannya.

Hustle culture kerap dianggap tidak bagus untuk kesehatan mental dan juga fisik seorang karyawan.

Sementara itu, quiet quitting menggambarkan bagaimana seseorang bekerja dengan batas minimum untuk sekadar menyelesaikan pekerjaannya dengan harapan mereka bisa merasakan work-life balance.

Di tengah situasi ekonomi yang sedang mengalami krisis di berbagai negara dan banyak pekerja yang juga mengalami burnout, quiet quitting cukup populer di kalangan pekerja khususnya yang masih muda.

Lalu, apa sebenarnya fenomena ini dan bagaimana dampak jangka panjangnya bagi ekosistem lingkungan kerja? Simak pemaparannya di artikel Mekari Talenta berikut ini.

Pengertian Quiet Quitting

ilustrasi quiet quitting

Menurut The Guardian, quiet quitting merupakan istilah baru di mana karyawan hanya melakukan pekerjaan sesuai dengan apa yang jadi tanggung jawabnya saja, tanpa mengeluarkan effort yang lebih atau berpartisipasi aktif di luar pekerjaannya.

Sebetulnya, istilah ini berawal dari TikTok di mana ada seseorang yang menarasikan quiet quitting sebagai seseorang yang tidak ingin keluar dari pekerjaannya karena masih membutuhkan gaji, tapi tidak mau untuk bekerja lebih keras lagi.

Ia masih mengerjakan tanggung jawabnya, tetapi menolak gagasan hustle culture yang menganggap bahwa pekerjaan Anda adalah hidup Anda.

Sebetulnya, mentalitas seperti ini juga tidak sepenuhnya salah.

Tidak ada yang salah dari orang yang bekerja sesuai porsi serta jam kerja selama ia menyelesaikan apa yang jadi tanggung jawabnya di hari itu.

Toh, semua orang punya kehidupan pribadinya masing-masing.

Lagipula, hustle culture punya banyak efek buruk terutama dari segi kesehatan.

Dengan ini, karyawan bisa menciptakan batasan antara kehidupan pribadi dengan pekerjaannya.

Tapi, bukan berarti quiet quitting tidak punya dampak apa-apa.

Mungkin jika berlebihan, salah satu dampaknya adalah menurunnya kualitas pekerjaan.

Baca juga: Performance Management untuk Tingkatkan Kinerja Karyawan

Pemicu Perilaku Quiet Quitting

Salah satu dugaan pemicu quiet quitting adalah banyak karyawan yang merasa bosan dan kurang mendapatkan apresiasi serta kompensasi karena ia telah bekerja keras, terutama di masa pandemi kemarin.

Selain itu, banyak juga yang semakin sadar bahwa keseimbangan antara kehidupan personal dan pekerjaan adalah hal yang sangat penting.

Di Amerika Serikat sendiri, sekitar 50% karyawannya teridentifikasi sebagai quiet quitters.

Jika mengacu pada statistik jumlah pekerja di sana, angka tersebut berjumlah lebih dari 80 juta pekerja.

Tanda-tanda Seorang Quiet Quitters

Berikut adalah beberapa tanda seseorang yang melakukan quiet quitting di lingkungan kerja.

  • Tidak akan melakukan pekerjaan di luar jam kerja dan akhir pekan atau hari libur, termasuk ketika membalas email ataupun chat
  • Tidak aktif melakukan diskusi atau mengikuti meeting
  • Pulang tepat waktu atau tenggo
  • Jarang mengikuti acara kantor
  • Berkontribusi secukupnya

Dampak Quiet Quitting

Adanya quiet quitting sudah pasti memiliki dampak, baik secara langsung ke karyawan maupun ke perusahaan. Berikut penjelasannya.

Dampak Positif

Tidak dapat dipungkiri, salah satu dampak positif yang bermanfaat bagi karyawan adalah terciptanya work-life balance.

Hal ini memungkinkan karyawan untuk terhindar dari stres, bekerja lembur sampai larut malam yang menyebabkan menurunnya kondisi fisik, dan terhindar dari burnout.

Selain itu, hal ini juga dapat menghindari karyawan dari beban pekerjaan yang seharusnya bukan tanggung jawabnya. Istilahnya, menolak untuk dieksploitasi.

Perilaku atasan bermacam-macam. Atasan yang mengeksploitasi bawahannya pun jumlahnya tidak sedikit.

Memberikan pekerjaan yang melimpah pada jam yang tidak seharusnya dengan iming-iming bahwa mereka harus siap kerja keras demi perusahaan bukan langkah yang bijak.

Terlebih jika hasil kerjanya kurang diapresiasi. Hal ini sebenarnya adalah sikap yang harus dihindari dari seorang atasan.

Baca juga: 5 Tren HR yang Akan Berdampak Baik di Perusahaan

Dampak Negatif

Tentunya, quiet quitting juga memiliki dampak buruk tersendiri.

Karyawan yang melakukan quiet quitting memiliki kemungkinan untuk berkurang produktivitasnya.

Selain itu, quiet quitting juga berpotensi pada PHK karyawan.

Mungkin, mencari karyawan baru di tengah pandemi seperti ini juga bukan hal yang sulit dan belum tentu perusahaan memiliki budget untuk merekrut karyawan baru.

Tapi dampak negatif ini bisa Anda tangani. Bagaimana caranya?

Apa yang Perusahaan Dapat Lakukan untuk Menanggulangi Quiet Quitting

Beberapa ahli menyebutkan bahwa banyak atasan yang mulai sedikit melunak dengan bawahan mereka dan hal tersebut berhasil.

Hal ini didukung dengan artikel yang ditulis oleh Harvard Business Review di mana pakar konsultan pengembangan kepemimpinan menyarankan agar para manajer untuk mengecek terlebih dahulu perilaku mereka.

Misalnya, ketika Anda mendapati banyak karyawan yang melakukan quiet quitting, tanyakan pada diri sendiri apakah ada masalah dengan diri Anda sendiri, tugas yang Anda berikan, atau apa ada masalah dari kemampuan dalam memimpin Anda.

Itulah tadi sedikit penjelasan mengenai quiet quitting.

Memang pada dasarnya banyak yang melakukan hal ini untuk menjaga work-life balance.

Tapi apabila sampai mengganggu produktivitas, berarti quiet quitting bukan hal yang baik dan dapat berpengaruh pada performa perusahaan secara keseluruhan.

Salah satu penyebab quiet quitting yang lain adalah bagaimana pengalaman kerja di perusahaan kurang berdampak pada karyawan, misalnya pengajuan cuti dan reimbursement yang ribet, hingga absensi yang masih manual.

Menanggulangi hal ini, Mekari Talenta sebagai salah satu software HRIS menyediakan solusi untuk beragam permasalahan HR yang kerap dihadapi perusahaan.

Mekari Talenta adalah aplikasi yang memiliki fitur lengkap mulai dari absensi online, aplikasi penggajian otomatis, hingga manajemen performa yang bisa Anda manfaatkan untuk menciptakan ekosistem kerja yang lebih efisien.

Pelajari lebih lanjut software Mekari Talenta dan hubungi tim ahli kami untuk berkonsultasi mengenai permasalahan HR yang Anda alami sekarang juga.

Jordhi Farhansyah
Penulis yang hobi fotografi analog.