Tantangan yang harus dijawab dalam era industri saat ini adalah teknologi disruptif. Istilah ini mengandung makna bahwa teknologi dengan inovasi terbaru membantu menciptakan pasar baru atau malah merusak pasar yang sudah ada, dan akhirnya menggantikan teknologi tersebut. Teknologi disruptif nampaknya membentuk model bisnis kembali dan mengubah bagaimana perusahaan beroperasi sehingga kompetisi pun semakin ketat.

Dengan adanya teknologi disruptif ini, ukuran besar perusahaan bukanlah suatu jaminan karena kecepatan beradaptasi dengan perilaku konsumen dan perkembangan menjadi kunci penting. Oleh karena itu, sebuah perusahaan harus selalu berintropeksi dan peka sehingga dapat mengetahui posisinya demi mengikut perkembangan zaman. 

 

Teknologi Mengubah Banyak Hal

Antonius Taufan, Managing Director TADA dalam Mekari Conference mengungkapkan bahwa teknologi mengubah banyak hal. Mungkin Anda masih ingat bahwa saat melakukan presentasi, kita akan menggunakan Power Point dan berkolaborasi dengan orang lain dan memberi sebuah komentar saat ada yang perlu diperbaiki. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, kita sudah bisa menggunakan Google Slides, di mana kita bisa menyunting dengan mudah secara bersamaan. Dan kita bisa melihat apa saja yang berubah dan siapa saja yang melakukan perubahan.

 

Implikasi People Management di Linkedin Pada Masa Mendatang 

Kehadiran teknologi disruptif juga ternyata memengaruhi people management dan organization. Menurut Lanny Wijaya selaku Account Director LinkedIn Indonesia saat ditanyakan bagaimana implikasi di masa depan dari segi people management dan organization adalah apa pun yang dapat membuat hidup kita lebih baik. Saat ini, sudah banyak aplikasi yang dapat membantu proses di sebuah perusahaan (paperless activity). 

Membicarakan soal teknologi bagi HR, sudah banyak ide-ide baru yang bermunculan saat ini. Namun, saat ini Lanny mengaku bahwa dia akan lebih fokus pada tren secara global. Sebagai sebuah platform, banyak orang yang saat ini menggunakan LinkedIn untuk mencari pekerjaan, memperbarui keahlian baru, dan profile mereka untuk menarik perhatian para talent seekers. 

Membicarakan soal disruptif ini memang terlihat adanya perubahan yang signifikan sejak ada LinkedIn di tahun 2003, di mana mencari dan manage talent, meng-hijack karyawan, hingga mempromosikan curriculum vitae (CV) secara online dapat dengan mudah dilakukan. LinkedIn sendiri mengemban visi untuk menghubungkan semua orang di dunia sehingga mereka bisa lebih produktif dan sukses. 

Jika melihat ke belakang, sekitar 16 tahun lalu, LinkedIn adalah startup yang memiliki tujuan untuk menghubungkan orang, mencari pekerjaan. Namun, saat ini LinkedIn berhasil mencatatkan diri di urutan teratas sebagai largest publishing platform in the world. Sebuah pencapaian yang mengagumkan. 

 

Technology is Just a Tools

Mencoba untuk melihat dari perspektif lain bahwa ini bukan hanya tentang teknologi, tapi juga metodologi. Hal yang kita pelajari di sini adalah no matter how best technology is, it is always back to the basic, how would you like to manage. Tidak sedikit perusahaan yang meminta satu orang untuk melakukan banyak pekerjaan, di mana pembagiannya masih belum teratur. Hal ini sering kali dialami, salah satunya oleh TADA. Namun, Anthony menyebutkan bahwa ini kembali lagi ke kultur dari perusahaan itu sendiri. Menanamkan salah satu kultur ownership di perusahaan sehingga setiap karyawan dilatih sebagai seorang entrepreneur

Turn over untuk setahun ke bawah itu cukup tinggi, tapi biasanya setahun ke atas sudah seperti kelaurga sendiri. Sebenarnya, hal terpenting yang perlu diperhatikan adalah saat Anda datang ke sebuah perusahaan dan berpikir akan dituntun ke mana pun, maka itu akan membuat Anda kehilangan arah. Sebagai seorang leader dalam masing-masing tahapan bisnis selalu mengalami kendala, terutama saat ingin mengadopsi teknologi baru, inovasi yang berbeda dari yang sebelumnya. Lantas, bagaimana cara mengatasinya?

Technology is just a tool untuk membuat hidup kita lebih baik. Namun, di awal yang terpenting adalah harus menyamakan value terlebih dahulu sehingga saat Anda ingin memakai tool, itu mampu mendukung nilai tersebut. 

 

Pentingnya Bersikap Sebagai Owner 

Apakah yang akan Anda lakukan saat kebutuhan sudah baik dan mendapatkan dukungan penuh, lalu ternyata menghadapi banyak masalah? Jika Anda ingin berubah, selalu mulai dari diri Anda sendiri. Kemudian, Anda bisa berkolaborasi, bertingkah sebagai owner sehingga Anda mendapatkan wewenang untuk melakukan apapun seolah-olah memiliki tim. Relationship matters. 

Culture first. Hal pertama yang perlu diperhatikan adalah mengerti perusahaannya. Kita memang memiliki banyak aplikasi di Indonesia, tapi faktanya mereka tidak pernah memberitahu kita untuk melakukan sesuatu. Anda harus mempelajari sesuatu sendiri karena Anda adalah orang yang memiliki peran penting pada karier.

“If you want to change, always start from yourself” -Lanny Wijaya 

 

Tips Menjalankan Perusahaan dan Menciptakan Visi dan Misi yang Selaras dari Top hingga Bottom Level 

Terkadang, kita menemukan gap antara top dan bottom level sehingga value, visi, dan misi yang ada tidak selaras sehingga produktivitas yang diharapkan tidak sesuai. Kita akan asumsikan hal ini dengan generasi milenial yang tergolong unik. Sebenarnya, cara mudah untuk memimpin para millennial adalah menjadi role model. Anda tidak bisa hanya bicara, tapi juga perlu mempraktekkan apa yang Anda bicarakan. Jika generasi X tidak perlu dikomunikasikan mengenai visi misi dan perusahaan, hal ini tidak berlaku pada generasi milenial yang membutuhkan pemahaman mengenai tujuan mereka melakukan sesuatu dan alasan perubahan yang terjadi. 

Tips bagi para leader atau HR adalah dengan lebih sering mengadakan townhall untuk para millennial karena yang mereka butuhkan adalah pemahaman yang biasanya ingin didengarkan langsung dari orang yang tepat. Mereka cenderung lebih senang mendengar arahan dari fitur yang tepat dan bertanya langsung. Menariknya, saat purpose-nya sampai, generasi milenial ini akan melakukannya dengan sangat baik (all out) untuk perusahaan.

Purpose adalah hal yang penting. Saat kita membicarakan bisnis, apa tujuan bisnis tersebut dilakukan? Tentu saja, sebuah bisnis yang dijalankan memiliki tujuan untuk menghasilkan uang sehingga mereka mampu membayar karyawan. Untuk menyampaikan tujuan ini adalah dengan cara menunjukkan mereka bagaimana cara melakukannya. 

 

Gunakan HR Tools untuk Lingkungan Kerja Lebih Nyaman

Selain tips di atas, Anda sebagai HR juga dapat memanfaatkan HR tools yang membuat pekerjaan Anda lebih mudah dan cepat, sehingga seluruh pekerjaan HR dapat diselesaikan lebih produktif. Bukan hanya bagi HR, tools ini juga bisa membantu Anda memberikan kemudahan bagi karyawan mulai dari mengajukan cuti, absensi, reimbursement, dan masih banyak lagi.

Talenta merupakan salah satu HR tools yang membantu Anda mengelola administrasi perusahaan dan karyawan. Dengan Talenta, karyawan Anda dapat dengan mudah mengajukan cuti secara online kapan dan di mana saja, absensi tidak perlu lagi di kantor cukup dengan mobile phone, mengajukan reimburse dengan cepat, dan masih banyak lagi. Selain itu, karyawan juga dapat dengan mudah melihat slip gaji tanpa perlu meminta langsung dengan Anda. Ajukan demo Talenta sekarang!

 

 

Apa yang bisa kami lakukan untuk Anda?

Miliki sistem HR tepercaya dengan mencoba Talenta sekarang! Ikuti 3 cara berikut tanpa rasa khawatir untuk mendapatkan sistem HR yang lebih mudah:

Jadwalkan Demo 1:1

Undang kami untuk datang ke kantor Anda dan berdiskusi lebih lanjut tentang Talenta.

Ikuti Demo

Ikuti Workshop Talenta

Datang dan bergabung di workshop untuk ketahui lebih lanjut tentang Talenta.

Daftar Workshop

Coba Demo Interaktif

Coba akun demo langsung dan temukan bagaimana Talenta dapat membantu Anda.

Coba Gratis
loading
Tunggu! Talenta punya ebook buat kamu!

Dapatkan ebook "Panduan mudah menghitung gaji sesuai jenis karyawan"

Suka dengan artikelnya?Dapatkan artikel HR premium langsung di email Anda!

Jadilah orang pertama yang akan mendapatkan artikel premium mulai dari study case, infographic, ebook, hingga white paper.