Pentingnya Manajemen Waktu Jam Kerja Shift Pabrik

Pentingnya Manajemen Waktu Jam Kerja Shift Pabrik

Atas nama produktivitas kerja dan juga target produksi, ada beberapa perusahaan yang beroperasi selama 24 jam penuh. Salah satunya adalah perusahaan manufaktur yang memiliki waktu operasi 24 jam selama tujuh hari dalam satu minggu. Dalam kasus seperti ini, perusahaan harus memberlakukan shift kerja untuk mengoptimalkan hasil kerja. 

Tinggalkan HR dan payroll manual, saatnya beralih ke Aplikasi HRIS Talenta dengan fitur absensi online, payroll dan fitur yang mempermudah pekerjaan HRD lainnya.

Shift kerja sangat umum diterapkan dalam sistem ketenagakerjaan di seluruh dunia. Sekitar 15-20% pengusaha di negara industri diperkirakan menggunakan sistem kerja shift. Menurut data dari Survei Kesehatan Kerja, 29% dari semua pekerja di Amerika pada tahun 2010 bekerja shift alternatif dan 15% pekerja secara teratur bekerja shift malam. 

Shift kerja adalah pembagian waktu kerja karyawan di jam tertentu secara bergantian. Mengacu pada Undang-Undang Ketenagakerjaan No. 13 Tahun 2003 pasal 77, menyebutkan ketentuan waktu kerja. Dalam pembagian shift pada karyawan di Indonesia, dibagi menjadi tiga, yaitu shift pagi, shift sore,  dan shift malam. 

Baca juga: Pentingnya Menerapkan Shifting Karyawan di Perusahaan

Tingginya Gangguan Kesehatan yang Serius Bagi Pekerja Shift

Tantangan yang sering dihadapi oleh para pekerja shift adalah risiko adanya gangguan kesehatan yang serius. Mengingat bahwa jam kerja shift berbeda dengan jam kerja pada umumnya, hal ini tentu menjadi perhatian khusus divisi HR. Menurut penelitian dari National Sleep Foundation, menyebutkan bahwa penerapan shift kerja dapat menjadi salah satu faktor pencetus gangguan tidur.

Sekitar 25-30% pekerja shift mengalami gejala kelainan seperti kantuk yang berlebihan atau insomnia. Hal ini terjadi karena shift kerja dapat mengubah fungsi irama tubuh (circadian rhythm) dan kebiasaan tidur seseorang. Pada saat menjalani shift malam, seseorang akan melawan irama tubuh karena melakukan aktivitas pada malam hari yang seharusnya digunakan untuk beristirahat. Akibatnya, orang tersebut akan merasakan kantuk yang berlebihan pada siang hari, sedangkan siang hari merupakan waktu yang tidak tepat untuk beristirahat dengan tenang.

Bekerja shift di malam hari juga memberikan dampak negatif bagi kesehatan mental, yaitu depresi. Sebuah penelitian terhadap pekerja elektronik di Korea Selatan menunjukkan bahwa kerja shift berkaitan dengan peningkatan risiko masalah kesehatan mental pada pekerja produksi. Hal ini dikarenakan kurangnya waktu berkumpul atau bersosialisasi dengan keluarga maupun teman-teman. Perusahaan perlu memperhatikan penjadwalan shift hingga rotasi untuk setiap jadwal yang telah dibuat. Mengingat bahwa pekerja shift juga memiliki kepentingan pribadi di luar urusan pekerjaan.

Baca Juga: Perkembangan Bisnis Manufaktur di Indonesia & Cara Mengelolanya dengan Baik

Pengaruh Kerja Shift terhadap Kinerja Karyawan

Suatu pekerjaan yang bersifat rutin dapat menimbulkan kebosanan sehingga berpengaruh pada penurunan semangat kerja. Perusahaan dapat bereksperimen dengan jadwal shift untuk memaksimalkan potensi operasi karyawan. Di samping itu, perusahaan juga harus mempertimbangkan bagaimana cara untuk meminimalkan dampak buruk yang terjadi. 

Rotasi jam kerja merupakan salah satu program pengembangan yang dapat dilakukan oleh perusahaan manufaktur. Tujuannya adalah meningkatkan kemampuan kinerja karyawan. Aturan shift kerja tidak selamanya memiliki dampak buruk. Di sisi lain, shift kerja industri manufaktur justru dapat memberikan lingkungan kerja yang kondusif terutama saat malam hari. 

Sistem shift kerja dapat mempengaruhi produktivitas kerja secara langsung maupun tidak langsung. Produktivitas pekerja shift pagi dinilai lebih tinggi dari pada shift malam, hal ini disebabkan circadian ritme meningkat pada siang hari dan menurun pada malam hari. Untuk mengurangi tingkat kelelahan pekerja pihak perusahaan dapat melakukan beberapa hal seperti:

  • Menyediakan makanan dan minuman yang bergizi, terutama untuk pekerja shift malam;
  • Melakukan sistem rotasi cepat terutama untuk shift malam;
  • Mengatur jam shift kerja sesuai dengan jam kerja normal per shift sesuai UU Ketenagakerjaan No. 13 tahun 2003;
  • Melakukan perbaikan lingkungan kerja agar lebih kondusif dan nyaman dalam meningkatkan prestasi.

Peran Teknologi untuk Atur Shift Karyawan di Perusahaan Manufaktur

Penjadwalan shift yang buruk pada sebuah perusahaan menyebabkan peningkatan biaya operasi, penurunan penjualan, turnover pekerja yang tinggi, dan banyaknya keluhan. Divisi HR dan manajer produksi seringkali menghabiskan banyak waktu untuk penjadwalan shift untuk mencoba mendapatkan jadwal kerja yang tepat. 

Dengan penjadwalan kerja yang tepat, perusahaan dapat mendukung optimalisasi kinerja karyawan. Platform HRIS berbasis cloud dipercaya dapat menyelesaikan pekerjaan lebih cepat, terutama yang berkaitan dengan penjadwalan jam kerja. Sebagai salah satu penyedia layanan HRIS berbasis cloud, Talenta memiliki banyak fitur untuk membantu industri manufaktur mengelola shift kerja. 

Salah satu fitur Talenta yang sangat membantu industri manufaktur adalah multi-shift untuk mengelola karyawan dengan shifting beragam. Divisi HR dan manajemen produksi tidak lagi berkutat dengan perhitungan excel maupun spreadsheet yang seringkali memusingkan. Software Talenta juga terintegrasi dengan tools perpajakan, BPJS, dan komponen lain dalam perhitungan gaji. Sistem manajemen waktu Talenta juga sudah terintegrasi dengan sistem payroll sehingga perusahaan terbebas dari sistem manual penggajian.


PUBLISHED03 Feb 2020
Risna
Risna