Strategi SDM Perusahaan Manufaktur yang Efektif dan Modern

Strategi SDM Perusahaan Manufaktur yang Efektif dan Modern

Sebagai motor penggerak pertumbuhan ekonomi, sektor industri khususnya industri manufaktur menempati posisi strategis. Hal ini dikarenakan kontribusi industri manufaktur terhadap PDB industri cukup besar, yaitu relatif di sekitar angka 24%. Agar bisa bersaing dengan negara-negara lain di era yang terbuka itu, tentunya diperlukan sektor industri yang tangguh dan berdaya saing tinggi. Dengan potensi yang ada, industri manufaktur nasional bisa dijadikan andalan untuk bersaing dengan negara lain.

Tinggalkan HR dan payroll manual, saatnya beralih ke Aplikasi HRIS Talenta dengan fitur absensi online, payroll dan fitur yang mempermudah pekerjaan HRD lainnya.

Pada tahun 2020, banyak hal yang berubah di dunia industri manufaktur. Para produsen kini tengah memasuki era baru, di mana terjadi peningkatan target akan produksi yang lebih cepat dan lebih berkualitas, serta margin yang sangat kompetitif.  Tren ini sangat relevan di Asia Pasifik, yang merupakan suatu kawasan yang sering dianggap sebagai pusat manufaktur dunia. Industri manufaktur yang cerdas telah mulai berinvestasi dalam teknologi-teknologi pabrik pintar untuk memperoleh keuntungan, seperti peningkatan produktivitas, peningkatan visibilitas, dan kemampuan untuk memprediksi permintaan.

Industri manufaktur yang cerdas juga harus memerhatikan pengelolaan SDM di perusahaan sehingga dapat terus bersaing dengan negara lain dan memaksimalkan potensi yang ada. Berikut penjelasan tantangan yang dihadapi Human Resource (HR) dan strategi SDM dalam perusahaan manufaktur.

Baca Juga: Mengenal Era Revolusi Industri 4.0 dan Keuntungannya

Tantangan HR di Industri Manufaktur Modern

Sekitar 10 tahun yang lalu, terjadi gap yang cukup nyata antara karyawan yang bekerja di pabrik dengan karyawan kantoran di industri manufaktur. Dari sini, perusahaan harus bergerak cepat untuk menangani masalah ini agar tidak berisiko pada menurunnya produktivitas. Perusahaan mulai mengembangkan budaya kerja yang inklusif dengan menunjukkan peran setiap karyawan untuk mencapai tujuan bersama. Setiap karyawan dibuat merasa nyaman dan berharga sehingga percaya bahwa masing-masing memiliki tugas yang cukup penting dan krusial bagi kemajuan perusahaan.

Beberapa tahun lalu, peningkatan otomatisasi yang besar-besaran dan berkelanjutan menjadi tantangan tersendiri bagi divisi HR. Perlu diketahui bahwa tingkat otomasi setiap negara berbeda-beda, bahkan antar perusahaan juga berbeda. Sementara di luar sana, pihak media terus memberikan informasi tentang penggantian tenaga kerja manusia menjadi inovasi teknologi yang lebih efisien. Di Inggris, sebuah alat “find out my automation risk” diterbitkan di situs BBC yang merupakan hasil dari penelitian yang dilakukan Universitas Oxford dan Deloitte. Untuk itu, divisi HR perusahaan manufaktur harus turun tangan untuk mengatasi kecemasan karyawan yang khawatir tenaganya akan digantikan oleh mesin.

Tantangan selanjutnya adalah mengelola harapan karyawan terhadap perusahaan. Secara umum, karyawan semakin sadar bahwa perusahaan memiliki banyak sekali tuntutan kerja dan juga target untuk dicapai. Dengan kemudahan akses teknologi dan informasi, para pekerja terus menuntut hak-haknya pada perusahaan seiring dengan target yang diberikan. Kenyamanan kerja menjadi senjata utama para karyawan untuk menuntut fasilitas dan kesejahteraan sosial. 

Karyawan yang semakin paham akan hak-haknya menjadi lebih berani untuk meminta fasilitas kepada perusahaan. Karyawan merasa ingin diperlakukan adil, konsisten, dan transparan. Divisi HR harus paham alasan karyawannya ketika ada yang merasa tidak bahagia dengan pekerjaannya. Sebab, dari sinilah mulanya muncul rasa ketidakadilan sehingga berpengaruh pada produktivitas kerja karyawan.

Strategi yang Efektif untuk Mengatasi Masalah SDM di Perusahaan Manufaktur Modern

Karyawan selalu berada di garis depan dalam setiap perusahaan manufaktur. Tidak dapat dipungkiri, bahwa salah satu kunci keberhasilan perusahaan manufaktur adalah pengelolaan tenaga kerja yang dimiliki. Divisi HR diminta untuk selalu tanggap dan cepat dalam merespon keluhan karyawan. Dengan segala keterbukaan informasi, seharusnya target perusahaan dapat tumbuh seiring dengan pemenuhan hak karyawan. 

1. Menciptakan Jam Kerja yang Seimbang

Selain bekerja, karyawan pabrik juga memiliki prioritas hidup lainnya, yaitu keluarga. Keseimbangan adalah kata kunci yang harus dipegang oleh divisi HR dalam mengelola karyawan. Perusahaan tidak boleh meminta karyawan untuk bekerja di melebihi kapasitas dan peraturan yang sudah ditetapkan oleh pemerintah. Sekali lagi, keadilan, konsistensi, dan transparansi sangat penting diimplementasikan pada masing-masing karyawan. 

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa kebahagiaan karyawan dapat meningkat 10% ketika mereka bisa mengatur jam kerja mereka sendiri. Kemudian 74% responden menyatakan dengan jam kerja  fleksibel, kehidupan pribadi mereka dan kehidupan pekerjaan menjadi lebih seimbang. Flexi time didalamnya akan lebih menguntungkan bagi keluarga yang suami istri sama-sama bekerja. Keduanya akan tetap bisa mengatur jam kerja tanpa mengganggu waktu mengurus anak-anak dan rumah tangga.

Dilansir dari Salon, penelitian dari Business Roundtable menyebutkan bahwa pekerja tidak akan bisa produktif setelah bekerja lebih dari 6 jam per hari. Oleh karena itu, tidak heran jika banyak negara maju yang akhirnya memangkas jam kerja karyawan untuk menambah produktivitas.

2. Melakukan Evaluasi secara Berkala

Manajer SDM di Sika Limited, Sarah Lowe, menyebutkan bahwa setiap karyawan akan menjalani evaluasi dari atasan secara berkala serta masukan dari rekan bisnis. Alur ini diterapkan untuk menjaga kualitas kinerja sekaligus mengakomodir suara karyawan. Dari sini, divisi HR akan menjadi tahu apa yang menjadi perhatian seorang karyawan, apakah ada masalah, atau apakah ada saran untuk perusahaan. 

Tidak jarang, evaluasi ini bertindak sebagai quality control agar semakin mudah melihat kemampuan dan bakat karyawan. Dengan begitu, karyawan akan menempati posisi dengan tugas yang tepat sesuai dengan kemampuannya. Alur ini bertujuan untuk memangkas pekerjaan harian manajer dalam hal evaluasi Yang penting adalah, perlakuan adil terhadap karyawan lebih terlindungi.

3. Penggunaan Employee Self Service (ESS)

Seiring dengan kemajuan teknologi, perusahaan dapat mengelola data pribadi karyawan dengan mudah. Pengelolaan data karyawan kini dapat dilakukan secara mandiri melalui sistem yang diakses di mana saja dan kapan saja.  Karyawan diberikan kesempatan untuk mengatur dan mengajukan sendiri jadwal libur dengan fitur ESS

Dalam industri manufaktur, fitur ESS sangat membantu mempercepat proses administrasi mengingat lokasi karyawan pabrik biasanya berjauhan dengan pihak manajerial. ESS juga memberikan pengalaman bagi karyawan untuk mengelola data pribadinya sendiri, yang mana mungkin saja belum semua perusahaan menerapkannya. Secara tidak langsung, Anda sudah menyiapkan karyawan untuk selalu tanggap dengan inovasi teknologi.

Baca Juga: Perkembangan Bisnis Manufaktur di Indonesia & Cara Mengelolanya dengan Baik

Dengan data lengkap dan terintegrasi, bisa menjadi langkah awal sebuah perusahaan untuk optimalisasi pengembangan sumber daya manusia dalam perusahaan. Pengelolaan database dapat dikerjakan oleh bagian khusus yang telah ditunjuk perusahaan. Para karyawan yang diberi tugas tersebut perlu dilatih terlebih dahulu sehingga bisa menggunakan software atau aplikasi database yang telah ditunjuk. Ini diperlukan agar karyawan bisa menggunakan software atau aplikasi secara efektif.

Jika teknologi dapat memainkan peran vital ini, maka segala kemudahan akan menjadi milik perusahaan manufaktur yang memanfaatkannya. Penting sekali setiap perusahaan dibekali dengan akses komputer dan internet yang memadai, jika tidak mau tertinggal dengan kompetitor. Pelatihan-pelatihan juga penting diberikan kepada karyawan untuk cepat beradaptasi dengan teknologi.

Di sinilah fungsi dari Human Resource Information System (HRIS) diimplementasikan. Tentu saja strategi-strategi SDM dalam perusahaan manufaktur di atas tidak dapat menyelesaikan tantangan untuk setiap karyawan, tetapi merupakan sumber daya yang menambah nilai. Terlebih dalam upaya untuk meningkatkan kehidupan para profesional SDM dan tenaga kerja tanpa menambah beban pekerjaan administratif. 


PUBLISHED03 Feb 2020
Risna
Risna