Jika dibandingkan dengan generasi pendahulunya, karyawan milenial memiliki pemahaman yang berbeda tentang keseimbangan antara kehidupan dan pekerjaan. Karyawan generasi sebelumnya lebih merasa sungkan untuk mengajukan cuti karyawan bila tidak ada hal yang mendesak. Sedangkan para karyawan yang berasal dari generasi milenial sangat memperhatikan keseimbangan antara pekerjaan dengan kebutuhan batin dan kesehatan.

Sehingga karyawan generasi milenial cenderung mengajukan cuti tidak hanya untuk kebutuhan mendesak, namun juga kebutuhan-kebutuhan seperti rekreasi atau sekedar beristirahat. Oleh karena itu, tim HR perusahaan perlu memahami tentang aturan cuti yang berlaku secara umum dan memiliki strategi khusus untuk menghadapi pengajuan cuti. Dengan begitu, cuti yang diajukan karyawan tidak akan mengganggu kinerja perusahaan.

Baca juga: Perhitungan Cuti Tahunan yang Diuangkan

 

Ketentuan Cuti Berdasarkan Undang-Undang

Undang-undang Ketenagakerjaan Nomor 13 Tahun 2003 telah mengatur tentang ketentuan cuti, yang meliputi cuti tahunan, cuti sakit, cuti besar, cuti bersama, cuti hamil, dan cuti penting.

  • Di dalam Pasal 79 Ayat 2 (c) dipaparkan bahwa cuti tahunan akan diberikan kepada karyawan yang telah bekerja selama 12 bulan secara terus menerus. Lama cuti tahunan minimal 12 hari kerja. Namun pihak perusahaan dapat menetapkan cuti di atas angka tersebut jika memang ada penyesuaian atas jabatan atau beban kerja.
  • Untuk cuti sakit, karyawan yang tidak dapat melakukan pekerjaan diperbolehkan untuk mengambil waktu istirahat sesuai dengan jumlah hari yang disarankan oleh dokter. Idealnya, karyawan wanita yang kesehatannya terganggu karena haid juga diizinkan untuk cuti pada hari pertama dan kedua. Hal ini telah diatur pada Pasal 93 Ayat 2 dan Pasal 81.
  • Cuti besar akan diberikan jika ada karyawan yang telah bekerja selama bertahun-tahun, sesuai dengan Pasal 79 Ayat 2 (d).
  • Cuti bersama akan diberikan kepada setiap karyawan sesuai dengan Surat Edaran Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor SE.302/MEN/SJ-HK/XII/2010 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Cuti Bersama. Cuti bersama pada umumnya ditetapkan menjelang hari raya besar keagamaan atau hari besar nasional.
  • Pada Pasal 82, diatur bahwa karyawan wanita akan memperoleh hak istirahat selama 1,5 bulan sebelum dan 1,5 bulan setelah melahirkan menurut perhitungan dokter kandungan atau bidan.
  • Sedangkan di dalam Pasal 93 Ayat 2 dan 4, disebutkan tentang hak cuti karena alasan penting.

 

Alasan Karyawan Tidak Masuk Kerja

  1. Pada umumnya, yang menjadi alasan kenapa seorang karyawan mengajukan cuti tidak masuk kerja adalah sakit. Alasan sakit dengan apapun kondisi sakitnya merupakan sebuah alasan yang paling dominan disampaikan oleh para karyawan pada perusahaan.
  2. Jika ada anggota keluarga yang sakit atau sedang berduka, maka hal tersebut bisa saja dijadikan alasan karyawan untuk tidak masuk kerja. Biasanya alasan ini akan disampaikan oleh karyawan dengan sangat mendadak pada beberapa jam sebelum masuk kerja.
  3. Medical check up atau melakukan periksa rutin setiap bulan juga menjadi salah satu alasan kenapa karyawan tidak masuk kerja.
  4. Adanya kebutuhan akan pengurusan surat-surat penting seperti SIM,  STNK, KTP, atau Paspor. Karena pengurusan surat-surat tersebut memang biasanya dilakukan pada hari kerja, sehingga karyawan yang bersangkutan harus izin tidak masuk kerja.
  5. Alasan lain untuk mengajukan cuti adalah kepentingan keluarga, menghadiri panggilan hukum, menjadi panitia kegiatan sosial, dan lain sebagainya.
  6. Melakukan perjalanan untuk berlibur atau keperluan lainnya.

 

Tips Menghadapi Pengajuan Cuti Karyawan

Apapun alasan yang dipilih oleh setiap karyawan untuk tidak masuk kerja, sebaiknya alasan tersebut benar-benar memberitahukan informasi yang sebenarnya. Karena jika terbukti karyawan yang bersangkutan ternyata berbohong, maka dapat menimbulkan masalah kedepannya. Banyaknya karyawan yang tidak masuk kerja membuat tim HR perusahaan harus bijak dalam memberikan persetujuan.

Jika cuti tidak dikelola dengan baik, maka dapat mengganggu operasional perusahaan. Berikut ini ada beberapa tips yang dapat Anda lakukan untuk memberikan jawaban terhadap pengajuan cuti karyawan:

  1. Anda dapat memberikan penolakan jika dalam waktu yang sama ada banyak karyawan yang mengajukan cuti secara mendesak. Karena jika pengajuan tersebut disetujui akan mengganggu kinerja perusahaan.
  2. Memberikan persetujuan terhadap pengajuan tersebut dengan catatan, karyawan yang bersangkutan telah menyelesaikan semua tugas pekerjaan mereka atau telah mendelegasikan tugas kepada karyawan lain.
  3. Memastikan bahwa karyawan yang tidak masuk kerja tetap mudah dihubungi untuk menanyakan apa yang harus dilakukan saat kendala terkait pekerjaannya terjadi.

Baca juga: Pentingnya Mengelola Gaji Karyawan dengan Sistem Tepercaya

 

Cuti merupakan hak bagi karyawan. Sebagai HR, sudah menjadi tugas Anda untuk mengelola cuti, agar karyawan mendapatkan haknya namun kinerja perusahaan tidak terganggu. Untuk mengelola cuti lebih baik, Anda dapat menggunakan software HR Talenta. Melalui Talenta, karyawan dapat mengajukan cuti secara langsung melalui sistem ESS (Employee Self Service). Dengan begitu, HR dapat mengelola cuti dengan lebih mudah, sebab pengajuannya melalui sistem. Cari tahu kemudahan yang akan Anda dapatkan dari menggunakan software HR Talenta lainnya di sini.

 

Apa yang bisa kami lakukan untuk Anda?

Miliki sistem HR tepercaya dengan mencoba Talenta sekarang! Ikuti 3 cara berikut tanpa rasa khawatir untuk mendapatkan sistem HR yang lebih mudah:

Jadwalkan Demo 1:1

Undang kami untuk datang ke kantor Anda dan berdiskusi lebih lanjut tentang Talenta.

Ikuti Demo

Ikuti Workshop Talenta

Datang dan bergabung di workshop untuk ketahui lebih lanjut tentang Talenta.

Daftar Workshop

Coba Demo Interaktif

Coba akun demo langsung dan temukan bagaimana Talenta dapat membantu Anda.

Coba Gratis
loading
Suka dengan Artikelnya?Talenta punya lebih banyak buat kamu!

Dapatkan konten premium mulai dari artikel, ebook, case study, white papers, infographic dengan berlangganan sekarang!

Suka dengan artikelnya?Dapatkan artikel HR premium langsung di email Anda!

Jadilah orang pertama yang akan mendapatkan artikel premium mulai dari study case, infographic, ebook, hingga white paper.