Kenali Ciri-Ciri Micromanaging dan Dampak Buruk-nya

Micromanaging menjadi istilah yang memiliki konotasi negatif di kalangan industri. Alih-alih untuk melakukan pengawasan agar karyawan produktif, micromanaging malah menjadi senjata makan tua bagi para manajer. 

Micromanaging dianggap sebagai model usang dari sistem manajerial perusahaan karena diyakini sebagai bentuk ego atasan dibanding kerjasama tim. Pada era fleksibilitas dan juga kolaborasi, model micromanaging dianggap juga sebagai benalu karena dapat menghambat produktivitas karyawan.

Apa itu Micromanaging?

Secara harfiah micromanagement atau micromanaging berasal dari kata micro dan manage. Micro artinya kecil, sedangkan manage berarti pengelolaan, mengatur, mengurus, atau cara untuk mencapai sesuatu. 

Artinya, micromanagement adalah cara berpikir atau metode pengelolaan yang bertumpu pada hal-hal kecil dan detail. Kecil di sini juga berarti ego. Dimana seorang manajer bekerja atas egonya bahkan sangat memperhatikan hal-hal kecil yang sebenarnya tidak patut untuk dipermasalahkan. Misalnya, atasan sering memperhatikan bagaimana karyawan bekerja, memperhatikan gerak geriknya, dan cemas terhadap pekerjaan bawahannya.

Baca juga: Urung Work From Home Karena Micromanagement, Begini Peran HR

Penyebab Adanya Micromanaging dan Dampak Buruknya

Dilansir Intelivate, manajemen mikro ini seperti roda yang berputar, jika salah satu elemen roda tidak diputus, maka micromanagement ini akan terus berlanjut yang akhirnya menimbulkan roda baru yang akan berdampak pada keseluruhan manajemen.

“Micromanagement lahir karena rasa tidak percaya dan keraguan para pemimpin perusahaan” -My Way or The Highway, Harry Chambers

Intelivate lebih jauh menjelaskan bahwa micromanagement lahir karena tidak adanya kepercayaan atas tim itu sendiri. Pertama bisa disebabkan karena pengalaman dari tim sebelumnya, kedua memang watak dari atasan tersebut yang sulit percaya dengan orang lain.

Hilangnya kepercayaan akhirnya membuat atasan melakukan kontrol yang berlebih. Atasan pun seringkali memerintahkan hal-hal yang kurang jelas, tergesa-gesa dan cenderung tumpang tindih sehingga proses delegasi tugas yang kacau, emosi atasan yang berlebihan, dan kadang semua pekerjaan dianggap salah.

Akhirnya karyawan pun kehilangan kepercayaan diri untuk melakukan tugasnya secara mandiri, karyawan akan cenderung bergantung pada perintah atasan, tidak kreatif, dan hanya akan mengambil bola. Produktivitas dan performa karyawan pun jadi berkurang. Satu hal yang pasti, karyawan pun akhirnya kehilangan kepercayaan kepada atasan.

micromanagement

Hal ini akan terus menjadi siklus yang akan terus berputar dalam ruang lingkup kerja tim dan akhirnya lahirlah lingkungan kerja yang tidak sehat. Karyawan pun kehilangan moralnya, dimana potensi fraud akan terjadi. Tidak ada perkembangan potensi karyawan. Dan yang paling buruknya, karyawan bisa saja stres dan memutuskan untuk keluar dari perusahaan.

Bahkan menurut Kathleen Rao dalam bukunya yang berjudul, My Boss is a Jerk: How to Survive and Thrive in a Difficult Work Environment Under the Control of a Bad Boss selain stres dan masalah kesehatan pada karyawan, dampak dari micromanaging yang dilakukan oleh atasan adalah rasa tidak aman saat bekerja. Karyawan akan kehilangan fokus pekerjaan dan lebih khawatir terhadap hal-hal kecil yang sebenarnya bukan masalah besar.

Berbicara tentang sumber daya manusia bukanlah hal yang sepele. Berbicara karyawan berarti berbicara tentang bisnis secara keseluruhan. Jika dari segi manajemen unit kerja saja kacau, jangan harap bisnis berjalan dengan sehat.

Baca juga: Turnover Karyawan Jadi Masalah Menakutkan Perusahaan, Apa Solusinya?

Mencegah Adanya Micromanagement

Jika Anda seorang pemimpin tim atau atasan menghindari pola micromanagement adalah keharusan agar lingkungan kerja tidak berubah menjadi toxic. Berikut cara mencegah adanya pola pikir manajemen mikro atau micromanagement

Berpikir Sebagai Tim

Alih-alih memberikan kebebasan karyawan, seorang micromanager cenderung memberikan standar subyektif pada karyawan. Atasan sering kali mengontrol dan mendikte setiap pekerjaan karyawan. Berpikirlah bahwa pekerjaan Anda saat ini adalah bukan hanya untuk ego semata tapi kepentingan semua anggota tim. Berpegang pada prinsip, “A leader teaches how and why, boss tells you what to do” artinya bekerja sebagai pemimpin yang mampu mengarahkan dan membimbing, bukan hanya memberi perintah.

Fokus pada Hasil, Bukan Proses

Terdengar bukan saran yang baik, namun hal ini perlu dilakukan. Ketika Anda berfokus pada setiap proses kerja yang dilakukan oleh bawahan Anda, maka yang ada di pikiran Anda hanyalah kesalahan-kesalahan kecil. Anda akan terpancing untuk menyuruh karyawan bekerja sesuai dengan standar dan gaya Anda. Oleh karena itu biarkan karyawan bekerja, berfokuslah pada hasil kerja yang dilakukan karyawan. Setelah itu baru Anda boleh berkomentar dan memberikan evaluasi.

Bangun Komunikasi dengan Tim

Kualitas komunikasi menjadi penting. Diskusikan apa yang akan dikerjakan kepada tim. Biarkan bawahan Anda beropini. Selain itu Anda dapat bertanya kepada tim untuk mengevaluasi diri Anda sebagai pemimpin tim dan juga bertanya bagaimana sistem yang harus dibangun dalam menyelesaikan project yang sedang dan akan dijalankan. Anda juga harus memberikan arahan dan petunjuk-petunjuk yang jelas terkait tugas yang akan dilaksanakan sehingga sikap micromanaging dapat dihindari.

Fokus pada Budaya Kerja

Para micromanager sering berfokus pada karyawan. Artinya atasan seringkali hanya memperhatikan detail-detail kecil yang dilakukan karyawan yang akhirnya membuat karyawan insecure, stres, dan tidak mandiri. Pekerjaan pun menjadi tidak fokus dan tidak beres.

Seorang atasan harus mampu menjelaskan nilai, kenapa karyawan harus mengerjakan tugas ini. Atasan juga harus bisa membangun keyakinan sehingga karyawan juga dapat memahami nilai dan pola pikir yang dianut perusahaan dan atasan. Itulah yang disebut dengan membangun budaya kerja. Budaya kerja bisa menjadi acuan kerja agar pekerjaan yang dilakukan dapat fokus dan mampu meraih tujuan kerja tim dengan tepat. 

Hindari Perfeksionisme

Hal yang dapat memicu adanya toxic leadership atau manajemen mikro adalah atasan yang terlalu perfeksionis. Seorang atasan harus membiarkan bawahannya untuk belajar. Trial and error dalam bekerja merupakan hal yang wajar. Biarkan karyawan belajar dari setiap kesalahan. Jika Anda mengadopsi gaya kepemimpinan yang tidak mengacu pada perfeksionisme, bukan hanya kesuksesan tim saja yang Anda dapatkan, namun juga tim yang Andal.

Berikan Bawahanmu Satu Tanggung Jawab yang Lebih Besar

Memberikan bawahan wewenang atau tanggung jawab yang lebih besar sejatinya adalah terapi bagi atasan untuk menghilangkan sikap toxic leadership. Memberikan tugas dan tanggung jawab yang lebih besar kepada bawahan juga dapat memberikan kesempatan bawahan Anda untuk belajar dan berkembang lebih baik.

Ketika Anda sudah memiliki bawahan yang dapat mengerjakan tugas-tugas besar, bawahan Anda pun akhirnya memiliki kompetensi yang lebih baik, lebih mudah dipercaya, dan juga biasanya lebih berintegritas dan dewasa menghadapi masalah pekerjaan. Sehingga kekhawatiran dan juga ketidakpercayaan kepada karyawan tidak perlu lagi menjadi alasan Anda melakukan micromanaging.

Ingat, Bawahanmu adalah Rekanmu

Hal terakhir yang perlu diingat adalah bawahan Anda adalah rekan Anda. Jadikan bawahan Anda sebagai rekan kerja, bukan bidak yang Anda kendalikan untuk memuaskan hasrat kerja. Jika Anda menjadikan bawahan sebagai sebagai rekan, kepercayaan secara otomatis akan terbangun dengan sendirinya.

Buat Sistem Pengawasan, Jika Anda tidak Mempercayai Rekan Se-TIm

Terakhir adalah membuat sistem yang dapat membangun kualitas kerja. Hal ini berguna agar atasan dapat menilai dan menganalisis apa saja kekurangan yang terjadi pada tim. Buatlah daily report per-week, performance appraisal, dan juga engagement survey.

Kesimpulan

Adanya micromanagement pada lingkungan kerja hanya dapat memberikan dampak negatif pada lingkungan kerja alih-alih untuk meningkatkan produktivitas kerja. Micromanaging juga berperan dalam terciptanya lingkungan kerja yang tidak sehat. 

Micromanaging sejatinya dapat dikurangi jika Anda sebagai atasan menggunakan tools pengawasan kerja misalnya menggunakan software berbasis cloud dalam pengaturan proyek kerja atau menggunakan software komunikasi jika  memungkinkan adanya kerja work from home. Software HR juga berperan untuk mengurangi adanya micromanaging dalam kelompok kerja karena biasanya proses administrasi dan pengawasan dapat dilakukan menggunakan software.

Jika Anda ingin mencari software HR, Talenta dapat menjawab semua kebutuhan administrasi dan pengawasan karyawan. Misalnya absensi, distribusi tugas, pengelolaan shift, dan juga rekapitulasi absensi secara real-time. Anda dapat mencoba Talenta gratis untuk mendapatkan pengalaman terbaik.

 


PUBLISHED07 Apr 2020
Hafidh
Hafidh

SHARE THIS ARTICLE: