Ketentuan Cuti Melahirkan untuk Ibu & Ayah yang Harus Diketahui Perusahaan

Ketentuan Cuti Melahirkan untuk Ibu & Ayah yang Harus Diketahui Perusahaan

Seluruh pekerja wanita di dunia memiliki hak cuti spesial salah satunya, hak cuti melahirkan. Jangka waktu dari cuti ini berbeda-beda di setiap negara, umumnya berkisar antara 3 bulan – 12 bulan. Negara Skandinavia memberikan cuti melahirkan hingga 420 hari dengan pembayaran 80% dari total gaji selama karyawan tersebut melakukan cuti. Selain itu, di negara Kroasia juga memberikan cuti hamil selama 1 tahun dan membayar gaji 100%, dan bisa diperpanjang hingga 3 tahun. Lalu bagaimana peraturan cuti  melahirkan di Indonesia? Di bawah ini adalah beberapa ketentuan dan peraturan mengenai hak cuti melahirkan di Indonesia yang harus Anda ketahui.

Tinggalkan HR dan payroll manual, saatnya beralih ke Aplikasi HRIS Talenta dengan fitur absensi online, payroll dan fitur yang mempermudah pekerjaan HRD lainnya.

Ketentuan Cuti Melahirkan Menurut Undang-Undang

Menurut Pasal 82 UU No 13/2003 tentang Ketenagakerjaan karyawan yang sedang hamil dan akan segera melahirkan berhak memperoleh istirahat atau cuti selama 1,5 (satu setengah) bulan sebelum melahirkan dan 1,5 (satu setengah) bulan sesudah melahirkan, menurut perhitungan dokter kandungan atau bidan. Selain itu, karyawan wanita yang mengalami keguguran juga berhak memperoleh istirahat 1,5 (satu setengah) bulan atau sesuai surat keterangan dokter kandungan atau bidan.

Apakah Karyawan Tetap Berhak Atas Gaji Selama Cuti Hamil?

Peraturan yang ada di Indonesia mewajibkan perusahaan untuk tetap memberikan hak upah secara penuh kepada karyawan wanita yang sedang melaksanakan cuti hamil selama 3 bulan. Jika tidak, perusahaan bisa dikenakan sanksi karena dianggap melanggar peraturan yang berlaku di Indonesia.

Lalu bagaimana biaya melahirkan karyawan tersebut? Pasal 4 ayat 1 UU No 3/1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja dan Pasal 2 ayat 3 PP No 14/1993 tentang Penyelenggaraan Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja telah menyatakan bahwa pengusaha yang mempekerjakan tenaga kerja sebanyak 10 (sepuluh) orang atau lebih, atau membayar upah paling sedikit Rp1.000.000 per bulan, wajib mengikutsertakan karyawan dalam program jaminan sosial tenaga kerja yang diselenggarakan oleh badan penyelenggara. Di mana, jaminan yang dimaksud di sini meliputi 4 (empat) program, yaitu:

  1. Jaminan kecelakaan kerja (JKK);
  2. Jaminan kematian (JK);
  3. Jaminan hari tua (JHT); dan
  4. Jaminan pemeliharaan kesehatan (JPK).

Bentuk Perlindungan Karyawan Wanita Selama Masa Kehamilan

Pasal 76 ayat 2 UU No 13/2003 tentang Ketenagakerjaan, pengusaha dilarang mempekerjakan wanita hamil yang menurut keterangan dokter berbahaya bagi kesehatan dan keselamatan kandungannya maupun dirinya ketika bekerja pukul 23.00 sampai dengan pukul 07.00.

Hak Cuti Ayah (Paternity Leave)

Selain untuk ibu, di beberapa negara juga telah memberikan ketentuan mengenai cuti ayah atau paternity leave. Di mana, karyawan laki-laki diperbolehkan mengambil libur dua hingga tiga bulan untuk membantu istri berbagi peran merawat dan mengasuh bayinya yang baru lahir. Ketentuan ini sudah mulai diperkenalkan di Negara Norwegia sejak tahun 1993. Selain itu, di beberapa perusahaan asing juga telah diterapkan cuti ayah, misalnya Johnson and Johnson memberikan cuti ayah selama 2 bulan, IKEA Asia Tenggara 1 bulan, dan Facebook (4 bulan). Selain itu, Opal Communication juga memberi cuti ayah 1 bulan dengan cuti melahirkan selama 6 bulan.

Namun sayangnya, hukum ketenagakerjaan di Indonesia belum sepenuhnya mengadopsi aturan cuti ayah bagi karyawan laki-laki. UU Ketenagakerjaan No 13 Tahun 2003 hanya memberi cuti ayah selama 2 hari dengan cuti melahirkan selama 3 bulan, yang dapat diambil sebelum dan sesudah persalinan.

Baca juga : 7 Hak Cuti Karyawan yang Harus Diketahui Perusahaan

Cuti Melahirkan dan Cuti Ayah Memotong Cuti Tahunan?

Cuti melahirkan maupun cuti ayah berbeda dengan cuti tahunan. Menurut UU Ketenagakerjaan, cuti melahirkan merupakan hak khusus bagi karyawan perempuan dan cuti ayah hak khusus bagi karyawan laki-laki yang istrinya melahirkan. Sedangkan cuti tahunan merupakan hak istirahat secara umum bagi setiap karyawan di perusahaan. Hak cuti tahunan tersebut telah diatur dalam Pasal 79 yaitu:

  1. Pengusaha wajib memberi waktu istirahat dan cuti kepada pekerja/buruh.
  2. Waktu istirahat dan cuti sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) meliputi:
    1. Istirahat antara jam kerja, sekurang-kurangnya setengah jam setelah bekerja selama 4 jam terus-menerus dan waktu istirahat tersebut tidak termasuk jam kerja;
    2. Istirahat mingguan 1 hari untuk 6 hari kerja dalam 1 minggu atau 2 hari untuk 5 hari kerja dalam 1 minggu;
    3. Cuti tahunan sekurang-kurangnya 12 hari kerja setelah pekerja/buruh yang bersangkutan bekerja selama 12 bulan secara terus-menerus; dan
    4. Istirahat panjang sekurang-kurangnya 2 bulan dan dilaksanakan pada tahun ketujuh dan kedelapan masing-masing 1 bulan bagi pekerja/buruh yang telah bekerja selama 6 tahun secara terus-menerus pada perusahaan yang sama dengan ketentuan pekerja/buruh tersebut tidak berhak lagi atas istirahat tahunannya dalam 2 tahun berjalan dan selanjutnya berlaku untuk setiap kelipatan masa kerja 6 tahun.

Jadi dapat disimpulkan bahwa cuti melahirkan maupun cuti bagi ayah tidak memotong cuti tahunan maupun cuti panjang.

Cara Mengajukan Cuti Hamil atau Melahirkan

Untuk mengajukan cuti hamil atau melahirkan biasanya disesuaikan dengan kebijakan atau peraturan perusahaan. Umumnya, seorang karyawan yang ingin mengambil cuti ini perlu memberikan pemberitahuan secara lisan atau tertulis kepada manajemen dan atasan yang bertanggung jawab atas pekerjaan karyawan tersebut. Ketika karyawan telah memberikan surat tersebut, pihak manajemen wajib memberikan cuti di hari selanjutnya, serta memperhitungkan kapan masa cutinya berakhir.

Kemudian, setelah karyawan melahirkan anaknya, pekerja tersebut wajib memberikan informasi kepada perusahaan tentang kelahiran anaknya maksimal 7 hari setelah melahirkan. Karyawan tersebut juga biasanya akan diminta bukti kelahiran kepada manajemen dalam waktu enam bulan setelah melahirkan. Bukti yang dimaksud di sini dapat berupa fotokopi surat kelahiran dari rumah sakit atau akta kelahiran.

Dengan adanya update informasi ini, perusahaan akan lebih mudah mengurus tunjangan-tunjangan yang diperlukan sesuai kebijakan dan peraturan perusahaan, misalnya asuransi kesehatan, reimbursement rumah sakit, biaya penggantian perawatan bersalin dan sebagainya. Perlu digaris bawahi, itu semua tergantung dari kebijakan perusahaan dan manajemen itu sendiri.

Bagaimana Apabila Kelahiran Terjadi Lebih Awal Tanpa Sempat Mengurus Hak Cuti Melahirkan?

Pada praktiknya, karyawan wanita yang sedang hamil tidak selalu mengetahui kapan harus mengambil hak cutinya. Misalnya, dalam hal karyawan tersebut melahirkan prematur sehingga pekerja tersebut melahirkan sebelum mengurus hak cuti melahirkannya.

Apabila kelahiran terjadi lebih awal dari yang diperhitungkan oleh dokter kandungan. Karyawan tersebut tetap berhak atas cuti bersalin/melahirkan secara akumulatif 3 bulan. Perusahaan dapat mengatur pemberian hak cuti yang lebih dari ketentuan normatif, atau menyepakati pergeseran waktunya, dari masa cuti hamil ke masa cuti melahirkan, baik sebagian atau seluruhnya sepanjang akumulasi waktunya tetap selama 3 bulan atau kurang lebih 90 hari kalender.

Walaupun sebenarnya karyawan wanita dapat menentukan kapan cuti tersebut diambil, misalkan pekerja perempuan boleh memilih cuti selama 1 bulan sebelum melahirkan dan 2 bulan sesudah melahirkan sepanjang akumulasi waktunya tetap selama 3 bulan. Perusahaan – perusahaan di Indonesia memberikan kebebasan tenaga kerja untuk bebas memilih waktu cuti, asalkan ada rekomendasi dari dokter/bidan dan informasi waktu cuti kepada perusahaan.

Memang, terkadang persalinan tidak bisa hanya berpatokan sesuai rencana. Hal ini tentu membuat karyawan tersebut mengambil cuti di luar rencana dan tidak mungkin bisa mengurus pengajuan cuti secara manual di kantor.

Baca juga : Cuti Melahirkan: Bagi Karyawan yang Hamil di Luar Nikah

Karena itulah hadir Talenta sebagai salah satu solusi HR dan cuti tepercaya. Di mana, dengan Talenta karyawan dapat mengajukan cuti secara mendadak dan dapat dilakukan secara online, kapan dan di mana saja tanpa harus pergi ke kantor dan meminta persetujuan atasan maupun HRD. Dengan begitu, karyawan maupun HRD bisa lebih mudah mengajukan cuti.

Bukan hanya untuk mengelola cuti karyawan, Talenta juga dilengkapi dengan beberapa fitur yang membantu Anda mengelola administrasi perusahaan maupun karyawan, mulai dari absensi, lembur, hingga perhitungan gaji karyawan beserta komponen-komponen didalamnya. Mulai beralih ke Talenta sekarang dan dapatkan kemudahan dalam mengelola administrasi karyawan Anda.


PUBLISHED26 Jan 2020
Novia Widya Utami
Novia Widya Utami