Lembur karyawan sudah menjadi hal yang wajar di perusahaan, khususnya saat perusahaan sedang mengejar target tertentu. Pemenuhan target dengan skala tertentu harus dilakukan untuk meningkatkan kualitas perusahaan dalam ketepatan waktu penyelesaian kerja. Oleh karena itu, kata lembur kerja bagi karyawan bukan menjadi kata yang asing. Tak jarang, lembur kerja sering memengaruhi kehidupan karyawan baik secara langsung maupun tidak langsung. Berkaitan dengan hal tersebut, pemerintah kemudian membuat aturan hukum tentang lembur karyawan.

Aturan yang dibuat terkait hal tersebut umumnya memuat tentang jumlah jam lembur yang diperbolehkan dan kompensasi atau uang lembur untuk karyawan. Setiap aturan tersebut memiliki aturan tetap yang harus dipenuhi. Hal tersebut dilakukan demi menjaga hubungan baik antara perusahaan dan karyawan. Perusahaan harus mematuhi ketentuan yang berlaku agar karyawan tetap mendapatkan haknya dalam rangka memenuhi target produksi.

Dalam perusahaan, umumnya dikenal berbagai macam jenis lembur. Lembur pada hari kerja, pada hari libur, hingga lembur pada hari raya. Idealnya, lembur pada hari kerja akan memiliki kompensasi atau upah lembur yang lebih rendah daripada lembur pada hari libur ataupun hari raya.

Batas Waktu Lembur Karyawan Sesuai Aturan

Aturan lembur kerja lebih rincinya ditetapkan melalui Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor 102 Tahun 2004. Pada pasal 3 dalam aturan tersebut disebutkan, bahwa:

  1. Waktu kerja lembur hanya dapat dilakukan paling banyak 3 jam dalam 1 hari dan 14 jam dalam 1 minggu.
  2. Ketentuan waktu lemburdi atas tidak termasuk kerja lembur yang dilakukan pada waktu istirahat mingguan atau hari libur nasional.

Berdasarkan aturan tersebut, batas maksimal jam lembur per hari yang dilakukan karyawan tidak boleh melebihi 3 jam per hari, dan/atau 14 jam dalam 1 minggu. Perusahaan yang diketahui tidak menerapkan aturan tersebut dapat dikenakan sanksi denda paling sedikit Rp 5 juta dan paling banyak Rp 50 juta.

Walaupun demikian, aturan tersebut tidak berlaku pada perusahaan yang menerapkan waktu kerja yang berbeda, seperti jam kerja harian. Misalnya, perusahaan pertambangan yang memiliki waktu kerja dan istirahat berbeda dari perusahaan pada umumnya. Khususnya, para pekerja lapangan, seperti pengebor minyak di kawasan hulu. Selain hal tersebut, batas waktu juga harus mempertimbangkan faktor sosial, ekonomi, serta kesehatan dari karyawan tersebut. Idealnya, kerja lembur yang dilakukan karyawan menghasilkan manfaat yang maksimal untuk perusahaan ataupun untuk karyawan itu sendiri.

Selain itu, menurut Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, pasal 78, kerja lembur hanya bisa dilakukan apabila ada perintah dari pengusaha dan disetujui oleh karyawan. Oleh karena itu, perusahaan perlu membuat surat tertulis berisi rincian pelaksanaan kerja lembur beserta upah yang akan diterima karyawan. Surat tersebut perlu ditanda tangani perusahaan dan karyawan tersebut sebagai bentuk persetujuan.

Cara Menghitung Upah Lembur

Dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan telah diatur dan dijelaskan tentang perhitungan lembur. Perhitungan upah tersebut didasarkan pada upah bulanan yang diperoleh karyawan setiap bulan. Rumus perhitungannya, yaitu:

Upah Lembur Sejam = (1/173) x Upah Satu Bulan Karyawan

Upah yang dicantumkan dalam perhitungan jam lembur merupakan penjumlahan antara gaji pokok dan tunjangan tetap yang diperoleh karyawan. Kemudian, arti dari angka 173 yang ditetapkan dalam rumus adalah rata-rata jam kerja karyawan per bulan. Berikut rincian bagaimana angka tersebut didapatkan.

Dalam 1 tahun terdapat 52 minggu dan dalam 1 minggu normalnya karyawan bekerja selama 40 jam. Maka, dalam 1 tahun karyawan tersebut telah bekerja selama 2080 jam (52 minggu x 40 jam). Sedangkan, dalam menghitung kembur komponen yang digunakan adalah upah karyawan dalam sebulan. Oleh sebab itu, bagian personalia atau HRD perlu menghitung jumlah jam kerja karyawan dalam 1 bulan dengan cara membagi 2080 jam dengan 12 jam. Hasil yang didapatkan adalah 173,333, sehingga dibulatkan menjadi 173.

 

Menghitung upah lembur tentunya membutuhkan ketelitian, terlebih jika setiap karyawan memiliki jam dan jadwal yang tidak sama. Jika setiap bulan jumlah karyawan lembur cukup banyak, maka hal ini akan menjadi tambahan kerja bagi HRD atau bagian personalia.

Jika Anda tidak ingin ambil pusing dalam perhitungan upah lembur karyawan, Anda bisa menggunakan cara yang lebih mudah dengan aplikasi payroll Talenta. Dengan memanfaatkan fitur Payroll, Anda bisa menghitung upah karyawan secara mudah, cepat, dan akurat. Talenta juga memberikan kemudahan untuk melakukan pembetulan perhitungan jika ada yang tidak sesuai lebih mudah dan cepat daripada perhitungan manual. Selain itu, Talenta juga dilengkapi dengan berbagai fitur lain seperti absensi, reimbursement, dan masih banyak lagi. Jadi, segera daftarkan perusahaan Anda di Talenta sekarang juga dan dapatkan kemudahan dalam mengelola administrasi perusahaan dan karyawan Anda.

Apa yang bisa kami lakukan untuk Anda?

Miliki sistem HR tepercaya dengan mencoba Talenta sekarang! Ikuti 3 cara berikut tanpa rasa khawatir untuk mendapatkan sistem HR yang lebih mudah:

Jadwalkan Demo 1:1

Undang kami untuk datang ke kantor Anda dan berdiskusi lebih lanjut tentang Talenta.

Ikuti Demo

Ikuti Workshop Talenta

Datang dan bergabung di workshop untuk ketahui lebih lanjut tentang Talenta.

Daftar Workshop

Coba Demo Interaktif

Coba akun demo langsung dan temukan bagaimana Talenta dapat membantu Anda.

Coba Gratis
loading
Suka dengan Artikelnya?Talenta punya lebih banyak buat kamu!

Dapatkan konten premium mulai dari artikel, ebook, case study, white papers, infographic dengan berlangganan sekarang!

Suka dengan artikelnya?Dapatkan artikel HR premium langsung di email Anda!

Jadilah orang pertama yang akan mendapatkan artikel premium mulai dari study case, infographic, ebook, hingga white paper.