Bagaimana Peraturan Tunjangan Hari Raya atau THR di Indonesia?

Memasuki bulan puasa, karyawan pasti menunggu-nunggu THR datang untuk mempersiapkan kebutuhan menuju lebaran. Lalu bagaimana sebenarnya peraturan juga cara menghitung atau perhitungan tunjangan hari raya THR karyawan itu?

Meskipun karyawan sudah menerima upah setiap bulannya, tunjangan hari raya merupakan hak karyawan yang wajib diberikan oleh perusahaan sebanyak satu kali dalam setahun.

Ketentuan pemberian THR sendiri juga diatur oleh pemerintah yang mana harus dipatuhi oleh semua perusahaan.

Saya Mau Coba Gratis Talenta Sekarang!

atau

Saya Mau Bertanya Ke Sales Talenta Sekarang!

Nah, bagi Anda yang memiliki beberapa pertanyaan terkait perhitungan tunjangan hari raya dan hal lainnya seputar THR, simak artikel dari Insight Talenta berikut ini ya!

Apa Itu Tunjangan Hari Raya atau THR?

Apa itu THR? THR atau tunjangan hari raya ini diberikan pada saat hari keagamaan seperti Idul Fitri dan termasuk jenis pendapatan non upah.

THR wajib diberikan kepada karyawan menjelang hari raya agama masing-masing. Sehingga, tak heran banyak karyawan yang menunggu-nunggu THR ketika sudah memasuki bulan puasa.

Namun, pemberian THR juga berlaku pada hari raya agama lain. Misalnya, karyawan beragama kristen akan mendapatkan THR pada saat Natal. Walaupun pada prakteknya, banyak perusahaan yang memiliki peraturan agar pemberian THR hanya pada saat Idul Fitri saja.

Ketentuan dan Peraturan Pemerintah tentang Tunjangan Hari Raya atau THR

Tunjangan hari raya adalah hak bagi setiap karyawan. Hal ini dijamin oleh negara dan diatur dalam Peraturan Menteri Ketenagakerjaan (Permenaker) Nomor 6 Tahun 2016 tentang THR Keagamaan bagi Pekerja/Buruh di Perusahaan.

Pemerintah juga mengatur waktu pembayaran THR karyawan agar mereka dapat memenuhi kebutuhannya sebelum Hari Raya tiba. Misalnya, bagi umat muslim, mereka bisa membeli bahan-bahan memasak saat Idul Fitri, membayar zakat fitrah, menyiapkan THR untuk sanak keluarga, hingga mungkin membeli baju baru.

Dalam hal ini, pemerintah wajib membayarkan thr kepada masing-masing karyawan selambat-lambatnya 7 hari sebelum tanggal jatuhnya Hari Raya Keagamaan. Dengan demikian, para karyawan dapat memiliki waktu yang cukup untuk menggunakan THR tersebut.

Lebih lanjut, di tahun 2021 Kementerian Ketenagakerjaan menerbitkan Surat Edaran Nomor M/6/HK.04/IV/2021 terkait pelaksanaan pemberian tunjangan hari raya keagamaan bagi karyawan di tahun ini.

Beberapa ketentuan tersebut menyebutkan bahwa Pemberian THR diberikan pada karyawan yang telah melewati masa kerja minimal 1 bulan atau lebih.

Kemudian, THR Keagamaan juga diberikan pada karyawan yang mempunyai hubungan kerja dengan pengusaha berdasarkan perjanjian kerja waktu tidak tertentu (PKWTT) atau perjanjian kerja waktu tertentu (PKWT).

Perhitungan dan Cara Menghitung Tunjangan Hari Raya

Porsi THR yang diterima karyawan tentunya berbeda-beda tergantung masa kerja mereka. Jumlah ketentuan perhitungan tunjangan hari raya ini sudah diatur berdasarkan Permenaker No. 6/2016 yang isinya adalah sebagai berikut:

  • Bagi karyawan yang mempunyai masa kerja 12 bulan secara terus menerus atau lebih, #TunjanganHariRaya diberikan dengan nominal sebesar 1 kali upah bulanan
  • Sementara itu bagi karyawan yang sudah memiliki 1 bulan secara terus menerus, tetapi kurang dari 12 bulan, THR diberikan secara prorata sesuai dengan perhitungan masa kerja dibagi 12 bulan kemudian dikali 1 bulan upah.
  • Bagi pekerja/buruh yang bekerja berdasarkan perjanjian kerja harian yang telah mempunyai masa kerja 12 bulan atau lebih, upah 1 bulan dihitung berdasarkan rata-rata upah yang diterima selama 12 bulan terakhir sebelum hari raya keagamaan.
  • Terakhir, bagi pekerja/buruh yang telah mempunyai masa kerja kurang dari 12 bulan, upah 1 bulan dihitung berdasarkan rata-rata upah yang diterima tiap bulan selama masa kerja.

Jadi, bagi karyawan yang belum genap satu tahun bekerja tidak akan mendapatkan tunjangan hari raya secara penuh sesuai dengan gajinya. Perhitungan sederhananya adalah sebagai berikut:

(Masa kerja/12) x 1 (satu) bulan upah

Satu kali upah karyawan yang dimaksud merupakan take home pay yang diterima karyawan setiap bulannya.

Sebagai contoh, Ahmad merupakan seorang karyawan di perusahaan PT Maju Mundur yang memiliki gaji per bulan sebesar Rp10 juta. Namun, ia baru bekerja di perusahaan tersebut selama 6 bulan. Kira-kira berapakah #TunjanganHariRaya yang akan didapatkan oleh Ahmad di tahun tersebut? Berikut ini adalah cara menghitung THR Ahmad yang benar.

Masa kerja = 6 bulan

6 bulan/12 x Rp10.000.000 = Rp5.000.000

Karena Ahmad baru bekerja selama 6 bulan di PT Maju Mundur, maka jumlah tunjangan hari raya yang diterima olehnya berjumlah Rp5.000.000.

Sehingga, penghitungan gaji Ahmad akan berbeda dengan karyawan yang sudah bekerja selama 1 tahun atau lebih.

Namun bagi tim HR yang masih mengurus administrasi HR secara manual, menghitung perhitungan THR setiap karyawan, apalagi jika jumlah karyawannya banyak akan menyita banyak waktu.

Untuk itu, Anda dapat menggunakan software HRIS Talenta yang tidak hanya bisa menghitung THR secara otomatis, tetapi juga mengirimkan THR ke semua karyawan hanya dengan beberapa tahap.

Cara Menghitung Perhitungan THR Karyawan Lebih Mudah dengan Aplikasi Talenta

Sama seperti menjalankan payroll setiap bulan, software HRIS Talenta dapat menjalankan #TunjanganHariRaya secara otomatis sehingga HR bisa menjalankannya dengan mudah.

Bagaimana caranya menghitung perhitungan THR karyawan menggunakan Talenta?

Pertama-tama, Anda harus masuk ke akun Talenta Anda, kemudian ikuti langkah berikut ini:

  1. Masuk ke menu Payroll
  2. Klik Run THR
  3. Pilih payment date dan THR date beserta fitur lainnya sesuai keperluan
  4. Klik Continue

Lalu bagaimana sebenarnya peraturan juga cara menghitung atau perhitungan tunjangan hari raya THR karyawan itu?

Keterangan:
a. Payment Date: Tanggal pembayaran tunjangan hari raya yang akan menentukan periode perpajakan atas THR tersebut
b. THR Date: Tanggal hari raya yang akan menentukan berapa lama karyawan telah bekerja
c. Include in THP: Bila diaktifkan, maka pembayaran THR akan dimasukkan dalam take home pay atau gaji karyawan
d. Non Taxable: Aktifkan bila pembayaran THR tersebut tidak dikenakan pajak
e. Select Employee(s) to Run Payroll: Tombol untuk memilih karyawan tertentu yang memperoleh THR pada tanggal yang ditentukan.

5. Klik Save & Run Payroll

Peraturan juga cara menghitung atau perhitungan tunjangan hari raya THR karyawan.Keterangan:
a. Anda juga dapat melakukan update total tunjangan hari raya secara massal pada aplikasi Talenta HRIS dengan klik pada tombol Export THR untuk mengunduh template yang tersedia lalu unggah kembali template tersebut dengan tombol Import THR bila diperlukan
b. Gunakan tombol Reset This Period untuk menghapus perubahan total THR yang dilakukan
c. Klik kolom Religion untuk mengurutkan agama karyawan sebelum memproses perhitungan THR.

Klik tombol View Report untuk menampilkan laporan perhitungan THR

Filter periode pembayaran THR lalu klik pada THR Report untuk melanjutkan

Lalu bagaimana sebenarnya peraturan juga cara menghitung atau perhitungan tunjangan hari raya THR karyawan itu?

Maka hasil laporan akan terlihat seperti berikut:

Lalu bagaimana sebenarnya peraturan juga cara menghitung atau perhitungan tunjangan hari raya THR karyawan itu?

Note: Laporan ini dapat diunduh dalam bentuk PDF dan XLS.

Nah, mudah bukan melakukan perhitungan THR dengan menggunakan Talenta? Dengan demikian, tim HR tidak perlu repot untuk menghitung jumlah THR yang diterima karyawan setiap bulannya.

Tertarik untuk mengetahui fitur Talenta yang lain lebih lanjut? Tentu saja anda bisa coba dulu fitur Talenta HRIS sebelum menggunakannya.

Saya Mau Coba Gratis Talenta Sekarang!

atau

Saya Mau Bertanya Ke Sales Talenta Sekarang!

Anda juga bisa cek selengkapnya di website Talenta atau isi formulir berikut ini untuk mencoba demo gratis Talenta dan langsung coba fitur untuk menjalankan THR Keagamaan karyawan.

Anda juga bisa coba demonya gratis Talenta dengan klik gambar di bawah ini.

Baca Juga : Peraturan dan Penjelasan Sistem Magang di Indonesia

Pertanyaan Yang Sering Ditanyakan Terkait #THR Adalah Sebagai Berikut

Berikut dibawah ini adalah beberapa pertanyaan yang sering ditanyakan terkait topik tunjangan keagamaan.

Apa Yang Dimaksud Dengan THR?

THR biasa disebut juga sebagai Tunjangan Hari Raya adalah merupakan sebuah hak pendapatan pekerja yang wajib dibayarkan oleh perusahaan atau pengusaha kepada pekerja menjelang Hari Raya Keagamaan yang berupa uang, dimana nilainya berdasarkan peraturan yang berlaku di Indonesia.

Lalu yang dimaksud dengan Hari Raya Keagamaan disini adalah Hari Raya Idul Fitri bagi pekerja yang beragama Islam, Hari Raya Nyepi bagi pekerja bergama Hindu, Hari Raya Natal bagi pekerja yang beragama Kristen Katholik dan Protestan, dan Hari Raya Waisak bagi pekerja yang beragama Buddha.

Apakah Undang-Undang Atau Peraturan Pemerintah Yang Mengatur Mengenai THR Ini?

Yang mengatur terkait THR ini yaitu Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. 6 Tahun 2016 tentang Tunjangan Hari Raya Keagamaan Bagi Buruh/Pekerja di Perusahaan. Peraturan ini adalah peraturan yang menggantikan Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No.PER.04/MEN/1994.

Siapa Saja Yang Wajib Membayar THR menurut peraturan pemerintah tersebut?

Sesuai Permenaker No.6/2016, setiap orang, perseorangan, perkumpuklan, yayasan, pengusaha atau perusahaan yang mempekerjakan orang lain dengan imbalan upah wajib membayar tunjangan hari raya setiap menjelang hari raya keagamaan.

Bagaimana Rumus Cara Menghitung Perhitungan Tunjangan Hari Raya THR?

Secara umum rumus cara menghitung perhitungan tunjangan hari raya THR adalah (Masa kerja karyawan/12) x 1 (satu) bulan upah.

Bagaimana Kriteria Pekerja Yang Berhak Mendapat THR?

Sesuai peraturan pemerintah Permenaker No.6/2016 pasal 2, setiap pengusaha wajib untuk memberikan tunjangan hari raya Keagamaan kepada setiap karyawan atau pekerja yang telah memiliki masa kerja 1 (satu) bulan atau lebih secara terus-menerus. Pada peraturan tersebut tidak dibedakan apakah status pekerja tersebut masih karyawan kontrak, karyawan paruh waktu atau telah menjadi karyawan tetap.

Apakah Perusahaan Bisa Membayar THR Lebih Besar Dari Yang Ditetapkan Oleh Peraturan Pemerintah Yang Berlaku?

Boleh saja jika memang perusahaan memiliki Perjanjian Kerja Bersama (PKB), peraturan perusahaan (PP), atau kesepakatan kerja tertentu yang didalamnya terdapat peraturan yang mengatur ketentuan jumlah tunjangan hari raya lebih dari yang telah diatur pada Permenaker No.6/2016 tersebut.

Apa Yang Dimaksud Dengan Upah Dalam Cara Menghitung Perhitungan tunjangan hari raya THR? Apakah Take Home Pay Atau Gaji Pokok aja?

Upah dalam cara menghitung perhitungan tunjangan hari raya THR disini adalah upah tanpa tunjangan lain lain yang merupakan upah bersih. Atau bisa berupa upah pokok ditambah tunjangan-tunjangan tetap sesuai dengan Permenaker No.6/2016 pasal 3 ayat 2.

Jadi, semisal perusahaan memberikan THR sebesar 1, 2 bulan gaji hingga 3 bulan gaji dilihat dari masa kerja karyawan tersebut tidak masalah. Karena Peraturan Menteri disini tidak mengatur terkait hal ini. Biasanya aturan ini akan ditentukan oleh kebijakan tiap perusahaan melalui Perjanjian Kerja Bersama (PKB) atau peraturan perusahaan (PP).

Yang tidak diperbolehkan adalah peraturan perusahaan yang mengatur jumlah THR lebih kecil dari peraturan pemerintah tersebut, yaitu ketentuan Permenaker No.6/2016.

Apakah Karyawan Non-Muslim Juga Mendapatkan THR Lebaran?

Tunjangan hari raya ini wajib dibayar oleh pengusaha pada pekerja menjelang Hari Raya Keagamaan, sesuai peraturan dan cara menghitung perhitungan Tunjangan Hari Raya THR yang ada.

Dimana maksud dari Hari Raya Keagamaan sesuai peraturan pada Pasal 1 ayat 2 Permenaker No.6/2016 adalah adalah Hari Raya Idul Fitri bagi pekerja yang beragama Islam, Hari Raya Natal bagi pekerja yang beragama Kristen Katholik dan Protestan, Hari Raya Nyepi bagi pekerja yang beragama Hindu dan Hari Raya Waisak bagi pekerja yang beragama Budha.

Jadi disini dapat diketahui kalau tunjangan hari raya ini tidak hanya diberikan kepada pekerja yang beragama Islam saja, melainkan harus diberikan kepada pekerja atau karyawan pada semua agama.

Dimana sesuai pasal 5 ayat 1 Permenaker No.6/2016, pembayaran THR itu akan diberikan setiap satu kali dalam setahun sesuai dengan Hari Raya Keagamaan masing-masing pegawai, karyawan atau pekerja. Namun memungkinkan juga seorang pekerja akan mendapatkan tunjangan hari raya pada hari raya keagamaan agama lain, tergantung kebijakan setiap perusahaan.

Sesuai pasal 5 ayat 3 Permenaker No.6/2016, pemberian tunjangan hari raya ini akan disesuaikan dengan Hari Raya Keagamaan masing-masing pekerja kecuali terdapat kesepakatan khusus antara pengusaha dan pekerja. Kesepakan ini harus tertulis dalam peraturan perusahaan, perjanjian kerja bersama atau perjanjian kerja.

Apakah Perusahaan Bisa memotong jumlah THR karena karyawan, pegawai atau pekerja memiliki hutang pada perusahaan?

Sesuai Pasal 24 pada Peraturan Pemerintah No. 8 Tahun 1981 tentang Perlindungan Upah, tunjangan hari raya yang merupakan pendapatan pekerja ini bisa saja dipotong oleh pengusaha karena alasan pekerja memiliki utang di perusahaan. Namun, pemotongannya tersebut itu tidak boleh melebihi 50% dari pembayaran upah yang seharusnya diterima pekerja.

Maksud dari pemotongan tunjangan hari raya tidak boleh lebih dari 50% ini tujuannya adalah agar pekerja yang tetap dapat merayakan hari raya keagamaannya dengan tunjangan yang layak. Lalu perlu dicatat kalau cicilan hutang pegawai, karyawan dan pekerja ke perusahaan tersebut harus ada bukti tertulisnya.

Apakah boleh dan bisa perusahaan membayar THR dalam bentuk barang?

Sesuai Permenaker No.6/2016 pasal 6, tunjangan hari raya ini harus diberikan dalam bentuk uang senilai sesuai peraturan dengan ketentuan menggunakan mata uang rupiah Negara Republik Indonesia.

Kapan Perusahaan harus membayar THR Karyawan?

Tunjangan hari raya ini harus dibayarkan perusahaan kepada karyawan paling lambat tujuh hari sebelum lebaran (H-7) hari keagamaan. Tujuannya adalah agar pekerja mendapatkan keleluasaan menikmati tunjangan bersama keluarga.

Apakah denda atau sanksi apabila terlambat membayar THR bisa diberikan kepada pengusaha?

Ya, bisa. Sesuai Permenaker No.6/2016 pasal 10, jika pengusaha terlambat membayar tunjangan hari raya kepada pekerja/buruh/pegawai/karyawan akan dikenakan denda sebesar 5% (lima persen) dari total THR yang harus dibayar sejak berakhirnya batas waktu kewajiban Pengusaha untuk membayar.

Apa yang terjadi jika pengusaha tidak mau membayar Tunjangan Hari Raya pada karyawan?

Disebutkan kalau ada pengusaha atau perusahaan yang melanggar ketentuan pembayaran tunjangan hari raya diancam dengan hukuman sesuai dengan peraturan pada pasal 17 Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1969 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok mengenai Tenaga Kerja. Hukumannya bisa berupa pidana kurungan maupun denda.

Apa yang bisa pegawai/karyawan/buruh lakukan jika terdapat perusahaan melanggar ketentuan hak THR mereka?

Pegawai/karyawan/buruh bisa mengadukan masalah ini ke Dinas Tenaga Kerja setempat, dan juga bisa mengajukan gugatan perselisihan hak ke Pengadilan Hubungan Industrial kepada provinsi tempat Pegawai/karyawan/buruh tersebut bekerja.

***

Nah, semoga beberapa informasi pertanyaan terkait #TunjanganHariRaya, peraturan THR di Indonesia dan cara menghitung perhitungan tunjangan hari raya karyawan yang sudah dibahas diatas bisa bermanfaat.

Jangan lupa untuk membagikan tulisan ini di sosial media ya!


PUBLISHED20 Apr 2021
Jordhi Farhansyah
Jordhi Farhansyah


Kelola payroll & administrasi HR jadi lebih mudah, siap kembangkan bisnis lebih cepat

Jadwalkan Demo

Jadwalkan Demo

Jadwalkan demo & konsultasi langsung dengan Talenta

Jadwalkan Demo
Coba Demo Interaktif

Coba Demo Interaktif

Eksplorasi fitur Talenta untuk kebutuhan payroll & administrasi HR

Coba Sekarang